NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SembilanBelas—Di Balik Teratai

Iring-iringan Tandu Kebesaran Klan Shen terasa kian meriah di sepanjang jalan protokol ibu kota. Dentuman tabuhan gendang yang bertalu-talu beriringan serempak dengan derap langkah tegap para prajurit, diselingi bunyi gesekan zirah besi yang berdenting lembut pada setiap gerakan mereka. Di samping tandu megah yang membawa Gu Mingyue, Fan Li'er berjalan dengan wajah penuh antusias, bersemangat menceritakan setiap detail pemandangan luar yang ia lihat kepada majikannya.

"Nona, ini sangat luar biasa!" seru Fan Li'er dengan suara tertahan namun sarat kegembiraan.

"Nona, lihatlah! Banyak sekali orang di pinggir jalan yang melambaikan tangan memberikan penghormatan! Bahkan anak-anak kecil berlarian mengejar kita sambil berteriak memanggil nama Jenderal Agung Shen!" tambahnya lagi, matanya berbinar-binar menyaksikan kerumunan warga yang berdecak kagum.

"Nona, para pedagang sampai rela meninggalkan kios mereka demi melihat tandu ini lewat. Bahkan dari lantai atas jendela kedai-kedai teh, para pelanggan melongokkan kepala mereka keluar karena penasaran!" ucapnya dengan tawa geli yang tak bisa disembunyikan.

Di dalam tandu, Gu Mingyue tetap duduk tenang dengan senyuman yang mengambang samar. Kipas bundar besar bersulam giok itu masih setia ia pegang tegak untuk menutupi wajahnya.

"Li'er, apakah suasananya memang luar biasa?" tanyanya lembut dari balik tirai sutra tipis yang bergoyang ditiup angin.

"Tentu saja, Nona!" sahut Fan Li'er cepat, senyum puas terukir jelas di wajah pelayan setia itu. "Aku berani bertaruh, saat ini Nona Gu Lian pasti sedang meradang setengah mati jika melihat kemegahan yang kita bawa."

Iring-iringan kian menjauh dari keramaian jalan protokol hingga akhirnya mereka tiba di depan Kediaman Agung Shen. Saat tirai tandu disibak dan Gu Mingyue dipersilakan turun, sebuah plakat kayu berukir megah langsung menyambut pandangannya. Di atas kayu hitam itu, sebuah moto keluarga tertulis jelas dengan kaligrafi yang gagah:

...“Melindungi di bawah sang Naga.”...

Begitu kakinya menapak di tanah, barisan pelayan wanita bergaun hanfu merah muda tampak berdiri berjajar rapi. Gu Mingyue menurunkan sedikit kipas bundarnya, meneliti seberapa banyak orang yang menanti kehadirannya di kediaman ini.

"Nona Besar, silakan masuk," ucap kepala pengiring pengantin dengan takzim.

Gu Mingyue mengikuti langkah sang pengiring menyusuri koridor depan. Di ujung jalan, seorang wanita tua dengan pakaian yang jauh lebih mewah daripada pelayan biasa telah berdiri menyambut. Wajah keriputnya tampak tersenyum ramah, namun binar matanya begitu tajam dan penuh selidik.

"Nona Besar Gu, sebelum memasuki aula utama, kita akan melaksanakan upacara Bu Bu Sheng Lian¹," ucap wanita tua itu, Bibi Liu.

Gu Mingyue menurunkan sedikit kipasnya, menatap lurus ke arah deretan pola teratai pada karpet merah yang tergelar di dalam sebuah kotak kayu panjang.

"Silakan lepas sepatu Anda," titah Bibi Liu dengan nada datar yang terkesan menuntut.

Fan Li'er segera bergerak maju untuk membantu majikannya melepas sepatu satin merahnya. Dengan satu gerakan mantap, kaki berselimut kaus kaki kain putih milik Gu Mingyue menginjak pijakan teratai pertama. Detik itu juga, satu tabuhan gendang berbunyi nyaring bersamaan dengan untaian doa filosofis yang dihantarkan oleh pemandu adat.

Namun, saat kulit kakinya menekan karpet tebal itu, Gu Mingyue merasakan derak aneh di bawah telapak kakinya. Sebuah ganjalan tajam yang tak nyaman. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, ia mengambil langkah yang kedua.

Krek.

Bunyi halus dari pecahan kaca atau porselen yang hancur terpijak merambat lurus ke indra pendengarannya. Di saat yang sama, dari arah pintu aula utama, sesosok pria bertubuh tegap baru saja muncul. Shen Mufeng, dengan jubah pengantin merah bersulam naga yang gagah, berdiri kaku di sana. Mata elangnya langsung mengunci gerakan Gu Mingyue yang tampak sempat terhenti selama satu detik.

Seolah melupakan rasa perih yang mulai menjalar, Gu Mingyue menolak untuk mempermalukan dirinya sendiri. Ia melangkah untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, rasa perih kian menyengat. Pijakan keempat terasa semakin menusuk dalam, hingga darah segar mulai merembes keluar, menodai kain kaus kaki putih murninya menjadi merah pekat.

Shen Mufeng menurunkan pandangannya, langsung tertuju pada sepasang kaki Gu Mingyue. Alas kaki putih itu kini telah memerah bersimbah darah, namun gadis itu sama sekali tidak peduli. Gu Mingyue tetap berjalan tegap dengan punggung lurus, menahan rasa perih yang mendera demi membuktikan bahwa tidak ada satu pun orang di kediaman ini yang bisa mengusirnya.

Hanya sepersekian detik, rahang pria itu mengeras melihat setiap langkah Mingyue yang makin mendekat ke arahnya

Tepat pada pijakan terakhir sebelum kakinya melangkah keluar dari kotak kayu laknat tersebut, keseimbangan tubuh Mingyue goyah. Ia hampir limbung ke depan.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Shen Mufeng bergerak secepat kilat. Dengan satu sentuhan mantap, tangan kokohnya langsung menarik pinggang Mingyue dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya. Terkejut oleh gerakan yang tiba-tiba, Gu Mingyue buru-buru mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh sang Jenderal Agung.

Suasana aula seketika senyap mencekam. Tatapan Shen Mufeng beralih dingin ke arah Bibi Liu—selaku pengatur adat pernikahan ini. Mata tajamnya menilai cukup lama, menekan atmosfer ruangan hingga rona wajah Bibi Liu kian memucat dan menghilang.

"Bakar karpet ini," perintah Shen Mufeng, suaranya terdengar rendah namun bergemuruh bagai guntur di siang bolong. "Beserta tangan orang-orang yang telah mengurusnya."

Beberapa pelayan seketika gemetar ketakutan, lalu berlutut memohon ampun dengan histeris. Sementara itu, Bibi Liu masih mencoba berdiri tegak tanpa bergeming, menolak runtuh di depan umum. "Diam kalian!" gertaknya kesal pada para pelayan bawahan, sebelum akhirnya berbalik mengikuti pasangan pengantin tadi masuk ke dalam aula utama. Di luar koridor, suara seretan paksa para pelayan yang dihukum terdengar kian menjauh.

Di dalam aula utama, sebuah altar tinggi telah disiapkan. Sebuah tablet nama mendiang orang tua Shen Mufeng bersemayam dengan khidmat di sana. Dengan dibantu oleh Fan Li'er secara hati-hati, Gu Mingyue kembali mengenakan sepatunya. Ia memaksa dirinya untuk kembali berdiri tegap menahan perih yang berdenyut, bersiap melaksanakan upacara penghormatan sakral.

Pemangku adat mulai menyuarakan titah dengan lantang. "Hormat pertama kepada Langit dan Bumi!"

Pasangan pengantin itu membalikkan tubuh menghadap ke arah pintu aula utama yang terbuka lebar. Mereka membungkuk dalam-dalam secara serempak untuk memohon restu pada alam semesta dan para leluhur.

"Hormat kedua kepada Tetua!"

Dengan tubuh yang sedikit limbung karena rasa sakit yang menusuk telapak kaki, Gu Mingyue memutar kembali tubuhnya menghadap ke arah altar tablet mendiang orang tua Shen Mufeng. Ia memberikan penghormatan lewat bungkukan tubuh yang sempurna tanpa cela.

"Hormat ketiga, saling menghormati antara Suami dan Istri!"

Kini, mereka berdua saling berhadapan. Di bawah tatapan para saksi, keduanya membungkuk khidmat satu sama lain. Detik ini juga, ia telah resmi menyandang gelar sebagai Nyonya Besar Kediaman Shen. Dari balik tubuhnya yang membungkuk sempurna dengan kipas yang menutupi wajah, Gu Mingyue menyunggingkan senyum samar penuh kemenangan—bahkan di tengah rasa perih yang teramat sangat pada kakinya.

...----------------...

¹ Bu Bu Sheng Lian: Istilah tradisi kuno yang berarti "setiap langkah menumbuhkan teratai", lambang penghormatan tertinggi bagi pengantin wanita saat berjalan menuju aula pernikahan.

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!