Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Doa di Sepertiga Malam
Malam itu, rumah baru mereka terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Setelah pulang dari Jenna’s Bloom Café, Shaka dan Jenna sama-sama tidak banyak bicara. Mereka sempat menunaikan salat Maghrib di ruang masing-masing. Setelah itu, makan malam disiapkan oleh pekerja rumah di meja makan kecil dekat dapur.
Menu malam itu sederhana tetapi hangat. Sup ayam, tumis sayur, ikan panggang, dan nasi putih masih mengepulkan uap tipis saat disajikan.
Jenna duduk di sisi kanan meja. Shaka duduk di seberangnya.
Mereka makan bersama.
Dalam diam.
Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Tidak ada percakapan ringan. Tidak ada pertanyaan tentang hari yang mereka lalui. Tidak ada pembahasan tentang kafe, Sagara, atau ketegangan di mobil tadi.
Jenna menunduk, makan pelan-pelan.
Shaka beberapa kali meliriknya tanpa sadar.
Ia ingin bertanya apakah Jenna sudah tidak marah. Ia ingin bertanya apakah istrinya lelah. Ia bahkan ingin menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menginterogasi soal Sagara.
Namun setiap kali ia ingin bicara, kalimat itu berhenti di tenggorokan.
Jenna sendiri memilih diam.
Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Terlalu banyak justru. Tetapi ia tidak ingin memulai pembicaraan yang akhirnya hanya membuat hatinya semakin sakit.
Makan malam selesai tanpa satu pun percakapan berarti.
Setelah membantu membereskan piring meski sudah dicegah oleh pekerja rumah, Jenna naik ke kamar lebih dulu. Shaka menyusul beberapa menit kemudian setelah mengecek pesan singkat dari Rafa.
Ketika Shaka masuk ke kamar, Jenna sudah siap untuk tidur.
Ia mengenakan pakaian tidur longgar berwarna putih susu, khimar panjang yang menutupi tubuhnya, dan cadar yang masih terpasang rapi di wajahnya. Ia duduk di sisi kanan ranjang, membaca doa sebelum tidur dengan suara nyaris tidak terdengar.
Shaka berhenti di dekat pintu.
Matanya memperhatikan Jenna beberapa detik.
“Kamu tidur pakai cadar?”
Jenna mengangkat wajah.
“Iya.”
“Kenapa?”
Jenna menatapnya datar. “Jenna belum nyaman membukanya.”
Jawaban itu singkat, tetapi cukup membuat Shaka terdiam.
Ia tahu maksudnya.
Jenna belum nyaman dengannya.
Bukan karena status mereka belum sah. Mereka sudah suami istri. Tetapi kepercayaan bukan sesuatu yang otomatis tumbuh setelah akad. Apalagi setelah ia sendiri merusak awal pernikahan mereka dengan kata-kata dingin.
Shaka melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja kecil.
“Tidur di kasur saja.”
Jenna menatapnya. “Jenna bisa tidur di sofa.”
“Tidak.”
Nada Shaka datar, tetapi tegas.
Jenna diam.
Shaka melanjutkan, “Kamu tidur di kasur. Saya di sofa.”
“Mas Shaka tidak perlu melakukan itu.”
“Jenna,” ucap Shaka rendah, “jangan membantah untuk hal ini.”
Jenna menatapnya beberapa saat.
Biasanya, ia mungkin akan membalas. Namun malam itu ia terlalu lelah untuk berdebat. Tubuhnya masih belum benar-benar pulih setelah acara pernikahan yang panjang. Hatinya pun terlalu letih untuk memperpanjang jarak dengan kata-kata.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik.”
Shaka mengambil bantal dan selimut dari lemari, lalu berjalan menuju sofa di sudut kamar. Sofa itu tidak terlalu besar, tetapi lebih baik daripada membuat Jenna kembali tidur di sana.
Jenna merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang. Ia menarik selimut sampai dada, lalu memiringkan tubuh membelakangi Shaka.
Shaka duduk di sofa, memperhatikan punggung Jenna yang tertutup selimut.
Lagi-lagi jarak itu terasa jelas.
Mereka berada di kamar yang sama.
Tetapi tetap seperti dua orang yang berdiri di sisi berbeda dari sebuah dinding.
Lampu utama dimatikan. Hanya lampu tidur kecil di dekat ranjang yang menyala redup, meninggalkan cahaya lembut di sudut kamar.
“Selamat malam,” ucap Shaka pelan.
Jenna terdiam sebentar.
Lalu ia menjawab tanpa menoleh, “Selamat malam, Mas.”
Suaranya sopan.
Tetap sopan.
Tetapi Shaka mulai merindukan sesuatu yang bahkan belum lama ia kenal: kelembutan hangat Jenna saat pertama kali menyapanya di kafe.
Malam berjalan perlahan.
Jenna tertidur lebih dulu. Napasnya pelan dan teratur. Shaka masih terjaga cukup lama di sofa. Pikirannya bergerak dari satu hal ke hal lain: pernikahan, Jenna, Sagara, batas yang ia buat, dan rasa tidak nyaman setiap kali Jenna menjauh.
Entah pukul berapa akhirnya ia tertidur.
Di sepertiga malam, Jenna terbangun.
Kamar masih gelap. Suasana rumah hening. Dari luar jendela, hanya terdengar samar suara angin yang menyentuh dedaunan di taman samping.
Jenna membuka mata perlahan.
Ia terbiasa bangun di waktu seperti itu. Sejak sebelum menikah, sepertiga malam selalu menjadi ruang paling sunyi untuk ia menumpahkan semua hal yang tidak sanggup ia ucapkan kepada manusia.
Ia duduk perlahan di atas ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara.
Matanya menoleh ke arah sofa.
Shaka tertidur pulas di sana. Tubuh tingginya tampak tidak nyaman di sofa yang terlalu kecil. Selimutnya sudah jatuh sebagian ke lantai, sementara satu tangannya terlipat di atas dada.
Jenna menatapnya beberapa detik.
Hatinya masih sakit.
Ia masih kecewa.
Namun melihat Shaka tidur seperti itu membuat sisi lembut dalam dirinya bergerak. Bagaimanapun, laki-laki itu sekarang suaminya. Lelaki yang namanya ia sebut dalam doa. Lelaki yang menjadi bagian dari hidupnya, meski belum benar-benar menjadi tempat pulang.
Jenna turun dari ranjang dengan hati-hati.
Ia mengambil wudhu di kamar mandi, lalu kembali ke kamar dan menggelar sajadah di sisi ranjang. Setelah memastikan auratnya tertutup sempurna, ia mulai menunaikan salat tahajjud.
Dalam sujudnya, air mata Jenna jatuh tanpa suara.
Tidak ada Syana di sana.
Tidak ada Ibu Zahra.
Tidak ada Kak Abi.
Tidak ada siapa pun yang bisa ia jadikan tempat bercerita.
Hanya Allah.
Setelah salam, Jenna mengangkat kedua tangannya.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam sunyi malam. “Jenna tidak tahu bagaimana menjalani semua ini tanpa pertolongan-Mu.”
Air matanya jatuh lagi.
“Jenna tahu Mas Shaka punya luka. Jenna tahu mungkin hatinya pernah dihancurkan sampai dia sulit percaya lagi. Tapi Ya Allah, jangan biarkan luka itu membuat rumah tangga kami hancur sebelum benar-benar dimulai.”
Jenna menunduk lebih dalam.
“Luluhkan hati Mas Shaka, ya Allah. Bukan hanya untuk Jenna, tapi untuk dirinya sendiri. Tenangkan hatinya. Ajarkan dia percaya lagi. Dan ajarkan Jenna untuk sabar tanpa kehilangan harga diri.”
Ia mengusap air matanya, tetapi air mata lain kembali jatuh.
“Jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang bahagia. Rumah tangga yang penuh rahmat. Jika cinta belum ada, tumbuhkan dengan cara yang baik. Jika hati kami masih jauh, dekatkan perlahan tanpa menyakiti.”
Doa itu keluar dari hati yang benar-benar lelah.
Setelah cukup lama berdoa, Jenna menurunkan tangannya. Ia duduk diam di atas sajadah, membiarkan sunyi menenangkan dadanya.
Kemudian matanya kembali menoleh ke arah Shaka.
Selimut laki-laki itu sudah semakin turun.
Jenna bangkit pelan.
Ia berjalan mendekati sofa, lalu mengambil selimut yang hampir jatuh ke lantai. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia menyelimuti tubuh Shaka sampai ke bahunya.
Shaka bergerak sedikit.
Jenna langsung berhenti.
Mata Shaka terbuka samar.
Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sosok Jenna berdiri di hadapannya.
Cahaya lampu tidur jatuh lembut pada wajah perempuan itu. Untuk pertama kalinya, wajah Jenna tidak tertutup cadar di hadapannya. Rambutnya tetap tertutup khimar, tetapi wajahnya terlihat jelas dalam remang.
Kulitnya putih bersih. Wajahnya lembut. Bibirnya diam dalam ketenangan. Matanya cokelat terang, basah oleh sisa air mata, tetapi tetap indah dengan cara yang membuat dada Shaka terasa hangat dan asing.
Shaka menatapnya samar.
Antara sadar dan mimpi.
Jenna membeku ketika menyadari mata Shaka sedikit terbuka.
“Mas?” bisiknya pelan.
Shaka tidak menjawab.
Matanya hanya menatap Jenna dengan pandangan kabur.
Dalam kesadarannya yang belum utuh, Shaka mengira ia sedang bermimpi.
Mimpi tentang perempuan bermata cokelat terang yang berdiri di hadapannya dengan wajah selembut doa.
Jenna menunggu beberapa detik, memastikan Shaka benar-benar tidak sadar sepenuhnya. Ketika napas Shaka kembali teratur dan matanya perlahan terpejam, Jenna menghela napas lega.
Ia merapikan selimut itu sekali lagi.
Lalu, sebelum kembali ke ranjang, ia menatap Shaka sebentar.
Dalam hati, ia berbisik pelan.
Semoga suatu hari Mas Shaka tidak lagi melihat Jenna sebagai batas yang harus dijauhkan.
Setelah itu Jenna kembali ke ranjangnya. Ia memakai cadarnya lagi, lalu merebahkan diri di sisi kanan ranjang.
Di sofa, Shaka tetap tertidur.
Namun dalam tidurnya, bayangan wajah Jenna tertinggal samar.
Wajah yang ia pikir hanya mimpi.
Wajah yang terlalu lembut untuk dilupakan sepenuhnya.
Dan pagi nanti, ketika ia terbangun, Shaka mungkin tidak akan mengingat semuanya dengan jelas.
Namun ada satu hal yang akan tertinggal di dadanya.
Rasa hangat yang aneh.
Seperti seseorang baru saja menyelimuti bukan hanya tubuhnya, tetapi juga bagian hatinya yang selama ini terlalu dingin.