Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan harinya, suasana di dalam kamar terasa jauh lebih tenang dibanding hari sebelumnya.
Di atas meja, sebuah dokumen telah tergeletak rapi, tentu saja itu adalah Perjanjian perceraian yang telah diperbarui.
Yvaine duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya tegak, ekspresinya tenang. Ia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun saat membuka halaman demi halaman dokumen itu.
Joy duduk tidak jauh darinya, memainkan ujung selimut sambil sesekali melirik ke arah ibunya.
Tanpa berkata apa-apa, Yvaine akhirnya mengambil pena. Tangannya tidak gemetar, tidak pula ragu.
Dalam satu gerakan, ia menandatanganinya, kemudian menutup dokumen tersebut dengan perlahan.
Kini, secara resmi, semua telah berakhir.
Ia mendapatkan kompensasi yang tidak sedikit, mulai dari sejumlah besar uang, sebuah kondominium mewah di Kota S, dan yang terpenting adalah hak asuh Joy.
Mulai hari ini, ia tidak lagi terikat dengan keluarga Raguel.
Seharusnya itu menjadi akhir yang bersih, namun ketika matanya kembali menelusuri isi dokumen itu secara lebih rinci, sesuatu membuatnya berhenti.
Entah mengapa ia merasa kesal karna Tobias menyetujui semuanya tanpa adanya protes, terlebih lagi atas hak asuh Joy
Bahkan dalam salah satu klausul, tertulis dengan jelas bahwa nama anak itu akan dihapus dari keluarga Raguel.
“Kejam sekali..” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
'Anak ini tetap darah dagingnya. Bagaimana dia bisa melepaskannya semudah itu?'
Di sampingnya, Joy yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menyadari perubahan itu. Ia merangkak mendekat perlahan, wajahnya dipenuhi kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Mom..” panggilnya pelan.
Yvaine langsung tersadar. Ia menoleh, dan begitu melihat wajah kecil itu, ekspresinya langsung melunak. Tangannya terulur, mengusap kepala Joy dengan lembut, berusaha menenangkan.
“Mommy tidak apa-apa,” katanya pelan.
Namun hanya dia yang tahu bahwa dalam hatinya, amarah itu belum padam.
'Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan anak ini, termasuk Tobias.'
Meskipun kini Vaine, sang pemilik tubuh ini menyandang status sebagai wanita dari keluarga terpandang, kehidupan di balik gelar itu sama sekali tidak seindah yang terlihat dari luar.
Yvaine berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan pandangan kosong, sementara pikirannya perlahan kembali menelusuri masa lalu tubuh ini.
Ayah kandungnya adalah anak kedua dalam keluarga—seorang pria yang dikenal luas karena kebiasaannya bermain wanita. Skandal dan selingkuhan bukanlah rahasia, melainkan sesuatu yang hampir dianggap biasa.
Sementara itu, ibu Vaine hanyalah putri dari seorang saudagar biasa.
Sejak awal, pernikahan itu sudah tidak seimbang.
Ibunya meninggal saat Vaine baru berusia lima tahun dan tidak lama setelah itu ayahnya menikah lagi.
Bukan hanya itu, wanita yang menjadi ibu tirinya bahkan sudah memiliki anak yang usianya hanya terpaut satu atau dua tahun darinya.
Fakta itu jelas sekali menerangkan bahwa hubungan mereka sudah ada jauh sebelum ibunya meninggal.
Bahkan mungkin sejak awal pernikahan.
Sebagai satu-satunya anak dari istri pertama, posisi Vaine di rumah itu menjadi aneh. Ia bukan bagian dari keluarga baru itu, namun juga tidak bisa sepenuhnya keluar.
Ia seperti tamu yang tidak diinginkan
Empat tahun lalu, tekanan itu mencapai puncaknya dan Vaine membuat keputusan yang mengubah segalanya.
Ia memaksa dirinya masuk ke dalam keluarga Raguel dengan mencoba berbagai cara yang akhirnya membuatnya bisa menikahi Tobias.
Ironisnya, ketika ayahnya mengetahui hal itu, ia justru merasa lega, lebih tepatnya senang.
Mengingat itu, Yvaine hanya merasa muak.
“Keluarga yang menyedihkan..” gumamnya pelan.
Ia menarik napas, lalu menutup matanya sejenak.
'Mengharapkan bantuan dari mereka? Mustahil!'
“Lagipula…” bisiknya pelan, “aku bukan Vaine.”
***
Beberapa saat kemudian, sesuatu melintas di benaknya.
Matanya perlahan terbuka begitu ia mendapatkan sebuah ide cemerlang.
Tanpa ragu, ia meraih ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur. Jarinya bergerak cepat, menekan nomor yang seolah sudah tertanam dalam ingatan.
Panggilan itu tersambung.
Beberapa detik berlalu, lalu jawaban pun terdengar dari seberang
“Siapa sih yang nelepon pagi-pagi begini?! Aku lagi mimpi enak!”
Suara laki-laki dari seberang terdengar serak, kesal, dan jelas masih setengah sadar.
Yvaine tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum kecil, membiarkan pria itu melanjutkan omelannya.
“Siapa kamu? Hati-hati ya! Aku bisa bikin kamu babak belur sampai ibumu sendiri nggak kenal!”
Ancaman itu terdengar berisik, namun hanya omong kosong.
Anehya, suara itu justru terasa akrab, seolah membangkitkan sesuatu yang lama terkubur dalam ingatannya.
Yvaine menunggu sampai pria itu benar-benar selesai mengonel, baru kemudian ia membuka suara.
“Sepertinya,” katanya santai, “kita tidak bertemu beberapa hari saja sudah cukup membuat emosimu makin berkembang.”
Di ujung telepon, suasana mendadak sunyi.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Kak Yvaine?” suara itu akhirnya terdengar, kini tidak lagi kasar, melainkan ragu.
Senyum Yvaine semakin jelas.
“Kamu bahkan tidak bisa mengenali suaraku?” katanya ringan. “Apa perlu aku gantung kamu di pohon depan sekolah dulu supaya kamu ingat siapa seniormu?”
Hening..
Lalu tiba-tiba..
“Bruk!”
Suara benda jatuh terdengar keras dari seberang yang disusul erangan kesakitan.
“Aduh!”
Yvaine tertawa kecil, ia bahkan tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi.
“Jatuh dari tempat tidur?” tanyanya santai.
Di seberang sana, pria itu mengerang pelan sebelum akhirnya menjawab dengan nada campur aduk antara panik dan tidak percaya.
“Kak.. ini beneran kamu?!”
Yvaine hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai.
“Iya,” jawabnya singkat. “Kalau bukan aku, siapa lagi yang berani ganggu tidurmu?”
Beberapa detik hening lagi, lalu suara itu berubah menjadi lebih serius.
“Kamu tiba-tiba nelpon.. ada apa?”
Yvaine tidak langsung menjawab.
Tatapannya sedikit menajam, meski senyumnya masih tersisa.
“Ada sesuatu yang ingin aku lakukan,” katanya pelan. “Dan aku butuh bantuanmu.”
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆