"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Skenario Pujian dan Sudut yang Sempit
Bab 20: Skenario Pujian dan Sudut yang Sempit
Aroma tumisan bawang merah, terasi, dan gurihnya santan perlahan menguar dari arah dapur bawah, memenuhi seisi ruang tengah rumah mewah kota yang berpendingin udara. Jam dinding besar berlapis kuningan telah menunjukkan pukul tujuh malam. Suara dentingan spatula besi yang beradu dengan wajan terdengar berirama, diselingi suara tawa kecil yang sengaja diredam.
Di balik meja konter dapur yang bersih, Santi sedang bergerak dengan sangat cekatan. Kain jariknya yang biasa ia kenakan di kampung kini telah diganti dengan celana kulot hitam yang pas di tubuh, dipadukan dengan kaus rajut lengan pendek sewarna salem yang modis. Rambutnya yang hitam legam dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya dengan sangat manis—sebuah penampilan yang sengaja didesain untuk memikat, namun tetap dibungkus dalam kesan "sedang bekerja keras".
Ibu Broto berdiri di samping konter, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman puas yang merekah lebar. Matanya memperhatikan bagaimana Santi dengan lihai mengulek sambal bajak dan menata potongan ayam goreng lengkuas ke atas piring saji marmer.
"Nah, begitu, Santi. Potongan ayamnya ditata yang rapi. Biar Mas Adrian-mu itu selera makannya bangkit lagi setelah berhari-hari mukanya kusut gara-gara urusan restoran," ujar Ibu Broto dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, memastikan gema suaranya bisa merambat naik hingga ke lantai dua.
"Iya, Ibu. Ini Santi buatkan sambalnya agak manis sedikit, sesuai selera Mas Adrian kalau lagi pusing," jawab Santi dengan nada suara yang teramat lembut, mendayu-dayu penuh kepatuhan yang manipulatif.
Tak lama kemudian, langkah kaki Adrian terdengar mendekat dari arah ruang kerja lantai satu. Wajah pria itu tampak luar biasa lelah. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah kelopak matanya, akibat semalaman suntuk memikirkan grafik penjualan dari ketiga cabang restoran yang terus merosot tajam. Ditambah lagi, sore tadi ia baru saja mendapat teguran keras dari salah satu investor utama karena komplain kualitas rasa "Rasa Hana" mulai masuk ke forum diskusi pencinta kuliner kota.
Namun, begitu Adrian mencium aroma masakan yang menggoda dari arah dapur, langkah kakinya melambat. Ketegangan di pundaknya sedikit mengendur.
"Wah, anak Ibu yang sukses sudah keluar," sambut Ibu Broto dengan binar mata yang dilebih-lebihkan saat melihat Adrian berjalan mendekati meja makan. "Ayo, Le, langsung duduk. Ini Santi sudah menyiapkan menu makan malam spesial untuk menyambut kepulangan kita dari kampung."
Adrian menarik kursi makan marmer, mendudukkan dirinya dengan helaan napas panjang. Matanya melirik ke arah hidangan yang tersaji di atas meja: ayam goreng lengkuas yang keemasan, sayur asem Jakarta yang segar, dan sambal bajak yang mengilap berminyak. Penampilan makanan itu begitu sempurna, persis seperti standar restoran miliknya.
Santi dengan gesit langsung mengambil piring kosong milik Adrian, menyendokkan nasi putih yang masih mengepulkan asap, lalu meletakkannya kembali di hadapan Adrian dengan gerakan yang sangat anggun.
"Silakan dinikmati, Mas Adrian. Maaf kalau rasanya mungkin ada yang kurang pas," bisik Santi sembari melemparkan pandangan mata yang sarat akan perhatian mendalam, membuat jantung Adrian berdesir halus di tengah rasa frustrasinya.
Adrian mengambil sendok dan garpu, lalu mulai mencicipi suapan pertama ayam goreng dan sambal buatan Santi. Rasa manis gurih yang tebal langsung memanjakan lidahnya. Berbeda dengan rasa getir yang belakangan ini ia rasakan pada bumbu inti restorannya, masakan Santi malam ini terasa begitu akrab dan menenangkan egonya yang sedang terluka.
"Bagaimana, Adrian? Enak, kan?" tanya Ibu Broto cepat, memajukan tubuhnya ke meja makan. "Ibu bilang juga apa. Masakan Santi ini tidak kalah dengan masakan orang-orang koki di restoran. Malah jauh lebih hemat dan pas di lidah kita. Coba kamu bandingkan dengan istrimu yang sok bergaya itu."
Tepat saat kata "istrimu" diucapkan oleh Ibu Broto, suara langkah kaki yang sangat teratur terdengar menuruni anak tangga lantai dua. Hana berjalan perlahan menuju ruang makan. Ia mengenakan gaun tidur panjang berbahan sutra putih yang longgar namun tampak sangat berkelas, kontras dengan pakaian rajut ketat milik Santi.
Hana berjalan tanpa ekspresi, lalu mendudukkan dirinya di ujung meja makan yang paling jauh, mengambil posisi berhadapan langsung dengan Adrian.
Suasana di meja makan seketika berubah kaku dan mencekam. Tawa Ibu Broto langsung terhenti, digantikan oleh tatapan masam yang penuh permusuhan. Santi pun buru-buru melangkah mundur dua langkah, berdiri di dekat dispenser air dengan kepala tertunduk, kembali ke mode pelayan yang tertindas.
Ibu Broto sengaja berdeham keras, lalu menyindir Hana tanpa tedeng aling-aling. "Aduh, yang baru bangun tidur akhirnya mau turun juga ke meja makan. Untung saja di rumah ini sekarang ada Santi yang cekatan. Kalau tidak, mungkin suami dan mertuamu ini sudah mati kelaparan menunggu nyonya besarnya turun dari menara gading."
Hana tidak membalas sindiran itu. Ia bahkan tidak melirik ke arah Ibu Broto. Sepasang mata indahnya hanya menatap lurus ke arah piring Adrian, lalu beralih menatap wajah suaminya yang sedang mengunyah makanan dengan kikuk.
"Bagaimana rasa makanannya, Mas Adrian? Apakah sesuai dengan seleramu?" tanya Hana dengan nada suara yang teramat tenang, bernada datar tanpa ada riak cemburu maupun amarah.
Adrian berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik tenggorokannya di bawah tatapan dingin Hana. "Iya... enak, Han. Rasanya pas. Santi masakannya makin pintar."
Ibu Broto langsung menyambar ucapan anaknya dengan nada jemawa. "Bukan cuma pintar, Adrian! Tapi Santi ini tahu diri! Dia tahu bagaimana cara menyenangkan hati laki-laki yang sudah lelah mencari uang di luar. Tidak seperti wanita yang kerjanya cuma bisa melarang, menuntut ini-itu, sampai-sampai urusan pengasuh anak saja harus diatur-atur pakai yayasan mahal. Mulai sekarang, biar Santi yang memegang kendali penuh atas dapur dan urusan belanja rumah ini. Kamu tidak usah ikut campur lagi, Hana. Fokus saja dengan perutmu itu."
Skenario penyudutan ini berjalan dengan sangat sempurna. Ibu Broto dan Santi secara sistematis sedang menggiring Hana ke sudut yang paling sempit di dalam rumah tangganya sendiri, mengikis otoritas domestik Hana sebagai istri sah secara perlahan namun mematikan. Mereka mengira, dengan merebut kendali dapur dan memanjakan lidah serta ego Adrian, mereka telah berhasil mengisolasi Hana sepenuhnya.
Namun, di balik wajah tenangnya, Hana justru sedang menikmati setiap detik dari proses penyudutan ini. Hana sengaja membiarkan dirinya terpojok, membiarkan Santi mengambil alih seluruh urusan dapur dan belanja rumah tangga kota, karena ia tahu betul watak asli dari gadis pelayan itu. Santi yang ambisius dan serakah pasti tidak akan tahan untuk tidak menyalahgunakan uang belanja harian yang kini diserahkan kepadanya.
Lebih dari itu, Hana tahu bahwa "kenyamanan" yang sedang dirasakan Adrian malam ini hanyalah sebuah obat bius sementara yang semu. Di luar sana, jaringan restoran "Rasa Hana" yang menjadi satu-satunya sumber dana untuk membiayai kemewahan rumah ini sedang berada di ambang kehancuran akibat racun bumbu palsu buatannya yang terus menggerogoti kepercayaan pelanggan setia.
Hana menyunggingkan senyuman tipis yang sangat misterius, sejenis senyuman yang membuat Adrian mendadak menghentikan kunyahannya karena dirayapi rasa tidak nyaman yang asing di sudut hatinya.
"Baik, Ibu. Jika menurut Ibu dan Mas Adrian posisi Santi di dapur ini sudah sangat tepat, saya tidak akan ikut campur lagi," sahut Hana dengan suara yang teramat lembut, hampir seperti belati sutra yang menyayat tanpa suara. "Silakan nikmati masakan Santi sepuasmu, Mas. Rawatlah kenyamananmu malam ini baik-baik... karena besok, badai di restoranmu mungkin tidak akan memberimu kesempatan untuk makan sewenang-wenang seperti ini lagi."
Hana berdiri dari kursi makannya tanpa menyentuh makanan di meja sedikit pun. Ia berbalik dan berjalan kembali menuju lantai atas dengan langkah kaki yang anggun dan penuh wibawa yang tak tergoyahkan. Di bawah keremangan ruang makan, Adrian menatap punggung Hana yang menjauh dengan perasaan cemas yang mendalam, sementara Santi dan Ibu Broto tersenyum lebar, mengira mereka telah memenangkan babak baru dari perang dingin ini, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja mengunci diri mereka sendiri di dalam jebakan maut yang dirancang oleh sang ratu asli.