Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 31
Damian melangkah keluar dari ruang tamu dengan langkah yang mantap, meninggalkan kepanikan dan amarah yang meledak-ledak di dalam sana. Begitu pintu tertutup, Rian segera menyusul langkah Damian dengan langkah cepat namun tetap menjaga jarak.
"Pak, apa Bapak sudah yakin dengan keputusan ini? Dewan direksi pasti akan bertanya-tanya mengenai alasan penarikan modal secara mendadak. Dan Bu Chintya, saya yakin beliau tidak akan tinggal diam," bisik Rian dengan nada rendah, menyuarakan kekhawatiran yang logis sebagai seorang tangan kanan.
Damian berhenti sejenak di depan jendela koridor yang menghadap ke arah kota. Pemandangan di bawah sana tampak sibuk dan tidak peduli dengan kekacauan yang akan terjadi di kantornya dalam waktu kurang dari satu jam.
"Rian," suara Damian tenang, hampir sedingin es.
"Selama ini, kita hidup dalam sangkar yang mereka buat. Mereka pikir dengan menguasai modal, mereka menguasai hidupku dan harga diriku. Mereka salah." Damian menoleh ke arah Rian, tatapannya tajam.
"Kita sudah mendapatkan semua bukti-bukti kejahatan mereka. Dan tadi aku sudah bertemu dengan pengacara, dia sedang memproses semuanya. Selama ini aku merasa sangat bo-doh karena selalu di kendalikan Ibu yang ternyata sangat rakus akan harta peninggalan kakek dan ayahku. Sedangkan selama ini aku selalu menurut semua yang dia perintahkan sebagai wujud baktiku padanya. Namun setelah melihat sendiri semua yang dia lakuakn pada keuangan kantor di belakangku, kons-pi-rasinya dengan Berlian dan Pak Kuncoro. Juga sikapnya yang dingin kepada Arkhasa, dan bahkan kepada Alysia jauh lebih parah lagi. Aku tak bisa diam saja. Apalagi Alysia, aku sudah sangat bersalah padanya karena aku terlalu penge-cut dan takut memulai semuanya ..."
Rian terdiam dan dia paham dengan perasaan Damian. Dia sebenarnya tahu alasan Damian, namun dia juga tak punya andil atau bagian apapun untuk membuat Alysia percaya kepada Damian. Karena itu adalah urusan rumah tangga mereka juga.
"Baiklah, kalau anda sudah yakin dengan keputusan ini. Saya akan mempersiapkan segalanya! Tapi anda pasti tahu konseku-ensi terbesar dari semua ini!" ujar Rian. Damian mengangguk tegas.
Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar cepat dan nyaring di koridor marmer. Suara sepatu hak tinggi yang menghentak lantai seolah menjadi pengiring datangnya "badai" yang baru saja disebut oleh Berlian.
Bu Chintya, dengan aura dominasi yang selama ini membayangi hidup Damian, muncul di ujung koridor bersama asisten pribadinya. Wajahnya yang cantik dan terawat tampak merah padam karena menahan murka.
"Damian! Apa yang sudah kamu lakukan?!" teriak Bu Chintya tanpa mempedulikan karyawan lain yang mulai berbisik-bisik.
"Berani-beraninya kamu memperlakukan Pak Kuncoro dan Berlian seperti itu? Kamu ingin menghancurkan warisan keluarga kita?!"
Damian tidak bergeming. Dia justru berbalik badan, menghadapi ibunya dengan punggung yang tegak dan tatapan yang tidak lagi menyiratkan rasa takut atau keinginan untuk mendapat persetujuan.
"Bukankah sudah ibu bilang kamu harus bisa menahan Pak Kuncoro untuk menarik modalnya apapun syarat yang dia berikan!" Teriak Bu Chintya.
"Ibu, selamat datang," sapa Damian datar.
"Ibu datang di waktu yang tepat. Masuklah ke ruang rapat. Saya akan menunjukkan kepada Ibu, dan kepada seluruh dewan direksi, bagaimana cara saya akan membersihkan 'sampah' yang selama ini Ibu biarkan menumpuk di perusahaan ini."
Bu Chintya tertegun sejenak. Sorot mata anaknya tidak lagi menunjukkan kepatuhan yang selama ini ia kendalikan dengan mudah. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang lebih kuat, lebih tajam, dan jauh lebih berbahaya.
"Kamu... kamu benar-benar sudah gila," desis Bu Chintya.
"Mungkin saja," jawab Damian singkat.
"Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya merasa benar-benar waras. Kita lihat saja nanti, Bu. Siapa sebenarnya yang akan hancur hari ini."
Tanpa menunggu balasan ibunya, Damian melangkah menuju ruang rapat utama. Kini, dia tidak lagi merasa sendirian. Bayangan wajah Alysia yang selama ini ia abaikan, kini justru menjadi bahan bakar kekuatannya. Dia akan mengakhiri semua sandiwara ini, sekali dan untuk selamanya.
Damian melangkah masuk ke ruang rapat utama dengan kepala tegak. Di dalam, suasana sudah mencekam. Pak Kuncoro dan Berlian duduk di kursi tamu, wajah mereka masih menyisakan sisa-sisa amarah, sementara beberapa anggota dewan direksi yang sudah hadir tampak gelisah melihat ketegangan yang ada.
Bu Chintya mengekori Damian dengan napas memburu, matanya menatap tajam ke arah putranya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Damian, hentikan ini sekarang juga! Minta maaf pada Pak Kuncoro dan tarik kembali perintahmu pada Rian, atau Ibu akan menggunakan hak veto Ibu untuk menangguhkan posisimu sebagai Direktur Utama!"
Damian berhenti di ujung meja panjang. Dia tidak langsung duduk. Dia menatap ibunya dengan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Hak veto itu hanya berlaku jika perusahaan sedang dalam masa krisis yang disebabkan oleh kesalahan manajemen, Bu," jawab Damian dingin. Ia menarik kursi pimpinan, lalu duduk dengan santai.
"Tapi apa yang akan kita bahas hari ini justru adalah cara menyelamatkan perusahaan dari ancaman eksternal yang nyata,"
Mereka masuk ke dalam ruang meeting yang sudah di penuhi oleh jajaran direksi dan para petinggi perusahaan juga pemegang saham. Mereka smua tampak kaget dengan panggilan rapat darurat dari Damian.
Sedangkan Bu Chintya tak lagi bisa berkata-kata dia hanya melirik ke arah Pak Kuncoro dan juga Berlian yang juga sudah berada di sana.
"Maaf mengganggu waktu anda sekalian dengan Meeting darurat ini. Namun saya tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melakukan Meeting ini. Silahkan semuanya duduk!
Rian, yang sudah siap dengan tumpukan dokumen tebal, segera membagikan map-map tersebut ke setiap kursi direksi. Berlian mencoba menyambar map yang diletakkan di depannya, namun Rian menahannya dengan tangan.
"Maaf, Nona Berlian. Ini dokumen internal untuk para direksi dan pemegang saham mayoritas," ujar Rian tegas.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau!" teriak Berlian.
"Diam, Berlian!" potong Pak Kuncoro dengan suara bergetar, setelah sempat melirik sekilas isi dokumen yang ia ambil paksa dari meja.
Wajahnya yang tadi merah padam, kini berubah pucat pasi. Dia menatap Damian dengan mata yang membelalak.
"Dari mana... dari mana kau mendapatkan ini?"
Damian membuka salah satu map miliknya dan menyilangkan tangan di atas meja.
"Kalian pikir aku hanya sibuk bermain peran sebagai menantu yang patuh selama enam tahun ini? Kalian terlalu meremehkan apa yang dilakukan seorang pria saat dia merasa dunianya terancam."
Ruangan mendadak sunyi. Bu Chintya yang tadinya berdiri tegak penuh wibawa, kini perlahan duduk di kursinya, matanya menyapu isi dokumen di tangannya. Semakin lama ia membaca, semakin tidak stabil napasnya. Itu adalah catatan transaksi gelap, bukti penggelapan pajak yang melibatkan perusahaan Kuncoro, dan rekaman percakapan yang membuktikan adanya paksaan dan sabotase proyek perusahaan Damian.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat