Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.
Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.
Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Rumah yang Hangat
Boqin Changing melirik ke arah Long Aotian dan Wu Xing. Kemudian ia kembali memandang ayahnya.
"Mereka adalah orang-orangku, Ayah."
Ia lalu memperkenalkan keduanya.
"Yang ini Long Aotian, dan yang satu lagi Wu Xing."
Boqin Feng segera menangkupkan kedua tangannya dengan ramah.
"Salam Tuan semuanya. Terima kasih sudah menemani Chang'er selama ini."
Long Aotian dan Wu Xing tentu tidak berani bersikap sembarangan. Meski di hadapan mereka hanya berdiri seorang pendekar menengah, orang itu tetaplah ayah dari Tuan Besar mereka.
Keduanya segera membalas hormat.
"Salam, Tuan Feng."
"Salam."
Boqin Feng tersenyum puas. Ia nampak tidak kaget melihat putranya mempunyai pengikut.
"Berarti.... mereka seperti Tuan Quang Yong?"
Mendengar nama itu, Boqin Changing sedikit terkejut.
"Ayah mengenalnya?"
Boqin Feng tertawa kecil.
"Tentu saja. Tuan Yong sudah menceritakan semuanya padaku."
Ia berjalan menuju kursinya lalu duduk santai.
"Orang itu bahkan pernah beberapa kali datang berkunjung ke sekte."
Boqin Changing mengangkat alisnya.
"Begitu?"
Boqin Feng mengangguk.
"Iya. Dia juga yang menjelaskan kalau kau memiliki usaha besar di luar sana bersamanya."
Ia menunjuk ke sekeliling rumah.
"Rumah ini, renovasinya sebagian besar berasal dari Kamar Dagang Pedang Emas."
Kemudian ia menunjuk ke arah luar rumah.
"Bahkan banyak pembangunan di Sekte Dua Pedang Petir juga mendapat bantuan dari mereka."
Boqin Feng tersenyum bangga.
"Quang Yong benar-benar banyak membantu."
Ia menatap putranya dengan sorot mata penuh kebanggaan.
"Kau benar-benar berkembang jauh melampaui dugaan ayah."
"Dulu kau hanya anak yang suka berlatih sampai lupa waktu. Sekarang kau bahkan mampu membangun sebuah kelompok dagang sebesar itu."
Boqin Changing tersenyum kecil.
"Aku memang tidak salah memilih orang."
Nada suaranya terdengar penuh keyakinan.
"Quang Yong adalah orang yang tahu membalas budi. “
“Sekarang, saat ia berhasil berdiri, ia juga tidak melupakan orang-orang yang pernah membantunya. Itulah alasan aku mempercayakan Kamar Dagang Pedang Emas kepadanya."
Boqin Feng mengangguk puas.
"Berarti penilaianmu memang tepat."
Tidak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar dari arah dapur. Ehuang Baiye muncul sambil membawa beberapa piring berisi berbagai hidangan.
"Ayo, semuanya. Mari makan."
Ia mulai menata lauk-pauk di atas meja makan.
Aroma masakan segera memenuhi seluruh ruangan. Ada tumis sayuran, sup hangat, ikan bakar, serta beberapa hidangan sederhana lainnya.
"Tidak banyak. Tapi semoga cukup."
Boqin Feng langsung berdiri.
"Hahaha! Masakan ibumu memang yang terbaik. Ayo semuanya kita makan dulu!"
Mereka pun berpindah ke meja makan. Long Aotian dan Wu Xing ikut duduk dengan sopan. Begitu semua orang mulai makan, Ehuang Baiye tanpa sadar terus mengambilkan lauk untuk putranya.
"Ini juga."
"Yang ini kesukaanmu."
"Dan yang ini."
Dalam waktu singkat, mangkuk Boqin Changing sudah penuh dengan berbagai lauk.
Boqin Changing hanya memandang mangkuknya dalam diam. Tatapannya perlahan melembut. Bukan karena ia tidak menyukai makanan itu. Justru sebaliknya. Ia sangat merindukan masakan ibunya.
Setelah bertahun-tahun berkelana ke berbagai dunia, mencicipi makanan para koki terbaik, menikmati hidangan para kaisar, tidak ada satu pun yang mampu menggantikan rasa masakan sederhana di hadapannya.
Melihat putranya hanya terdiam tanpa menyentuh makanan, Ehuang Baiye sedikit khawatir.
"Chang'er?"
Boqin Changing mengangkat kepala.
"Ada apa, Ibu?"
Ehuang Baiye tersenyum canggung.
"Apa... masakan Ibu sudah tidak kau sukai?"
Boqin Changing langsung menggeleng cepat.
"Tentu saja tidak."
Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh.
"Makanan Ibu adalah makanan terenak di dunia."
Mendengar jawaban itu, wajah Ehuang Baiye langsung dipenuhi senyum.
"Kalau begitu kenapa hanya dipandangi?"
Ia terkekeh pelan.
"Apa... kau mau Ibu suapi?"
"...."
Ucapan itu membuat ruang makan mendadak sunyi sesaat.
Di sisi lain meja, bahu Long Aotian mulai bergetar. Wu Xing juga buru-buru menundukkan kepalanya. Keduanya menggigit bibir sekuat tenaga. Mereka benar-benar sedang mati-matian menahan tawa.
Di benak mereka hanya muncul satu gambaran. Tuan Besar mereka, pemilik kekuatan yang luar biasa, hendak disuapi oleh ibunya. Pemandangan itu terasa begitu mustahil hingga hampir membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Boqin Changing berdehem pelan.
"Ehem..."
Sejak kembali ke sektenya hari ini, ekspresi canggung benar-benar terlihat di wajahnya. Ia melirik sekilas ke arah Long Aotian dan Wu Xing yang masih menundukkan kepala sambil menahan tawa. Sudut matanya sedikit menyipit.
Kedua orang itu langsung buru-buru mengambil cangkir teh mereka, berpura-pura minum agar tidak sampai tertawa di depan Tuan Besar mereka.
Boqin Feng segera berdehem pelan begitu melihat putranya semakin canggung.
"Hahaha... sudah, sudah."
Ia menepuk bahu istrinya, Ehuang Baiye sambil tersenyum lebar.
"Jangan terus menggoda Chang'er."
Kemudian ia menoleh kepada Long Aotian dan Wu Xing.
"Kalian juga. Ayo makan."
"Masakannya nanti keburu dingin."
Long Aotian dan Wu Xing saling berpandangan. Keduanya segera mengangguk.
"Baik."
Mereka pun mulai menikmati hidangan di atas meja.
Awalnya Long Aotian hanya mengambil sedikit tumis sayuran. Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, gerakannya langsung terhenti.
Matanya sedikit membesar.
"..."
Wu Xing yang duduk di sampingnya ikut mencoba semangkuk sup hangat. Beberapa detik kemudian ia juga menunjukkan ekspresi serupa.
Long Aotian akhirnya mengangguk pelan.
"Enak."
Wu Xing ikut mengangguk.
"Benar."
Ia kembali mengambil sedikit ikan bakar.
"Rasanya sederhana. Tapi justru karena itu terasa sangat nikmat."
Long Aotian tersenyum kecil.
"Aku baru mengerti kenapa Tuan Besar berkata masakan ini yang terbaik."
Ehuang Baiye tersipu malu mendengar pujian itu.
"Ah... kalian terlalu memuji. Ini hanya masakan rumahan."
Boqin Feng langsung tertawa.
"Istriku memang selalu berkata begitu. Padahal sejak dulu semua orang yang makan di rumah ini pasti meminta tambah."
Suasana makan perlahan berubah semakin santai. Mereka berbincang mengenai perjalanan Boqin Changing selama beberapa tahun terakhir. Tentu saja Boqin Changing hanya menceritakan hal-hal sederhana dan sengaja menyembunyikan banyak pengalaman berbahaya yang pernah dialaminya.
Boqin Feng sesekali tertawa mendengar cerita putranya. Ehuang Baiye juga beberapa kali menyela, memastikan apakah Boqin Changing makan dengan teratur selama berada di luar.
Long Aotian dan Wu Xing hanya memperhatikan semua itu. Keduanya mulai memahami mengapa Boqin Changing begitu menghormati kedua orang tuanya. Rumah itu dipenuhi kehangatan yang bahkan jarang mereka temui di dunia asal mereka.
Tidak terasa, seluruh hidangan di atas meja akhirnya habis. Ehuang Baiye segera berdiri sambil membereskan piring-piring kotor.
"Chang'er. Ibu akan menyiapkan kamarmu."
Kemudian ia menoleh kepada Long Aotian dan Wu Xing.
"Kalian juga tidak perlu khawatir. Masih ada beberapa kamar kosong."
"Aku akan segera merapikannya."
Long Aotian segera menangkupkan tangan.
"Terima kasih."
Wu Xing juga ikut memberi hormat.
"Terima kasih banyak."
Ehuang Baiye tersenyum hangat lalu membawa piring-piring menuju dapur. Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, mata Boqin Changing tiba-tiba menyipit.
Di saat yang hampir bersamaan, Long Aotian dan Wu Xing juga menunjukkan reaksi yang sama. Ketiganya serempak menoleh ke arah pintu masuk rumah.
Suasana hangat beberapa saat lalu mendadak berubah sunyi. Mereka merasakan sesuatu. Seseorang sedang mendekat.
Aura orang itu tenang, namun jika dirasakan, mengandung tekanan yang sangat besar.
Langkah kaki perlahan terdengar dari luar halaman.
Tak... Tak... Tak...
Wu Xing memusatkan indranya beberapa saat. Ekspresinya langsung berubah serius.
"Pendekar langit..."
Long Aotian mengangguk pelan.
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat