Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 12.
Di sebuah ruangan, Kaisar duduk menunggu seseorang. Pintu ruangan terbuka, orang itu berjalan masuk.
“Tuan,“ sapa pria itu.
“Apa kau sudah menyelidikinya?“
Pria itu mengangguk. “Dari rekaman beberapa Cctv, pelakunya adalah dokter di akademi.“
“Ada dua dokter yang bertugas mengecek kesehatan, yang mana?“ Kaisar menatap tajam. “Aku tebak, bukan Dokter Revan.“
Dokter Revan adalah dokter pertama yang memeriksa Leya saat tes kesehatan.
“Anda benar, Tuan. Itu perbuatan Dokter Tama. Apa Anda ingin melaporkannya?“
“Belum, selidiki lagi. Aku yakin ada seseorang yang menyuruhnya.“ Jawab Kaisar.
“Baik, Tuan.“
Kaisar mengetukkan jarinya pelan di sandaran kursi, matanya menyipit tajam. Ia sudah punya dugaan siapa dalangnya, namun semua harus dibuktikan terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, Akademi Penerbangan Nusantara pagi itu cukup sibuk. Beberapa trainee sudah berkumpul di ruang briefing, jadwal latihan hari itu adalah latihan navigasi udara.
Leya duduk di kursi baris tengah, dia sedang membaca catatan penerbangannya. Di sebelahnya, Kaisar sibuk mengunyah permen karet.
“Katanya hari ini, ada Instruktur baru.“ Terdengar bisik-bisik.
Leya tak terlalu tertarik, dia masih fokus membaca checklist.
“Siapa?“ tanya Kaisar.
“Katanya sih pilot senior dari maskapai, dan juga dia terkenal galak.“
Kaisar menyenggol lengan Leya, “Kau dengar itu...“
Leya menutup bukunya, “Kalau begitu, kita harus lebih siap.“
Pintu ruang briefing terbuka, semua trainee otomatis menoleh. Seorang pria masuk bersama kepala instruktur akademi. Langkahnya tenang, seragam pilotnya rapi. Begitu wajahnya terlihat jelas, Leya membeku.
Instruktur baru itu, adalah Arkana.
Kepala instruktur berdiri di depan ruangan, “Hari ini, kita kedatangan Instruktur tambahan dari maskapai. Untuk beberapa waktu ke depan, beliau akan ikut menangani pelatihan trainee. Dia adalah Kapten Arkana. Pasti beberapa dari kalian sudah pernah mendengar namanya.“
Ruangan itu lansung menjadi ramai, beberapa trainee tampak kagum. Nama Arkana memang cukup terkenal beberapa tahun lalu karena pernah terpilih sebagai salah satu kapten pilot di Akademi. Namun bagi Leya, suasana justru menjadi aneh.
Arkana berdiri di depan kelas, tatapannya menyapu seluruh ruangan. Saat matanya bertemu dengan Leya, ia berhenti sepersekian detik. Ekspresinya tetap datar, seolah tak terjadi apa-apa.
“Ingat! Kalian disini untuk menjadi pilot, bukan untuk sekadar lulus latihan.“ Kata Arkana.
Suasana langsung sunyi.
“Navigasi udara bukan hanya soal mengikuti alat, kadang kalian harus mengambil keputusan dalam beberapa detik. Dan keputusan yang salah... bisa membunuh banyak orang.“ Lanjut Arkana dengan suara tegas.
Beberapa trainee terlihat tegang, Viola berbisik pelan. “Galak juga.“
Arkana melanjutkan briefing beberapa menit lagi, lalu ia mulai membagi pasangan latihan yang sudah ada.
“Rafi dengan Viola“
“Damar dengan Sinta.“
Beberapa nama yang lain disebut, lalu Arkana melihat daftar terakhir.
“Kataleya dengan Kaisar.“ Saat itu lah Arkana menatap Kaisar.
Kaisar menatap balik pria itu dengan tajam, ia bersandar dengan santai seolah tak peduli Arkana menjadi instruktur. Tapi tatapan mereka cukup membuat suasana menjadi aneh.
Latihan kemudian dimulai satu jam kemudian, di ruang simulator. Leya sudah duduk di kursi pilot ketika Kaisar masuk.
“Kau pasti kaget tadi.“ Ucap Kaisar.
“Sedikit.“
Leya mulai menyalakan panel simulator.
“Apa menurutmu ini kebetulan? Tiba-tiba dia jadi instruktur.“ Lanjut Kaisar, ia duduk seperti biasa di kursi co-pilot.
“Entahlah, aku jarang percaya pada kebetulan.“ Jawab Leya.
Pesawat virtual muncul di layar, latihan pendekatan bandara di mulai. Beberapa menit pertama berjalan normal, namun tiba-tiba suara Arkana terdengar dari interkom Instruktur.
“Kataleya.“
“Ya, Kapten Arkana.“
“Kecepatan mu terlalu tinggi.“
Leya melihat indikator. “Aku rasa, ini masih dalam batas wajar.“
“Turunkan sepuluh knot.“ Perintah Arkana.
Leya lalu menyesuaikan kecepatan, pesawat stabil lagi.
Beberapa menit kemudian Arkana kembali berbicara. “Pendekatan mu terlalu dekat dengan awan.“
“Aku sudah koreksi.“ Jawab Leya.
“Koreksi lebih cepat!“ Timpal Arkana.
Begitu simulator berhenti, Leya melepas headset-nya. Ia berdiri dengan wajah kesal.
“Kau baik-baik saja?“ tanya Kaisar.
“Tak masalah.“
“Kau tau Leya... dia sengaja menekan mu.“
Leya mengambil catatannya. “Kalau dia pikir itu akan membuatku berhenti, dia salah.“
Mereka berdua keluar dari ruang simulator. Di koridor, Arkana berdiri bersama beberapa instruktur lain.
“Kataleya.“ Ucap Arkana.
“Ada yang ingin Anda sampaikan, Kapten?“
Arkana melihat catatan latihan di tangannya, “Pendekatan mu masih terlalu agresif.“
“Itu gaya terbangku.“ Jawab Leya tegas.
“Kau harus mengubahnya!“ Arkana berkata tajam.
Leya menatap pria itu dengan berani, suaranya dingin. “Kenapa aku harus menurut?“
“Karena aku instruktur mu sekarang!“ Arkana tak kalah dinginnya.
Beberapa trainee mulai memperhatikan, mereka merasa ada keanehan diantara kedua orang itu. Tanpa menjawab lagi, Leya akhirnya berjalan pergi. Sementara Kaisar berhenti sebentar di depan Arkana.
“Jangan sok berkuasa disini, kau akan tau... apa itu kekuasan yang sebenarnya.“ Bisik Kaisar yang hanya terdengar oleh Arkana.
Kaisar lalu berjalan menyusul Leya. Di luar hanggar, ia bicara santai pada wanita itu. “Sekarang situasinya makin menarik, tapi jangan terlalu khawatir.“
Leya menghela nafas berat. “Dia sengaja datang kesini untuk mempersulit ku.“
“Kemungkinan besar.“
Leya menatap langit, “Dia tak akan bisa menghentikan ku.“
“Tentu saja, kau pilot yang hebat.“ Kaisar tersenyum lebar.
Di kantor pusat maskapai, seorang perempuan baru saja turun dari sebuah mobil. Dia adalah Kikan, adik perempuan Kaisar. Dia baru kembali dari luar negeri, dan mulai bekerja di pusat maskapai keluarga mereka.
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/