NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4. Pelindung terakhir

"Nadia!!! Dasar anak pelayan tidak tahu diuntung!"

Teriakan Nyonya Sarah menggelegar, memutus keheningan pagi di paviliun belakang. Sebelum Nadia sempat mencerna apa yang terjadi, Nyonya Sarah sudah melangkah lebar, mendekat ke arah ranjang dengan mata yang menyalang merah.

Set!

Tanpa ampun, Nyonya Sarah menyentak selimut lusuh yang dipakai Nadia untuk menutupi tubuhnya. Matanya langsung tertuju pada kerah kemeja Nadia yang robek parah di bagian atas, bukti tak terbantahkan yang dicocokkannya dengan potongan kain biru di tangannya.

"Nyonya... maaf..." Nadia beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, mencoba menutupi kulitnya yang terekspos. Air matanya kembali tumpah, tubuhnya berguncang hebat karena trauma semalam ditambah ketakutan yang luar biasa pagi ini.

"Maaf kamu bilang?" Nyonya Sarah melempar potongan kain biru itu tepat ke wajah Nadia. "Berani-beraninya kamu masuk ke kamar anakku semalam! Berani-beraninya kamu merayu Axel!"

"Bukan saya yang merayu, Nyonya... Tuan Axel semalam mabuk..." Nadia mencoba membela diri dengan suara parau yang gemetar, namun kalimatnya justru membuat Nyonya Sarah semakin murka.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Nadia hingga wajah gadis itu terbuang ke samping. Sudut bibirnya berdarah, memperparah rasa sakit fisik yang sejak semalam ia tahan.

"Jangan berani-berani kamu menyalahkan anakku, dasar pelacur kecil!" bentak Nyonya Sarah, napasnya memburu naik-turun. "Axel itu anak baik-baik, dia punya masa depan cerah, dan dia akan menikahi wanita dari keluarga terhormat! Tapi kamu... kamu sengaja memanfaatkan keadaannya yang mabuk untuk menjebaknya, kan? Kamu mau naik kasta dengan cara menjual tubuhmu?"

"Tidak, Nyonya... Demi Allah, tidak..." Nadia menggeleng histeris. Ia memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. "Saya tidak pernah bermaksud seperti itu..."

"Alasan!" Nyonya Sarah mencengkeram lengan kurus Nadia dengan kasar, memaksanya untuk berdiri dari ranjang.

"Ahg!" Nadia memekik kesakitan saat kaki kanannya yang keseleo dan membiru terpaksa menumpu berat badannya. Rasa nyeri yang menusuk membuat Nadia lemas dan hampir tersungkur ke lantai. namun Nyonya Sarah tidak peduli. Wanita itu terus menyeret tubuh kurus Nadia keluar dari kamar, menuju koridor tengah paviliun.

"Ayo keluar! Jangan kotori rumah ini dengan kehadiranmu!" teriak Nyonya Sarah sambil terus menyeret Nadia yang berjalan terseok-seok, merintih menahan sakit yang teramat sangat di pergelangan kakinya.

Di koridor, Bi Sumi yang mendengar keributan itu langsung berlari mendekat dengan wajah panik. Di tangannya, ia masih menggenggam kancing kemeja mahal milik Axel yang ditemukannya tadi.

"Gusti... Nyonya! Ada apa ini, Nyonya? Tolong lepaskan Nadia, kasihan jalannya pincang begitu," mohon Bi Sumi, mencoba menahan lengan Nyonya Sarah dengan berani walau tubuhnya gemetaran.

"Minggir kamu, Sumi! Jangan ikut campur atau kamu saya pecat sekalian!" ancam Nyonya Sarah dengan mata melotot tajam. "Anak pungut ini sudah keterlaluan! Ibunya dulu memang menyelamatkan Axel, tapi anak ini justru mau menghancurkan hidup Axel! Dasar ular berkepala dua!"

Nyonya Sarah menghempaskan tubuh Nadia hingga gadis itu jatuh terduduk di atas lantai koridor yang dingin. Nadia menangis tergugu, memeluk lututnya yang gemetar, merasakan harga dirinya yang sudah hancur kini diinjak-injak hingga tak berbekas di depan asisten rumah tangga yang lain.

Dari kejauhan, di ujung koridor yang menghubungkan rumah utama dan paviliun, siluet tinggi Axel tampak berdiri. Pria itu menyaksikan ibunya yang sedang melabrak Nadia habis-habisan. Namun, alih-alih melangkah maju untuk meluruskan keadaan atau membela gadis yang telah ia nodai, Axel hanya diam mematung dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal di dalam saku jubah mandinya. Kepengecutan dan egonya mengunci mulutnya rapat-rapat.

**

"Ada apa ini ribut-ribut pagi-pagi?"

Sebuah suara berat, berwibawa, dan sarat akan ketegasan menggelegar dari arah pintu penghubung rumah utama. Tuan Pramoedya melangkah keluar dari ruang kerjanya yang terletak tidak jauh dari koridor paviliun. Pria paruh baya itu masih mengenakan kacamata bacanya, dengan dahi yang berkerut dalam melihat kekacauan yang tersaji di depan matanya.

Nyonya Sarah seketika menghentikan aksinya, napasnya masih memburu namun raut wajahnya langsung berubah menjadi aduan yang dramatis. Sementara Nadia yang masih terduduk di lantai dingin, perlahan mendongak dengan air mata yang terus mengalir, menatap pria yang selama ini ia hormati sebagai pelindung terakhirnya di rumah ini.

"Pah! Kamu lihat sendiri anak pungut tidak tahu diri ini!" adu Nyonya Sarah, langsung menghampiri suaminya sambil menyodorkan robekan kain biru milik Nadia. "Dia sudah berani menaruh noda di rumah kita! Semalam dia sengaja menjebak Axel, merayu anak kita yang sedang mabuk, dan naik ke ranjang Axel!"

Tuan Pramoedya tertegun. Matanya bergerak, beralih dari kain biru di tangan istrinya, menatap Axel yang masih berdiri mematung di kejauhan dengan wajah pucat, dan akhirnya mendarat pada sosok Nadia.

Jantung Tuan Pramoedya mencelos melihat kondisi Nadia. Gadis itu tampak begitu hancur. Rambutnya kusut, sudut bibirnya berdarah, kemejanya robek, dan pergelangan kakinya membengkak besar hingga berwarna kebiruan. Sebagai pria yang logis, pandangan Tuan Pramoedya tidak langsung dipenuhi amarah kabur seperti istrinya. Ada rasa sesak dan kilat bersalah yang melintas di matanya saat mengingat wajah mendiang Ibu Rahma yang telah mengorbankan nyawa demi menyelamatkan putranya dulu.

Tuan Pramoedya melangkah mendekat, mengabaikan ocehan istrinya. Ia berdiri tepat di hadapan Nadia, lalu perlahan berlutut dengan satu kaki untuk menyamakan tingginya dengan gadis yang sedang ketakutan itu.

"Nadia," panggil Tuan Pramoedya, suaranya melembut namun tetap tegas. "Tatap mata saya, Nak. Katakan yang sebenarnya pada saya. Apa yang terjadi semalam?"

Nadia gemetaran hebat. Pertanyaan lembut dari Tuan Pramoedya justru terasa seperti pisau yang mengorek lukanya. Ia menatap mata Tuan Pramoedya, lalu sekilas melirik ke arah Axel yang berada di belakang ayahnya.

Axel menatap Nadia dengan pandangan yang tajam, seolah memberikan ancaman tersirat agar Nadia tetap bungkam dan menerima semua kesalahan ini sendirian demi menjaga nama baiknya. Mengingat tuduhan kejam Axel tadi subuh bahwa dirinya hanya memanfaatkan keadaan demi harta, hati Nadia terasa mati rasa.

"Saya... saya..." Nadia terbata-bata, suaranya tercekat oleh tangis.

"Pah! Apalagi yang mau ditanyakan? Buktinya sudah jelas! Seprei di kamar Axel ternoda darah, dan kain bajunya tertinggal di sana! Dia pasti sengaja pasrah agar bisa meminta pertanggungjawaban dan memeras kita!" sela Nyonya Sarah dengan ketus, berusaha memotong pembicaraan agar Nadia tidak sempat membela diri.

Tuan Pramoedya mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat mutlak agar istrinya diam. "Sarah, diam! Aku sedang bertanya pada Nadia."

Ia kembali menatap Nadia yang terus menunduk dalam, meremas ujung jaketnya. "Nadia, saya butuh jawabanmu. Benar kamu yang masuk ke kamar Axel untuk merayunya?"

Nadia memejamkan mata rapat-rapat. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Nyonya Sarah, dan pria yang menodainya bahkan tidak sudi melangkah maju untuk membelanya. Jika ia menceritakan kebenaran bahwa Axel yang memaksanya, apakah keluarga kaya ini akan mempercayainya? Ataukah mereka justru akan menganggapnya sebagai pembohong besar yang ingin menghancurkan pewaris mereka?

Dengan sisa-sisa kekuatan batinnya yang telah hancur, Nadia menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Tuan... Saya tidak pernah merayu Tuan Axel..." lirihnya, membiarkan kebenaran itu menggantung di udara tanpa berani menunjuk Axel sebagai pelakunya.

***

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!