Cedric Heffernan—iblis murni yang menyamar sebagai manusia, terikat kontrak pada Gabriella Paradox—seorang wanita manja yang merupakan cucu dari teman lamanya, Theo. Saat ia mulai menyadari perasaannya pada Gabriella, bahaya mulai mengincar nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella seperti yang ia janjikan pada teman lamanya?
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share cerita ini. Tambahkan ke rak buku agar kalian tidak ketinggalan episode terbaru Contract With Devil.
Kalian juga bisa mendukungku dengan memberikan koin dan poin mereka agar cerita ini bisa terus update.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinya Flynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Sudah dua minggu sejak insiden penyerangan itu terjadi. Untunglah wanita itu tidak lagi merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kekuatan baru wanita itu. Ia belum siap, dan tidak tahu apa reaksi Gabriella kalau tahu kalau pihak yang menyerangnya adalah orangtuanya sendiri yang menginginkan kematiannya karena takut pada ramalan Theo.
Gabriella akan membunuh orangtuanya sendiri.
Itulah ramalan dari Theo yang tidak sanggup ia beritahu pada Gabriella. Lebih baik wanita itu tidak mengetahui apa pun. Lagipula, sepertinya Theo sama sekali tidak memberitahu apa-apa pada Gabriella, jadi untuk apa ia menceritakan semuanya?
Sekarang, wanita itu duduk di depan TV, membuka aplikasi Netflix dan mencari tayangan film Marvel
dengan wajah merengut, kecewa karena rencana mereka (lebih tepatnya, rencana Gabriella) menonton film di bioskop terpaksa ditunda karena hujan deras. Sementara dia sibuk memotret makanan cemilan yang sudah jadi untuk diposting ke Instagram sebelum diberikan pada Gabriella. Baru dua detik setelah ia posting, sudah ada
100 orang yang menyukai statusnya. Ia tersenyum puas. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam saku celananya, berjalan mendekati Gabriella dengan makanan cemilan yang tanpa segan langsung direbut dari tangannya sebelum ia memberikannya pada wanita itu.
“Hm! Enak! Kamu kasih saus karamel di luarnya?”
Kursi sofa yang baru bersama dengan karpet bulu imitasi berwarna senada dengan warna kursi sofa
mereka yang putih yang mereka beli sehari setelah insiden dua minggu lalu itu sudah penuh dengan bungkusan makanan-makanan ekstrudat yang dibuang Gabriella seenaknya. Wanita itu sama sekali tidak menyadari tatapan kesalnya yang sedari tadi menyuruh wanita itu untuk membuang sampahnya, dengan berat hati memunguti satu per satu bungkusan makanan tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, menyapu lantainya, membersihkan kursi sofa dari remah-remah makanan sebelum ia duduk di sana.
“Menurutmu?”
Lampu notifikasi ponsel Gabriella menyala, berwarna kuning dan berkedip sesaat, dan Gabriella refleks
mengambil ponselnya. Ia melirik sekilas, dan begitu tahu apa yang dilakukan wanita itu, ia memutar bola matanya, bete.
Pasti lihat status Instagramku lagi, gumamnya.
Sebentar lagi, wanita itu akan membuka kamera ponselnya, memposting makanan yang baru ia masak tadi
ke Instagram. Huh, ia sudah hafal dengan polanya. Serius deh, kenapa sih Gabriella itu mati-matian pengen ngikutin dia? Ia memijat pelipisnya, kepalanya terasa sakit memikirkan keanehan Gabriella.
“Harus bagus, harus bagus! Ya, sempurna!”
Sesuai perkiraannya, wanita itu terlihat sangat tertarik untuk mendapatkan gambar terbaik, sampai
melakukan pose menungging dengan pantat menghadap padanya, yang membuatnya langsung tutup mata. Ingin rasanya ia menendang bokong wanita itu agar berhenti melakukan pose itu. Melihat wanita itu yang masih sibuk dengan dirinya sendiri membuatnya teringat akan kata-kata Markus waktu itu.
Kalau dilihat-lihat lagi, Gabriella sama sekali nggak anggun. Cantik? Untuk ukuran manusia, mungkin iya.
Bukan tipe yang menarik. Tapi kenapa Markus berasumsi kalau dia menyukai wanita aneh ini?
Argh! Kenapa ia masih kepikiran terus, sih! Markus pasti hanya sedang mengerjainya, tidak lebih. Markus kan selalu seperti itu, tidak pernah puas kalau tidak menjailinya setiap kali ia menemui kakaknya itu. Ia memukul
kepalanya, mencoba untuk mengenyahkan pikirannya dari gagasan aneh Markus.
“Sudah selesai! Cedric, filmnya udah mulai—kamu kenapa? Kepalamu sakit?” Gabriella cepat-cepat mendekatinya, memegang kedua pipinya hingga wajah mereka kini tersisa beberapa sentimeter saja. Wajahnya seketika merona, memandangi Gabriella yang tampaknya tidak menyadari bahwa wajah mereka begitu dekat. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Gabriella. Sayangnya, tangan Gabriella kembali memaksanya untuk bertemu pandang dengan mata hitam wanita itu.
“Diam sebentar kenapa sih! Wajahmu kenapa merah gitu? Kamu sakit?”
“Bawel! Minggir sana!”
Gabriella menempelkan dahinya ke dahi Cedric, membuatnya gugup seketika. Ia bahkan bisa merasakan wajahnya yang semakin memerah, yang ia tahu pasti kalau penyebabnya bukan karena ia demam. Melainkan wajah wanita ini yang terlalu dekat dengannya. Ada apa sih dengannya? Kenapa ia gugup saat berada di dekat wanita ini?
Sadar, Cedric! Wanita ini cucu dari temanmu sendiri!
“Panas sekali, Cedric. Jangan-jangan kamu demam?”
“Bukan!” Cedric segera menjauhkan wajahnya dari Gabriella, berusaha sekuat tenaga menenangkan
jantungnya yang berdebar kencang.
“Demam tuh, pasti! Demam! Week! Cedric demam!”
Astaga, wanita ini kekanakan sekali, sih!
“Berisik!” Ia berbalik, mengunci pergerakan Gabriella. Tubuh wanita ini berbaring di atas karpet bulu berwarna putih, dengan ia yang berada di atasitu. Niatnya ingin membungkam mulut wanita ini lenyap saat hidungnya mencium aroma manis yang berasal dari tubuh Gabriella. Ia mengendus bau yang begitu menggodanya, memandang wajah Gabriella yang mulai merona. Mata warlock wanita ini aktif. Tatapan wanita ini tertuju padanya, bergeming. Bibir Gabriella yang terbuka terlihat begitu menggodanya, seakan mengundangnya untuk menyentuhnya. Pelan-pelan, ia mendekatkan wajahnya pada Gabriella, lalu mendaratkan ciuman
pada bibir Gabriella.
Manis.
Cedric kembali mencium bibir mungil Gabriella, lalu mencium leher wanita ini, menandai tubuh Gabriella
yang semakin lama semakin mengeluarkan aroma manis.
“Gabbie…” Cedric memanggil nama Gabriella lirih, membenamkan wajahnya pada leher wanita ini,
terus menghujani Gabriella dengan ciumannya. Tidak. Ia belum puas. Rasanya ini belum cukup untuk memuaskan rasa lapar yang menggerogotinya. Setiap kali ia mencium wanita ini, energi sihirnya semakin bertambah. Kenapa ia baru mengetahui kalau energi yang berasal dari Gabriella terasa begitu lezat? Bahkan, semua energi manusia yang pernah ia konsumsi tidak pernah terasa seenak energi dari wanita ini.
Ia terus menghujani tubuh Gabriella dengan ciuman, sampai ia berhenti begitu bibirnya menyentuh pergelangan tangan Gabriella, memandang wanita ini yang kini memandangnya dengan wajahnya yang merona, mendesah dengan suara yang lembut.
“Cedric …”
GASP!
Cedric segera mundur menjauhi wanita ini, menutupi bibirnya dengan tangannya, baru menyadari apa yang sudah ia lakukan. Seketika ia berdiri, dan berlari keluar dari apartemennya, meninggalkan Gabriella yang kebingungan melihatnya pergi.
***
Dalam waktu dekat author sedang mempertimbangkan untuk membuat season 2 dari cerita ini. Kalau menurut kalian, siapa karakter dalam cerita ini yang kalian pengen author bahas di season selanjutnya? Kalian bisa balas dengan berkomentar di sini. 😊
Terimakasih author
lanjut
mampir lagi ya ke Reborn little army