NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Pertemuan itu berlangsung di sebuah rumah makan sederhana di pinggiran kota—tempat yang sepi, jauh dari pusat keramaian, jauh dari pengawasan siapa pun. Lukas memilih lokasi ini karena tahu betul bahwa Tuan dan Nyonya Chandra tidak berani tampil di tempat umum yang terkenal, apalagi setelah nama mereka mulai terseret dalam pembicaraan terkait pernikahannya dengan Kirana. Ia meminta mereka datang sendirian, tanpa pengawal, tanpa orang lain yang tahu, dengan janji bahwa pertemuan ini hanya untuk saling bertanya, bukan untuk menuntut atau menghakimi.

Pintu kaca geser terbuka perlahan, dan kedua orang tua angkatnya masuk. Mereka tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Lukas melihatnya. Pakaian mereka kusam dan sederhana, jauh berbeda dari penampilan rapi dan mewah yang biasa mereka kenakan dulu. Tuan Chandra berjalan tertatih-tatih, matanya terus melirik ke kiri dan kanan seolah takut ada yang mengikuti. Nyonya Chandra menunduk dalam, tangannya menggenggam erat lengan suaminya, bibirnya pucat tanpa sedikit pun warna.

Saat melihat Lukas duduk di sudut ruangan, mereka berhenti sejenak, napas mereka tercekat. Bagi mereka, anak yang dulu mereka usir dengan kasar kini tampak seperti orang asing yang berwibawa—berdiri tegak, tatapannya tenang namun tajam, tidak lagi terlihat ragu atau takut seperti dulu.

Lukas memberi isyarat agar mereka duduk di hadapannya. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara kipas angin di langit-langit dan suara langkah pelayan yang menjauh.

“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Lukas pelan, memecah keheningan. “Saya tidak akan memakan waktu lama. Saya hanya ingin mendengar kebenaran dari mulut kalian sendiri. Tanpa kebohongan lagi.”

Tuan Chandra menelan ludah susah payah. Ia mengusap keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan, lalu mengangguk lemah.

“Kami tahu kami tidak berhak meminta maaf, Lukas. Tapi… apa yang kami lakukan dulu bukan karena kebencian pada kamu,” suaranya bergetar pelan. “Kami dibayar—dibayar sangat mahal—untuk menerima kamu ke rumah kami, menjagamu, dan memastikan kamu tidak pernah tahu siapa dirimu sebenarnya, tidak pernah tahu bahwa kamu adalah pewaris tunggal dari seluruh harta keluarga Wijaya.”

Nyonya Chandra menambahkan dengan suara yang hampir tak terdengar, air matanya mulai menetes di pipi keriputnya: “Uang itu jumlahnya sangat besar, Lukas. Saat itu bisnis kami sedang terancam bangkrut, anak kami sakit parah dan butuh biaya pengobatan yang tidak kami miliki. Seseorang datang menawarkan bantuan itu, dengan satu syarat: kami harus menyembunyikanmu, dan tidak boleh memberitahu apa pun tentang asal-usulmu.”

Lukas mendengarkan saksama, hatinya terasa perih namun ia berusaha tetap tenang. “Orang itu adalah Bima Surya Atmaja, kan?” tanyanya.

Mereka berdua tersentak kaget, lalu mengangguk perlahan.

“Benar,” jawab Tuan Chandra. “Ia tidak pernah muncul secara langsung saat berbicara soal kesepakatan itu, tapi kami tahu siapa yang memerintah di baliknya. Ia mengancam: jika kami berani membocorkan rahasia ini, tidak hanya bisnis dan nyawa kami yang hilang, tapi juga nyawa kamu. Ia bilang kamu adalah bahaya besar baginya selama kamu masih hidup dan tahu kebenaran.”

Ia kemudian menceritakan detail yang selama ini disembunyikan: Bima memerintahkan mereka untuk mengajar Lukas hidup sederhana, bahkan sering meremehkannya agar ia tidak pernah berani bermimpi tinggi. Mereka harus memastikan ia tidak pernah berhubungan dengan siapa pun yang dulu mengenal keluarga Wijaya, tidak pernah melihat dokumen lama, dan tidak pernah bertanya lebih jauh tentang orang tuanya. Setiap kali Lukas mulai bertanya atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka harus segera mengalihkan pembicaraan atau menutupnya dengan alasan yang menakutkan.

“Kami sebenarnya sering merasa bersalah,” lanjut Nyonya Chandra, tangannya gemetar memegang gelas air di atas meja. “Kami melihat kamu tumbuh menjadi anak yang baik, rajin, dan sopan. Kami ingin sekali memberitahumu kebenaran, tapi rasa takut selalu menguasai kami. Bima punya mata dan telinga di mana-mana. Kami takut jika kami bicara, kamu akan berakhir sama seperti ayahmu.”

“Lalu kenapa akhirnya kalian mengusir saya?” tanya Lukas lagi, matanya menatap tajam ke mata mereka berdua. “Kenapa tidak menyembunyikan saya sampai saya dewasa seperti yang dijanjikan?”

Tuan Chandra menunduk dalam, rasa malu tampak jelas di wajahnya.

“Karena Bima mulai tidak percaya pada kami. Ia mendengar ada orang lain yang mulai mencarimu—yaitu Nona Kirana. Ia mengancam akan menghancurkan seluruh keluarga kami jika kami masih menyimpanmu di rumah itu. Ia bilang lebih baik kamu hilang entah ke mana daripada jatuh ke tangan orang yang bisa membantumu menemukan hak warismu. Jadi… kami memilih mengusirmu, berharap dengan begitu Bima akan membiarkan kami hidup tenang. Kami bodoh, Lukas. Kami sangat bodoh.”

Cerita itu berakhir di situ. Lukas duduk diam lama, menyusun semua potongan yang kini akhirnya utuh. Ia tidak lagi merasa marah yang meledak-ledak pada mereka. Ia mengerti bahwa mereka hanyalah orang biasa yang terjebak dalam ketakutan dan kesulitan hidup, yang dipaksa memilih antara kebaikan diri sendiri atau kebaikan orang lain. Namun pengertian itu tidak berarti ia memaafkan sepenuhnya—mereka tetap memilih mengambil jalan yang salah, tetap membiarkan ia hidup dalam kebodohan dan kesepian selama sepuluh tahun penuh.

“Saya tidak bisa memaafkan semua yang kalian lakukan,” ucap Lukas akhirnya dengan suara tenang namun tegas. “Tapi saya berterima kasih karena akhirnya kalian mau mengakui kebenaran ini. Pengakuan kalian adalah bukti penting bagi saya untuk menuntut hak saya dan menghukum orang yang sebenarnya bersalah.”

Ia berdiri perlahan, menatap mereka untuk terakhir kalinya.

“Jangan takut lagi pada Bima. Sekarang saya tidak sendirian. Saya punya bukti, saya punya orang yang mendukung saya, dan saya punya hak atas nama saya sendiri. Mulai sekarang, kalian tidak perlu lagi bersembunyi atau takut. Tapi kalian juga harus siap menghadapi konsekuensi hukum atas perbuatan kalian.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Lukas berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Di luar, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Beban berat yang selama ini menekan dadanya terasa sedikit berkurang. Ia akhirnya tahu seluruh sisi cerita—dari sisi pelaku kejahatan, dari sisi korban, dan dari sisi orang yang terjebak di tengah-tengah.

Dua sisi cerita itu kini saling melengkapi, membentuk satu gambaran yang jelas tentang siapa musuh yang sesungguhnya, dan seberapa besar keberanian yang harus ia miliki untuk melangkah ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!