NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Anak Petani

"Bambu itu tidak gratis, Pakde," ucap Seroja. Suaranya tenang, tetapi terdengar dingin. "Mereka merendam anyaman bambu itu dengan serbuk gergaji kayu jati tua. Debu beracun itulah yang tadi membuat Nenek sesak napas."

Prasetyo terpaku. Matanya membelalak menatap atap. Lutut pria itu mendadak lemas hingga ia terduduk di lantai tanah. Kedua tangannya yang penuh kapalan menutupi wajah. Isak tangis tertahan keluar dari bibirnya. Baru sekarang ia sadar, tanpa sengaja ia hampir merenggut nyawa ibu kandungnya sendiri.

"Pakde tidak tahu, Nduk. Pakde kira Supri benar-benar mau membantu keluarga kita," ucapnya dengan suara bergetar. Ia menghantam lantai tanah dengan kepalan tangan, melampiaskan penyesalan yang memenuhi dadanya.

Seroja berjongkok dan menggenggam lengan pamannya.

"Ini bukan salah Pakde. Hardiman dan Supri memang sengaja menjebak kita. Sekarang tolong lepas semua anyaman bambu itu. Bakar di halaman belakang. Nenek tidak boleh menghirup debu itu lagi."

Prasetyo mengangguk cepat. Ia menyeka air matanya, lalu berlari keluar mencari tangga bambu.

Seroja melangkah ke pekarangan belakang. Dadanya dipenuhi amarah. Musuhnya bermain jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Kalau ingin melawan Hardiman, ia membutuhkan lebih banyak uang dan sumber daya.

Seroja memejamkan mata. Seketika, layar holografik biru muda muncul di hadapannya.

LADANGKU, Level 2

XP: 150/300

Coin: 350

Hasil penjualan sawi di pasar tadi pagi membuat jumlah koin dan pengalaman sistemnya meningkat. Seroja membuka menu Pencapaian. Sebuah ikon kotak hadiah berkedip, menandakan hadiah panen pertamanya sudah bisa diambil.

Ia menekan ikon itu. Sebuah roda virtual berputar cepat, lalu perlahan melambat hingga berhenti pada kotak berwarna emas.

HADIAH: Benih Tomat Varietas Unggul (Tahan Hama Wereng) - 50 biji.

Seroja memilih opsi cairkan hadiah melalui Gudang. Rasa hangat mengalir di telapak tangan kanannya, disusul kilatan cahaya yang segera menghilang. Saat membuka genggamannya, sebuah kantong kain tebal telah berada di sana. Di dalamnya, lima puluh benih tomat siap ditanam. Tomat memiliki harga jual tinggi dan selalu dibutuhkan rumah makan di kota.

Tatapan Seroja menyapu pekarangan. Tiga bedeng sawi yang baru dipanen sudah memenuhi sebagian besar tanah gembur. Sisa lahannya dipenuhi batu-batu kapur besar. Lima puluh benih tomat membutuhkan lahan yang lebih luas. Halaman ini jelas tidak cukup.

Danu datang dari samping gubuk sambil membawa gulungan tali ijuk. Matanya masih merah karena marah setelah mendengar penjelasan Prasetyo.

"Mas Danu, Seroja dapat benih tomat baru." Seroja mengangkat kantong kain di tangannya. "Tapi lahan kita sudah sempit. Kita harus cari tempat tanam baru sore ini."

Danu mengamati sekitar. Pandangannya berhenti di hamparan semak liar yang berbatasan dengan Hutan Jati. Semak itu lebat, gelap, dan dipenuhi gulma setinggi pinggang.

"Kita buka lahan di sana," katanya sambil mengangguk ke arah semak. "Tanahnya hitam dan subur karena tertutup daun jati yang sudah membusuk. Tapi kamu jangan ikut masuk saat Mas membersihkannya."

"Kenapa, Mas?"

"Semak seperti itu sering jadi sarang ular tanah berbisa. Kulitnya mirip daun kering, susah dibedakan. Sekali tergigit, racunnya bisa membekukan darah. Biar Mas yang masuk dulu pakai sabit."

Seroja mengangguk. Untuk urusan bertahan hidup di alam, ia percaya sepenuhnya pada pengalaman Danu.

Dari jalan setapak, seorang anak laki-laki kurus berjalan pelan menghampiri mereka. Doni, putra bungsu Prasetyo yang baru berusia dua belas tahun, memeluk seikat dahan jati kering yang sudah dipotong sama panjang.

Tubuh Doni lebih kecil dibanding anak seusianya. Ia sering sakit sehingga wajahnya selalu pucat dan bahunya sedikit membungkuk. Selama ini, ia lebih sering diam di rumah karena merasa tidak sekuat ayah dan kakaknya mengangkat beban berat.

"Mbak Seroja," sapa Doni pelan sambil menunduk. "Bapak bilang Mbak mau tanam bibit sayur baru. Doni bikin patok kayu buat batas tanam."

Seroja tersenyum. "Terima kasih, Doni. Ayo kita lihat lahannya."

Mereka bertiga berjalan menuju semak di tepi hutan. Danu mulai menebas rerumputan dengan sabitnya. Seroja berdiri di tempat yang aman sambil membayangkan letak bedeng-bedeng tanam.

Doni berjongkok di tanah yang baru dibersihkan. Ia mengeluarkan seutas tali rami dari saku celananya, lalu mulai menancapkan patok kayu dengan jarak yang teratur.

"Satu bedeng lebarnya enam puluh sentimeter, Mbak," ucapnya lirih sambil mengamati lahan. "Jarak antartanaman empat puluh sentimeter supaya anginnya lancar dan daunnya tidak mudah berjamur. Kalau bibitnya cuma lima puluh, kita cukup buka lahan sekitar dua puluh meter. Mas Danu tidak usah menebas terlalu jauh."

Seroja terdiam. Ia menatap Doni dengan kagum. Hanya bermodal hitungan langkah dan seutas tali rami, anak itu bisa memperkirakan luas lahan dengan sangat akurat. Di usianya yang baru dua belas tahun, Doni sudah memahami jarak tanam dan sirkulasi udara, padahal ia tidak pernah belajar.

"Doni, siapa yang mengajarimu mengukur lahan seperti ini?" tanya Seroja.

Doni berhenti bekerja. Wajah pucatnya langsung memerah karena malu.

"Tidak ada, Mbak. Doni cuma belajar sendiri dari buku catatan mendiang Kakek Hadi. Tapi orang-orang bilang, anak petani tidak perlu pintar berhitung. Yang dibutuhkan cuma tenaga buat mencangkul."

Hati Seroja terasa sesak mendengar ucapan itu. Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok di samping Doni agar sejajar dengannya.

"Doni, dengarkan Mbak baik-baik," ucapnya lembut. "Kekuatan terbesar keluarga kita bukan cuma tenaga, tapi juga otakmu. Cara kamu mengukur lahan tadi sudah sangat membantu kita. Kamu anak yang pintar, Doni."

Mata Doni membelalak. Ia menatap Seroja seolah tidak percaya.

Selama ini, semua orang hanya menyuruhnya beristirahat karena tubuhnya lemah. Tidak pernah ada yang melihat kemampuan yang ada di dalam kepalanya. Hari itu, untuk pertama kalinya, seseorang mengakui kecerdasannya.

"Mbak minta satu janji sama kamu," lanjut Seroja sambil menggenggam tangan kecil Doni yang masih gemetar. "Jangan berhenti membaca dan berhitung. Suatu hari nanti, kamulah yang akan mengurus kebun ini dan menjaga semua uang hasil kerja keras keluarga kita. Kamu mau?"

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!