Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 - Warung
Waktu merayap bagaikan bayangan hitam yang enggan pergi. Enam bulan berlalu sejak malam kelam pemakaman Pak Broto yang diwarnai amblasnya liang lahat.
Namun, bagi rumah keluarga Broto di pinggiran Madiun itu, seolah tak pernah ada fajar baru yang benar-benar membawa hangat.
Di bagian depan bangunan rumah yang menyatu dengan pinggir jalan desa, Warung Nasi Broto berdiri membisu. Tempat yang dahulu menjadi sumber kehidupan, riuh oleh gelak tawa para supir truk dan warga yang mengantre nasi rawon hangat sejak subuh, kini berubah bagaikan bangunan tua yang dikutuk.
Papan nama dari kayu jati yang tergantung kaku di teras warung sudah mengelupas catnya. Tulisan "Warung Nasi Serba Ada Pak Broto" yang dahulu dibanggakan almarhum kini tertutup lapisan debu tebal dan serangga mati.
Jaring laba-laba bersarang lebat di sudut-sudut atap seng, merajai spanduk kain putih yang sudah kusam dan menguning oleh kelembapan udara.
Siang itu, matahari terik menyengat Madiun, namun hawa di dalam teras warung yang terkunci rapat terasa begitu dingin dan pengap.
Galang berdiri di depan pintu papan penyekat warung. Tangan kanannya memegang kunci gembok yang sudah berkarat, sementara mata sembapnya menatap celah-celah kayu yang kusam.
Enam bulan bukan waktu yang singkat, tapi bagi Galang, setiap hari terasa seperti merangkak di dalam lumpur.
Sejak hari pemakaman itu, Bu Retno hampir tidak pernah keluar dari kamar utamanya. Pintu kayu jati itu tetap terpasang kuncinya dari dalam, menyisakan misteri dan aroma kemenyan yang sesekali merembes tipis saat larut malam.
Ibu hanya mau membuka selot pintu beberapa sentimeter ketika Pertiwi menyodorkan piring berisi nasi dan air putih—itu pun tanpa sepatah kata pun terucap, hanya menyisakan jemari kurus kering yang meraih piring lalu menghilang kembali di balik kegelapan kamar.
"Lang ... belum kamu buka juga?"
Suara Bayu mengejutkan Galang dari lamunannya. Galang berbalik dan melihat kakak sulungnya berjalan mendekat dengan pakaian kemeja kusam yang lengannya digulung.
Wajah Bayu tampak jauh lebih tua dari usianya. Garis-garis stres tercetak jelas di sekeliling matanya, dipandu oleh pipi yang kian tirus.
"Digembok, Mas. Apa nggak Mas Bayu aja yang buka?" sahut Galang pelan, jarinya mengusap karat di permukaan besi gembok.
Bayu menghela napas kasar, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu warung yang berdebu. Ia meraih sebatang rokok kretek dari saku celananya, lalu menyalakannya dengan pemantik api yang apinya sempat goyah ditiup angin.
"Bukan masalah gemboknya, Lang," gumam Bayu seraya mengembuskan asap tipis yang membumbung kaku. "Kuncinya kan ada di kamar Ibu. Dan Ibu ... jangankan ngasih kunci warung, ngomong sepatah kata pun nggak mau. Duit simpanan Bapak di lemari bawah meja makan udah ludes dipakai buat beli beras dan biaya sekolah adek-adek selama ini. Sekarang ... benar-benar tinggal tersisa sisa-sisa recehan."
Galang mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu betul kondisi keuangan keluarga mereka sedang di ujung tanduk. Sebagai anak ketiga, ia melihat sendiri bagaimana Pertiwi harus memutar otak menakar porsi makan adik-adiknya. Mia, Rian, dan Gilang yang masih kecil sering kali bertanya kenapa warung bapak tidak pernah buka lagi, kenapa aroma daging rawon yang gurih tidak pernah lagi membumbung dari kuali besar di dapur.
"Warung ini harus buka lagi, Mas," ucap Galang penuh penekanan. Mata tajamnya menatap Bayu. "Kalau warung ini tutup terus begini, kita semua mati kelaparan. Adek-adek butuh makan, butuh biaya sekolah."
Bayu tertawa getir, nada suaranya dipenuhi frustrasi yang amat sangat. "Kamu pikir aku nggak mau buka warung ini?! Tapi kamu lihat sendiri! Siapa yang mau masak, Lang?! Selama ini yang pegang resep bumbu, yang ngatur semua masakan itu Ibu dan Bapak! Tiwi cuma bantu nyuci piring dan motong sayur! Mau jualan apa kita kalau Ibu ngurung diri kayak mayat hidup di kamar?!"
Kata-kata Bayu menusuk dada Galang. Pahit, tapi nyata. Warung Nasi Broto terkenal bukan karena tempatnya yang mewah, melainkan karena kelezatan masakan Bu Retno dan Pak Broto yang punya cita rasa khas—rasa gurih-manis yang pekat dan selalu membuat orang ketagihan. Tanpa Bu Retno di dapur, warung ini hanyalah sepetak bangunan kayu yang kehilangan jiwanya.
"Warga sekitar juga udah mulai ngomongin yang enggak-enggak, Lang," lanjut Bayu pelan, matanya menyapu jalanan desa di depan warung yang sepi. Hanya ada satu-dua sepeda motor yang lewat dengan kecepatan tinggi, seolah pengendaranya enggan melirik atau memperlambat laju di depan rumah keluarga Broto. "Mereka bilang rumah kita ini kena serapah. Kejadian waktu pemakaman Bapak ... waktu liang lahatnya amblas dan baunya menyengat itu ... semua orang desa tahu. Nggak ada yang berani mendekat ke sini lagi."
"Mereka cuma takut sama hal yang nggak mereka mengerti," potong Galang dingin, berusaha menutupi gundah di hatinya sendiri.
"Takut?!" Bayu terkekeh sumbang. "Kamu juga takut, kan? Jangan bohong sama aku, Lang! Kamu pikir aku nggak tahu kalau tiap jam tiga pagi kamu sering berdiri sendirian di depan pintu kamar Ibu? Kamu pikir aku nggak denger suara-suara dari dalam warung ini tiap malam?!"
Galang terdiam. Jantungnya berdesir kencang. Rupanya Bayu juga menyadarinya.
Selama enam bulan terakhir, setiap kali malam mencapai puncaknya di jam tiga pagi, ruangan warung yang terkunci rapat ini tidak pernah benar-benar sepi.
Dari balik dinding papan kayu yang memisahkan ruang tengah dan warung, selalu terdengar suara ganjil: dentang kuali besi yang bergeser pelan, suara sendok kayu yang mengaduk air di dalam panci kosong, hingga ketukan halus yang berulang-ulang di atas bangku-bangku kayu yang terbengkalai.
Seolah-olah ... ada 'kehidupan' lain yang tetap beraktivitas di dalam warung yang gelap gulita itu tatkala seluruh manusia terlelap dalam tidur.
Galang melangkah mendekati salah satu celah papan kayu jendela warung yang sedikit renggang. Ia mendekatkan matanya, mengintip ke dalam kegelapan warung yang berselimut debu.
Di dalam sana, meja-meja kayu jati bertumpuk kaku dengan kursi-kursi yang dibalik di atasnya. Kuali besar, kompor minyak tanah yang berkarat, serta deretan piring kaleng tampak muram di bawah remang pendar cahaya matahari yang menyusup dari celah atap. Semuanya diselimuti lapisan debu abu-abu yang tebal.
Namun, yang membuat bulu kuduk Galang meremang adalah keberadaan tumpukan bahan makanan lama yang membusuk di sudut meja racik. Bahan-bahan itu adalah sisa-sisa persediaan terakhir sebelum Pak Broto meninggal enam bulan lalu.
Anehnya, alih-alih hancur menjadi tanah, bahan-bahan tua itu tampak mengering dan mengeras—menghitam bagaikan fosil, memancarkan bau apak dan amis yang tertahan di dalam ruangan kedap tersebut.
Di tengah-tengah meja racik yang berdebu itu, tampak sebuah piring seng kosong yang posisinya sangat bersih dari debu—seolah-olah piring itu baru saja diusap oleh jemari seseorang beberapa jam yang lalu.
"Lang ... udah, jangan diliat terus," tegur Bayu pelan, meremas bahu adiknya. Suara Bayu terdengar letih dan putus asa. "Kita nggak bisa gini terus. Kalau Ibu nggak mau keluar juga sampai bulan depan, aku mau cari kerjaan di kota. Di pabrik gula atau mana aja. Kita butuh uang."
Galang menarik pandangannya dari celah jendela. Ia menatap Bayu yang tampak begitu putus asa, lalu mengalihkan pandangan ke dalam rumah—ke arah lorong gelap tempat kamar ibunya berada.
Tujuh nyawa ada di rumah ini. Bayu, Galang, Pertiwi, Mia, Rian, Gilang ... dan Bu Retno. Sejak almarhum ayah mereka pergi membawa rahasia kelamnya ke dalam tanah yang amblas, beban berat itu kini seolah menggantung tepat di atas leher mereka semua.
"Tunggu sebentar lagi, Mas," ucap Galang mantap, meski hatinya sendiri digelayuti rasa cemas yang teramat sangat. "Biar aku yang coba ngomong sama Ibu lagi nanti malam. Ibu nggak bisa terus ngurung diri. Warung ini harus buka kembali ... apa pun taruhannya."
Bayu hanya menggelengkan kepala pelan, mematikan puntung rokoknya di tanah sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Galang berdiri sendirian di teras warung yang gelap dan terbengkalai itu. Angin sore Madiun bertiup kencang, menggoyangkan papan nama kayu jati di atas kepalanya.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya