"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Serangan Balik
Pagi berikutnya, Pak Hendra tidak menunggu surat itu membusuk di meja.
Ia datang ke kantor lebih awal, membawa map tebal berisi rencana peningkatan tipe RSUD Harapan Bangsa. Di halaman depan, ada daftar kemampuan baru rumah sakit: unit gawat darurat yang berkembang, kerja sama RS Persatuan Nusantara, data Trombosin Plus, data Serum RegenoStem, dan catatan penyelamatan massal Jalan Cahaya Bangsa.
Di halaman terakhir, ada salinan permohonan peninjauan yang dikirim lewat jalur Dinas Kesehatan.
Bahasanya halus.
Terlalu halus.
Kesiapan infrastruktur perlu dikaji ulang.
Risiko komersialisasi obat perlu diawasi.
Prosedur klinis perlu dipastikan tidak melampaui standar.
Tidak ada nama Pak Santoso di baris utama.
Tetapi jejaknya terasa seperti sidik jari di kaca.
"Kita ke Pak Syaiful," kata Pak Hendra.
Pak Bambang berdiri di samping meja, wajahnya masih keras.
"Kalau dia tidak mau mendengar?"
Pak Hendra menatap Rangga.
"Dia akan mendengar."
Rangga mengangkat map kecil berisi ringkasan klinis.
"Saya datang membawa data."
Pak Bambang menyeringai tipis.
"Itu sebabnya kamu lebih menakutkan daripada orang marah-marah."
Kantor Dinas Kesehatan provinsi pagi itu ramai. Orang-orang membawa map, surat, proposal, laporan program, dan wajah yang sama: wajah orang yang tahu keputusan bisa berhenti di satu meja terlalu lama.
Pak Syaiful menerima mereka di ruang rapat kecil yang jauh dari ruang seremoni.
Itu sudah cukup memberi tanda.
"Pak Hendra. Dokter Rangga." Ia berdiri, menjabat tangan mereka. "Saya dengar ada berkas yang membuat rumah sakit Anda terganggu."
Pak Hendra meletakkan salinan permohonan peninjauan di atas meja.
"Kami menerima evaluasi selama dasarnya data dan bebas dari tekanan."
Pak Syaiful membaca beberapa halaman dengan wajah datar. Jari telunjuknya berhenti di satu paragraf.
"Risiko komersialisasi obat," gumamnya.
Rangga membuka mapnya.
"Trombosin Plus sudah melewati uji terbatas, registrasi, penggunaan klinis, dan monitoring. Distribusi kami batasi untuk fasilitas yang memenuhi cold chain dan pemantauan. Tidak ada monopoli. Tidak ada rumah sakit yang dipaksa membeli."
Ia meletakkan ringkasan kedua.
"Serum RegenoStem masih dalam jalur penggunaan darurat terbatas dan penyusunan registrasi lebih luas. Kasus Amelia hanya menjadi data awal. Semua laporan masuk ke BPOM sebelum penggunaan diperluas."
Pak Syaiful menatap halaman demi halaman.
Trombosin Plus.
Serum RegenoStem.
Dua nama itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
"Satu rumah sakit daerah," kata Pak Syaiful pelan, "memiliki dua terapi yang bisa mengubah standar pelayanan nasional."
Pak Hendra tidak menyela.
"Dan ada orang yang memakai itu sebagai alasan menahan peningkatan tipe?" lanjut Pak Syaiful.
Rangga menjawab tenang, "Itu yang membuat kami datang."
Pak Syaiful menutup berkas.
"Saya akan bicara jelas. Secara administratif, Tipe A bukan hanya soal obat. Infrastruktur, SDM, jejaring rujukan, alat, layanan spesialistik, semua harus diperiksa."
"Kami paham," kata Pak Hendra.
"Tetapi dua obat ini, ditambah kerja sama RS Persatuan Nusantara dan catatan penanganan bencana, membuat RSUD Harapan Bangsa tidak bisa lagi diperlakukan seperti rumah sakit daerah biasa."
Pak Hendra menarik napas, tetapi menahannya agar tidak terdengar lega terlalu cepat.
Pak Syaiful menekan tombol interkom.
"Minta tim penilai meninjau ulang jadwal evaluasi RSUD Harapan Bangsa. Penundaan harus memiliki dasar tertulis, dan setiap keberatan wajib menyertakan data."
Ia melepas tombol, lalu menatap Rangga.
"Dokter Rangga, saya mendukung peningkatan ini selama dokumen Anda bersih. Tapi saya juga memperingatkan: begitu rumah sakit Anda naik, tekanan akan makin besar."
"Tekanan sudah datang, Pak."
"Saya tahu." Pak Syaiful mengetuk berkas permohonan peninjauan. "Dan orang yang menulis ini tahu cara bekerja dari balik pintu."
Rangga tidak menyebut nama.
Pak Syaiful juga tidak.
Tetapi semua orang di ruangan tahu siapa yang sedang berdiri di balik bayangan.
Sore harinya, sebuah artikel muncul di salah satu portal kesehatan independen.
Judulnya tidak menyerang siapa pun secara langsung.
Rumah Sakit Daerah dengan Dua Terapi Terobosan Masih Tertahan Evaluasi: Apakah Administrasi Menghambat Akses Pasien?
Isi artikelnya rapi.
Tidak ada tuduhan personal.
Tidak ada nama Pak Santoso.
Hanya fakta: Trombosin Plus telah menyelamatkan beberapa pasien trombotik kritis. Serum RegenoStem menunjukkan respons luar biasa pada penggunaan darurat terbatas. RSUD Harapan Bangsa telah menjalin kerja sama dengan RS Persatuan Nusantara. Namun proses peningkatan tipe dikabarkan tertahan oleh catatan administratif yang mempertanyakan justru inovasi tersebut.
Di bagian akhir, ada satu kalimat yang membuat banyak orang berhenti menggulir layar.
Jika inovasi yang menyelamatkan pasien dianggap risiko sebelum dinilai secara adil, siapa sebenarnya yang sedang dilindungi oleh birokrasi?
Artikel itu menyebar cepat.
Tidak seheboh video Farrel.
Tidak sedramatis Amelia.
Tetapi lebih berbahaya bagi orang-orang di belakang meja.
Karena pertanyaannya tidak emosional.
Pertanyaannya masuk akal.
Komentar publik mulai muncul:
"Kalau punya obat seperti itu, kenapa rumah sakitnya ditahan?"
"Pasien daerah justru butuh fasilitas besar di dekat mereka."
"Jangan sampai rumah sakit kecil ditekan karena mengganggu kepentingan rumah sakit besar."
"Evaluasi boleh, tapi jangan jadi alat balas dendam."
Di kantor Dinas Kesehatan, beberapa pejabat yang sebelumnya diam mulai bertanya kepada staf masing-masing.
Siapa yang mengusulkan peninjauan?
Dasar datanya apa?
Kenapa timing-nya muncul setelah dua obat itu ramai?
Pertanyaan seperti itu adalah jenis pisau yang paling ditakuti birokrasi gelap.
Tidak tajam di luar.
Tetapi pelan-pelan membuka jahitan.
Malamnya, Pak Hendra menerima telepon.
Setelah menutupnya, ia berdiri cukup lama di depan jendela.
Pak Bambang yang duduk di sofa langsung bertanya, "Bagaimana?"
"Peninjauan tidak jadi menghentikan proses. Jadwal evaluasi tetap berjalan. Semua keberatan harus masuk secara resmi dengan data lengkap."
Pak Bambang menghembuskan napas keras.
"Jadi Santoso dipaksa mundur?"
"Sementara."
Rangga yang berdiri di samping meja tidak terlihat puas berlebihan.
"Sementara sudah cukup. Yang penting pasien tidak kehilangan waktu."
Pak Hendra menatapnya.
"Kamu bicara dengan wartawan itu?"
Rangga diam sebentar.
"Saya memberikan data umum dan sudut pandang akses pasien. Tidak menyebut nama. Tidak memberikan dokumen internal."
Pak Bambang tertawa pendek.
"Anak ini belajar menggigit dengan rapi."
Rangga menoleh.
"Pak sendiri yang mengajari saya, yang penting jangan meninggalkan bekas yang salah."
"Tugas saya mengajari operasi. Urusan politik di luar bidang saya."
"Prinsipnya sama. Jangan potong jaringan sehat kalau jaringan sakit yang harus diangkat."
Pak Hendra dan Pak Bambang sama-sama terdiam.
Lalu Pak Bambang menunjuk Rangga.
"Kadang saya takut kamu benar-benar belajar terlalu cepat."
Di tempat lain, Pak Santoso melempar berkas ke meja.
Ruangan kerjanya tertutup rapat. Lampu meja menyala kuning. Di layar ponselnya, artikel itu masih terbuka.
Tanpa menyebut namanya, artikel itu berhasil membuat semua orang menoleh ke arah yang benar.
Itu lebih memalukan daripada dituduh langsung.
Karena ia tidak bisa menggugat bayangan.
Istrinya masuk perlahan.
"Ada masalah?"
Pak Santoso tidak menjawab segera.
Ia mengambil napas panjang, lalu mematikan layar ponsel.
"Anak itu tidak sederhana."
"Rangga?"
Nama itu keluar dari mulut istrinya dengan nada hati-hati.
Pak Santoso menatap gelap ke arah jendela.
"Dia bukan hanya bisa operasi. Dia mulai tahu cara memakai sistem."
Ia mengambil ponsel lain dari laci.
Nomor yang dipanggil tidak tersimpan dengan nama.
Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
"Pak Gunawan," kata Pak Santoso pelan. "Kita perlu bicara."
Di ujung telepon, suara direktur RS Mentari Global terdengar tenang.
"Tentang Dokter Rangga?"
Pak Santoso tersenyum dingin.
"Tentang bagaimana membuat sayapnya patah sebelum dia terbang lebih tinggi."