NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:189.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Romantis Banget!

Namun, rasa takut yang itu tidak berlangsung lama. Sebuah bayangan tubuh yang tinggi tegap tiba-tiba bergeser maju dan berdiri tepat di samping tubuhnya, menghalangi pandangan Hazel dari kedalaman jurang tebing yang curam.

​Rupanya, Gavin sama sekali tidak menyeberang duluan bersama para prajuritnya. Pria itu sengaja berdiri diam di pangkal jembatan sedari tadi, mengawasi satu per satu orang yang melangkah dan memastikan dengan matanya sendiri kalau wanita yang dicintainya itu bisa menyeberang dengan selamat.

​Tanpa mempedulikan pandangan tim medis atau anggotanya yang kini sudah berjalan beberapa meter di depan mereka, Gavin mengulurkan tangan kanannya yang kekar. Pria itu langsung meraih telapak tangan kiri Hazel yang terasa sangat dingin dan sedikit gemetar lalu melingkarkan jemarinya di sana dengan genggaman yang sangat erat, genggaman hangat yang begitu kokoh telah menenangkannya di atas langit malam saat badai dua hari lalu.

​"Jangan melihat ke bawah," ucap Gavin dengan suara baritonnya yang pelan namun penuh dengan penekanan yang sangat menenangkan.

Pria itu menggunakan tangan kirinya untuk melepaskan kacamata hitam yang dipakainya lalu menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Hazel yang tampak panik dan ketakutan.

"Tatap mataku saja, jalannya bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh," ucap Gavin.

Mendengar suara Gavin yang begitu dekat di telinganya dan merasakan hangatnya genggaman tangan pria itu, detak jantung Hazel yang tadinya berpacu cepat karena takut ketinggian perlahan mulai berubah menjadi debaran yang manis dan menyejukkan. Rasa mual dan pusing di kepalanya menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa besar yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​Hazel mendongak, menatap sepasang mata Gavin yang memancarkan keyakinan penuh tanpa ada keraguan sedikit pun untuk melindunginya.

​Hazel mengangguk pelan, menyunggingkan sebuah senyuman tulus yang sangat manis di bibirnya yang semula pucat. ​Dengan tangan yang saling mengunci rapat, mereka berdua mulai melangkah maju bersama di atas papan-papan kayu jembatan gantung tersebut.

Langkah demi langkah mereka lalui di atas jembatan yang sesekali masih berayun pelan ditiup angin. Namun, rasa takut Hazel benar-benar telah digantikan oleh rasa aman, tangan kanan Gavin yang menggenggam jemarinya terasa begitu hangat dan kokoh, menyalurkan kekuatan langsung ke dalam nadinya.

​Gavin sengaja mengatur ritme langkah kakinya agar selaras dengan Hazel, ia berjalan sedikit menyamping dan memposisikan tubuh tegapnya sebagai tameng yang menghalau embusan angin kencang dari sisi jurang, sekaligus memastikan Hazel tidak perlu melihat ke bawah.

​"Masih pusing?" tanya Gavin setengah berbisik, matanya sesekali melirik ke arah Hazel dengan guratan cemas yang samar.

​Hazel menggeleng pelan, matanya tetap terfokus pada wajah tegas pria di sampingnya. "Sudah enggak. Asal... kamu jangan lepas tangan ya," jawab Hazel jujur, dengan nada suara yang sedikit manja tanpa ia sadari.

​Mendengar itu, sudut bibir Gavin tertarik membentuk senyuman tipis. Genggaman tangannya justru semakin mengerat, mengunci jemari Hazel di sela-sela jarinya.

"Tidak akan pernah saya lepas," sahut Gavin dengan penekanan yang dalam dan membuat pipi Hazel merona merah.

​Beberapa meter di depan mereka, Suster Kinan yang sempat menoleh ke belakang langsung menyenggol lengan Suster Nayla. "Suster Nayla, coba lihat ke belakang deh," bisik Suster Kinan dengan mata berbinar-binar tertahan.

​Suster Nayla ikut menoleh lalu refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak memekik heboh, "Ya ampun, romantis banget! Itu beneran Kapten Gavin yang terkenal cuek dan galak?" bisik Suster Nayla gemas.

​"Sstt, jangan keras-keras. Nanti kalau ketahuan Dokter Ivan bisa diinterogasi," sahut Suster Kinan sambil cekikikan, namun matanya tetap melirik kagum pada pemandangan manis di belakang mereka.

​Untungnya, Dokter Ivan dan Dokter Tyas yang berjalan di barisan paling depan terlalu fokus memperhatikan langkah kaki mereka di atas papan kayu, sehingga tidak menyadari momen yang sedang berlangsung di belakang.

​Setelah beberapa menit yang terasa begitu lambat namun indah bagi Hazel dan Gavin, kaki mereka akhirnya menginjakkan kaki di tanah. Begitu sampai di ujung jembatan, Gavin perlahan-lahan melonggarkan genggaman tangannya dan memberikan ruang bagi Hazel untuk kembali bersikap profesional, karena di sana sudah berkumpul beberapa perangkat desa dan warga yang menyambut mereka.

​"Terima kasih, Kapten," ucap Hazel tulus, sebelum ia melangkah sedikit menjauh untuk bergabung dengan rombongan tim medis.

​Gavin hanya mengangguk kecil, kembali memakai kacamata hitamnya dan seketika merubah auranya menjadi sang komandan kompi yang tegas.

Kedatangan tim medis dan rombongan tentara disambut dengan suka cita yang luar biasa oleh warga Desa. Kepala Desa, seorang pria paruh baya bernama Pak Danu, langsung menjabat tangan Gavin dan Dokter Ivan dengan erat. Wajahnya yang kelelahan akibat bencana banjir kemarin kini tampak penuh rasa syukur.

​"Terima kasih banyak, Kapten, Dokter dan semuanya. Kami sudah bingung sekali sejak jembatan putus, ada beberapa warga yang demam tinggi dan anak-anak kecil mulai terkena gatal-gatal karena air bersih sempat tercemar," ujar Pak Danu dengan suara bergetar haru.

​"Sudah menjadi tugas kami, Pak. Sekarang, mari kita arahkan warga ke tempat yang lapang agar pemeriksaan bisa segera dimulai," jawab Dokter Ivan ramah.

​Pak Danu kemudian mengarahkan mereka ke balai desa yang berupa bangunan kayu panggung yang cukup luas. Di sana, para prajurit dengan sigap langsung menyusun meja dan kursi, serta menurunkan kotak-kotak kontainer obat yang mereka bawa.

​Tim medis pun langsung bergerak cepat membagi tugas, Hazel bertugas di bagian pemeriksaan umum dan anak. Sementara Dokter Tyas dan Dokter Ivan menangani pasien dewasa dan lansia, Suster Kinan dan Suster Nayla bersiap di bagian apotek darurat untuk meracik obat.

Dalam waktu singkat, balai desa sudah dipenuhi oleh antrean warga. Hazel dengan sabar memeriksa satu per satu anak-anak desa yang dibawa oleh ibunya. Dengan senyumnya yang hangat, ia mendengarkan keluhan, memeriksa suhu tubuh dan sesekali menghibur anak-anak yang ketakutan melihat stetoskop dengan memberikan biskuit atau vitamin kunyah yang manis.

​"Anaknya cuma demam karena kecapekan dan sempat kehujanan kemarin ya, Ibu. Ini saya kasih sirup penurun panas, diminum tiga kali sehari setelah makan dan jangan lupa ibunya juga harus jaga kesehatan," ucap Hazel lembut kepada seorang ibu yang menggendong balita.

​"Terima kasih, Dokter Cantik," jawab ibu itu dengan senyum lebar, berkali-kali membungkuk hormat.

​Di sudut halaman balai desa, Gavin berdiri bersedekap dada bersama Sersan Baim, mengawasi jalannya pelayanan medis sekaligus memastikan keamanan sekitar. Namun, dari balik kacamata hitamnya, arah pandang Gavin sebenarnya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Hazel yang sibuk di dalam balai desa.

Melihat bagaimana Hazel begitu tulus, telaten dan tidak canggung sama sekali berinteraksi dengan warga desa yang sederhana, membuat rasa kagum di hati Gavin semakin membumbung tinggi. Wanita yang dulu manja dan selalu hidup dalam kemewahan, kini telah bertransformasi menjadi seorang dokter yang luar biasa tangguh dan berhati mulia.

.

.

.

Bersambung.....

1
merry yuliana
jd inget jaman sma wkt kemping anggota osis sm pelatihan menwa kuliah dl euy...
Mini Amora
brati Gavin n Hazel blum pernah ada kata putus dong yaaaa...

🤭🤭🤭
elaretaa: Belum Kak🤭
total 1 replies
Mini Amora
malahan 6 bulan bisa lepas tekanan dari seseorang yg katanya mama mu hazel...

aneh + kaget aja sih.. ada yaaa seorg ibu tp sikapnya bgtu...
May Maya
bagus ceritanya thor
May Maya
bagus ceritanya
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
May Maya
emak nya hazel gila hormat , kekuasaan merasa ingin paling wahhhh paling hebat selain itu GK ada yg penting bagi nya termasuk kebahagiaan anaknya sendiri
May Maya
baru mampir
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya ya
Aidil Kenzie Zie
makasih tor akhir yang manis 🥰🥰🥰
Syifa Fauziah
ahh suka bgt sama cerita nya Thor. 😍🙏
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
welcome baby Papa Gavin dan Mama Hazel 🥰🥰
Icka R
waktu tugas g konsisten kak.. skrg 2thun, awalnya 6bln..itu aja kak..
selebihnya bagus..👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Kukun Sabarno
semoga kedua mempelai samawa penuh keberkahan
Kukun Sabarno
suatu penghinaan dan penderitaan akan membekas selamanya. kasihan
Kukun Sabarno
orang yang sama untuk diperkenalkan sang jendral dan hazel
Aidil Kenzie Zie
selamat buat calon orang tua 💪💪
Syifa Fauziah
hazel hamil yeayyy.. bntr lg ada Gavin junior😄
Aidil Kenzie Zie
crazy up donk tor
Raisha
kok menantu sih Thor? hazel kan anaknya mama Vivian & apa Darius kan,tp di 2 paragraf ini kok jadi menantunya?🤔🤔...salah ketok ya Thor?
Raisha: 😂😂 gpp kak
total 2 replies
falea sezi
manja amat jalan gt doank aja ngeluh nona kaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!