NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Rania melangkah mundur satu langkah, namun matanya menatap lurus ke arah Ratna yang masih bersandar santai di tumpukan bantal.

Napas Rania mulai memburu, bukan karena kelelahan fisik setelah memijat kaki wanita itu, melainkan karena rasa sesak yang sudah menumpuk di dadanya kini telah mencapai batas bendungan.

Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya yang pucat.

“Maksud Ibu apa bicara begitu?” tanya Rania, suaranya bergetar hebat namun ada penekanan yang tajam di setiap katanya.

Ratna membuka matanya, menatap menantunya dengan kernyitan tidak suka.

“Maksud apa? Ibu kan cuma bicara kenyataan. Kenapa kamu malah melotot begitu sama orang tua?”

“Jadi, Ibu mendukung mas Harsa bersama Wulan?¢ Rania mengabaikan teguran itu, suaranya naik satu oktav menembus keheningan kamar tamu.

“Kalau begitu, kenapa nggak sekalian Ibu nikahkan mereka saja?! Untuk apa mas Harsa menikahi aku kalau ujung-ujungnya Wulan yang selalu jadi pemenang di rumah tangga kami?!”

Ratna langsung menegakkan punggungnya, wajah tuanya mengeras mendengar kelantangan Rania.

“Heh, Rania! Berani kamu bicara begitu sama Ibu, ya?!”

“Aku capek, Bu! Capek!” air mata Rania akhirnya luruh membasahi pipinya yang tirus.

“Setiap kali Ibu datang ke rumah ini, Ibu selalu membanding-bandingkan aku dengan Wulan. Apa pun yang aku lakukan, dari caraku masak, caraku mengurus rumah, bahkan caraku bernapas pun selalu salah di mata Ibu! Kenapa Ibu tidak suruh mas Harsa bawa Wulan saja tinggal di sini?!”

“Dasar kamu ini! Dikasih tahu orang tua malah ngelawan, meninggikan suara lagi!”

Ratna turun dari ranjang, berdiri menantang Rania dengan kedua tangan berkacak pinggang.

“Ibu bicara begitu supaya kamu mikir, Rania! Supaya kamu sadar diri dan berkaca pada Wulan. Dia itu contoh istri yang bisa diandalkan, tidak seperti kamu yang lembek!”

“Berkaca?" Rania terkekeh sinis, sebuah tawa pahit yang terdengar menyedihkan di tengah tangisnya. Ia menghapus air matanya dengan kasar.

“Entah apa yang harus aku lihat dari seorang Wulan, Bu? Jika dibandingkan dengan diriku, Wulan itu tidak ada apa-apanya! Dia perempuan dewasa, janda, tapi membawa putranya ke rumah sakit saja masih harus merengek meminta bantuan suamiku! Di mana letak mandirinya yang selalu Ibu banggakan itu?!”

“Jaga mulutmu, Rania! Wulan itu sedang kesusahan, wajar kalau Harsa membantu!” bentak Ratna, wajahnya memerah karena merasa argumennya dipatahkan oleh menantu yang selama ini ia anggap penurut.

“Kesusahan atau sengaja memanfaatkan kebaikan mas Harsa?!” cecar Rania, tidak mau kalah lagi. Selama tiga tahun ia diam, dan hari ini seluruh pertahanannya hancur.

“Dan Ibu? Ibu malah memanaskan suasana, membuat suamiku perlahan-lahan menjauh dari istrinya sendiri demi perempuan lain. Istri macam apa yang bisa tahan diginiin terus-menerus, Bu?!”

Ratna menunjuk wajah Rania dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah yang memuncak.

Mulutnya yang pedas bersiap mengeluarkan kalimat yang paling beracun.

“Kamu jangan serakah jadi perempuan! Kalau dulu Harsa ketemu Wulan lebih dulu, Ibu pasti akan suruh Harsa menikah dengan Wulan, bukan dengan kamu yang mandul!” seru Ratna dengan suara melengking, menggema mengoyak udara malam.

Deg!

Kata-kata itu menghantam dada Rania seperti sebuah hantaman gada besi yang tak kasatmata.

Seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik.

Mandul?

Ibu mertuanya baru saja melabelinya sebagai wanita mandul?

Ratna yang melihat Rania membeku justru mendengus puas, merasa telah berhasil membungkam kelancangan menantunya.

“Kenapa diam? Betul, kan? Tiga tahun, Rania! Tiga tahun kamu menikah dengan anakku, tapi jangankan menimang cucu, tanda-tanda kamu bisa hamil saja tidak ada! Malah badanmu itu makin hari makin kurus kering seperti orang mau mati!”

Rania mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, mencoba menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai.

Rasa pening di kepalanya kembali menyerang dengan hebat, bahkan ia bisa merasakan ada sesuatu yang hangat mulai mengalir lagi dari hidungnya.

Namun, ia menolak untuk terlihat lemah di depan wanita kejam ini.

“Ibu pikir... anak itu urusan manusia?” bisik Rania, suaranya mendadak sangat dingin, sedingin es yang membeku di kutub.

Ia mendongak, menatap Ratna dengan mata yang memancarkan luka sekaligus harga diri yang menolak diinjak-injak.

“Ibu menyalahkan aku karena belum memberikan cucu? Apa Ibu pernah bertanya pada putra kesayangan Ibu, berapa kali dia pulang ke rumah ini dalam satu bulan terakhir? Apa Ibu pernah tahu seberapa keras aku berdoa sampai berdarah-darah agar rahimku bisa terisi?!”

“Halah, alasan saja! Perempuan kalau subur, mau suaminya jarang pulang pun kalau sekali jadi ya jadi!” sahut Ratna asal bicara, mengabaikan fakta medis demi memuaskan egonya sendiri untuk menyakiti Rania.

“Dasar rahim kering! Jangan-jangan kamu dikasih begini sama Tuhan karena kamu ini memang tidak becus jadi istri!”

Rania tersenyum tipis, sebuah senyuman mengerikan yang lahir dari rasa sakit yang teramat sangat.

Ia melangkah satu senti lebih dekat ke arah Ratna, membuat wanita tua itu tanpa sadar mundur setengah langkah karena ngeri melihat tatapan mata menantunya yang mendadak kosong namun tajam.

“Terima kasih atas doannya, Ibu Mertua yang terhormat,” ucap Rania dengan nada yang sangat tenang, namun menusuk hingga ke tulang.

“Terima kasih sudah mengingatkan aku bahwa di rumah ini, aku tidak lebih dari sebuah mesin pencetak anak yang gagal di mata Ibu. Tapi dengar baik-baik...”

Rania menjeda kalimatnya, menyeka setetes darah segar yang mulai keluar dari hidungnya dengan punggung tangan, lalu menunjukkannya di depan wajah Ratna.

“Jika suatu saat nanti Mas Harsa benar-benar pergi dari hidupku dan memilih Wulan, itu bukan karena aku yang gagal. Tapi karena ibunya sendiri yang telah mengutuk rumah tangga anaknya dengan mulut yang penuh dengan racun,” desis Rania tajam.

Tanpa menunggu balasan dari Ratna yang kini melotot shock melihat darah di tangan menantunya, Rania berbalik dan melangkah keluar dari kamar tamu tersebut dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki, meninggalkan wanita paruh baya itu.

“Dasar menantu nggak tahu diuntung! Awas saja saat Harsa pulang nanti, aku adukan semua padanya!” gerutu Ratna.

Di dalam kamar mandi yang terkunci rapat, Rania menyandarkan punggungnya di balik pintu yang dingin.

Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik-turun menahan sesak yang mendesak keluar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, ia berani melawan sang ibu mertua dengan suara selantang itu.

Langkah kakinya terseret menuju wastafel. Begitu mendongak, bayangan di cermin langsung menyambutnya.

Menyedihkan. Sangat menyedihkan.

Wajahnya pucat pasi bak mayat hidup, matanya merah sembap dengan sisa air mata yang mengering, dan noda darah segar dari hidungnya kini mengotori bibirnya yang pecah-pecah.

“Kenapa... kenapa harus aku yang mengalami semua ini?” bisik Rania menatap nanar pantulan dirinya sendiri.

Jemarinya yang sedingin es mencengkeram tepi wastafel begitu kuat hingga memutih.

“Aku bukan wanita mandul...” rintihnya berulang kali di antara isak tangis yang mulai pecah.

1
Deasy Suryandari
wow 😆 ternyata gavin anaknya panji ya
Aysah Meta
sibuk ngurusi jandanya saudara,sampai lupa..kalau istrinya akan segera menjadi janda.
Hhmmmmm
evi carolin
Wulan goblok , Harsa bersiaplah kamu akan peringatan keras dr CEO ,duh pengennya kena pecat deh Krn kelakuan Wulan sendiri biar tambah pusing dan beban
evi carolin
semoga semua fasilitas yg dinikmati mereka selama sdh siap dicopot oleh Rania kalau dia sdh pergi ,Gedeg aq liat kelakuan mereka terlebih mertua ga tau diri
evi carolin
siap siap aja si ibu ya kalau nikmat jabatan anakmu dicopot ....
Al Fatih
Jangan2 itu Gavin yaa,, duh si Wulan rahasia gelapnya banyak bngt
Mita Paramita
Thor cepet bongkar kebusukan Wulan jadi gemes liat tingkah gak tau diri Wulan 🤣🤣🤣
deeRa
Coba tolong jedotin kepala nya Harsa😌
Yessi Kalila
rasanya pengin banget nendang pelakor yg bernama Wulan.... 😄😄😄
vj'z tri
yang kaya itu Rania woi Rania 🤧🤧
tinie
mirip Gavin yaa
tinie
waah bisa jadi sampai disana malah ketemu sama wulan
ollyooliver
wahhhh....jeng..jeng..jengggggggg. harsa..harsa, kesalahanmu mmng gk fatal amat, gk selingkuh, gak adu kokop atas bawah. tapi bayaran satu tahun menyakiti rania..bener" dibayar fatal..ah mantap.🤤
tinie
dalam mimpi mu
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣

gilaaa
ollyooliver
oalahhh..
tinie
wanita tak tau diri
ollyooliver
waduhhhh...gavin kaliii anaknya
ollyooliver
beruntung? ketiban sial itu rania😌
ollyooliver
tenang aja..dia begini bukan karna dia mau, atau karema rasa bersalahnya pd rania.. tapi karena mertuanya. tenang aj, nanti balik kesetelan awal. rania gk ada apa"nya dibandingkan dirimu..harsa aja ,mudah berpaling😌
ollyooliver
sikapnya berubaah karna ancaman pasti, kalau gk..mana mau dia beginiin wulan tersayangnya. ttp ya rania bukan prioritas. kalaupun nanti jadi prioritas...cuman dua jawabannya. satu...karena keluarga rania tau harsa perlakukan wulan bagaimama terutama aditya. kedua, kalau jadi mantan istri..baru deh ngejar" rania tapi ttp saja bukan karnaa cinta atau pun perasaannya. kasihan dan rasa bersalha, menyesal tentu. dan semuanya gk ada perbuatan yg tulis dri hati harsa..karena dia bertindak selalu karema alasan lain...bukan karena RANIANYA😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!