Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bioskop
"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Raynor lembut, matanya menatap tepat ke arah Vivian.
Vivian menyadari tatapan itu, lalu dengan tenang ia beralih menatap Stela. "Itu terserah Stela saja. Aku belum mengenal seluk-beluk kota"
Stela tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu kita ke bioskop saja ya! Biar Vivian rasain pengalaman nonton di bioskop... kamu, belum pernah kan?"
Ia menekan setiap kata dengan sengaja, seakan ingin memastikan Vivian merasa kecil dan rendah di hadapan mereka berdua. Dan Vivian hanya bisa mengikutinya tanpa membantah.
Ia memandang takjub ke sekeliling ruangan. Studio bioskop itu begitu luas dan megah, deretan kursi empuk berbaris rapi, layar raksasa bercahaya memancar di hadapan, dan suara jernih seketika memenuhi ruangan. Ini adalah pengalaman pertamanya menikmati sensasi menonton film di tempat seperti ini.
Tanpa ragu, Vivian melangkah dan duduk di barisan paling depan.
"Vivian! Apa yang kamu lakukan di sana?" seru Stela sengaja mengeraskan suaranya agar didengar orang lain.
Vivian menoleh polos. "Memangnya kenapa? Duduk di depan kan gambarnya terlihat lebih jelas."
"Vivian... bioskop itu tempat duduknya sudah diatur sesuai tiket, tidak bisa duduk sembarangan. Dan satu hal lagi, duduk paling depan itu tidak nyaman, malah bikin pusing. Tempat terbaik dan paling nyaman itu ada di barisan paling belakang," jelas Stela panjang lebar, seakan sedang memberi pelajaran pada anak kecil.
Vivian mendengarkan dengan tenang, namun bisik-bisik pengunjung di dekatnya mulai terdengar samar.
"Kampungan banget sih... baru pertama kali ke bioskop kali ya, harus diajari segala hal begitu..."
Stela berdiri tak jauh dari sana, menyunggingkan senyum puas setiap kali mendengar cemoohan itu menghujam ke arah Vivian.
Sedangkan gadis itu terpaksa mengikuti arahan stela, dengan wajah menunduk menahan malu.
Layar besar menyala, film pun mulai diputar. Vivian duduk tenang di samping Raynor. Beberapa kali adegan mengejutkan muncul, gadis itu tanpa sadar menjerit pelan dan mendekap erat lengan pria di sebelahnya.
Setiap kali itu terjadi, tubuh Raynor seakan tersengat aliran listrik yang menjalar cepat hingga ke dada, membuat jantungnya berpacu tak menentu. Perlahan ia mengusap rambut Vivian dengan lembut, lalu membalas mendekap bahu gadis itu perlahan.
Di sisi lain, Stela mengeram kecil menahan amarah. Matanya melotot tajam. "Berani-beraninya dia memanfaatkan situasi untuk mendekat..."
Tak mau kalah, Stela pun ikut mendekap erat lengan sebelah Raynor, bersandar manja berharap diperhatikan. Namun Raynor tetap diam, tak bergerak maupun membalas pelukan itu.
Ia hanya berdiri pasrah, diapit dua wanita yang sama-sama menempel manja di sisi kiri dan kanannya. Namun, hatinya sepenuhnya tertuju pada satu orang saja.
Film selesai diputar. Vivian segera beranjak berlari kecil menuju toilet.
"Ikuti dia. Jangan sampai tersesat," pinta Raynor pelan.
"Oke, sayang..." Stela tersenyum manis, meski hatinya sudah penuh rasa muak.
Ia menunggu di dekat pintu bilik cukup lama, hingga akhirnya Vivian keluar sambil memegang ponselnya.
"Akhirnya keluar juga," ujar Stela melongok sedikit. "kamu sudah tahu caranya menggunakan toilet mewah seperti ini, Vivian?" tanyanya dengan nada sengaja dikeraskan agar orang di sekitar mendengar.
Vivian mengangkat dagu sedikit, menjawab dengan nada bangga. "Tentu saja." Padahal tadi, di dalam bilik, ia sempat mencari panduan lewat ponselnya.
"Baguslah kalau begitu." Stela tersenyum miring, lalu mengajak Vivian berjalan keluar. Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Kamu tahu, Vivian... sebaiknya kamu pahami saja. Dunia ini terbagi dua, ada yang memang lahir untuk hidup mewah seperti kami, dan ada yang lahir hanya untuk melihat kemewahan itu dari jauh. Kamu boleh saja belajar menggunakan toilet mewah, memakai gaun mahal, atau duduk di kursi empuk. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu tetaplah darah kampungan. Sekalipun kamu mencoba menutupinya sekuat tenaga, bau kampungmu tak akan pernah hilang. Dan kamu... tak akan pernah bisa setara dengan kami."
Kata-kata itu meluncur tajam bagai jarum yang menusuk lambat tepat ke jantungnya. Vivian terdiam mematung, napasnya tertahan di kerongkongan.
Tak ada teriakan, tak ada air mata yang jatuh. Hanya sepasang mata yang menatap lurus ke manik mata Stela, tenang, namun menyimpan luka yang baru saja terukir dalam.