Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16. Adu Argumen. Tiara tiba
Saling menyalahkan dan mengutarakan pendapat versi masing-masing terjadi di dalam Balai Kampung. Slamet yang mencoba untuk berbohong di patahkan argumennya oleh Sari dan Widuri sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka, sebagai saksi yang benar-benar melihat dan mengalami peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.
Semakin lama-semakin banyak kebohongan dari Slamet yang terbongkar dan akhirnya Slamet hanya dapat terdiam, ketika kebohongan yang telah di utarakannya terbongkar semua.
Melihat gelagat Slamet yang terdiam dan sepertinya hendak melakukan hal yang sama seperti kelakuannya pada saat di rumah makan tepi sungai kemarin. Yono dan Feri yang ternyata sudah berada di area sekitar Balai Kampung segera berteriak tanpa saling mengetahui,
"Hati-hati, dia akan bersandiwara lagi, tuh! Pekik suara Feri dari luar dan di ikuti perkataan Yono.
"Iya, hati-hati. Kemarin kami semua sudah di tipu olehnya!" ungkap Toko menyertai ucapan Feri.
Semua orang yang berada di Balai Kampung beserta beberapa warga yang mendengar segera mengarahkan wajah mereka kepada Toko dan Feri yang berlokasi berjauhan walaupun masih di sekitaran Balai Kampung.
Kepala Kampung yang mendengar ucapan Yono dan Feri segera meminta kepada Junaedi, lintas yang masih berada di dalam Balai Kampung untuk memanggil mereka agar segera masuk juga ke dalam Balai Kampung.
"Tolong bawa masuk kedua orang yang berteriak di luar tadi. Mereka kelihatannya mengetahui sesuatu." Perintah Kepala Kampung.
Junaedi segera menyalakan toanya dan bergegas ke arah pintu masuk Balai Kampung dan memanggil mereka.
"Kalian yang baru saja berteriak, Saya harap segera memasuki Balai Kampung sesuai permintaan Kepala Kampung." teriak Junaedi melalui toa, sebab Junaedi juga tidak mengetahui secara pasti siapa yang telah berteriak dan dari mana asalnya, sebab jumlah warga yang penuh sesak diseputaran Balai Kampung mengaburkan suara dan arah datangnya suara Yono dan Feri barusan.
Junaedi melakukan pengumuman berulang kali sampai Toko dan Feri yang berada di tempat yang berbeda, bersusah payah berjalan agar tiba di pintu masuk Balai Kampung.
"Iya, saya Bang." ungkap Yono dan tidak beberapa lama Feri juga tiba.
"Saya..., Saya juga yang berbicara tadi." Feri menjelaskan.
"Oh, kamu di sini juga Nok?" Tanya Feri kepada Yono.
"Iya, Aku masih penasaran dengan lanjutan kisah kemarin yang sudah terpotong setelah mendengar beberapa orang menceritakan kejadian penyerangan Bang Harjo. Aku ingin tahu sekali peristiwa itu!" jawab Yono sambil tertawa kecil dan tersenyum.
"Sama, Aku juga masih kesal dengan Slamet, si guru kurang ajar itu." Feri refleks menjelaskan, sebab di dalam hatinya masih terbakar kesal dan dendam terhadap kelakuan Slamet selama ini.
"Sudah, sudah. Mari masuk, di dalam saja nanti kalian jelaskan peristiwa yang kalian ketahui itu." pinta Junaedi, mempersilakan Yono dan Feri memasuki ruangan Balai Kampung.***
Di tempat lain ternyata Tiara yang adalah pelayan sekaligus kasir di rumah makan pinggir tepi sungai ternyata sudah berada di sekitar Balai Kampung. Dirinya yang juga mendengar desas-desus peristiwa perkelahian empat orang antara Slamet, Arif dan Udin melawan Harjo merasa tertarik dan dengan susah payah meminta izin dari Mitha untuk dapat hadir ketempat ini.
"Tolong lah, Mbak. Aku sebentar saja di sana, Aku penasaran sekali ingin melihat dan mendengarkan apa yang telah terjadi. Please... Aku berjanji tidak akan keluyuran atau pergi kemana-mana selain ketempat itu saja." pinta Tiara, sedikit memohon kepada Mitha yang adalah Bos sekalian sepupunya.
Awalnya Mitha menolak, namun dikarenakan Tiara meminta berulang-ulang kali, membuat Mitha luluh hatinya atas bujukan Tiara.***
Tiara melihat Yono dan Feri dipersilahkan masuk, juga berupaya mendekat ke arah pintu masuk Balai Kampung, namun kesulitan karena keadaan masyarakat yang telah ramai berjubel di area seputaran Balai Kampung, namun Tiara tetap berjuang.***
Kepala Kampung segera menayakan Yono dan Feri setelah mereka berdua berada di dalam Balai Kampung.
"Apa yang kalian ketahui mengenai Mereka dan peristiwa ini?" Tanya Kepala Kampung to the point tanpa basa-basi.
Slamet yang awalnya hendak mengeluarkan aksinya, terkejut melihat keberadaan Yono dan Feri yang sudah mengetahui taktik sandiwaranya sebelumnya.
"Apes deh Aku. Mereka berdua sudah mengetahui kedokku! Apes.. Apes..." Slamet bergumam disalam hatinya.
"Kemarin Dia..." Yono dan Feri serempak berkata.
Karena suara yang bersamaan Kepala Kampung berubah roman air mukanya.
Junaedi yang melihat itu segera memerintahkan.
"Kalian berdua, satu persatu bicaranya. Kamu Yono yang lebih dahulu tiba, coba jelaskan!" perintah Junaedi.
"Ba.. Baik Bang." seru Yono.
"Jadi begini, kemarin sore di rumah makan tepi sungai kami berdua melihat dan mendengar secara langsung Slamet berpura-pura kerasukan ketika dirinya tidak sanggup membayar makanan. Saya lihat tadi dia berupaya hendak melakukan hal yang sama." Yono memberikan pendapatnya.
"Iya, benar! Ketika terdesak Slamet akan bersandiwara kerasukan. Perhatikan saja matanya, masih terlihat lebam akibat pukulan dari Bang Jaka, keamanan dari rumah makan karena tidak sengaja melihat Slamet yang berpura-pura kerasukan, membuat Bang Jaka ketakutan dan secara refleks memukul matanya." Sambung Feri.
"Kami tidak ingin, Slamet mempermainkan kita semua yang berada di tempat ini. Oh ya kalau tidak salah, hal ini terjadi setelah Bang Jhon dan Nona Sari pergi meninggalkan Slamet yang tidak mampu membayar pesanan makanannya." sambung Feri kembali, dirinya akan merasa lebih puas lagi kalau Slamet semakin dipersalahkan.
Jhon yang disebutkan namanya oleh Feri segera bereaksi,
"Jadi setelah Kami pergi, Slamet berakting kerasukan setan, dikarenakan tidak sanggup membayar pesanan makanannya?" tanya Jhon serius kepada Feri.
Sari merasa geli di dalam hatinya,
"Itulah, kualitas lelaki sepertinya. Lelaki nggak modal, Slamet si pencari keuntungan diantara kesempitan. Kena batunya juga Dia." Sari bergumam di dalam hati.
"Iya, benar. Bahkan seluruh pengunjung rumah makan menjadi berhamburan dari dalam rumah makan tersebut. Banyak barang yang rusak dan juga para pengunjung yang tidak membayar, sehingga Slamet harus mengganti rugi." Feri menambahkan jawabannya sesuai pertanyaan Jhon.
"Iya, benar. Saya saksi matanya." jawab Yono.
Slamet merasa bingung dan bimbang. Dirinya saat ini sedang berpikir mati-matian mencari jawaban yang tepat.
"Dari kejadian kemarin, Saya tidak dapat mempercayai perkataan Slamet. Setiap tindak tanduk Slamet menurut Saya, haruslah diamati secara teliti, jangan sampai semua orang orang akan diperdaya lagi olehnya. Saya rasa Bang Arif dan bang Udin, turut serta dalam kejadian ini dikarenakan telah terkena tipu-daya dari Slamet." Feri secara yakin menyimpulkan, walaupun sebenarnya dirinya juga tidak mengetahui pasti kejadian penyerangan kemarin malam.
Arif merasa terbantu oleh perkataan Feri yang membelanya dan Udin.
Tiba-tiba Udin berbicara,
"Benar kami, turut serta menyerang Harjo secara bersama-sama namun tipu-daya Aku tidak.. " perkataan Udin di sela oleh Arif yang merasa sedikit emosi akibat perkataan Udin. Mereka berdua tentunya akan kembali dipersalahkan.
"Iya, tertipu. Sebab Slamet memang sangat jago mengenai hal itu. Hanya dengan perkataan sedikit saja, Saya yang sudah berniat pulang kerumah menjadi mau mengikutinya." Arif berharap Udin diam saja dan tidak perlu berbicara, sebab akibat perkataan Udin, maka mereka berdua akan menjadi orang yang dipersalahkan juga atas kejadian pengeroyokan Harjo kemarin malam.
"Tidak, Saya tidak melakukan tipu-daya. Saya hanya mengatakan harus membalas Harjo yang sudah membuat Saya dipermalukan hari itu di rumah makan tepi sungai." Slamet hendak membela diri dan menjerumuskan Arif dan Udin bersamanya.
Tiba-tiba Tiara muncul setelah susah payah menerobos keramaian orang disekitar Balai Kampung. ***
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru