NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Penuh Air Mata Haru dan Keputusan Besar di Ujung Senja

Suara deru angin malam mengguncang pelan kaca jendela kamar ndalem Pondok Pesantren Al-Hikmah.

Jam dinding antik berdetak konstan, menunjukkan pukul sepuluh malam.

Cahaya lampu kamar tidur bernuansa kayu jati itu memancarkan rona kekuningan yang hangat, kontras dengan udara dingin di luar yang menusuk tulang.

Di atas karpet permadani tebal berwarna merah marun, Nayara Zayna Az-Zahra duduk bersila dengan tumpukan buku kedokteran tebal berserakan di hadapannya.

Matanya tampak sedikit menyipit, membaca ulang catatan ringkas mengenai prosedur bedah ortopedi yang harus ia kuasai untuk rotasi jaga keesokan harinya di rumah sakit.

Sementara itu, beberapa langkah dari tempatnya duduk, Revan Al-Gibran berdiri di dekat jendela terbuka.

Pemuda itu mengenakan kemeja katun hitam lengan panjang yang digulung sampai siku, memegang sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.

Tatapan mata Revan menerawang jauh keluar, menembus pekatnya malam di halaman pesantren yang disinari cahaya lampu taman temaram.

Ada keheningan yang menenangkan di antara mereka.

Keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan sebuah bentuk kenyamanan mutlak dari dua jiwa yang telah menyatu dalam ikatan suci pernikahan.

Namun, di balik ketenangan itu, ada sorot mata penuh beban yang tengah disembunyikan oleh Revan.

Sejak sore tadi, setelah ia pulang dari kantor bisnis keluarganya, pemuda itu tampak lebih banyak diam.

Pikirannya seolah melayang jauh memikirkan sebuah tanggung jawab besar yang sebentar lagi harus ia pikul di pundaknya sebuah amanah yang akan mengubah arah kehidupan rumah tangga mereka untuk selamanya.

Nayara yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya perlahan menutup buku catatannya.

Ia meletakkan pulpen di atas meja kecil, lalu bangkit berdiri dengan langkah senyap menghampiri Revan dari belakang.

Dengan sangat lembut, Nayara melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, menyandarkan pipinya yang halus di punggung bidang Revan.

Sentuhan hangat itu membuat Revan terkesiap kecil.

Pria itu menghentikan lamunannya, lalu perlahan berbalik menghadap istrinya.

Cangkir kopi di tangannya diletakkan di atas meja di dekat jendela.

Revan menunduk, menatap manik mata Nayara yang berbinar lembut di bawah temaram lampu kamar.

Ia mengangkat sebelah tangannya, mengusap pelan pipi istrinya dengan penuh kelembutan yang teramat sangat.

"Ada apa, Zawjati?"

tanya Revan dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, sarat akan kehangatan.

"Kenapa belum tidur?

Besok kamu harus bangun pagi untuk visite pasien di rumah sakit, kan?"

Nayara mendongak, menggeleng pelan.

"Aku nggak bisa tidur kalau lihat suamiku berdiri melamun sendirian di dekat jendela dari tadi, Mas.

Ada sesuatu yang lagi kamu pikirkan, ya?

Cerita ke aku... kita kan sudah berjanji untuk selalu melewatinya bersama, susah maupun senang."

Mendengar ucapan tulus dari istrinya, sudut bibir Revan terangkat membentuk senyuman tipis yang menyiratkan kelegaan sekaligus keraguan.

Ia menarik tubuh Nayara semakin mendekat, membawanya ke dalam dekapan hangat dadanya.

"Kamu benar-benar tahu cara membaca isi hatiku, Nay,"

bisik Revan, mencium puncak kepala istrinya yang berhijab tipis.

Ia menghela napas panjang, lalu mengajak Nayara untuk duduk bersama di tepi ranjang.

Keduanya duduk berdampingan.

Revan menggenggam kedua jemari tangan Nayara erat-erat, seolah takut kehilangan pegangan.

"Tadi sore... Abi memanggilku ke ruang kerjanya di ndalem utama,"

buka Revan memulai cerita.

Suaranya terdengar serius namun sangat tenang.

"Beliau membicarakan masa depan kepengurusan yayasan pondok pesantren dan perluasan jaringan bisnis keluarga besar kita di Surabaya."

Nayara mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ia tahu betul bahwa sebagai anak tunggal dari keluarga Kiai besar sekaligus pewaris tunggal perusahaan bisnis keluarga Al-Gibran, beban di pundak Revan bukanlah hal yang ringan.

"Abi bilang, sudah saatnya aku mulai memegang kendali penuh atas ekspansi cabang rumah sakit islam yang sedang dirintis oleh yayasan keluarga kita di pusat kota Surabaya,"

lanjut Revan, menatap lurus ke dalam manik mata Nayara.

"Itu artinya... dalam waktu dekat, kita harus bersiap untuk pindah rumah dari pesantren ini ke sebuah tempat tinggal mandiri di dekat kawasan rumah sakit tersebut."

Pernyataan itu membuat Nayara tertegun sejenak.

Ada gelombang perasaan asing yang bergemuruh di dadanya.

Pndok Pesantren Al-Hikmah bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi mereka; pesantren itu adalah saksi bisu perjalanan cinta mereka, tempat di mana badai masa lalu disembuhkan, dan tempat di mana ikatan pernikahan mereka disucikan.

Meninggalkan tempat itu tentu bukan keputusan yang mudah.

Namun, di detik berikutnya, Nayara menyadari satu hal yang jauh lebih penting: ia adalah seorang istri yang harus selalu mendukung langkah suaminya dalam menjemput takdir dan tanggung jawab besar.

Nayara meremas perlahan jemari Revan, lalu tersenyum manis menenangkan suaminya.

"Mas... Kenapa harus ragu?"

Revan menatap istrinya dengan kaget halus.

"Kamu... tidak keberatan kalau kita harus pindah dari pesantren, meninggalkan suasana tenang ini, dan memulai hidup baru secara mandiri di tengah kota yang sibuk?"

Nayara menggeleng pelan, manik matanya berkaca-kaca namun memancarkan keteguhan hati yang luar biasa.

"Kehidupan pernikahan kita bukan ditentukan oleh di mana kita tinggal, Mas, tapi oleh siapa yang membersamai langkah kita.

Kalau kepindahan itu adalah amanah dari Abi dan jalan terbaik untuk pengembangan dakwah serta karier kita ke depannya, aku pasti siap mendampingi kamu di mana pun."

Nayara menangkupkan kedua tangannya di pipi Revan, mengusapnya penuh kasih sayang.

"Kamu sudah berjuang mati-matian untuk melindungi aku, mengubah masa lalumu menjadi pria hebat yang bertanggung jawab penuh pada keluarga kita.

Sekarang giliran aku yang membuktikan kalau aku bakal selalu ada di sampingmu—mendukung setiap keputusan besar yang kamu ambil, susah maupun senang, di kota mana pun kita berada."

Mendengar kata-kata penuh cinta dan kesetiaan mutlak dari istrinya, pertahanan diri Revan runtuh seketika.

Pria bertubuh tegap dan dikenal garang di masa lalu itu mendadak merasakan keharatan yang luar biasa mendalam menghantam dadanya.

Air mata haru yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya menetes perlahan di sudut matanya.

Bagi Revan, memiliki Nayara di dalam hidupnya adalah anugerah terbesar yang tidak akan pernah bisa ia bayar dengan harta apa pun di dunia ini.

Gadis yang dulunya ia temui di lingkungan kampus dengan sejuta ketakutan itu kini telah bertransformasi menjadi sosok bidadari surga yang memberikan kekuatan terbesar dalam hidupnya.

Revan tidak mampu lagi berkata-kata.

Ia langsung menarik tubuh Nayara ke dalam dekapan eratnya, mendekap sang istri sedemikian rupa seolah ia tidak ingin melepaskannya sedetik pun.

Isak tangis kecil lolos dari bibir Revan tangisan kebahagiaan, rasa syukur yang teramat dalam, dan kelegaan luar biasa atas rahmat Allah yang begitu besar.

Nayara memeluk leher suaminya erat-erat, ikut meneteskan air mata haru di pundak Revan sambil membisikkan doa-doa kebaikan dan ketenangan bagi rumah tangga mereka.

"Terima kasih, Nay...

Terima kasih sudah hadir menjadi takdir terindah dalam hidupku,"

bisik Revan parau di telinga istrinya, mengecup seluruh wajah Nayara dengan penuh air mata cinta.

Di bawah temaram lampu kamar pengantin Pondok Pesantren Al-Hikmah, malam itu menjadi saksi bisu atas penyatuan dua jiwa yang semakin kokoh ditempa badai kehidupan.

Mereka tahu, lembaran baru di kota Surabaya esok hari akan mendatangkan tantangan, kesibukan, dan ujian yang jauh lebih besar.

Namun, dengan cinta suci, rida Sang Pencipta, dan janji setia yang terpatri di dalam hati, Revan dan Nayara siap melangkah bersama menghadapi dunia sebagai satu kesatuan yang utuh, abadi, dan diridai oleh-Nya.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!