Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan berdua
Dengan semangatnya Awan melangkahkan kaki ringannya ke arah bengkel yang biasa ia perbaiki mobil bersama Niko. Ia memanggil pemilik bengkel untuk melihat kondisi mobil Niko. Setelah pemilik bengkel datang, Awan pun di suruh nunggu sebentar karena tidak ada kerusakan parah hanya beberapa yang perlu di benahi.
Setelah kurang lebih setengah jam mobil sudah selesai di perbaiki dan Awan merasa senang banyak uang lebih yang di beri Niko padanya. Dengan bahagia ia menyimpan uang sisa perbaiki mobil ke dalam sakunya lagi. Ia pun meninggalkan bengkel dan menuju rumah Pak Agung untuk menjemput Senja.
Di perjalanan Awan menelpon Senja menyuruhnya untuk siap-siap. Senja pun dengan semangatnya mempersiapkan dirinya. Penampilan menarik berdandan tipis ala Senja ia sudah siap menunggu Awan di depan rumah.
"Senja kamu mau kemana?" tanya Mama Lita.
"Ma, Senja mau jalan sama Awan bolehkan?" tanya Senja pada Mamanya.
"Tentu boleh dong Sayang, tapi pulangnya jangan sampai larut larut malam ya," pesan Mama Lita.
"Iya Ma, itu mungkin Awan," tunjuk Senja pada sebuah mobil yang baru datang memasuki halaman rumahnya.
"Wah ... ada yang mau jalan sama pacar nih," ledek Mama Lita.
Senja terseyum sambil melihat sebuah mobil yang menuju halaman rumahnya itu berjalan pelan mendekati mereka.
"Ma itu beneran Awan, aku pergi dulu ya, Oya Papa mana Ma?" tanya Senja.b
"Papa lagi keluar, gak apa-apa pergi saja. Biar Mama yang bilang nanti sama Papa."
"Makasih Ma, Senja pergi dulu ..." pamitnya.
Awan dengan wajah yang terseyum ramah keluar dari mobilnya ia mendekati Senja dan Mamanya yang berdiri di depan rumah.
"Senja sudah siap?" tanya Awan memasang senyum ke arah Senja dan Mama Lita.
"Siap dong," sahut Senja dengan mantap.
Awan terseyum melihat pacar kesayangannya itu tampak cantik dan elegan dengan fashion yang sederhana saja Senja sudah tampak cantik.
Memang orangnya cantik walau memakai pakaian sederhana pun ia sudah tampak luar biasa selalu menarik dipandang mata. Senja gadis yang sangat sederhana ia tidak seperti gadis kebanyakan yang berpenampilan modis padahal ia anak orang kaya tapi ia tidak mau menunjukan itu ataupun pamer dengan bergaya ala orang kaya. Sikap itulah yang di sukai Awan dalam diri Senja, membuatnya semakin mencintai gadisnya itu bahkan ia tidak rela melewatkan hari-hari tanpa Senja.
Awan berpamitan dengan Mama Lita dengan ramahnya ia bersalaman dengan calon mertuanya itu. Senja ikut terharu melihat Awan begitu ramah pada orang tuanya. Setelah berpamitan dan sedikit mengobrol dengan Mama Lita, mereka pun pergi ketempat yang akan mereka tuju.
Saat dalam mobil Awan membunyikan lagu romantis ia sengaja melakukannya untuk menikmati kebersamaannya dengan Senja.
"Senja, kita mau kemana?" tanya Awan memulai obrolan dengan Senja.
"Kemana aja asal bersamamu."
Awan terseyum, "Kalau aku bawa ke kuburan mau?"
"Mau, kan perginya dengan kamu," lirik Senja sambil tersenyum.
"Gak takut?"
"Gak karna aku bisa memeluk kamu."
"Hahaha aku gak akan biarkan kamu takut aku akan melindungi kamu."
"Tidak kamu katakan pun, aku sudah tau," ujar Senja.
"Wah, hebat dong pacar aku, bisa tau isi hati orang," ujar Awan.
"Aku cuma tau isi hati kamu saja. Karna aku kan tinggalnya di hati kamu," ucap Senja dengan percaya diri m
"Cie..., pacar aku sudah bisa ngegombal," ujar Awan menggoda Senja. Senja tersenyum menatap pria pujaan hatinya itu.
Keduanya sama-sama menikmati kebersamaan mereka dengan mesra sambil terus membunyikan musik romantis di sepanjang jalan. Sejenak mereka membungkam.
"Mas, mobil kamu bagus aku suka," ucap Senja memecah kesunyian.
"Em, sebenernya ini bukan mobil ku Sayang," ucap
Awan berkata jujur pada Senja, ia menjelaskan kalau mobil yang dipakainya itu milik temannya yang bernama Niko. Senja merespon biasa saja tanpa banyak komentar ia mendengarkan penjelasan Awan.
Ada mobil atau tidak itu tidak masalah baginya karna ia tulus mencintai Awan tanpa memandang apapun dari Awan termaksud harta. Awan berterimakasih pada Senja, sebab ia mencintai dirinya apa adanya.
"Aku beruntung banget ya, punya pacar seperti kamu Sayang. Sudah cantik, baik hati lagi," puji Awan pada Senja.
"Aku juga beruntung juga kok, punya pacar seperti kamu. Ramah dan baik hati juga, aku yakin cintamu juga pasti tulus padaku kan?" tanya Senja memastikan.
"Itu sudah Pasti Sayang, aku tidak memandang apapun dari kamu, cintaku tulus terlahir dari hati yang paling dalam," ujar Awan sedikit ngegombal.
"Hem, kamu janji ya sama aku, akan selalu mencintai aku apapun keadaannya," pinta Awan yang kuatir pada Senja, akan menjauh bahkan meninggalkannya setelah ia tau kalau Awan bukan anak orang kaya.
"Iya gak percaya banget sih!" ujar Senja menyakinkan.
"Aku percaya kok Sayang, aku hanya takut kehilanganmu," sahut Awan melirih.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas Awan, bagaimana pun keadaanmu ada atau pun tidak ada harta bagiku sama saja, kita akan selalu bersama dan berusaha untuk membangun rumah tangga suatu saat nanti dan aku siap untuk jadi ibu dari anak-anakmu kelak," ujar Senja menyakinkan.
Mendengar ucapan Senja itu Awan sedikit lega tapi jujur ia masih kuatir pada orang tua Senja yang masih dalam tanda tanya. Entah kenapa ia tidak yakin kalau orang tua Senja bakal mau menerima dia dalam keadaan tidak punya. Pikiran tertuju pada hal tersebut sejak malam kemarin saat tau kalau orang tua Senja bukan orang biasa mereka keturunan ningrat dan tersohor. Karna itu ia menjadi gelisah dan tidak tenang seakan ada jurang pemisah buat dirinya dan Senja.
Awan menambah kecepatan mobilnya agar secepatnya sampai pada tempat tujuan mereka ia menghilangkan sejenak pikirannya dan kembali bersenang-senang dengan Senja.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan mereka. Awan membuka pintu untuk Senja dan mengulurkan tangannya, dengan senyuman Senja menyambut tangan Awan dan mereka bergandeng tangan menuju sebuah lestoran. Saat itu pula Awan mengajak Senja makan di ditempat itu dengan senang hati Senja mengiyakan ajakan Awan.
Setelah mereka makan mereka pergi ke salah satu taman ternama di kota itu. Seharian pergi berdua rasanya belum puas bagi Awan untuk saling bersua dengan kekasihnya Senja. Begitu juga dengan Senja rasanya ia tidak ingin waktu cepat berlalu dan sudah hampir malam keduanya masih menikmati kebersamaan mereka. Senja mengingatkan Awan Kalau hari mulai gelap saatnya mereka akan pulang.
"Mas Awan rasanya satu hari serasa bagai satu jam saat bersamamu aku tidak ingin waktu cepat berlalu dan kini sudah gelap saatnya kita pulang.
"Sebentar lagi Senja, kita belum pergi ke suatu tempat lagi."
"Kemana lagi sih? ini sudah malam Mas," ucap Senja mengingatkan.
"Hem, padahal aku masih mau ajakin kamu nonton lho padahal," ucap Awan sedih.
"Lain kali aja ya Mas, kamu denger kan tadi pesan Mama."
"Iya dengar kok, ya sudah ayo kita pulang saja. Oya Mama kamu suka makan apa ya? aku masih ada sedikit uang untuk membelikannya sekedar oleh-oleh gitu."
Senja menolak secara halus permintaan Awan. Karna ia tau kalau Awan sudah tidak punya uang lagi.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir