Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Pagi
Bryan membawanya ke sebuah restoran kecil bernama Morning Glory yang letaknya hanya sekitar lima ratus meter dari gedung kantor Max.
Mereka duduk di dekat jendela. Cassia memesan seporsi roti panggang dengan telur ceplok dan secangkir teh panas. Bryan memesan makanan yang sama dengan Cassa dan kopi hitam.
Cassia tersenyum kecil. "Terima kasih sudah mengajakku."
"Sama-sama. Ini bukan apa-apa." Bryan mengambil garpu dan mulai makan. "Jadi, hari ini rencanamu apa setelah kerja?"
"Pulang. Istirahat. Besok bekerja lagi."
"Bosan sekali hidupmu, Cassia."
Cassia menatapnya sekilas. "Membosankan, ya. Aku tahu."
"Aku tidak bilang membosankan. Aku bilang 'bosan—artinya kau terlalu banyak bekerja dan kurang bersenang-senang." Bryan mengunyah makanannya, lalu melanjutkan, "Ada yang bisa aku ajak main setelah jam kantor? Makan malam? Nonton bioskop?"
Cassia hanya tersenyum, tak menjawab. Dia tak ingin menjanjikan apa pun pada Bryan. Otak dan hati Cassia sudah penuh dengan Max meskipun Bryan mungkin jauh lebih baik dari Max dalam hal wanita.
Bryan tampan, humoris, menghargai wanita. Tapi, Cassia tak tertarik untuk lebih dekat. Cukup untuk berteman saja.
Bryan berhenti mengunyah. Ia menatap Cassia. “Aku menyukaimu, Cassia.”
Cassia berhenti mengunyah. “Kurasa itu hanya ketertarikanmu pada penampilanku malam itu.”
"Kau pikir aku menyukaimu karena penampilanmu di pesta?"
"Bukankah itu yang biasanya terjadi? Sebelumnya, kau tak melihatku.”
Bryan tertawa pelan. "Cassia, aku mengingatmu bahkan setelah 10 bulan berlalu. Aku tumbuh di lingkungan yang dipenuhi orang cantik dengan uang dan wajah sempurna. Sejujurnya, aku sudah muak. Penampilan itu bonus, bukan intinya. Yang membuatku tertarik padamu adalah ...”
DRRRT
DRRRT
Ponsel Cassia berbunyi. Dia melihat pesan masuk dan segera membukanya karena itu dari Max.
[Aku ke kantor lebih pagi. Kuharap kau datang sebelum aku]
Cassia segera membalas. [Baik, Tuan]
“Aku harus segera ke kantor, Bryan. Tuan Max datang lebih pagi,” kata Cassia.
Bryan mengangguk dan sarapan selesai sekitar pukul setengah delapan. Bryan membayar tagihan dan sekali lagi Cassia mengucapkan terima kasih lalu mereka berdua berjalan keluar menuju mobil.
Bryan membuka pintu untuk Cassia, dan mobil melaju perlahan menuju gedung perkantoran yang hanya berjarak tiga menit.
*
*
Mobil itu berhenti tepat di depan lobi gedung. Cassia membuka sabuk pengamannya, menghela napas lega karena perjalanan usai.
"Terima kasih, Bryan. Aku ... benar-benar berterima kasih."
"Sama-sama. Nanti aku jemput lagi?"
"Jangan," Cassia cepat-cepat menolak. "Aku tak tahu pulang jam berapa.”
Bryan tersenyum. "Kita lihat nanti."
Bryan turun dari mobil terlebih dahulu, lalu berjalan ke sisi penumpang untuk membukakan pintu.
Cassia keluar dengan canggung, kedua tangannya memegang tas kerja di depan dada.
Rambutnya yang sedari tadi diikat mulai terurai sedikit karena tertiup angin pagi. Beberapa helai rambutnya berkibar ke wajah.
Bryan menyadarinya. Dengan gerakan lembut dan tanpa pikir panjang, dia mengulurkan tangan dan dengan lembut membenarkan rambut Cassia yang tertiup, menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu.
Cassia terkejut. Ia memundurkan langkahnya satu setengah meter, wajahnya memerah di balik kacamata. "B-Bryan!"
"Maaf, refleks," Bryan tertawa kecil, tidak tampak menyesal sedikit pun. "Rambutmu mengganggu pemandangan."
"Jangan sembarangan, ini kantor!" Cassia panik, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
"Baik, baik."
Cassia menghela napas dan mencoba menenangkan diri. "Oke. Terima kasih untuk sarapannya. Terima kasih sudah mengantar. Aku masuk dulu."
"Cassia."
Dia berhenti.
"Kau baik-baik saja, ya. Jangan terlalu lelah."
Cassia hanya mengangguk canggung, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu lobi. Ia tidak berani menoleh ke belakang, meskipun dia bisa merasakan tatapan Bryan yang masih setia memandanginya sampai dia benar-benar masuk ke dalam gedung.
*
Di belakang mobil Bryan, sekitar sepuluh meter di belakang, sebuah sedan hitam mewah berhenti dengan mesin yang masih menyala.
Di dalamnya, Max Kingsford duduk dengan tangan masih di setir, matanya tertuju pada pemandangan yang baru saja terjadi di depan lobi.
Ia melihat semuanya. Dari Bryan yang membukakan pintu mobil, hingga Bryan yang menyentuh rambut Cassia, hingga Cassia yang mundur dengan wajah memerah dan bergegas masuk ke gedung.
Max tidak bergerak. Alisnya berkerut, dagunya mengeras. Perasaan aneh yang tidak bisa ia identifikasi muncul di dadanya—bukan cemburu, karena dia tidak cemburu pada Cassia. Mungkin rasa penasaran. Rasa heran.
‘Sejak kapan Cassia dekat dengan Bryan?’
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭