Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Pengepungan Kota
Suasana di dalam aula utama istana kristal tempat pernikahan berlangsung mendadak berubah menjadi riuh dan dipenuhi kepanikan massal. Waktu penundaan acara sakral yang semula dijadwalkan sudah terlewati selama hampir tiga puluh menit, namun sepasang pengantin yang dinanti-nantikan oleh ribuan tamu undangan kelas atas sama sekali tidak kunjung memunculkan batang hidungnya di depan altar.
Para tetua Alister Group dan para pejabat tinggi yang duduk di barisan depan mulai saling berbisik dengan raut wajah penuh tanda tanya, sementara para wartawan yang bersiap di area dokumentasi mulai mencium adanya aroma skandal besar yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Tiba-tiba, pintu ganda aula utama terbuka dengan hentakan keras. Bukan sosok sepasang pengantin bahagia yang melangkah masuk, melainkan Devan Alister sendirian. Pria itu berjalan menuju altar dengan langkah kaki yang teramat mantap namun dipenuhi oleh aura kematangan amarah yang begitu pekat. Wajah tampannya mengeras bagai pahatan batu es, dengan sepasang mata elang yang memancarkan kilatan kegelapan yang siap menelan siapa saja hidup-hidup.
Tanpa memedulikan tatapan syok dari ribuan pasang mata, Devan langsung merebut mikrofon dari tangan pendeta yang berdiri di atas altar. Suara baritonnya yang berat dan dingin membelah keheningan aula melalui pengeras suara raksasa.
"Pernikahan hari ini resmi ditunda," ucap Devan pendek, tanpa memberikan alasan apa pun. Nada suaranya yang datar namun mutlak seketika memukul mati seluruh spekulasi di dalam ruangan. "Saya meminta seluruh tamu undangan untuk mengosongkan area gedung dalam waktu sepuluh menit. Siapa pun yang berani mengambil gambar atau menyebarkan berita spekulatif mengenai hari ini ke luar gedung, akan berhadapan langsung dengan kehancuran seluruh aset bisnis keluarganya oleh Alister Group."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman yang sangat mengerikan itu, Devan menurunkan mikrofonnya dengan kasar, berbalik tubuh, dan melangkah cepat menuju ke ruang pusat kendali keamanan gedung. Di belakangnya, Leon bersama belasan kepala pengawal pribadi berseragam hitam bergegas mengikuti dengan langkah terburu-buru, menyadari bahwa hari ini kota mereka akan menghadapi amukan terbesar dari sang penguasa tertinggi.
Di dalam ruang kendali keamanan yang dipenuhi oleh puluhan layar monitor CCTV yang menyala terang, atmosfer terasa begitu mencekam hingga para operator komputer tidak berani menarik napas dengan bebas. Devan masuk dan langsung menggebrak meja kendali utama.
"Leon! Perintahkan seluruh divisi keamanan Alister Group untuk menutup dan memblokade setiap akses keluar dari kota ini sekarang juga!" perintah Devan, suaranya bergemuruh penuh tekanan absolut. "Tutup bandara internasional untuk seluruh penerbangan privat maupun komersial, hentikan semua operasional kereta cepat, dan tempatkan ratusan pengawal di setiap gerbang tol perbatasan kota! Jangan biarkan satu pun kendaraan keluar tanpa pemeriksaan ketat!"
Leon sedikit tertegun, menyadari besarnya skala perintah tersebut. "Tuan Muda... Menutup seluruh akses transportasi kota secara serentak akan memicu perhatian dari pihak otoritas pusat dan kepolisian nasional. Kerugian finansialnya bisa mencapai ratusan miliar dalam hitungan jam."
"Aku tidak peduli tentang uang atau otoritas pusat, Leon!" bentak Devan, matanya memerah menatap tajam ke arah asisten pribadinya itu. "Jika aku harus membakar seluruh isi kota ini hanya untuk menemukan keberadaan Keyra, maka aku akan melakukannya tanpa ragu! Cari wanita itu sampai dapat! Dia masih mengenakan gaun pengantin seberat belasan kilogram, dia tidak mungkin bisa berlari terlalu jauh dari area kompleks gedung ini dalam waktu singkat!"
"Baik, Tuan Muda! Perintah segera dilaksanakan!" jawab Leon tegas, langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seluruh jaringan bawah tanah dan otoritas keamanan yang berada di bawah pengaruh Alister Group.
Devan kemudian beralih menatap tajam ke arah kepala operator CCTV gedung. "Tampilkan rekaman kamera koridor di depan ruang rias VVIP dari tiga puluh menit yang lalu! Aku ingin melihat siapa tikus keparat yang berani menyusup masuk dan meletakkan amplop hitam itu di atas meja Keyra!"
Jemari operator komputer bergerak dengan sangat cepat di atas papan ketik. Beberapa detik kemudian, layar monitor utama menampilkan koridor sepi di depan ruang rias. Namun, saat video diputar pada menit-menit krusial, layar monitor mendadak berubah menjadi garis-garis statis hitam putih yang rusak.
"Maaf, Tuan Muda Devan... Sistem jaringan kamera di lorong khusus tersebut tampaknya telah diretas dan dihapus secara total dari peladen utama kami tepat lima menit sebelum Anda memasuki ruangan," lapor sang operator dengan suara yang gemetar ketakutan.
Rahang Devan berkedut menahan amarah yang kian meluap. Retakan di sistem keamanannya membuktikan bahwa musuh yang mereka hadapi kali ini bukanlah orang sembarangan. Ini adalah serangan terencana dari seseorang yang mengetahui betul seluk-beluk internal Alister Group, dan orang tersebut sengaja menggunakan rahasia masa lalu kematian ibu Keyra untuk menghancurkan hidupnya dari titik paling rapuh.
Sementara itu, di pinggiran jalan raya yang berjarak sekitar dua kilometer dari gedung pernikahan, hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi dengan sangat lebat. Di bawah temaramnya lampu jalanan sore yang mulai menggelap, sesosok wanita tampak berjalan merangkak di atas trotoar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Wanita itu adalah Keyra. Gaun pengantin ballgown putih salju yang semula tampak begitu indah, mewah, dan megah bak putri raja, kini telah berubah menjadi kotor, robek di beberapa bagian, dan basah kuyup karena guyuran air hujan. Air yang menyerap ke dalam kain tebal gaun tersebut membuatnya terasa sangat berat, memaksa Keyra untuk mengerahkan seluruh sisa tenaganya hanya untuk melangkah maju selangkah demi selangkah.
Air matanya terus mengalir bercampur dengan rintik hujan yang menghantam wajah pucatnya. Dada Keyra terasa teramat sesak, bukan hanya karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa sakit akibat pengkhianatan kebohongan Devan yang terus berputar-putar di dalam benaknya.
"Kenapa... Kenapa harus kamu, Devan?" bisik Keyra di tengah isak tangisnya yang tersamarkan oleh suara guntur yang menggelegar di langit. "Pria yang menyelamatkanku dari neraka Arkan... ternyata adalah putra dari orang yang merenggut nyawa ibuku..."
Kedua telapak kaki Keyra yang tanpa alas kaki—karena ia telah melepas sepatu hak tingginya saat melarikan diri tadi—kini telah dipenuhi oleh luka lecet dan mengeluarkan darah segar akibat bergesekan dengan aspal jalanan yang kasar. Namun, rasa sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa hancur di dalam lubuk hatinya.
Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam dengan kaca yang sangat gelap melaju perlahan dari arah belakang dan berhenti tepat di samping tubuh Keyra yang sedang bersandar lemas di tiang lampu jalan. Pintu geser mobil van tersebut terbuka dengan cepat, dan dua orang pria bertopeng hitam langsung melompat turun di bawah guyuran hujan.
Keyra yang menyadari bahaya tersebut mencoba untuk berteriak memohon pertolongan, namun tubuhnya yang sudah terlampau lemas tidak mampu memberikan perlawanan berarti. Sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya akibat rasa syok dan kelelahan, sebuah saputangan beraroma kimia menyengat didekapkan ke hidungnya, membuat seluruh dunianya mendadak berubah menjadi kegelapan total. Keyra telah diculik di tengah pengepungan kota yang sedang dilakukan oleh Devan.