Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 17
Pagi ini aku benar-benar dibuat lemas tak bertulang oleh Tama. Pria itu menggempurku habis-habisan lagi di bawah pancuran air, seolah staminanya terbuat dari besi yang tidak ada habisnya. Setelah pergulatan panjang tadi, aku kini hanya bisa berbaring lemas di ranjang dengan jubah mandi yang masih melekat erat di tubuh.
Sementara itu, Tama sudah pergi ke luar sejak satu jam lalu. Dia sempat pamit dan berkata ingin berkeliling ke kebun jeruknya untuk memantau para pekerja yang sedang panen. Entah itu hanya firasatku saja, atau memang sikap pria itu yang mulai berubah setelah menyegelku semalam. Sebelum melangkah pergi, dia bahkan sempat mengecup lembut keningku dengan afeksi yang terasa nyata.
Aku menguap lebar, lalu meraih ponsel di atas nakas untuk memeriksa waktu. "Astaga, sudah jam sebelas siang aja. Cepat banget..." gumamku tak percaya. "Lapar banget lagi!"
Dengan langkah tertatih karena rasa perih yang masih tersisa di pangkal paha, aku berjalan menuju lemari pakaian. Kupilih satu set piyama tidur bermotif biru Doraemon. Terpaksa kupakai itu karena tidak ada satu pun pakaian yang nyaman dan kasual di dalam lemari besar ini. 'Nantilah, kapan-kapan kalau ada waktu aku harus belanja baju baru,' batinku merencana.
Setelah berganti pakaian dan mencepol asal rambut panjangku yang masih agak lembap, aku melangkah pelan keluar kamar menuju area depan. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai ruang tamu, sebuah suara ketus langsung menyambutku.
"Bagus banget ya, anak perempuan bangunnya sudah tengah hari," sindir si Mak Lampir—siapa lagi kalau bukan Andini—dengan tatapan sinis yang menghunus.
Aku memutar bola mataku malas. "Yaelah, Mbak! Santai aja kali... Kayak enggak pernah ngerasain aja," sahutku pelan, bernada malas berdebat lebih panjang. "Mbak dulu waktu masih jadi pengantin baru sama Juragan juga pasti begini, kan?"
Wajah Andini seketika mengeras mendengar jawaban santai dariku. "Heh, kamu itu harusnya tahu diri! Kamu di sini cuma numpang! Apa hak kamu sampai berani menggoda suami saya di rumah ini?!" pekiknya mulai tersulut emosi.
Aku menghentikan langkah, lalu menatapnya dengan pandangan heran. "Apa? Menggoda? Mbak, asal kamu tahu ya, istri Juragan itu bukan cuma kamu sendirian. Aku juga istri sahnya! Ya kali jatah kepuasan cuma buat kamu doang, rugi dong di aku," ucapku lalu tertawa kecil, sengaja memancing amarahnya.
"Apalagi aku ini masih perawan ting-ting. Juragan mana tahan membiarkan asetnya anggur lama-lama," imbuhku sedikit membanggakan fakta semalam.
"Lancang kamu...!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiriku, meninggalkan rasa panas yang menyengat seketika.
"Dari kemarin saya diam ya, membiarkan kamu bertingkah kurang ajar di rumah ini! Tapi kali ini, kamu benar-benar sudah keterlaluan!" ucap Andini dengan dada yang naik-turun memburu akibat luapan amarah yang memuncak.
Aku memegangi pipiku yang berdenyut perih. Rasa sakit hati yang teramat sangat seketika merayap di dadaku, memicu emosiku yang sejak kemarin kutahan ikut meledak. "Mbak gila, ya?! Salah aku di mana sampai main nampar-nampar segala?!" bentakku kencang, menatapnya dengan sorot mata berapi-api.
"Memangnya apa salahku? Suamimu sendiri yang mau menikah denganku padahal dia sudah punya istri! Padahal waktu itu aku sudah mati-matian menolak!" ujarku lagi, jengkel setengah mati.
"Ada apa ini?"
Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa seketika memotong perdebatan panas kami. Aku dan Andini spontan menoleh ke arah pintu masuk. Di sana, Juragan Tama baru saja tiba, berdiri tegap dengan topi koboi yang masih bertengger di kepalanya.
"Mas... kamu sudah pulang?" ucap Andini, suaranya mendadak melunak, mencoba mencari simpati.
Tama mengangguk pelan. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci situasi tegang di antara kami berdua. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak. "Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanyanya sekali lagi, menuntut penjelasan.
"Ini, Mas... bocah in—" Kalimat Andini sengaja kupotong dengan cepat sebelum dia sempat memutarbalikkan fakta.
"Enggak usah melempar kesalahan ke orang lain, Mbak! Kalau Mbak enggak menuduhku yang enggak-enggak dan tiba-tiba menamparku, keributan ini enggak bakal pernah terjadi!" seruku menahan emosi yang bergetar.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap Tama dengan senyuman sinis penuh luka. "Harusnya Juragan kasih tahu istri tua Juragan ini... bagaimana caranya memperlakukan madunya dengan baik! Ya, saya tahu, saya hanya istri yang dinikahi karena terpaksa, karena orang tua saya harus menebus utang-utangnya. Tapi enggak begini juga caranya! Memangnya kalian pikir aku mau berada di posisi menjijikkan ini?! Jangan mentang-mentang punya kuasa, kalian bisa menindas saya sewenang-wenang!" ucapku, menyuarakan kepedihan yang sejak awal dirasakan oleh Elsa asli.
"Pantas saja Elsa lebih memilih selingkuh dengan bawahan Juragan daripada harus setia sama Juragan. Juragan saja tidak tahu bagaimana cara mendidik istri dengan benar!"
Setelah melempar kalimat sinis yang menusuk itu, aku langsung berbalik dan berjalan cepat menuju dapur dengan langkah lebar. Meninggalkan Tama dan Andini yang seketika terpaku mati kutu di ruang tamu, memandang punggungku yang menjauh dengan tatapan syok yang teramat pekat.