seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang sebagai pahlawan
Tiga hari setelah insiden kuda mengamuk di perbatasan, debu perjalanan panjang akhirnya berhenti tepat di depan *Gerbang Selatan Ibukota Sanata*.
Gerbang besi setinggi sepuluh tombak itu terbuka lebar. Engselnya yang biasanya berderit berat, hari ini berputar mulus seolah ikut merayakan. Bukan karena perintah perang. Bukan karena ancaman. Tapi karena satu perintah dari istana: *perintah suka cita*.
Dari menara tertinggi, suara terompet kerajaan menggema memecah langit siang.
_TURUUUT... TURUUUT..._
Panjang. Berwibawa. Dan membawa harapan.
Di atas tembok kota, bendera Sanata berkibar angkuh. Warna emasnya melambangkan kemakmuran, biru lautnya melambangkan keberanian. Keduanya berkilau diterpa matahari, seakan menegaskan pada seluruh penjuru negeri bahwa Sanata belum jatuh. Sanata masih berdiri.
Dan di bawah gerbang itu... ribuan rakyat sudah menunggu sejak subuh.
Para pedagang menutup lapak dagangannya lebih awal. Bau roti dan sate yang biasanya memenuhi jalan, hari ini tergantikan oleh aroma bunga dan harapan. Anak-anak kecil duduk di bahu ayahnya, menjinjitkan kaki. Para nenek menggenggam tangan cucunya erat-erat, seolah takut kehilangan momen sejarah ini. Semua mata tertuju ke satu titik: jalan batu yang berdebu dari arah barat.
“Nona Hana datang!” teriak seorang anak laki-laki dengan suara melengking.
Seketika, seperti api yang dilempar ke tumpukan jerami kering, sorakan meledak.
Di depan gerbang istana, beberapa orang tua menangis. Mereka berlutut di atas batu, dahi menyentuh tanah, seraya berteriak dengan suara parau.
“HIDUP NONA HANA!”
"HIDUP!"
“HIDUP PASUKAN SANATA!”
"HIDUP!"
“HIDUP KERAJAAN SANATA!”
"HIDUP!"
“HIDUP KOMANDAN DOMINIC!”
"HIDUP!"
Debu di kejauhan mulai terlihat. Awalnya hanya gumpalan tipis. Lalu menjadi bayangan. Setelah itu baru terlihat jelas: deretan kuda.
Di barisan paling depan, di atas seekor kuda hitam pekat yang otot-ototnya masih terlihat tegang, *Hana* duduk dengan tegak. Jubah hitamnya sudah dicuci bersih oleh para pelayan di perhentian terakhir, tapi ujungnya yang robek dan gosong tidak bisa disembunyikan. Itu bekas perang. Bekas dari Lembah Kabut tiga hari lalu.
Matanya menatap lurus ke gerbang dan ribuan rakyat yang sudah menunggunya. Tidak ada gugup. Tidak ada sombong. Hanya ketenangan seorang pemimpin yang baru saja kembali dari neraka.
Di sebelahnya, *Dominic*. Zirahnya masih penuh goresan. Wajahnya tenang, tapi bola matanya terus bergerak, menyapu kerumunan. Tugas seorang komandan belum selesai sampai prajurit terakhirnya masuk dengan selamat.
Hana menarik tali kekang. Bayu, kudanya, melambatkan langkah. Di belakang mereka, seratus prajurit Sanata masuk berbaris. Zirah mereka kotor, berdebu, sebagian masih ada bercak darah kering. Tapi punggung mereka tegak. Tidak ada yang tertatih. Tidak ada yang dipapah.
“Dia hidup... dia benar-benar hidup,” bisik seorang ibu sambil memeluk anaknya erat, air matanya jatuh.
“Lihat, tidak ada satu pun yang mati,” kata seorang kakek veteran yang kakinya pincang karena perang 20 tahun lalu. Suaranya bergetar. “Seratus orang... melawan lima ribu... dan pulang semua.”
“Kerajaan kita selamat,” sahut pemuda di sebelahnya. “Dan ini semua berkat Nona Hana dan para prajurit yang bertarung di medan perang.”
“Coba lihat,” celetuk yang lain. “Komandan Dominic bahkan tidak terluka kali ini.”
Saat Hana dan Dominic melewati gerbang, tiba-tiba dari atas tembok, hujan kelopak bunga mawar putih turun perlahan. Wanginya menyebar, bercampur dengan bau keringat dan besi. Itu tradisi Sanata. Hanya untuk pahlawan yang pulang membawa kemenangan tanpa kehilangan satu pun prajuritnya.
Raka, prajurit muda di barisan belakang, menoleh ke Paman Juro dengan mata berkaca. “Paman... ini...”
“Ini kehormatan,” jawab Paman Juro, suaranya tercekat. “Yang tidak semua prajurit dapat, Nak. Simpan baik-baik di ingatanmu.”
Hana menghentikan kudanya tepat di tengah alun-alun istana yang luas. Batu marmer putihnya memantulkan cahaya matahari. Dominic menghentikan kudanya setengah langkah di belakang Hana, seperti bayangan yang setia.
Di ujung tangga, *Kaisar Adrian* berdiri. Jubah kerajaan warna emas tua menjuntai sampai ke lantai. Di sebelah kanannya, *Pangeran Mahkota Alexander* dengan wajah serius. Di sebelah kirinya, *Menteri Wira* dan *Jenderal Garam* yang rahangnya mengeras.
Seluruh pejabat istana berbaris. Tidak ada yang berani bersuara. Hanya suara angin yang menerpa bendera.
Kaisar menatap Hana. Lama. Tatapannya menelusuri dari ujung rambut sampai ujung jubah yang robek itu. Seolah sedang menimbang, sedang mengingat semua laporan perang yang masuk selama sebulan terakhir.
Lalu ia melangkah turun. Satu anak tangga.
Aula hening.
Hana turun dari kudanya dengan gerakan cekatan. Dominic mengikuti. Keduanya berlutut bersamaan. Satu lutut menyentuh marmer dingin. Kepala menunduk.
“Yang Mulia Kaisar Adrian,” suara Hana lantang, jelas, dan menggema di seluruh alun-alun tanpa gemetar. “Hamba Hana dari Sanata, kembali membawa kemenangan. Pasukan Barat telah dikalahkan. Tersisa kurang dari seribu dan mundur ke wilayah mereka. Dari seratus prajurit Sanata, tiga luka ringan. Tidak ada yang gugur.”
Kaisar tidak langsung menjawab. Ia berjalan turun lagi. Langkahnya berat, tapi mantap. Sampai ia berdiri tepat di depan Hana. Begitu dekat hingga Hana bisa mencium aroma dupa dari jubahnya.
Lalu, dengan dua jari, Kaisar mengangkat dagu Hana.
Hana mendongak. Mata cokelatnya bertemu dengan mata Kaisar yang sudah dipenuhi keriput tapi masih tajam.
“Angkat kepalamu, Hana,” kata Kaisar. Suaranya berat, berwibawa, tapi ada getaran bangga yang tidak bisa disembunyikan. “Angkat kepalamu. Kau tidak perlu berlutut hari ini. Tidak di hadapanku. Tidak setelah apa yang kau lakukan.”
Hana berdiri perlahan. Tulang punggungnya lurus. Dominic ikut berdiri di belakangnya, satu langkah lebih mundur.
Kaisar berbalik, menghadap seratus prajurit dan ribuan rakyat.
“Prajurit Sanata!”
“SIAP, YANG MULIA!” raung seratus suara serempak, membuat burung-burung di atap istana terbang.
“Hari ini, kalian menulis sejarah,” lanjut Kaisar. “Lima ribu lawan seratus. Logikanya kalian harus mati semua. Tapi kalian menang. Dan kalian menang tanpa meninggalkan satu pun saudara kalian di medan perang. Itu bukan keberuntungan. Itu bukan keajaiban. Itu karena kalian dipimpin oleh wanita terbaik yang dimiliki Sanata.”
Ia menoleh lagi ke Hana.
“Hana.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Mulai hari ini, gelar mu bukan lagi hanya ‘Nona’,” suara Kaisar meninggi. “Mulai hari ini, kau adalah *‘Jenderal Penjaga Mahkota Sanata’*. Kedudukanmu setara dengan Jenderal Garam. Kau akan memimpin pertahanan ibukota dan seluruh pasukan perbatasan barat.”
Keheningan pecah.
Jenderal Garam, pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipi itu, langsung melangkah maju. Di depan semua orang, ia berlutut di hadapan Hana. “Nona Hana. Maafkan saya. Dulu saya meragukan Anda di ruang rapat. Saya bilang wanita tidak pantas memimpin perang. Hari ini saya tunduk. Sanata membutuhkan Anda.”
Hana menatapnya. Tidak ada kemenangan di matanya. Hanya rasa hormat. “Berdiri, Jenderal. Kita bertarung untuk hal yang sama: kerajaan Sanata. Masa lalu, lupakan.”
Jenderal Garam berdiri dengan mata berkaca. Ia menunduk hormat.
Rakyat di luar gerbang yang mendengar pengumuman itu langsung bersorak lagi. Kali ini lebih keras. Sampai tembok istana bergetar.
“HIDUP JENDERAL HANA!”
“HIDUP JENDERAL HANA!”
*Pangeran Mahkota Alexander* melangkah maju. Ia menatap Hana lama. Ada rasa kagum, ada rasa lega, ada sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan. “Ayahanda benar,” katanya pelan tapi cukup jelas untuk didengar Hana. “Kau menyelamatkan kita semua. Terima kasih, Jenderal Hana.”
Hana mengangguk sekali, singkat. “Itu tugas saya, Yang Mulia Pangeran.”
Kaisar lalu menoleh ke Dominic. “Dan kau, Komandan Dominic.”
Dominic maju selangkah. “Hamba.”
“Kau memimpin seratus orang seperti tembok baja. Disiplin. Tanpa celah. Kau tidak kehilangan satu pun. Dan aku mendengar cerita tentangmu di Lembah Kabut. Tentang bagaimana kau melompat ke tengah pengepungan tanpa ragu untuk menarik Hana keluar.”
Dominic menunduk. “Itu tugas saya, Yang Mulia.”
“Tugas?” Kaisar tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Tidak, Dominic. Itu keberanian. Itu kesetiaan. Mulai hari ini, kau naik pangkat menjadi *‘Wakil Jenderal Penjaga Mahkota’*. Kau akan bertugas langsung di bawah Jenderal Hana.”
Dominic terkejut. Matanya membesar sesaat sebelum ia bisa mengontrolnya. Ia melirik Hana sekilas. “Yang Mulia... saya hanya seorang komandan biasa—”
“Tidak ada bantahan,” potong Kaisar tegas. “Sanata butuh dua pilar. Satu pedang, satu perisai. Hana adalah pedang yang menebas musuh. Kau adalah perisai yang melindungi pedang itu. Dan melindungi Sanata.”
Dominic terdiam. Ia menarik napas, lalu berlutut lagi. Kali ini lebih dalam. “Hamba menerima, Yang Mulia. Dan hamba bersumpah demi nama leluhur, selama nyawa masih ada di tubuh ini, hamba akan melindungi Jenderal Hana dan Sanata dengan darah terakhir di tubuh ini.”
“Bagus,” kata Kaisar puas. Ia lalu berbalik menghadap seluruh rakyat. Tangannya terangkat.
“Rakyat Sanata! Dengarkan aku!”
Aula dan alun-alun hening lagi. Ribuan pasang mata menunggu.