NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

papan nama di tangan sang ketua

Alden melangkah pelan tanpa suara, mendekati pojok ruangan tempat Aleta meringkuk. Ia kemudian berjongkok tepat di depan gadis itu, menyamakan tingginya dengan tubuh mungil Aleta yang masih gemetaran.

Alden menatap lekat-lekat kepala Aleta yang masih disembunyikan di atas lutut dan ditutupi oleh kedua tangannya. Sebuah senyuman licik dan misterius terukir di wajah tampannya. Alih-alih langsung menenangkan, Alden justru menikmati momen melihat mangsanya ketakutan seperti ini.

Sementara itu, Aleta yang menyadari ada sekelebat bayangan hitam dan hawa dingin seseorang yang mendadak berhenti di depannya, langsung didera rasa takut yang luar biasa. Jantungnya berpacu ekstrem.

Hantu apa yang sebenarnya menghuni UKS ini? Kenapa auranya menyeramkan banget? pikir Aleta kalut dengan mata terpejam rapat. Bulu kuduknya meremang memikirkan rumor-rumor mistis sekolah yang sering ia dengar.

Karena rasa penasaran bercampur takut yang teramat sangat, Aleta memberanikan diri. Perlahan-lahan, ia merenggangkan sedikit demi sedikit celah di antara jari-jari tangannya yang menutupi wajah. Ia mengintip lewat celah kecil itu untuk melihat sosok "makhluk" yang ada di hadapannya.

Begitu celah jarinya terbuka, hal pertama yang ia lihat bukanlah sosok hantu bermuka rata atau menyeramkan, melainkan sepasang mata elang yang tajam milik Kakak Senior misterius tadi, yang kini sedang menatapnya balik dengan jarak yang sangat dekat sembari tersenyum miring.

"AAA—"

Belum sempat teriakan histeris Aleta menggema ke seluruh penjuru UKS, Alden dengan gerakan secepat kilat langsung memajukan tubuhnya. Tangan kanannya yang besar dan kokoh bergerak cepat membekap mulut Aleta, meredam suara lengkingan gadis itu seketika hingga hanya menyisakan suara gumaman yang tertahan di balik telapak tangannya.

"umphh!"

Aleta membelalakkan matanya sempurna. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena takut pada hantu, melainkan karena posisi Alden yang kini mengurungnya dengan begitu intim. Jarak mereka kembali terkikis habis. Aroma maskulin dari jaket kulit dan parfum Alden langsung menyerbu indra penciuman Aleta, membuatnya pening seketika.

"Berisik," bisik Alden tajam, tepat di depan wajah Aleta. Tatapan matanya yang semula geli kini berubah menjadi dalam dan mengintimidasi.

"Kamu mau bikin satu sekolah mengira aku lagi ngapa-ngapain kamu di sini, hm?"

Aleta menggelengkan kepalanya patah-patah dengan cepat, memberi isyarat agar Alden segera melepaskan tangannya. Namun, alih-alih menjauh, jemari Alden yang menempel di bibir Aleta justru sedikit melonggar tanpa melepas sentuhannya sama sekali, mengusap pelan sudut bibir mungil gadis itu dengan ibu jarinya.

Sentuhan itu terasa begitu panas di kulit Aleta, membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku tidak bisa bergerak.

"Diam, atau aku nggak akan lepasin tangan aku dari sini," ancam Alden dengan nada suara yang rendah dan penuh kepemilikan.

Sentuhan itu benar-benar mengunci seluruh pergerakan Aleta. Melihat gadis di depannya hanya bisa terdiam kaku bak patung dengan mata membelalak panik, seringai licik di bibir Alden perlahan memudar, digantikan oleh tatapan intens yang menggelap.

Alih-alih menjauhkan tangannya setelah Aleta tenang, jemari Alden justru mulai bergerak lancang. Ibu jarinya yang hangat perlahan turun dari bibir, bergerak lambat menyusuri setiap inci wajah Aleta. Mulai dari rahangnya yang mungil, melewati pipinya yang kini terasa dingin karena AC UKS, hingga akhirnya jemari itu mendarat dan membelai lembut kulit leher putih jenjang milik Aleta.

Glek.

Aleta bersusah payah menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Sentuhan tangan Alden di lehernya terasa begitu kontras—hangat, namun di saat yang sama mampu mengalirkan efek sengatan listrik yang membuat seluruh bulu kuduk Aleta meremang hebat. Jantung Aleta berdentum begitu keras di dalam dadanya, dan ia yakin Alden pasti bisa mendengar atau bahkan merasakan detak panik itu dari denyut nadi di lehernya yang sedang disentuh.

Alden sedikit menundukkan kepalanya, memperhatikan bagaimana kulit leher Aleta meremang akibat ulahnya. Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hati sang Ketua OSIS saat melihat betapa besarnya pengaruh kehadirannya terhadap murid baru ini.

"Kenapa? Takut?" bisik Alden pelan, suaranya terdengar sangat rendah dan serak tepat di dekat telinga Aleta, sementara jemarinya masih betah melingkari leher jenjang gadis itu dengan posesif.

💽💽💽

Suasana di pojok UKS itu terasa semakin mencekam, seolah pasokan oksigen di sekitar mereka menipis. Mendengar setiap ucapan bernada rendah yang keluar dari mulut Alden membuat Aleta jadi semakin diam membeku. Ia benar-benar tidak berkutik, diliputi rasa bingung sekaligus ketakutan yang teramat sangat.

Dari jarak sedekat ini, Aleta bisa melihat dengan jelas tatapan mematikan dari kakak kelas seniornya itu. Sepasang mata elang milik Alden seolah mengunci pergerakannya, terus-menerus menatap leher jenjangnya dengan intensitas yang begitu pekat dan berbahaya—seperti seorang predator yang sedang menandai mangsanya.

Sentuhan jemari Alden yang hangat di kulit lehernya yang dingin terasa bagai sengatan yang menghentikan kerja otak Aleta. Pikiran gadis itu kacau. Ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga harus terjebak dalam situasi seintim dan seberbahaya ini dengan sang Ketua OSIS di hari pertamanya.

Merasa puas dengan reaksi ketakutan Aleta yang begitu total, Alden perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang penuh kuasa.

Ia kemudian menjauhkan jemarinya dari leher Aleta, lalu dengan gerakan santai namun tegas, Alden membentangkan jaket kulit hitam yang sejak tadi dipegangnya. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menyampirkan jaket besar itu ke atas bahu Aleta, membungkus tubuh mungil dan seragam basah gadis itu sepenuhnya dari pandangan.

"Pakai. Dan jangan pernah lepas jaket itu sebelum kamu sampai di rumah," ucap Alden dengan nada perintah yang mutlak saat ia bangkit berdiri, kembali menatap Aleta dari ketinggian tubuhnya.

Alden berdiri tegak, merapikan kembali kemeja OSIS-nya yang sedikit kusut sembari menatap Aleta yang masih terduduk lemas di lantai dengan jaket kulit kebesaran miliknya.

"Soal hukuman lari kamu yang kurang lima putaran tadi..." Alden menggantung kalimatnya sengaja, membuat Aleta mendongak pelan dengan tatapan cemas.

Alden tersenyum miring.

"Anggap aja dimaafkan. Tapi sebagai gantinya, hukuman itu bakal diganti dengan hukuman lain dari aku. Tenang aja, jauh lebih ringan... dan pastinya lebih menyenangkan," lanjut cowok itu dengan nada penuh teka-teki yang justru terdengar mencurigakan di telinga Aleta.

Sebelum Aleta sempat memprotes atau bertanya lebih jauh, Alden sudah berbalik membelakanginya, melangkah menuju pintu UKS yang kini sudah tidak lagi terkunci.

"Sekarang ganti baju kamu pakai baju olahraga di loker, terus langsung bergabung sama teman-teman baru kamu yang lain di aula," perintah Alden tanpa menoleh lagi.

"Ini jam terakhir MPLS, penyampaian aturan-aturan sekolah. Jangan sampai kamu telat masuk dan bikin masalah lagi di hari pertama, Leticia."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Alden melangkah keluar dari UKS, menutup pintu dengan rapat dan meninggalkan Aleta yang masih terpaku sendirian. Rasa dingin dari AC UKS kini tergantikan oleh rasa hangat yang menguar dari jaket kulit milik sang Ketua OSIS, meninggalkan sejuta pertanyaan dan rasa debar yang tak kunjung usai di hati Aleta.

💽💽💽

Setelah pintu UKS tertutup rapat dan langkah kaki Alden tidak lagi terdengar, Aleta langsung bergerak cepat. Ia bangkit berdiri, mengeratkan jaket kulit hitam besar milik sang Ketua OSIS yang membungkus tubuhnya. Aroma maskulin khas cowok itu langsung menyerbu indra penciumannya, namun Aleta memilih abai. Ketakutannya berada di ruang medis yang sepi jauh lebih besar daripada rasa bingungnya saat ini.

Aleta buru-buru keluar dari UKS. Langkah kakinya setengah berlari menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh hilir mudik peserta MPLS lainnya.

baru beberapa meter melangkah, Aleta langsung menyadari ada yang salah. Suasana di sekitarnya mendadak berubah agak senyap setiap kali ia lewat. Hampir semua mata di koridor itu langsung menyorot tajam ke arahnya. Tatapan mereka penuh selidik, heran, dan beberapa siswi terang-terangan menunjukkan raut tidak suka.

Apalagi insiden pingsannya Aleta di lapangan pagi tadi masih sangat hangat terjadi. Kejadian saat tubuh lemasnya digendong langsung oleh sang Ketua OSIS yang terkenal dingin dan kejam itu kini sah menjadi topik pembicaraan utama di seantero sekolah.

"Eh, itu kan cewek yang pingsan tadi pagi?"

"Kok dia bisa pakai jaket kulit itu? Bukannya itu punya Kak Alden?"

"Masa baru hari pertama udah caper banget sih?"

Bisikan-bisikan miring itu mulai tertangkap oleh telinga Aleta. Merasa telinganya panas dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian, Aleta menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mempercepat langkahnya, setengah mati berusaha menyembunyikan wajah pucatnya di balik kerah jaket kulit yang kebesaran tersebut.

Aleta berjalan sesegera mungkin menuju ruang ganti cewek. Fokus utamanya sekarang hanyalah satu: melepas seragam basah ini, menggantinya dengan baju olahraga di loker, dan segera bersembunyi di tengah kerumunan aula sebelum sang Ketua OSIS kembali menerornya.

Begitu mendorong pintu ruang ganti cewek, Aleta sempat mengembuskan napas lega, mengira ia bisa sedikit bernapas bebas dari tatapan menghakimi di koridor. Namun, dugaannya salah besar.

Beberapa siswi baru yang sedang mengobrol di dekat cermin langsung terdiam begitu melihat kehadiran Aleta. Mereka saling melempar pandang, lalu dengan sengaja menggeser posisi berdiri dan berjalan menjauh, seolah-olah Aleta adalah wabah penyakit yang harus dihindari.

Melihat reaksi teman-teman barunya yang mulai menjauhinya seperti itu, hati Aleta rasanya sedikit sakit. Ia tahu ini semua karena insiden di lapangan dan jaket kulit yang melekat di tubuhnya sekarang. Padahal, ia sama sekali tidak berniat mencari perhatian sejak awal.

Aleta menghela napas berat. Sambil menahan rasa sesak di dadanya, ia berjalan pelan menuju loker bernomor miliknya. Tanpa memedulikan atmosfer dingin dan bisik-bisik yang kembali terdengar di ruangan itu, Aleta mengambil baju olahraga dari dalam loker dengan gerakan cepat.

Ia tidak ingin berlama-lama menjadi tontonan. Dengan kepala tetap menunduk, Aleta langsung bergegas masuk ke dalam salah satu bilik kamar ganti dan mengunci pintunya rapat-rapat. Begitu punggungnya bersandar di pintu kayu bilik yang sempit itu, Aleta akhirnya bisa melepaskan jaket kulit besar milik Alden, menyisakan dirinya yang harus segera berbenah sebelum jam terakhir di aula dimulai.

💽💽💽

Di dalam bilik kamar ganti yang sempit, Aleta sengaja memperlambat gerakannya saat memakai seragam olahraga. Setelah selesai pun, ia tidak langsung keluar. Ia memilih berdiri diam di sana, sengaja berlama-lama sembari mendengarkan sayup-sayup suara riuh dari luar bilik yang perlahan-lahan mulai senyap.

Satu per satu suara langkah sepatu dan obrolan siswi lain terdengar menjauh, hingga akhirnya ruang ganti itu benar-benar diliputi keheningan yang total. Semua orang sudah pergi menuju aula.

Aleta perlahan membuka pintu bilik kamar ganti. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kini sudah kosong melompong.

Nggak apa-apa lah ke aula sendiri, asal nggak telat aja, pikir Aleta menghibur diri sendiri. Lagipula, berjalan sendirian di koridor yang sepi jauh lebih baik daripada harus menjadi pusat perhatian seperti tadi.

Aleta melangkah mendekati lokernya lagi. Ia melipat seragam putihnya yang basah ke dalam kantong plastik, lalu menatap jaket kulit hitam milik Alden yang kini tergeletak di atas bangku panjang. Mengingat perintah mutlak cowok itu tadi, Aleta akhirnya memutuskan untuk memasukkan jaket kulit tebal tersebut ke dalam tas ranselnya agar tidak memancing keributan lagi.

Setelah memastikan penampilannya rapi dengan seragam olahraga yang bersih, Aleta menyandang ranselnya dan melangkah keluar dari ruang ganti dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Kini ia harus segera bergegas menuju aula sebelum bel jam terakhir berbunyi.

Aleta mempercepat langkah kakinya menyusuri koridor yang kian sepi. Namun, saat melewati persimpangan dekat laboratorium, langkahnya mendadak terhenti ketika mendengar suara helaan napas frustrasi dari seorang siswi yang berdiri di depan mading. Siswi itu tampak kebingungan sembari memeluk sebuah map dokumen.

Siswi yang ternyata bernama Marsha itu menoleh, dan matanya langsung berbinar lega saat melihat Aleta berjalan ke arahnya.

"Eh... hai! Maaf, kamu anak baru juga, kan?" tanya Marsha ragu-ragu namun terdengar sangat ramah.

Aleta sempat tersentak dan menghentikan langkahnya. Ia mengangguk pelan.

"Iya, aku anak baru."

"Aduh, syukurlah!" Marsha mengembuskan napas lega, senyumnya langsung mengembang tulus.

"Kenalin, aku Marsha. Aku benar-benar bingung dari tadi muter-muter nyari kelas berkumpul buat penyampaian aturan sekolah, tapi malah nyasar ke blok sini. Kamu tahu nggak jalurnya ke mana?"

Mendengar sapaan yang begitu hangat tanpa ada tatapan sinis sama sekali, hati Aleta yang sempat menciut perlahan melunak. Ternyata masih ada orang yang menatapnya dengan biasa dan tulus di sekolah ini—mungkin karena Marsha tidak sempat melihat insiden heboh di lapangan tadi pagi.

"Aku leticia," jawab Aleta, membalas senyuman Marsha.

"Aku juga sebenarnya mau ke sana. Tapi bukan ke kelas, katanya jam terakhir ini semua murid baru dikumpulin di aula utama buat penyampaian aturan."

"Oh, di aula ya? Pantesan aku cari di barisan kelas sepi banget!" Marsha menepuk jidatnya sendiri, merasa lucu dengan kecerobohannya. Ia kemudian menatap Aleta dengan mata berbinar penuh harap.

"Kalau gitu, boleh nggak aku bareng kamu ke aulanya? Biar gampang ada temennya, daripada aku nyasar lagi sendiri."

Aleta mengangguk tanpa ragu.

"Boleh kok, yuk bareng aja. Takutnya keburu bel dan kita malah telat."

Marsha tersenyum lebar dan langsung berjalan beriringan di samping Aleta. Sambutan hangat yang murni dari Marsha membuat rasa cemas yang sempat menggelayuti pundak Aleta perlahan sirna. Di hari pertamanya yang penuh kesialan ini, setidaknya Aleta menemukan satu hal baik: seorang teman baru.

💽💽💽

Langkah kaki mereka berdua semakin dekat dengan pintu besar aula yang riuh. Namun, beberapa meter sebelum mencapai pintu, Marsha tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya melotot menatap ke arah dada dan leher Aleta.

"Aleta, tunggu!" tahan Marsha panik, memegang lengan Aleta.

"Kardus nametag kamu mana? Kok nggak dipakai?"

Mendengar pertanyaan mendadak dari Marsha, Aleta langsung tertegun. Ia refleks meraba dadanya yang polos hanya terbalut seragam olahraga. Seketika itu juga, pasokan oksigennya seolah tersedot habis saat sebuah kesadaran menghantam otaknya.

Nametag sialan bermotif aneh yang wajib dipakai selama MPLS itu tertinggal!

"Oh iya! Ketinggalan di UKS!" pekik Aleta panik, menepuk dahinya sendiri. Pikiran tentang hukuman berat dari panitia OSIS langsung membayangi kepalanya.

Tanpa berpikir panjang, Aleta langsung berbalik badan dengan terburu-buru, berniat lari kembali menuju UKS untuk mengambil benda itu sebelum acara dimulai. Namun malang, baru satu langkah berbalik—

BUK!

Dahi Aleta menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Saking kerasnya tabrakan itu, tubuh mungil Aleta sampai terhuyung mundur satu langkah. Ia menabrak dada bidang seorang cowok yang entah sejak kapan sudah berdiri tegap tepat di belakang mereka.

Rasa sakit di dahinya memicu kekesalan Aleta yang sejak pagi sudah tertumpuk.

"Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong—"

Aleta mendongak, berniat menumpahkan amarahnya. Namun, kata-katanya langsung tertelan kembali di tenggorokan. Kalimatnya terputus, digantikan oleh rasa bungkam yang luar biasa saat matanya bertubrukan dengan sepasang mata elang yang sangat ia kenali.

Alden. Sang Ketua OSIS kini berdiri menjulang di hadapannya, menatapnya datar dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana.

Mengingat bagaimana tatapan mematikan Alden di UKS tadi, ditambah bayangan jemari cowok itu yang sempat membelai leher jenjangnya, membuat nyali Aleta seketika menciut drastis. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan meremang.

"E-eh... maaf, Kakak Senior," cicit Aleta terbata-bata, buru-buru menambahkan embel-embel 'senior' dengan nada sehormat mungkin demi keselamatan nyawanya.

Sementara di sampingnya, Marsha sudah ikut menunduk dalam, tidak berani berkutik melihat aura intimidasi yang menguar kuat dari tubuh sang Ketua OSIS.

Alden tidak membalas ucapan maaf Aleta dengan kata-kata. Wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya mengunci pergerakan Aleta sepenuhnya.

Perlahan, Alden mengeluarkan satu tangannya dari saku celana. Tanpa diduga, ia menyodorkan sebuah benda tepat ke depan wajah Aleta. Itu adalah kardus nametag sialan milik Aleta yang tadi sempat tertinggal di atas brangkar UKS.

Aleta mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Ia menatap bergantian antara benda di hadapannya dan wajah Alden yang masih sedingin es. Rasa syok sekaligus lega bercampur aduk menjadi satu di dalam benaknya.

Jadi... dia sengaja balik lagi ke UKS buat ngambilin ini? Atau dia emang sengaja bawa buat dijadiin bahan hukuman? pikir Aleta bingung.

Tak ingin membuang kesempatan sebelum sang Ketua OSIS berubah pikiran, Aleta dengan gerakan cepat langsung mengambil nametag itu dari tangan Alden.

"Makasih, Kakak Senior," ucap Aleta lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih tulus meskipun suaranya masih sedikit cicit karena gugup.

Alden menarik kembali tangannya, lalu sedikit menunduk hingga wajahnya sejajar dengan telinga Aleta.

"Simpan ucapan terima kasih kamu. Jangan lupa, kamu masih punya utang hukuman pengganti sama aku, Leticia," bisik Alden dengan nada rendah yang sukses membuat bulu kuduk Aleta kembali meremang.

Setelah membisikkan kalimat penuh ancaman itu, Alden menegakkan tubuhnya, melirik sekilas ke arah Marsha yang masih menunduk takut, lalu melangkah lebar melewati mereka berdua untuk masuk ke dalam aula terlebih dahulu.

💽💽💽

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!