NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

cerita sedang bermasalah, tidak bisa dibaca dulu
------

Lucy seorang Dewi rubah melarikan diri dari hukuman sang dewa pertama. dengan mengubah kucing nya menjadi sebuah sistem untuk membantu pelariannya. dunia yang berbeda-beda dan tujuan yang juga berbeda-beda. sang Dewi lebih mementingkan inti jiwa mereka dan tidak peduli apakah mereka laki-laki atau perempuan. (tidak ada unsur LGBT)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Seminggu.

Seminggu penuh Lucy menghabiskan waktunya di Rumah Sakit Fujiwara Medical Center, di kamar VVIP lantai paling atas, dengan pemandangan kota yang berkilauan di malam hari dan sinar matahari hangat di pagi hari. Bagi kebanyakan orang, dirawat di rumah sakit selama seminggu adalah siksaan. Tapi bagi Lucy? Ini seperti liburan kecil dengan pelayanan bintang lima.

Dan berbicara tentang pelayanan...

"Bubur sudah datang."

Pintu kamar terbuka, dan Kaito Fujiwara masuk dengan nampan di tangannya. Bukan nampan rumah sakit standar—ini nampan kayu berukir dengan mangkuk porselen yang ditutup rapi. Di belakangnya, seorang perawat ikut masuk membawa teko teh dan cangkir.

"Kaito," Lucy menegakkan tubuhnya di ranjang. "Kau tidak perlu membawakanku makan siang setiap hari. Kau kan ada sekolah."

"Aku sudah izin." Kaito meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Kita sekelas. Aku minta tugas kita dijadikan satu."

"Tapi—"

"Makan."

Lucy mengerucutkan bibirnya—pipi tembemnya menggembung—tapi tetap mengambil sendok. Bubur ayam dengan topping melimpah, bukan bubur rumah sakit biasa. Ini bubur dari koki pribadi keluarga Fujiwara.

"Dia benar-benar memanjakanku," pikir Lucy sambil menyuap bubur.

"Kau mengeluh?" tanya Lili dalam kepalanya.

"Tidak. Hanya... ini terlalu mudah."

Memang terlalu mudah. Seminggu ini, Kaito praktis tinggal di rumah sakit. Dia tidur di sofa walaupun sofa itu mewah dengan berbahan kulit yang cukup lebar untuk tiga orang, tapi tetap saja sofa. Setiap pagi dia bangun lebih awal dari Lucy, memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Makanan. Minuman. Buku bacaan. Bahkan susu stroberi impor yang selalu tersedia di meja samping ranjang.

Dan dia melakukan semuanya dengan ekspresi datar, seolah ini bukan apa-apa. Seolah dia tidak sedang mengorbankan seluruh waktunya hanya untuk seorang gadis.

"Rasa suka Kaito: 80%," Lili memberitahu dua hari lalu. "Dan terus naik."

"80%?!" Lucy hampir tersedak anggurnya di alam kesadaran. "Padahal aku hanya tidur-tiduran di ranjang!"

"Justru karena kau terlihat lemah dan butuh dilindungi. Dia merasa... dibutuhkan."

"Manusia memang aneh."

Hari ketiga di rumah sakit adalah hari ketika Lucy akhirnya menyerah pada permintaan Kaito.

"Softlens-mu. Lepas."

"Eh?"

Kaito duduk di kursi samping ranjang, tangannya melipat di dada. "Mata biru mu. Aku sudah lihat malam itu. Tidak ada gunanya kau sembunyikan."

"Tapi..."

"Di sini hanya ada aku. Tidak ada orang lain."

Lucy menatapnya. Kaito menatap balik, tidak bergeming.

"Dia benar," kata Lili. "Lagipula cat rambutmu juga sudah memudar total. Rambutmu sekarang biru semua."

Lucy menyentuh rambutnya. Benar. Cat hitamnya sudah sepenuhnya hilang setelah beberapa kali keramas di rumah sakit. Rambutnya sekarang berwarna biru lembut—warna asli pemilik tubuh ini, warna yang sama dengan rambut Dewi Rubah.

"Baiklah." Dia melepas softlensnya dengan hati-hati. Ketika dia mendongak lagi, mata birunya menatap langsung ke mata cokelat Kaito.

Kaito tidak bergerak. Wajahnya tetap datar. Tapi matanya—matanya melebar sedikit. Hanya sedikit.

"Lebih baik," katanya akhirnya.

"Hanya 'lebih baik'?" Lucy memiringkan kepalanya. "Aku pikir kau akan lebih terkejut."

"Aku sudah lihat sebelumnya." Kaito mengalihkan pandangan. "Malam itu. Saat kau menolongku."

"Oh." Lucy teringat malam di gang gelap, saat dia membersihkan luka Kaito. Saat itu dia tidak pakai softlens. "Kau ingat."

"Aku ingat semuanya."

Kalimat itu menggantung di udara. Lucy memilih untuk tidak menanggapinya dan kembali menyuap buburnya.

Hari keempat adalah hari yang menarik.

Kaito sedang keluar untuk mengurus sesuatu—"urusan keluarga," katanya singkat. Lucy sendirian di kamar ketika pintu terbuka dan seorang pria masuk.

"Ah, kau sudah bangun!"

Paman Ryo. Dokter senior, adik dari ayah Kaito, dan seperti yang Lucy pelajari dalam beberapa hari terakhir, dia satu-satunya orang di keluarga Fujiwara yang benar-benar peduli pada Kaito.

"Paman!" Lucy memasang senyum cerah. "Kaito sedang keluar."

"Aku tahu. Aku tidak mencarinya." Paman Ryo duduk di kursi yang biasanya ditempati Kaito. "Aku mencarimu."

"Lucy?"

"Ya." Dia menyandarkan punggungnya, lalu mengeluarkan ponselnya. "Kau ingin lihat sesuatu?"

"Apa?"

Paman Ryo membuka galeri fotonya dan menyerahkan ponsel itu pada Lucy. "Itu Kaito. Umur lima tahun."

Lucy menatap layar. Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki dengan rambut pirang gelap yang berantakan, wajahnya cemberut, dan di tangannya ada... trofi basket mini.

"Dia sudah main basket sejak umur lima tahun?" tanya Lucy.

"Sejak umur empat, malahan. Tapi baru mulai serius umur lima." Paman Ryo menggeser foto. "Ini umur tujuh. Dia baru saja menang lomba basket antar sekolah dasar."

Foto berikutnya: Kaito dengan seragam basket kebesaran, trofi di tangannya, dan senyum kecil yang langka di wajahnya.

"Ini umur sembilan. Dia baru saja..." Paman Ryo berhenti. "Ah. Yang ini mungkin tidak menarik."

"Kenapa? Apa yang terjadi?"

Paman Ryo menghela napas. "Ini seminggu sebelum... insiden."

"Insiden?"

"Kau tahu tentang ibunya?"

Lucy mengangguk pelan. "Sedikit."

"Itu pertama kalinya Kaito dipukul oleh ibunya sendiri." Suara Paman Ryo berubah lebih pelan. "Dia dapat nilai kurang bagus di matematika. Ibunya... menghancurkan semua trofinya. Semua. Satu per satu."

Lucy menatap foto Kaito kecil. Anak laki-laki yang tersenyum dengan trofi di tangannya. Seminggu kemudian, trofi itu hancur. Dan anak itu ikut hancur bersamanya.

"Itu sebabnya dia seperti sekarang," lanjut Paman Ryo. "Dingin. Tidak percaya pada perempuan. Menutup diri. Tapi..." Dia menatap Lucy dengan hangat. "...sejak bertemu denganmu, dia berubah."

"Berubah?"

"Dia tersenyum lebih sering. Dia mau bicara lagi. Dia bahkan... tadi pagi dia meneleponku. Menanyakan resep bubur kesukaanmu."

Mata Lucy membelalak. "Dia menelepon untuk resep bubur?"

"Kau suka bubur ayam dengan topping telur dan daun bawang ekstra. Dia mencatatnya. Dia mencatat semuanya tentangmu." Paman Ryo tersenyum. "Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Jadi... terima kasih."

Lucy tidak tahu harus berkata apa. Jadi dia hanya tersenyum dan mengembalikan ponsel itu.

Hari kelima, sesuatu yang tak terduga terjadi.

"Aku bosan," gumam Lucy pada Lili. "Aku ingin jalan-jalan."

"Kau masih 'sakit'. Kaito akan panik kalau kau hilang."

"Dia sedang ada urusan. Aku akan kembali sebelum dia sadar."

Dia menyelinap keluar dan kali ini tanpa membuat dirinya transparan, hanya berjalan pelan melewati bodyguard yang sudah mengenalnya. Koridor rumah sakit siang itu sedikit lebih ramai. Pasien lain, pengunjung, perawat yang mondar-mandir.

Dan saat dia melewati kamar sayap timur, dia melihat seseorang yang dikenalnya.

"Kakak Cantik!"

Akane Minagawa sedang duduk di kursi roda dekat jendela, menatap keluar. Kepalanya menoleh begitu mendengar suara itu. Matanya yang biasanya sembab itu sedikit lebih cerah.

"Lucy..."

"Aku lewat dan lihat Kakak!" Lucy duduk di kursi sebelahnya tanpa diundang. "Kakak udah baikan?"

Akane mengangguk pelan. "Aku... aku sudah lebih baik. Terima kasih."

"Hari ini langitnya bagus ya!" Lucy menunjuk ke luar jendela. "Lihat! Awan itu bentuknya kayak kelinci!"

Akane mengikuti arah jarinya. "Aku... tidak melihat kelinci."

"Itu! Yang gede itu! Itu telinganya panjang!"

"Aku pikir itu lebih mirip... kucing?"

"Kucing?! Mana ada kucing segede itu!"

"Kau yang bilang itu kelinci. Kelinci juga tidak sebesar itu."

Mereka berdua terdiam. Lalu, tawa kecil pecah dari bibir Akane. Lucy ikut tertawa.

Hari-hari berikutnya, Lucy rutin mengunjungi Akane. Mereka akan duduk bersama, berbicara tentang apa saja—tentang makanan, tentang langit, tentang hal-hal kecil yang tidak berarti. Akane yang awalnya canggung perlahan-lahan menjadi lebih terbuka.

"Kau tahu," kata Akane suatu sore, "aku tidak pernah punya teman seperti ini sebelumnya."

"Teman kayak apa?"

"Teman yang..." Akane menunduk. "...tidak menginginkan apa-apa dariku."

Lucy menatapnya. Antagonis wanita yang dia bayangkan dulu—ratu bully, gadis kejam—kini hanya terlihat seperti gadis biasa yang kesepian.

"Kakak pantas punya teman," kata Lucy. "Banyak teman."

"Kau pikir?"

"Lucy sangat yakin!"

Akane tersenyum. Bukan senyuman sopan atau senyuman palsu. Senyuman yang tulus.

Di malam hari, saat Kaito sudah tertidur di sofanya, Lucy bertanya pada Lili.

"Bagaimana dengan Ren?"

"Ah, akhirnya kau bertanya."

"Jangan membuatku merasa bersalah."

"Ren sudah tidak datang sejak kecelakaanmu. Kaito memblokir semua aksesnya. Dia tidak bisa masuk rumah sakit, tidak bisa meneleponmu, tidak bisa mengirim pesan."

Lucy menatap langit-langit. "Dan?"

"Dan... ada perkembangan yang tidak terduga. Rasa suka Ren ke Hana Himura sekarang 50%."

"APA?!" Lucy hampir duduk tegak di ranjang. "50%?! Bagaimana bisa?!"

"Sepertinya protagonis wanita menggunakan sistem miliknya. Semacam... alat untuk meningkatkan pesona. Dia memanfaatkan ketidakhadiranmu."

"Curang." Lucy mengerucutkan bibirnya. "Dia pakai sistem. Aku kan tidak pakai sistem untuk menaikkan rasa suka."

"Kau pakai kekuatan Dewi."

"Itu berbeda! Kekuatanku adalah bagian dari diriku. Sistemnya adalah alat curang!"

"Kau hanya kesal karena ada yang berani melawanmu."

"...Mungkin." Lucy menyeringai dalam gelap. "Tapi dia tidak akan menang. Aku punya rencana."

"Rencana apa?"

"Belum tahu. Tapi sesuatu yang jahat. Sangat jahat." Dia menarik selimutnya. "Tapi nanti. Aku sedang liburan sekarang."

Hari ketujuh dan hari terakhir.

"Aku harus pulang."

Akane mengatakannya dengan suara hampir berbisik. Dia sudah tidak di kursi roda sekarang. Dia berdiri di depan pintu kamar Lucy, berpakaian rapi, siap untuk keluar dari rumah sakit. Di belakangnya, seorang pembantu tua dan seorang supir menunggu dengan sabar.

"Kakak udah sembuh?" tanya Lucy, duduk di ranjangnya.

"Dokter bilang aku sudah bisa pulang." Akane menunduk. "Tapi aku... aku tidak mau..."

"Kenapa?"

"Karena..." Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Karena di sini ada kau."

Lucy tidak menjawab. Dia hanya menatap Akane dengan mata birunya yang tenang.

"Aku tidak punya siapa-siapa di rumah," lanjut Akane, suaranya bergetar. "Ayahku tidak peduli. Kakak-kakakku... mereka hanya akan menyiksaku lagi. Anak angkat itu akan merebut semuanya. Dan aku... aku akan sendirian lagi."

Dia mendongak. Air mata menggenang di matanya.

"Tapi di sini... kau ada. Kau mendengarkanku. Kau membuatku tertawa. Kau... kau seperti adik yang tidak pernah ku punya."

"Kakak..."

"Jadi tolong..." Akane melangkah maju dan memeluk Lucy. Erat. Sangat erat. "...jangan lupakan aku."

Lucy terdiam dalam pelukan itu. Tangannya terangkat perlahan, lalu menepuk punggung Akane dengan lembut.

"Lucy nggak akan lupa," katanya pelan. "Kakak Cantik itu teman Lucy. Teman pertama Lucy di rumah sakit."

Akane menangis di bahunya. Tapi kali ini, air matanya bukan air mata kesedihan. Ada kelegaan di sana. Ada harapan.

"Aku akan menyimpan nomormu," bisik Akane. "Dan alamatmu. Kau... kau mau aku kunjungi?"

"Tentu saja! Nanti kita makan mochi bareng!"

Akane tertawa kecil—tawa yang bercampur tangis. "Kau selalu dengan mochi-mu."

"Itu karena mochi enak!"

Akhirnya, Akane melepaskan pelukannya. Dia menyeka air matanya, lalu tersenyum—senyum yang berbeda dari sebelumnya. Lebih kuat. Lebih cerah.

"Aku akan baik-baik saja," katanya, lebih ke dirinya sendiri. "Aku tidak perlu mengejar-ngejar pria yang tidak mencintaiku. Aku tidak perlu menjadi seperti itu. Karena... karena sekarang aku punya adik."

Lucy tersenyum. "Pulanglah, Kakak. Dan jangan biarkan siapa pun menyakitimu lagi."

Akane mengangguk. Dia berbalik, berjalan ke arah pembantu dan supirnya—dua orang yang tampaknya lebih menyayanginya daripada seluruh keluarganya. Di ambang pintu, dia menoleh sekali lagi.

"Sampai jumpa, Lucy."

"Sampai jumpa, Kakak Cantik."

Dan dia pergi.

Lucy menatap pintu yang tertutup. Ada keheningan panjang.

"Kau benar-benar melakukannya," kata Lili. "Kau membuat antagonis wanita menyayangimu seperti adik."

"Itu bagian dari misi, kan? Memberikan kehidupan yang lebih baik untuk antagonis wanita."

"Tapi kau melakukannya dengan tulus."

Lucy tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang aneh di dadanya. Lalu dia kembali kekamar nya sendiri dan bersandar di ranjangnya.

Kemudian pintu terbuka lagi, dan Kaito masuk dengan nampan makan siang.

"Aku bawa bubur. Lagi."

Lucy menatapnya. Menatap antagonis pria yang dulu dingin dan tidak tersentuh, yang sekarang membawakannya bubur setiap hari, yang tidur di sofa hanya untuk memastikan dia baik-baik saja, yang rela memblokir semua akses Ren hanya untuk melindunginya.

"80%," pikirnya. "Bagaimana bisa secepat ini?"

"Kau hampir mati di depannya. Itu mempercepat segalanya."

"Tapi ini tidak normal. Bahkan untuk manusia yang trauma, ini terlalu cepat."

"Kau curiga?"

"Aku selalu curiga." Lucy menyuap buburnya. "Tapi untuk sekarang... aku akan menikmatinya."

"Kenapa?" tanya Kaito, menyadari tatapan Lucy.

"Tidak apa-apa." Lucy tersenyum. "Hanya... terima kasih. Untuk semuanya."

Telinga Kaito memerah. Dia mengalihkan pandangan. "Makan. Sebelum dingin."

Lucy terkekeh dan melanjutkan makannya. Sebagai seorang Dewi Rubah yang telah hidup ribuan tahun, dia tahu bahwa sesuatu yang terlalu mudah biasanya menyembunyikan sesuatu. Tapi untuk sekarang, di ranjang rumah sakit yang nyaman, dengan bubur ayam hangat di tangannya dan antagonis pria yang memerah di sampingnya...

Dia akan membiarkan dirinya dimanjakan sedikit lebih lama.

"Lagipula," pikirnya sambil menyeringai dalam hati, "permainan sesungguhnya baru akan dimulai saat aku kembali ke sekolah. Dan saat itu... Hana Himura akan tahu apa artinya melawan seorang Dewi."

1
happjlyou
lanjut thorrr ceritanya ngga kalah menarikkkk setelah baca 2 novel yg lain
happjlyou
thor knp novel yang terlahir kembali menjadi miliarder blm up juga/Sob/pdhl udah tak tunggu tunggu dari idul adha kmarin huhuhu
happjlyou: okeyy thor, semangat yaa TKA nya semoga dapat nilai terbaik/Scream//Drool/
total 2 replies
shinobu
aku gak sampai gerti de sama alurnya ceritanya🤔🤔🤔
Liliana: maaf ya atas kesalahan cerita nya, terdapat kesalahan oleh author dan editor dalam pengiriman cerita. kemungkinan akan di muat ulang dan diperbaiki 🙏
total 1 replies
shinobu
jalan cerita sangat aneh de 🤔
Rio Armi Candra
ideeeeeeem... lagiiiiiiiii wooooy min

min... bangun woy.. ente kesurupan pisang goreng tepung tapioka ya 🤣🤣🤣
Rio Armi Candra
satu kata buat admin... ideeeeeeem.🤣🤣🤣.
ngopi napa min 🤣🤣🤣
Rio Armi Candra
yaaaahhh... admin nya ngantuk nich, bab nya di ulang dua kali..🤣🤣🤣🤭
Liliana: maaf ya, author nya ke kirim 2x😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!