Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Saga mengakui Sahir sebagai anaknya secara langsung di depan dirinya. Tanpa kebencian seperti yang selama ini Sahira takutkan. Perlahan Sahira mengangkat pandangannya. Tatapannya bertemu dengan mata Saga yang kini menatapnya begitu dalam.
“Aku telat banget ya…” suara Saga melemah pelan. “Buat ngerti semuanya.”
Sahira langsung menunduk cepat, dadanya terasa sesak mendadak.
Sementara Saga perlahan melanjutkan,
“Selama lima tahun…” pria itu tertawa kecil pahit, “aku marah sama kamu.” Tatapannya turun pada jemari Sahira yang masih memegang kapas kecil di tangannya.
“Aku pikir kamu ninggalin aku karena udah nggak cinta.”
Napas Sahira langsung terasa berat. Ia mencoba tetap tenang, meski matanya mulai memanas. Namun, Saga kembali berbicara dengan suara serak.
“Padahal…” pria itu tersenyum pahit kecil pada dirinya sendiri, “yang paling jahat justru aku.”
“Jangan bilang begitu,” potong Sahira cepat.
Tatapan Saga langsung kembali padanya. Sahira menggigit bibir bawahnya pelan sebelum berkata lirih,
“Kamu nggak salah.”
“Aku salah.” Suasana kembali hening beberapa detik.
Angin laut berembus lembut melewati jendela terbuka. Sementara Saga terus menatap Sahira tanpa berpaling sedikit pun.
“Aku nggak inget malam itu…” ucapnya akhirnya pelan. “Tapi aku percaya sama kamu.” Kalimat itu membuat pertahanan Sahira perlahan runtuh.
Air mata Sahira perlahan jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Saga langsung mengangkat tangan hendak menghapus air mata itu. Namun, pria itu menghentikan gerakannya di udara. Masih takut dirinya tidak pantas menyentuh wanita di depannya lagi.
Sementara, Sahira buru-buru menyeka air matanya sendiri lalu kembali fokus pada luka di wajah Saga.
“Diam,” gumamnya lirih sambil menahan tangis. “Obatnya belum selesai.”
Saga tersenyum kecil. Ada rasa tenang yang perlahan kembali ke dalam hatinya saat melihat Sahira berada sedekat ini dengannya lagi. Suasana di dekat jendela itu berubah jauh lebih tenang.
Angin laut berembus pelan, membuat tirai putih di sisi jendela bergerak lembut. Cahaya matahari pagi menyinari wajah Sahira dan Saga yang duduk saling berhadapan dalam jarak begitu dekat.
Sahira masih fokus mengoleskan obat pada luka di sudut bibir Saga. Sementara pria itu sejak tadi tidak berhenti menatap wajah wanita di depannya. Tatapan yang selama lima tahun selalu ia rindukan.
“Udah,” gumam Sahira pelan setelah selesai menempelkan plester kecil di dekat luka Saga. Saat wanita itu hendak menarik tangannya, Saga refleks menahan jemarinya lagi.
Sahira langsung menoleh, tatapan mereka kembali bertemu. Saga menggenggam tangan itu pelan, seolah takut Sahira menghilang lagi jika dilepaskan.
“Aku nyari kamu kemana-mana…” ucap pria itu lirih. Jantung Sahira langsung kembali berdetak tidak karuan.
“Aku pikir…” suara Saga mulai serak, “aku sudah kehilangan kalian.” Kata kalian membuat mata Sahira langsung memanas lagi.
Lima tahun ia membesarkan Sahir sendirian sambil memendam rindu dan takut. Dan sekarang pria yang paling ia cintai itu duduk di hadapannya sambil menatapnya seperti dulu lagi. Tanpa sadar, Sahira perlahan menundukkan wajahnya.
Saga bergerak mendekat. Pelan sekali seolah memberi kesempatan bagi Sahira untuk menolak. Tetapi wanita itu justru diam, tatapan keduanya saling mengunci. Napas mereka bercampur begitu dekat. Saat Saga perlahan menyentuhkan dahinya pada dahi Sahira,
“Ibu!”
Keduanya langsung tersentak menjauh.
Sahira spontan berdiri terlalu cepat sampai hampir menjatuhkan kotak obat di meja. Sementara Saga refleks batuk kecil sambil memalingkan wajah.
Di ambang pintu, Sahir berdiri sambil memegang handuk kecil di kepalanya. Bocah itu berkedip beberapa kali menatap keduanya bingung.
“Kenapa duduknya deket banget?”
Wajah Sahira langsung memerah. “Nggak kenapa-kenapa!” Jawabannya terlalu cepat sampai membuat Sahir semakin curiga.
Bocah itu lalu berjalan masuk mendekati mereka dengan langkah kecil. Tatapannya bergantian antara ibunya dan Saga.
“Doktel dimalahin ibu ya?”
Saga hampir tertawa melihat ekspresi polos anaknya.
Sahira malah semakin salah tingkah.
“Nggak,” jawab wanita itu cepat sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Ibu cuma ngobatin luka dokter.”
“Ooo…” Sahir mengangguk kecil seolah mengerti. Lalu beberapa detik kemudian bocah itu kembali bicara dengan suara polosnya,
“Tapi tadi kayak di sinetlon.”
Saga langsung menunduk sambil menahan tawanya. Sedangkan Sahira benar-benar ingin menghilang saat itu juga.
“Sahir!” tegurnya malu.
Bocah kecil itu malah terkikik geli lalu berlari menghampiri Saga.
“Doktel sekalang udah ndak sakit?”
Saga akhirnya tersenyum lembut lalu mengangkat Sahir ke pangkuannya lagi.
“Udah sembuh,” jawab pria itu pelan sambil menatap Sahira yang masih salah tingkah di depan mereka.
Rumah kecil itu kembali terasa hangat seperti keluarga yang utuh. Sahir duduk nyaman di pangkuan Saga sambil memainkan jari pria itu dengan tangan mungilnya.
Sementara Saga sesekali mengusap rambut anak itu pelan, masih belum terbiasa dengan kedekatan hangat yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya.
Di sisi lain, Sahira berdiri dekat meja sambil membereskan kotak obat untuk menyembunyikan rasa gugupnya sendiri. Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara polos Sahir.
“Doktel Saga…”
“Hm?” Saga menunduk menatap bocah kecil di pangkuannya.
Sahir terlihat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan,
“Sahel boleh manggil Doktel Saga ayah?”
Ruangan langsung hening, tangan Sahira spontan berhenti bergerak. Sementara Saga membeku di tempatnya. Sahir justru menatap Saga dengan mata bulat penuh harapan.
“Kalena…” lanjut bocah itu polos, “kata ibu ayah Sahel itu tampan dan baik.” Tatapannya berbinar kecil.
“Doktel Saga juga tampan dan baik.”
Jantung Sahira langsung terasa sesak.
“Sahir…” panggilnya pelan mencoba menghentikan arah pembicaraan itu.
Bocah kecil itu malah menoleh cepat pada ibunya.
“Kenapa?”
Sahira menggigit bibir bawahnya pelan sebelum berkata hati-hati,
“Nggak semua orang bisa dipanggil ayah sembarangan.”
Suasana kembali sunyi beberapa detik. Sahir langsung menunduk kecil. Wajah polosnya berubah sedikit murung.
“Oh…”
Melihat ekspresi itu, dada Sahira terasa semakin sakit.
Sebelum ia sempat menjelaskan Sahir kembali mengangkat wajahnya menatap Saga hati-hati.
“Doktel Saga ndak mau jadi ayah Sahel ya?” Pertanyaan itu menghantam dada Saga begitu keras. Bocah itu lalu memegang tangan Saga kecil-kecil sambil berkata dengan suara lirih,
“Sahel pengen punya ayah kayak temen-temen lain…” Tatapan matanya mulai berkaca-kaca.
“Sahel janji ndak nakal ... Sahel juga janji ndak bakal nangis…” Suara kecil itu terdengar begitu polos dan tulus.
“Kalau Doktel Saga jadi ayah Sahel…”
Seketika mata Sahira langsung memanas. Wanita itu buru-buru membalikkan wajahnya. Namun, air mata tetap jatuh diam-diam tanpa bisa ia tahan. Selama ini dia selalu berusaha menjadi cukup untuk Sahir.
Berusaha menjadi ibu sekaligus ayah. Tetapi pada akhirnya anaknya tetap merindukan sosok seorang ayah. Sementara Saga benar-benar tidak mampu berkata apa pun. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas. Tatapannya terus menatap wajah kecil di pangkuannya yang kini sedang menunggu jawaban darinya.
Saga benar-benar merasakan betapa banyak waktu yang sudah hilang dari hidup anaknya.
Keheningan memenuhi ruangan kecil itu. Sahir masih menatap Saga dengan mata bulat penuh harapan, menunggu jawaban yang bahkan tidak pernah berani ia minta sebelumnya.
Sementara, Sahira berdiri membelakangi mereka sambil menahan tangis diam-diam.
Saga mengangkat tangannya perlahan lalu mengusap rambut Sahir dengan begitu lembut.
“Boleh,” Suara pria itu terdengar pelan. Cukup jelas untuk membuat Sahir langsung membelalak senang. Saga tersenyum kecil meski matanya sudah memerah.
“Sahir boleh manggil Dokter ayah, ya.”
Air mata Sahira langsung jatuh lagi. Sementara Sahir terlihat belum benar-benar percaya.
“Benelan?”
Saga mengangguk pelan. “Iya.”
Pria itu menatap anak kecil di pangkuannya dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus kasih sayang yang begitu besar.
“Dan Sahir juga boleh cerita apa pun sama ayah.” Napas Saga perlahan bergetar.
“Mulai sekarang…” suaranya mulai serak, “dokter adalah ayah Sahir.”
Mata Sahir langsung berbinar terang.
“Ingat ya,” lanjut Saga sambil tersenyum penuh haru, “dokter adalah ayah Sahir.”
“Ayah…” Sahir mengucapkan kata itu pelan seolah sedang mencoba membiasakan dirinya. Lalu detik berikutnya bocah itu langsung memeluk leher Saga erat sekali.
“Ayah…” Suara kecil itu membuat pertahanan Saga runtuh seketika.
Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Pria itu memeluk anaknya kuat-kuat, seolah takut kehilangan lagi.
Saga menunduk lalu mencium pipi Sahir berkali-kali sambil menahan tangisnya.
“Ayah di sini…” bisiknya lirih penuh penyesalan. “Maafin ayah ya telat datang…”
Sahir justru tertawa kecil sambil memeluk wajah Saga polos.
“Ndak apa-apa. Kan ayah sekalang udah datang.” Kalimat itu hampir membuat Saga kembali menangis.
Sementara, di dekat meja, Sahira sudah tidak mampu lagi menyembunyikan air matanya. Wanita itu menutup mulutnya sendiri pelan agar tangisnya tidak terdengar. Saga memeluk erat Sahir. Sedangkan, tangan lainnya mencoba meraih jemari Sahira yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sahira langsung menoleh pelan. Saga menggenggam tangannya erat. Tatapan pria itu bertemu dengan matanya yang basah oleh air mata. Tidak ada kata-kata lagi, tetapi genggaman itu terasa seperti permintaan maaf.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali