NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Di Undang

​Napas Yuna tercekat saat tubuh tegap Labib mengurungnya di antara pinggiran meja makan. Labib menatapnya dengan pandangan elang yang begitu pekat, menuntut kepatuhan yang selama ini selalu ia dapatkan di ruang kuliah. Namun, di dalam rumah ini, Yuna bukanlah mahasiswi yang bisa didepak dengan nilai buruk. Yuna adalah istrinya—gadis 21 tahun yang hatinya sedang terluka oleh ego dan kecemburuan.

​Alih-alih membalas tatapan itu atau berteriak histeris, Yuna memilih senjata yang paling mematikan: diam.

​Ia tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan gerakan tegas namun tenang, Yuna menyelinap di bawah lengan Labib yang bertumpu pada meja, memanfaatkan celah kecil karena tubuhnya yang jauh lebih mungil. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya yang masih mematung di dapur, Yuna melangkah cepat menuju tangga.

​"Yuna Anindya! Saya belum selesai bicara!"

​Suara bariton Labib menggelegar di ruang tengah yang sepi, memanggil nama lengkap istrinya dengan nada otoriter yang sanggup membuat mahasiswa mana pun gemetar di tempat. Namun, Yuna menutup telinganya rapat-rapat. Ia terus melangkah menaiki undakan tangga kayu dengan tergesa-gesa, mengabaikan seruan suaminya yang mulai terdengar frustrasi.

​Begitu sampai di lantai atas, Yuna langsung menyelinap masuk ke dalam kamar utama.

​Brak!

​Pintu kamar ditutup rapat, disusul suara cklek dari kunci yang diputar dua kali dari dalam. Yuna menyandarkan punggungnya di balik pintu yang dingin, mengatur napasnya yang memburu akibat emosi yang campur aduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan Labib akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang merona merah.

​Di bawah sana, Labib hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil mengepalkan tangannya di atas meja makan. Pria 31 tahun itu menatap anak tangga dengan tatapan kosong. Rasa bersalah karena telah membentak Yuna lagi, bercampur dengan rasa lelah akibat urusan kampus, membuat kepalanya berdenyut pening. Malam ini, rumah megah itu kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam, memisahkan dua hati yang sama-sama keras kepala di balik pintu yang terkunci.

​Waktu bergeser melewati pukul delapan malam. Suasana di dalam rumah mewah itu masih terasa mencekam dan sunyi, hingga suara ketukan keras di pintu depan memecah keheningan. Labib yang sejak tadi duduk termenung di sofa ruang tengah segera berdiri dan membuka pintu.

​Sosok wanita paruh baya dengan pakaian elegan dan pembawaan angkuh berdiri di sana.

​Ibu Labib.

​Wanita itu melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Sejak awal, beliau memang menentang keras keputusan Labib untuk menikahi Yuna, seorang mahasiswi muda yang dianggapnya belum matang. Di mata sang ibu, hanya Citra—wanita mapan, berpendidikan tinggi, dan masih memiliki ikatan keluarga jauh—yang pantas mendampingi putra kebanggaannya sebagai menantu.

​"Di mana istrimu?" tanya Ibu Labib dengan nada dingin, langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.

​"Yuna sedang istirahat di atas, Bu. Dia lelah setelah seharian kuliah," jawab Labib datar, mencoba menahan diri agar tidak memicu keributan.

​Tanpa memedulikan ucapan putranya, wanita paruh baya itu langsung melangkah menuju tangga dan naik ke lantai dua. Beliau ingin melihat langsung seperti apa gadis yang telah merebut posisi yang seharusnya menjadi milik Citra. Labib yang terkejut dengan tindakan ibunya segera melangkah cepat menyusul dari belakang.

​Cklek.

​Ibu Labib membuka pintu kamar utama yang kebetulan kuncinya sudah dibuka oleh Yuna beberapa saat lalu sebelum gadis itu tertidur lelap karena kelelahan menangis. Di atas ranjang, Yuna tampak meringkuk di balik selimut, wajahnya terlihat pucat dengan sisa air mata yang mengering di pipinya.

​Melihat menantunya hanya terbaring nyaman di atas kasur empuk, amarah Ibu Labib langsung tersulut. Beliau melangkah mendekati ranjang dan berseru dengan suara melengking.

​"Bagus ya! Jam segini bukannya melayani suami pulang kerja, malah enak-enakan tidur! Pemalas sekali kamu jadi istri! Begini cara orang tuamu mendidikmu?!" Teriakan itu seketika membuat Yuna terperanjat bangun dengan mata membelalak panik, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.

​Sebelum ibunya sempat melontarkan makian lebih jauh, Labib bergerak cepat. Dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang membuncah, pria 31 tahun itu langsung mencengkeram lengan ibunya dan menarik wanita itu menjauh dari ranjang Yuna, memosisikan dirinya sebagai tameng di depan sang istri.

​"Cukup, Bu! Keluar dari kamar kami!" desis Labib dengan suara baritonnya yang bergetar menahan ledakan emosi.

​Ia menatap ibunya dengan tatapan mata elang yang sangat tajam dan tidak terbantahkan. "Ini keputusan hidupku, Bu! Siapa pun yang menjadi istriku, itu adalah hak penuhku! Aku yang menjalani pernikahan ini, bukan Ibu atau orang lain. Jadi tolong, hormati privasi rumah tanggaku!"

​Ibu Labib terbelalak, tidak menyangka putra kandungnya yang biasanya penurut akan melawannya demi membela gadis berusia 21 tahun itu. Sementara di atas kasur, Yuna hanya bisa mematung dengan air mata yang kembali merebak, menatap punggung tegap Labib yang kini berdiri kokoh melindunginya dari badai.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!