"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian dari Sang Singa Tua
Suasana sore di kediaman mewah penthouse Arthur yang biasanya diwarnai oleh celoteh riang Lia atau ketukan papan ketik Leon, mendadak berubah menjadi tegang. Sebuah helikopter pribadi dengan logo emas keluarga Arkananta baru saja mendarat di landasan pacu atap gedung.
Arthur yang baru saja pulang dari kantor langsung melangkah cepat ke ruang tengah, wajah tampannya tampak lebih serius dari biasanya. Dia menatap Elena yang sedang merapikan gaun santainya.
"Elena," panggil Arthur, suaranya terdengar agak berat. "Kakek kandungku... Tuan Besar William Arkananta, baru saja mendarat dari Swiss. Beliau datang secara mendadak setelah melihat berita lamaran publik kita kemarin malam."
Elena menghentikan gerakannya. Nama William Arkananta bukan nama sembarangan. Pria tua itu adalah fondasi, singa tua, sekaligus pebisnis kejam yang membangun dinasti Arkananta dari nol sebelum menyerahkan kemudi pada Arthur. Lima tahun lalu, saat Elena diusir oleh Rosa, William sedang berada dalam kondisi koma di Eropa, sehingga tidak mengetahui kelicikan ibu tiri Arthur tersebut.
"Apakah dia datang untuk menentang hubungan kita?" tanya Elena dengan nada tenang, meski ada sedikit riak kecemasan di matanya. Dia tidak takut pada dunia, tapi dia tidak ingin anak-anaknya terluka oleh penolakan keluarga besar.
"Tidak akan ada yang bisa menentang kita, Elena. Bahkan Kakek sekalipun," tegas Arthur, menggenggam jemari Elena erat. "Tapi Kakek adalah orang yang sangat keras dan penuh ujian. Dia ingin makan malam bersama kita dan anak-anak sekarang."
Beberapa menit kemudian, pintu ganda penthouse terbuka. Langkah kaki yang lambat namun mantap terdengar, diiringi ketukan tongkat kayu berujung perak.
Seorang pria tua berusia kepala tujuh melangkah masuk. Meskipun rambutnya sudah memutih seluruhnya, tubuh William Arkananta tetap tegak dibalut setelan jas wol mahal. Sepasang mata elangnya—yang persis seperti milik Arthur dan Leon—menatap tajam ke sekeliling ruangan, memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup mengintimidasi siapa saja.
William berhenti di tengah ruangan, matanya langsung tertuju pada Elena, lalu turun ke arah Leon dan Lia yang berdiri di samping ibunya.
"Jadi... ini wanita yang membuat cucu tunggalku berlutut di bawah hujan dan memamerkan kemesraan di televisi?" suara William berat, serak, dan tanpa ekspresi.
"Senang bertemu kembali dengan Anda, Tuan Besar William," ucap Elena, membungkuk hormat dengan keanggunan seorang bangsawan Eropa yang sempurna, sama sekali tidak gentar oleh tatapan intimidasi sang singa tua.
William tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya pada Leon. Bocah kecil itu tidak menunduk. Dengan tangan bersedekap di dada dan topi hitam yang bertengger manis, Leon justru menatap balik mata kakek buyutnya dengan pandangan menilai yang sama tajamnya.
"Hmm, anak laki-laki yang menarik. Matanya sama persis dengan mataku saat muda," gumam William, sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak terlihat. "Mari kita lihat, apakah otak dan mental kalian layak menyandang nama besar Arkananta di meja makan."
Makan malam pun dimulai dengan hidangan kelas atas yang disiapkan oleh kepala koki pribadi William. Suasana di meja makan sangat hening, hanya terdengar denting garpu dan pisau yang beradu. Arthur berkali-kali memberikan tatapan protektif pada Elena, siap pasang badan jika kakeknya mulai menyudutkan istrinya.
Setelah hidangan utama selesai, William menaruh serbetnya, lalu menatap Leon yang sedang mengunyah potongan steaknya dengan tenang.
"Leon," panggil William dingin. "Aku mendengar dari tim IT pusat bahwa kamu berhasil meretas dan melacak seluruh data Seline Wijaya hanya dalam waktu satu malam. Apakah itu benar?"
Leon menelan makanannya perlahan, menyeka mulutnya dengan tisu dengan sangat sopan sebelum menjawab. "Informasi Anda sedikit terlambat, Kakek Tua. Aku melakukannya dalam waktu kurang dari dua jam, bukan satu malam. Sistem keamanan tim IT Anda terlalu banyak memiliki celah kosong yang membosankan."
Arthur hampir saja tersedak mendengar putranya memanggil sang penguasa tertinggi dengan sebutan 'Kakek Tua'. Namun, William justru tertegun sesaat, sebelum akhirnya tawa baritonnya yang menggelegar pecah memenuhi ruang makan.
"Hahaha! Berani sekali! Kegeniusan dan kesombongan ini... kamu benar-benar darah daging Arkananta sejati!" William memukul meja pelan dengan rasa puas yang membuncah.
Pria tua itu kemudian menoleh menatap Elena, raut wajahnya kembali serius. "Eleanor Vance, aku tahu apa yang terjadi lima tahun lalu karena kelicikan Rosa. Aku tidak akan meminta maaf atas nama keluarga ini, karena Arthur sudah membayarnya dengan berlutut di kakimu. Tapi aku ingin tahu... proyek resor Bali yang kamu desain, apa langkah strategismu untuk menghadapi boikot rahasia dari pasar Eropa yang saat ini sedang digerakkan oleh keluarga Wijaya sebagai aksi balas dendam?"
Arthur hendak membuka suara untuk membela Elena, namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikan suaminya. Dia menatap William dengan senyuman percaya diri yang sangat memikat.
"Tuan Besar, keluarga Wijaya mengira mereka menguasai jalur distribusi Eropa karena mereka memegang kontrak lama. Tapi mereka lupa, selama lima tahun di Milan, aku telah membangun jaringan eksklusif dengan Vance Syndicate dan para taipan mode Paris," ucap Elena tenang namun tajam. "Pagi ini, aku sudah menandatangani kontrak eksklusif. Resor Bali tidak akan menyasar pasar massal Eropa, melainkan pasar ultra-high-end privat. Boikot keluarga Wijaya justru akan membuat proyek kita terlihat semakin langka dan bernilai tinggi. Singkatnya... mereka sedang menembak kaki mereka sendiri."
Mendengar penjelasan taktis dan visi bisnis Elena yang begitu matang, William Arkananta terdiam lama. Sepasang mata tuanya berkilat penuh rasa takjub. Dia menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan lagi gadis lemah yang bisa ditindas; Elena adalah ratu bisnis sejati yang sangat sepadan untuk mendampingi Arthur memimpin imperium mereka.
William mengambil tongkat peraknya, bangkit berdiri dari kursi. Dia berjalan mendekati Elena, lalu menepuk bahu wanita itu dengan lembut.
"Pilihan cucuku kali ini tidak salah. Selamat datang kembali di rumah, Eleanor Arkananta. Mulai hari ini, siapa pun yang berani mengusikmu atau anak-anakmu, berarti mereka sedang menyatakan perang terbuka dengan seluruh kekuatan dinasti William Arkananta," deklarasi sang singa tua dengan mutlak, memberikan restu dan perlindungan tertinggi bagi keluarga kecil mereka.
Lia yang sejak tadi diam langsung bertepuk tangan riang, "Kakek hebat! Kakek mau es krim?" membuat suasana ketegangan malam itu mencair sepenuhnya menjadi kehangatan keluarga yang sesungguhnya.