Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Kematian Hipersonik
BLAM! BLAM! BLAM!
Seketika, sunyinya tembok gerbang utara pecah oleh rentetan dentuman mekanis yang memekakkan telinga. Lima ratus Senapan Pulsar Gauss V1 menyalak secara simultan. Tidak ada kilatan api mesiu atau raungan mantra spiritual, melainkan kilatan listrik biru tipis yang memercik dari laras logam hitam-emas saat peluru kinetik didorong oleh gaya magnetik murni hingga mencapai kecepatan Mach 5.
Tiga ribu murid Sekte Sanca Suci yang sedang melayang angkuh di langit bahkan tidak sempat menyadari apa yang terjadi. Bagi mereka, serangan dari Ranah Pemurnian Qi biasanya berupa bola api atau bilah angin yang terlihat jelas jalurnya. Namun, peluru pulsar relistik ini bergerak melampaui kecepatan suara.
ZUT! ZUT! ZUT!
"Ahkk!"
"Dantianku—!"
Langit seketika berubah menjadi ladang pembantaian yang kacau. Peluru-peluru berdensitas tinggi dari Intisari Logam Hitam menembus zhirah Qi pelindung para murid sekte semudah menembus lembaran kertas. Kepala hancur, dada berlubang, dan pedang terbang patah menjadi dua. Ratusan kultivator elit tumbang dari langit bagaikan burung-burung yang sayapnya patah, menghantam tanah dengan bunyi debuman yang mengerikan.
"Formasi bertahan! Pasang perisai bumi!" Seorang penatua Inti Emas Tahap Menengah berteriak panik, wajahnya pucat pasi melihat seratus murid di dekatnya tewas dalam waktu kurang dari tiga detik.
Namun, indoktrinasi taktis saraf yang telah ditanamkan Ethan ke dalam otak Corps Shadows Cyber membuat mereka bertindak dengan efisiensi yang menakutkan. Mereka tidak menembak secara acak. Melalui panduan kacamata siber yang terhubung dengan AI pusat Ethan, mereka membagi target secara geometris, menciptakan jaring tembakan silang yang mengunci setiap celah pelarian.
Melihat gelombang pertama muridnya dibantai secara tidak masuk akal tanpa sempat membalas, Leluhur Sanca Suci yang berdiri di atas kereta perang Sanca Sayap Emas meraung sejadi-jadinya. Wajah ular berkedut-kedut menahan murka yang teramat sangat.
"Senjata magis macam apa itu?! Berani-beraninya kalian menggunakan trik licik!"
Leluhur Sanca Suci melompat dari kereta perangnya. Sebagai seorang ahli Ranah Inti Emas Tahap Akhir, kecepatan dan ketahanan fisiknya berada di level yang sepenuhnya berbeda.
BOOM!
Ia melepaskan seluruh tekanan Qi racun ungunya, membentuk sebuah kubah kabut beracun raksasa berskala makro yang menyelimuti sisa pasukannya di langit. Ketika peluru Gauss menghantam kabut tersebut, gesekan kinetik yang teramat tinggi memicu ledakan kecil di udara, memperlambat trajektori peluru hingga akhirnya jatuh sebelum menembus pertahanan sang Leluhur.
[ Peringatan Taktis! Efektivitas Senapan Gauss V1 menurun hingga 72% akibat kepadatan energi Qi musuh. ]
[ Target Utama: Leluhur Sanca Suci. Ranah Kekuatan: Inti Emas Tahap Akhir (98% Kapasitas Terisi). ]
[ Probabilitas Kegagalan Pertahanan Tembok Jika Target Mendekat: 89%. ]
Ethan menatap visualisasi merah yang berkedip-kedip di kacamata sibernya. Napasnya agak berat, dan dadanya berdenyut nyeri karena meridiannya yang masih lumpuh memprotes ketegangan mental yang ia alami.
"Ethan, kabut itu bergerak mendekat. Racunnya bisa melelehkan batu tembok ini dalam hitungan menit," Mu Rong melangkah satu langkah ke depan Ethan, memegang gagang *Pedang Es Surgawi* dengan kedua tangannya. Sinar matanya menatap tajam ke arah Leluhur Sanca Suci yang sedang melesat turun dari langit seperti meteor ungu.
"Rong'er, serap energi dari formasi kota. Kita harus memaksa dia turun ke tanah," ucap Ethan, suaranya tetap datar namun ada nada urgensi di dalamnya. Ia mengetuk gawai di pergelangan tangannya, mengalihkan sisa 19.750 Poin Sistem miliknya untuk satu opsi pertahanan terakhir.
[ Mengaktifkan: Protokol Overdrive Formasi Elektromagnetik Kota. ]
[ Menyalurkan 15.000 Poin Sistem ke dalam Pedang Es Surgawi melalui Simpul Energi Terbuka. ]
[ Sisa Poin Sistem: 4.750 Poin. ]
SHIING!
Mendadak, sirkuit neon biru-emas yang tertanam di sepanjang dinding tembok kota menyala dengan teramat terang. Aliran energi elektromagnetik murni mengalir naik, berputar di sekeliling tubuh anggun Mu Rong dan terserap langsung ke dalam bilah pedang esnya.
Mata indah Mu Rong berkilat biru terang. Rasa percaya yang mendalam pada kalkulasi Ethan membuatnya tidak ragu sedikit pun untuk menjadi ujung tombak dari strategi pria itu.
"Seni Pedang Surgawi: Nol Mutlak!" Mu Rong berteriak, mengayunkan pedangnya ke arah langit.
Sebuah gelombang badai salju raksasa yang bercampur dengan partikel listrik frekuensi tinggi meledak dari pedang Mu Rong, melesat lurus menghantam awan racun ungu milik Leluhur Sanca Suci.
CRASHHH—!!!
Benturan dua kekuatan besar itu menciptakan pemandangan yang luar biasa di langit Kota Logam Hitam. Racun ungu yang korosif mencoba melelehkan es, sementara energi es elektromagnetik buatan Ethan berjuang keras untuk membekukan partikel Qi beracun tersebut.
"Ugh...!" Mu Rong menggeritkan giginya, setetes darah segar merembes dari sudut bibirnya yang indah. Perbedaan ranah antara dirinya (Ranah Pondasi Spiritual) dan sang Leluhur (Inti Emas Akhir) terlalu timpang. Meskipun dibantu oleh energi sistem Ethan, tubuh fisiknya mulai mengalami tekanan balik yang hebat.
Melihat Mu Rong yang mulai gemetar dan berdarah demi menahan serangan musuh, sesuatu di dalam dada Ethan bergejolak hebat. Rasa dingin yang biasa menguasai sistem logisnya mendadak terbakar oleh emosi murni yang asing bagi seorang Assassin profesional.
Ethan memaksakan dirinya untuk berdiri dari kursi roda mekanisnya. Sambil mencengkeram pegangan kursi roda dengan tangan yang gemetar akibat rasa sakit yang menusuk meridiannya, ia menatap punggung Mu Rong yang masih berdiri kokoh melindunginya.
"Sistem..." Ethan berbisik dalam hati, suaranya sedingin ruang hampa namun penuh dengan ketetapan hati yang mutlak. "Buka kunci darurat Exo-Suit. Biarkan kompartemen biologisku menanggung bebannya. Aku akan mengeksekusi target ini secara manual."