Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Suasana dapur yang diselimuti pendar lampu temaram itu mendadak terasa begitu sunyi dan menegangkan. Amara duduk dengan tubuh yang sedikit gemetar di atas meja marmer yang dingin, sementara Arlan berdiri kokoh di hadapannya, mengikis jarak di antara mereka hingga atmosfer di sekitar mereka terasa begitu padat. Dinginnya permukaan marmer yang menyentuh kulitnya terasa sangat kontras dengan kehangatan yang perlahan menjalar dari telapak tangan Arlan yang kini merengkuh pinggangnya, menyusup dengan lembut di balik helai pakaian tidurnya yang berbahan tipis.
"T-Tuan... kumohon, jangan di sini," bisik Amara lirih. Matanya yang berkaca-kaca menatap cemas ke arah kegelapan di luar pintu dapur, khawatir jika ada pelayan lain di kediaman itu yang terbangun.
Namun, Arlan seolah mengabaikan keraguan tersebut. Dengan gerakan yang perlahan namun pasti, jemarinya menurunkan kedua tali pakaian tidur Amara, membiarkan kain longgar itu melorot pasrah hingga batas pinggang. Detik itu juga, pesona keanggunan tubuh bagian atas Amara tersingkap di bawah cahaya lampu yang redup, sebuah pemandangan yang seketika membuat ritme napas Arlan menghebat.
"Tenanglah, Amara. Semakin kau gelisah, semakin kau membuatku ingin menyelami perasaanmu lebih dalam," bisik Arlan dengan nada berat yang memikat, penuh dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
Arlan memajukan tubuhnya, menyandarkan wajahnya pada ceruk leher dan pundak Amara yang tegap. Ia menghirup dalam-dalam aroma alami tubuh gadis itu yang berpadu dengan keharuman sabun yang lembut. Tanpa menunda lagi, kecupan-kecupan hangat mulai mendarat di sepanjang garis leher dan area sensitif Amara, memanjakan kulitnya dengan kelembutan yang menuntut, membuat debar dada sang gadis kian berpacu cepat.
"Nngghhh!" Amara terkesiap kecil, namun dengan sigap ia langsung menangkup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, berjuang sekuat tenaga untuk meredam desah yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Kehadiran Arlan di keheningan malam ini terasa jauh lebih berani dan penuh kuasa. Mungkin karena atmosfer malam yang senyap serta bayang-bayang risiko yang tinggi, adrenalin pria itu kian terpacu. Tangannya tidak tinggal diam; ia mendekap tubuh Amara erat-erat, sementara tangan kirinya bertumpu kokoh pada paha Amara, mengunci posisi gadis itu agar tetap berada dalam kuasanya di atas meja marmer.
"Ahhh... T-tuan... hhh..." Amara meracau samar di balik jemarinya. Sentuhan Arlan yang begitu intens menyalakan sensasi yang mengalir deras ke seluruh jaringan sarafnya bagai aliran listrik. Ketegangan yang memuncak membuat seluruh tubuhnya bergetar, terhanyut dalam luapan keintiman yang belum pernah ia pahami sebelumnya.
Arlan menjauhkan wajahnya sejenak, menatap paras Amara yang tampak begitu rapuh sekaligus menawan dalam kepasrahannya. "Kau tampak jauh lebih mengesankan saat sedang gugup seperti ini, Amara," gumam Arlan dengan suara bariton yang dalam.
Pria itu kembali mendekat, memberikan kecupan-kecupan hangat yang bertubi-tubi dengan ritme yang kian mengikat. Amara hanya bisa menyandarkan kepalanya pada dinding lemari dapur di belakangnya, merasakan debaran jantungnya yang kian tak beraturan setiap kali Arlan memperdalam afeksinya.
Di tengah kesunyian malam, hanya terdengar helaan napas mereka yang berat saling bersahutan. Amara merasa kesadarannya perlahan berputar; antara dinginnya marmer, hangatnya kecupan sang tuan, dan rasa bimbang yang kini perlahan runtuh oleh getaran asmara yang tak lagi mampu ia bendung.
"Kau milikku malam ini, Amara. Tidak ada orang lain... hanya ada aku dan dirimu di sini," bisik Arlan di sela sentuhannya, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya dalam kehangatan pesona Amara.
Arlan perlahan mengangkat wajahnya, menatap lekat-lekat wajah Amara yang sayu dengan binar mata yang redup dan helaian rambut yang sedikit berantakan. Sebuah senyuman penuh kendali tersungging di bibir tipisnya.
"Mau mencoba sesuatu yang lebih indah, hm?" tanya Arlan dengan suara serak yang sarat akan pesona.
Amara yang masih berusaha menata kembali napasnya yang memburu hanya bisa mengerutkan dahi. Pikirannya terasa buntu; dalam kepolosannya, ia tidak mampu membayangkan hal lain yang bisa menandingi getaran luar biasa yang baru saja menguasai dirinya. "S-sesuatu yang indah, Tuan? Maksudnya..."
Sebelum Amara sempat menyelesaikan kalimatnya, Arlan telah mengambil langkah pasti. Dengan gerakan yang sangat dominan namun tetap penuh kehati-hatian, kedua tangan kokoh Arlan menuntun posisi kaki Amara agar bergeser, memberikan ruang yang lebih terbuka di atas meja marmer tersebut. Amara terkesiap saat Arlan sedikit merendahkan tubuhnya, mensejajarkan pandangannya tepat di hadapan Amara yang kini hanya menyisakan pakaian bawah yang sederhana.
Arlan memejamkan mata sejenak, meresapi kedekatan mereka yang kian pekat dan intim. "T-Tuan... jangan... kumohon," bisik Amara lirih, tubuhnya kembali bergetar hebat oleh rasa sungkan dan jengah yang luar biasa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, Arlan seolah mengabaikan penolakan halus tersebut. Ia justru semakin merapat, merasakan kehangatan yang mengalir dari balik helai kain terakhir pelindung diri Amara, yang kini telah ikut menghangat akibat ketegangan malam yang kian memuncak.
Dengan satu gerakan yang tak terduga, Arlan menyingkirkan penghalang terakhir itu, melepaskannya hingga Amara merasa benar-benar tak berdaya dan terbuka sepenuhnya di hadapan sang tuan. Mata Amara membelalak, rona merah padam seketika menjalar dari wajah hingga ke lehernya. Ia mencoba merapatkan kembali kakinya, namun rengkuhan tangan Arlan laksana belenggu lembut yang tak tergoyahkan.
Arlan menatap lekat keindahan diri Amara yang kini terekspos sepenuhnya dengan intensitas yang membuat sang gadis ingin menyembunyikan wajahnya saat itu juga. Jemari panjang Arlan mulai bergerak perlahan, membelai lembut kulit sensitif di pangkal paha Amara, memberikan sentuhan-sentuhan ringan yang menenangkan sekaligus mendebarkan.
"Kau sangat alami, Amara... dan itu membuatku tidak bisa berpaling," ucap Arlan pelan, suaranya terdengar begitu bersungguh-sungguh saat jemarinya mulai menjelajah dengan penuh kelembutan.
Sentuhan jari Arlan di pusat kepekaan itu membuat Amara tersentak. Rasa hangat dan getaran yang luar biasa mulai menjalar dari sana, membuat tubuhnya tanpa sadar menggeliat pelan di atas meja. "Aahhh... T-Tuan... s-sungguh..." desah Amara tertahan, suaranya bergetar karena sensasi asing yang terasa begitu kuat sekaligus menggetarkan sukma.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, Amara. Biarkan aku yang menuntunmu," bisik Arlan. Ia menatap dalam-dalam ke lubuk mata Amara yang berkaca-kaca, mencari kepasrahan total dari gadis itu. "Kau memercayai aku, bukan?"
Amara, yang kini telah kehilangan logika jalannya dan sepenuhnya dikendalikan oleh getaran gairah yang membakar di dalam dada, perlahan mengangguk kecil. Ia seolah tersihir oleh tatapan gelap nan protektif dari sang tuan.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Arlan langsung menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah punggung dan lekuk lutut Amara. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh mungil Amara ke dalam gendongannya. Pakaian tidur Amara yang tersingkap menampilkan siluet lekuk tubuhnya yang indah dalam dekapan hangat Arlan.
Arlan melangkah lebar meninggalkan area dapur yang dingin dan sunyi, membawa gadis itu menuju kamar pribadinya di lantai atas—sebuah tempat di mana ia bisa memanjakan dan mendekap Amara sepenuhnya tanpa ada batasan lagi yang menghalangi.
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁