Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Dinding Sang Iblis
Lampu di dalam ruang istirahat pribadi Adrian berpendar temaram, menciptakan suasana yang kian sesak oleh aroma anyir darah dan alkohol pembersih luka. Adrian duduk di tepi tempat tidur berseprai abu-abu gelap, napasnya terdengar berat dan terputus-putus.
Tubuhnya yang kokoh kini bersandar pasrah pada tiang ranjang, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam rapat. Gurat-gurat urat di lehernya menonjol, menahan rasa perih yang teramat sangat.
Kirana bergerak dengan efisiensi yang menakjubkan. Sifat cerdas dan ketahanannya di bawah tekanan membuat gerakannya tidak canggung sama sekali. Ia meletakkan baskom perak berisi air hangat, beberapa gulung perban steril, antiseptik, dan sebotol cairan penghilang rasa sakit di atas meja nakas.
"Izinkan saya membuka kemeja Anda, Tuan Muda," bisik Kirana lembut. Suaranya tidak lagi menyiratkan nada menggoda yang manja, melainkan sebuah keteguhan yang menenangkan.
Adrian tidak menjawab, yang diartikan Kirana sebagai persetujuan tak tertulis.
Dengan jemari yang stabil namun sangat hati-hati, Kirana mulai membuka satu per satu kancing kemeja hitam Adrian yang telah basah dan lengket oleh darah. Ketika kain itu tersingkap, Kirana menahan napas sejenak. Luka tembak akibat serempetan peluru di bahu kanan Adrian terlihat menganga merah, sementara di rusuk kirinya, sebuah sayatan panjang akibat bilah pisau masih terus merembeskan darah segar.
Kirana mengambil kain bersih, memerasnya di air hangat, lalu mulai menyeka darah yang mengalir di dada dan perut Adrian yang berotot. Setiap kali kain hangat itu menyentuh kulitnya, tubuh Adrian menegang, dan cengkeraman tangannya pada seprai kasur semakin mengerat hingga kainnya berkerut parah.
"Jika sakit, Anda boleh mencengkeram tangan saya, Adrian," ucap Kirana lirih, menatap wajah tampan yang kini dipenuhi peluh dingin itu.
Adrian membuka matanya perlahan. Manis mata hitamnya yang sayu namun tetap tajam mengunci pandangan Kirana. "Aku sudah terbiasa dengan yang lebih buruk dari ini, Pelayan. Jangan meremehkan aku."
Kirana justru tersenyum kecil, kilatan nakal yang menjadi ciri khasnya kembali muncul sedikit demi sedikit di matanya. "Saya tidak pernah meremehkan Anda, Tuan Muda. Saya hanya... tidak tega melihat dada bidang yang sangat saya sukai ini dipenuhi lubang dan sayatan. Ini merusak pemandangan indah saya."
Mendengar kelancangan Kirana di tengah situasi kritis seperti ini, Adrian mendengus pelan. Kedutan kecil muncul di sudut bibirnya sebelum ia kembali meringis saat Kirana menuangkan cairan antiseptik tepat di atas luka sayatannya.
"Kau... benar-benar wanita gila," desis Adrian, giginya gemertak menahan perih yang membakar kulitnya.
"Ya, saya gila karena Anda, Tuan Muda," balas Kirana tanpa ragu sambil dengan cekatan mulai membalut luka di rusuk Adrian dengan perban steril. Gerakannya cepat dan presisi, memastikan balutan itu cukup kuat untuk menghentikan pendarahan namun tidak terlalu ketat hingga menyiksa napas sang majikan.
Tepat saat Kirana selesai mengikat perban terakhir di bahu Adrian, pintu kamar terbuka perlahan. Dokter keluarga Arseto—seorang pria paruh baya berambut beruban dengan tas medis lengkap—melangkah masuk bersama Hendra.
Dokter itu segera memeriksa hasil kerja Kirana. Ia menaikkan alisnya sejenak, tampak terkesan dengan pertolongan pertama yang diberikan oleh sang gadis pelayan. "Balutan yang sangat rapi dan efisien untuk ukuran orang awam. Ini menyelamatkan Tuan Muda dari kehilangan terlalu banyak darah."
Kirana membungkuk hormat, lalu melangkah mundur ke sudut ruangan, memberikan ruang bagi dokter untuk menjahit sisa luka yang lebih dalam. Matanya tidak pernah lepas dari Adrian, merekam setiap detail ketegaran pria itu ke dalam lubuk hatinya.