Hidup adalah perjuangan, begitupun dengan cinta. Khanaya
Jika Cinta kita berakhir, maka berjuanglah untuk memulai semuanya dari awal lagi. Adrian
Sepasang kekasih yang menjalani hubungan mereka dengan suka cita. Namun semuanya harus terhalang oleh masa lalu si pria yang membuat Dia harus meninggalkan kekasihnya.
Namun, siapa sangka kesalah fahaman semakin terjadi saat si pria berada jauh dari pemilik hatinya. Kesalah fahaman ini membuat cinta mereka berakhir. Sampai suatu saat mereka di pertemukan kembali dan memulai semuanya dari awal lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Setelah makan siang, Adrian membawa Naya ke rumahnya untuk bertemu dengan keluarganga. Sudah lama juga Naya tidak main ke rumah pacarnya ini.
Naya yang memang sudah kenal dengan anggota keluarga Adrian sehingga kedatangan Naya begitu di sambut hangat oleh keluarganya.
Apalagi adik adik Adrian yang memang sangat dekat dengan Khanaya. Mereka mengobrol dengan penuh canda tawa. Maria yang melihat interaksi anak anaknya dengan gadis manis itu tersenyum bahagia.
Semoga kamu benar benar bisa menjadi menantuku Naya.
Itulah harapan Maria selama ini, melihat sikap Naya yang begitu raman, sopan dan juga lemah lembut membuat Maria langsung menyukai gadis itu.
"Bu, sedang apa disini?" Adrian yang baru saja datang dari kamarnya setelah membersihkan diri. Dia melihat Ibunya sedang berdiri di ambang pintu menuju halaman rumah.
"Ibu senang melihat mereka yang terlihat begitu akrab" kata Maria tanpa melepaskan pandangan nya pada kedua anaknya juga Naya.
Adrian tersenyum "Naya memang orangnya supel dan menyenangkan Bu. Makanya aku sangat nyaman bersama dengan Dia"
Maria menoleh dan menepuk bahu Adrian "Ibu sangat berharap kalau kalian akan berjodoh dan menikah suatu saat nanti. Jangan pernah mengecewakan gadis baik seperti Dia, Naya sudah tidak punya siapa siapa lagi. Kau jangan menambah Dia menderita dengan membuatnya kecewa"
"Ibu tenang saja, apapun yang terjadi Naya hanya akan menikah denganku" bukan sebuah janji namun sebuah peringatan kalau Khanaya hanya miliknya apapun yang terjadi suatu saat nanti.
"Bu, Naya pulang dulu ya" pamit Naya setelah cukup lama berada di rumah itu
"Loh kenapa buru buru Nay? Gak mau nginep aja?"tanya Maria
Naya menggeleng "Lain kali saja Bu, sekarang Naya harus pulang"
Maria mengelus kepala Khanaya "Baiklah, sering sering kesini ya biar Andin dan Mera tidak berantem terus. Kalau ada kamu pasti terasa damai ni rumah. Hehe"
Khanaya tersenyum "Kalo gitu Naya pamit ya, Bu, Ayah dan Andin, Mera"
"Kapan kapan nginep aja disini Kak" kata Amera
"Iya Kak. Ohya, kalau sampe Abang macem macem sama Kakak, tinggalin aja Kak gak udah di kasih ampun" kata Andin
Adrian mendelik tajam pada adiknya itu "Kalau ngomong tuh di jaga"
"Yeee.. Ini juga di jaga kok, Gue itu ngomongin fakta. Siapa tahu suatu saat nanti Abang bakalan ninggalin Kak Naya. Dan kalau sampe itu terjadi, jangan harap Kak Naya bakal Gue izinin balikan lagi sama Abang" kata Andin
"Siapa juga yang bakal ninggalin calon Kakak Ipar kamu ini. Asal kamu tahu ya, banyak wanita cantik yang deketin Abang. Tapi hati Abang sudah terkunci untuk satu orang, yaitu Kak Naya" kata Adrian
Khanaya tersenyum malu, sungguh hatinya begitu bahagia mendengar ucapan pacarnya. Tapi, entah kenapa Naya juga sedikit takut jika suatu saat Adrian akan meninggalkan nya seperti yang di katakan Andin.
Naya sudan terlanjur nyaman dan mencintai Adrian. Tidak kebayang bagaimana hidupnya jika Adrian benar benar meninggalkannya suatu saat nanti. Naya tidak akan sanggup.
"Udah sana anterin Naya, jangan menggombal terus. Laki laki sejati itu jangan banyak ngumbar janji. Tapi buktikan kalau apa yang kamu ucapkan bisa kamu buktikan" kata Deni
"Iya, jangan cuma ngomong doang" cibir Andin
"Kita pulang sekarang Nay" Adrian menggandeng tangan Naya dan menariknya
"Ibu, Ayah semuanya Naya pamit ya" kata Naya saat tangannya terus di tarik oleh Adrian
"Anak itu, kalau sudah terpojok pasti kaya gitu. Kabur" kata Maria seraya menggelengkan kepalanya
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
"Lihatlah, beruntung sekali Dia bisa mendapatkan Kak Adrian"
"Iya, padahal di lihat dari manapun masih cantikan aku kalii"
"Atau Kak Adrian itu meningan sama Kak Leona aja. Dia kan cantik, kaya lagi cocoklah sama Kak Adrian"
Telinga Naya sudah terbiasa mendengar bisik bisikan seperti itu. Para siswi yang menggemari Adrian adalah tantangan tersendiri untuk hubungan mereka. Namun tak bisa di pungkiri kalau Dia juga merasa sakit saat mendengar semua itu.
Khanaya bukanlah gadis yang kuat seperti kelihatan banyak orang. Nyatanya Dia sangat rapuh dan lemah, Naya hanya anak yatim piatu yang tidak punya tempat perlindungan selain Tuhan.
Dengan wajah bulat yang sedikit chubby, mata yang bulat, hidung mungil dengan tinggi badan yang hanya sebahu Adrian. Di tambah lagi dengan tubuhnya yang sedikit berisi membuat Naya semakin insecure jika berada di dekat Adrian.
Adrian sudah tersenyum di lorong sekolah, tadi Dia keluar lebih dulu karna Adrian ingin pergi ke toilet dulu. Naya hanya tersenyum di paksakan, omongan para siswi tadi berhasil membuat moodnya hancur.
"Kenapa lagi?"tanya Adrian yang menyadari perubahan Naya
Khanaya menggeleng lemah "Gak papa, ayo ke kantin"
Adrian menghela nafas, sudah terbiasa dengan sikap pacarnya ini. Adrian tahu ada yang mengganggu fikiran Naya sehingga moodnya langsung berubah. Tapi jika di tanya kenapa, pasti Naya akan mengalihkan pembicaraan seperti saat ini.
"Kenapa?" Adrian meraih kedua tangan Khanaya dan memandang mata bulat milik kekasihnya ini.
Naya kembali menggeleng dengan wajah menunduk "Naya gak papa Adrian"
"Aku gak percaya" tegas Adrian "Lihat mataku Naya"
Kanaya mendongakan wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap mata kekasihnya itu.
"Kita putus aja Adrian"
Mungkin sudah berapa kali Naya mengatakan itu. Dia selalu merasa tidak pantas untuk Adrian, apalagi mendengar omongan omongan satu sekolah yang selalu menghujat dirinya.
Namun, bodohnya Naya tidak pernah mau cerita pada Adrian tentang para murid yang selalu menghujatnya di belakang Adrian.
"Sudahlah Naya, aku malas membahas ini. Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah dengerin omongan orang lain. Kita yang menjalani hidup ini, bahagia dan tidaknya, kita yang merasakan. Bukan mereka " tegas Adrian
Naya menunduk "Tapi aku emang gak pantes jadi pacar kamu Rian. Kamu terlalu sempurna untuk aku yang tidak ada apa apanya ini"
"Hey, lihat mata aku!!" Adrian meraih dagu Naya dan mengangkat wajahnya
"Aku tidak sempurna Naya, aku juga manusia biasa. Dimana letak sempurnaku? Bahkan aku saja sangat lemah dalam pelajaran, berbeda dengan kamu yang begitu pintar. Tuhan menciptakan kita untuk saling melengkapi. Kamu mengertikan maksudku?" kata Adrian lembut menatap kedua mata bulat Naya
Khanaya mengangguk "Iya"
"Mulai sekarang berhentilah mendengar omongan orang lain. Hanya fokus pada hubungan kita dan hidup kita. Aku janji tidak akan ninggalin Naya apapun yang terjadi" kata Adrian lalu mengecup kening Naya dengan penuh kasih sayang
Naya mengangguk " Ya udah, sekarang kita ke kantin aja"
Adrian mengangguk, mereka berjalan ke arah kantin dengan bergandengan tangan. Tentu saja itu membuat para siswi yang melihatnya menatap remeh pada Naya.
Adrian tentu tahu kalau pacarnya ini merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Tapi Adrian juga tidak bisa berbuat apa apa. Dia juga tidak mungkin melarang seseorang untuk mempunyai rasa kagum padanya.
Jika masih di batas wajar, Adrian masih bisa diam dan menyikapinys dengan tenang. Tapi, jika sudah melewati batasan nya jangan harap ada ampun untuk mereka.
Adrian yang suka pecicilan dan juga terkenal dengan kenakalan nya. Dia bukan berarti tidak bisa marah saat wanita yang di cintai nya merasa terusik.
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
Adrian pulang ke rumah setelah tadi mengantar lebih dulu Naya ke tempat tinggalnya. Saat sampai di pekarangan rumah, Adrian melihat ada sebuah mobil mewah yang jelas pemiliknya pasti orang kaya.
Kenapa ada mobil mewah disini? Apa mungkin bos nya Ayah?
Adrian berjalan masuk ke dalam rumah, di sana terlihat suasana yang cukup tegang. Dimana Maria berada di pelukan Andin dan Mera. Semantara di depan mereka tengah duduk seorang pria berjas hitam.
"Bu" Adrian berajalan mendekat ke arah Ibunya.
Maria mendongakan wajahnya, Dia menatap Adrian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Adrian sudah pulang? Segera mandi Nak" kata Maria tersenyum, namun senyuman yang berbeda dari biasanya.
Tanpa mau membantah meski hatinya juga merasa ada yang tidak beres disini. Adrian mengangguk lalu pergi menuju kamarnya.
Setelah memastikan Adrian pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Maria menegakan tubuhnya, sementara Andin juga masih bingung dengan apa yang sedang terjadi ini.
"Ndin, lebih baik kamu pergi ke kamar adikmu. Ibu ingin bicara dulu dengan Paman" kata Maria
Andin yang cukup mengerti dengan situasi yang sedang terjadi pun langsung menurut tanpa membantah atau banyak tanya.
"Jadi apa yang ingin anda sampaikan?" Masih teringat jelas di ingatan Maria wajah pria yang berada di depannya ini.
"Saya hanya di suruh Tuan untuk menjemput anaknya" singkat, padat, dan jelas. Tanpa ada basa basi lagi yang keluar dari mulut pria itu.
"Dia anaku, sampai kapan pun Dia hanya akan tinggal disini bersamaku" kata Maria dengan penuh penekanan
Anak? Siapa yang di maksud pria itu?
Bersambung
ku tunggu karya slanjutnya kak😉
thank kaka akhirnya happy ending ,