Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
Sarah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia berdiri bersandar pada kayu jati itu, memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang sempat memburu. Di dalam dadanya, amarah yang begitu besar mendidih, bergumul dengan rasa kecewa yang luar biasa. Dia ingin sekali berteriak, mengonfrontasi Ardi, dan memaki Ibu Widya serta Rika sampai mereka sadar diri.
Namun, logika Sarah yang dingin kembali mengambil alih.
“Belum saatnya,” bisik Sarah pada dirinya sendiri di depan cermin rias. Dia menatap pantulan wajahnya. Merah di matanya mulai memudar. Dia menepuk-nepuk pipinya perlahan, memaksa guratan luka itu hilang dan menggantinya dengan raut wajah datar tanpa emosi—topeng terbaiknya selama lima tahun ini.
Jika dia meledak sekarang, Ardi hanya akan menganggapnya sebagai istri pencemburu yang histeris. Dia ingin Ardi jatuh sejatuh-jatuhnya tanpa sempat menyadari dari mana arah angin yang meruntuhkan hidupnya. Sarah memutuskan untuk tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dia akan menjadi penonton yang manis di barisan paling depan untuk menyaksikan kehancuran suaminya.
Sementara itu, di kantor, Ardi benar-benar berada di ambang kegilaan. Jarum jam sudah menunjuk angka delapan malam, namun dia masih setia memandangi layar laptopnya yang menampilkan grafik keuangan perusahaannya yang menukik tajam.
Tok, tok.
Pintu ruang kerja Ardi diketuk perlahan. Tyas masuk dengan membawakan secangkir teh hangat. Blazer kerjanya sudah disampirkan di kursi, menyisakan blus satinnya yang tampak sedikit kusut. Wajahnya dipasang seramah dan selembut mungkin.
"Mas Ardi... sudah jam segini. Jangan terlalu dipaksakan. Aku khawatir kamu sakit," ucap Tyas dengan nada suara yang sangat manja namun penuh perhatian. Dia berjalan mendekat, berdiri tepat di samping kursi kebesaran Ardi.
Ardi mengembuskan napas frustrasi, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Semua bank menutup pintu, Tyas. Proyek Jakarta itu... kalau dalam tiga hari tidak ada dana jaminan baru yang masuk, kita resmi dinyatakan wanprestasi. Aku bisa bangkrut. Gengsi keluargaku, nama baikku... semuanya akan hancur."
Tyas menatap Ardi yang sedang berada di titik terlemahnya. Di dalam kepala Tyas, insting oportunisnya bekerja cepat. Laki-laki di depannya ini sedang kalut, butuh pegangan, dan sangat rapuh. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengikat Ardi lebih dalam.
"Mas... kamu tidak sendirian," bisik Tyas lembut. Dia membungkuk sedikit, mengusap bahu Ardi yang tegang. "Ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkan kamu, sekalipun dunia kamu sedang runtuh."
Aroma parfum vanila dari tubuh Tyas kembali menguar, memenuhi indra penciuman Ardi. Di tengah kepalanya yang berisik oleh angka-angka utang dan bayang-bayang kebangkrutan, sentuhan lembut Tyas terasa seperti candu yang menenangkan. Pikiran sehat Ardi mendadak tumpul oleh rasa frustrasi yang luar biasa. Dia butuh pelarian. Dia butuh merasa diinginkan dan diakui sebagai laki-laki sukses, sesuatu yang tidak dia dapatkan dari Sarah akhir-akhir ini.
Ardi mendongak, menatap mata Tyas yang teduh namun menyimpan perangkap. Tanpa berpikir panjang, Ardi meraih tangan Tyas yang ada di bahunya, menarik wanita itu perlahan ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Tyas... terima kasih karena selalu ada untukku," gumam Ardi serak.
Tyas tersenyum kemenangan di balik pundak Ardi. Dia membalas pelukan itu dengan erat, dan malam itu, di dalam ruang kantor yang remang-remang, Ardi melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Di bawah tekanan stres dan kekalutan yang mendalam, dia melewati batas profesionalitasnya dan resmi memulai hubungan gelap dengan sekretarisnya sendiri.
Hampir tengah malam saat Ardi akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya. Langkah kakinya terasa berat, dipenuhi rasa bersalah yang mendadak menyerang hatinya setelah akal sehatnya kembali.
Namun, begitu dia melewati ruang tengah, dia mendapati Sarah sedang duduk santai di meja makan sambil membaca sebuah buku. Tidak ada raut wajah marah, tidak ada air mata, bahkan tidak ada pertanyaan interogatif seperti yang Ardi takuti sejak di jalan tadi.
Sarah mendongak, menatap suaminya dengan pandangan yang teramat biasa. "Baru pulang, Mas? Mau dibuatkan teh?" tanya Sarah santai, suaranya terdengar sangat natural, seolah-olah dia tidak pernah melihat adegan mesra di Restoran Melati siang tadi.
Ardi tertegun di tempatnya berdiri, menelan ludah dengan susah payah. Sikap tenang Sarah justru membuatnya merasa semakin bersalah dan anehnya, sedikit bingung.
"T-tidak usah, Sarah. Aku langsung ke kamar saja, mau mandi," jawab Ardi gugup, buru-buru melangkah naik ke lantai atas tanpa berani menatap mata istrinya lebih lama.
Sarah menatap punggung Ardi yang menjauh dengan tatapan yang berangsur-angsur mendingin. Dia menutup bukunya perlahan.
"Mandi yang bersih, Ardi," bisik Sarah pada kesunyian malam. "Karena bahkan air mengalir paling bersih sekalipun tidak akan bisa menghapus bau pengkhianatan yang baru saja kamu bawa pulang."