Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 2
"O... To... ma!" teriak Cantika lagi dengan suaranya yang tidak jelas, khas anak yang sedang menjalani terapi bicara. Suaranya yang cukup keras menggema di antara rak-rak supermarket, menarik perhatian beberapa pengunjung lain dan tentunya keluarga sang mertua.. Aulia panik.
"Cantika, jangan berlari, Sayang!" serunya sambil bergegas mengejar.
Mendengar teriakan Cantika, ibu dan ayah Galang spontan menoleh. Kakak dan adik ipar Galang pun ikut membalikkan badan. Mata mereka sempat saling bertumpu dengan mata Cantika, lalu beralih menatap Aulia yang sedang berlari mendekat.
Namun, bukannya menyambut sang cucu dengan pelukan, ekspresi wajah mereka langsung berubah drastis. Ada kilat rasa malu, risih, dan penolakan yang begitu nyata di wajah mertua Aulia. Apalagi beberapa pengunjung melihat ke arah mereka semua.
Alih-alih menyahut, ibu Galang dengan cepat membalikkan badannya kembali membelakangi Cantika. Dia menyenggol lengan suaminya, berbisik tergesa-gesa. Detik berikutnya, seluruh keluarga besar Galang dengan sengaja memalingkan wajah. Mereka mendorong troli belanjaan mereka menjauh dengan langkah cepat, berpura-pura sibuk memeriksa buah-buahan di sisi lain, seolah-olah Cantika dan Aulia adalah orang asing atau lebih buruk, sebuah aib yang tidak boleh disentuh.
Cantika menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di belakang punggung kakek dan neneknya. Tangan mungilnya yang tadi terulur ingin memeluk, perlahan turun. Senyum cerianya surut, digantikan oleh raut kebingungan yang teramat polos.
"Kaeee... ma... Tooo...?" cicit Cantika lirih. Dia menoleh ke belakang, menatap Aulia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maaa... Kaeeee, Maaa... Tooo... Taa, naaaTaaaalll... hiksss?" (Mama, kakek dan Oma pergi karena Cantika Nakal ya?)
Aulia yang menyaksikan seluruh kejadian itu merasa seolah jantungnya dihantam godam besar. Rasa sakitnya melebihi saat dia dimarahi oleh Galang. Melihat putri kecilnya yang tak berdosa ditolak secara terang-terangan oleh darah dagingnya sendiri di tempat umum, membuat darah Aulia mendidih.
Aulia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Cantika. Dia membawa tubuh mungil yang mulai bergetar itu ke dalam dekapannya. Aulia menatap tajam ke arah punggung-punggung keluarga suaminya yang kian menjauh. Punggung-punggung yang membatu, yang tega membuang muka dari seorang anak berusia enam tahun.
Cukup, bisik Aulia dalam hati. Cukup Galang dan keluarganya menganggap anakku sebagai aib.
"Tidak kok sayang, Cantika tidak nakal. Mungkin Kakek, Oma dan yang lainnya sedang buru-buru sehingga mereka tidak melihat Cantika. Sudah ya jangan menangis lagi, nanti es krimnya malah mencair," Aulia mencoba membujuk anak perempuannya.
"Kita pulang ya, Sayang," bisik Aulia dengan suara yang bergetar menahan amarah yang teramat sangat.
Cantika mengangguk pelan dalam pelukan ibunya. Dia menyeka air matanya sendiri dengan punggung tangan, lalu berusaha tersenyum demi menuruti ucapan sang mama. Namun, binar ceria di matanya yang bulat itu telah redup, digantikan oleh kedewasaan prematur yang dipaksakan oleh keadaan.
Aulia segera menuntun Cantika menuju kasir es krim, membayar dengan tangan yang gemetar menahan gejolak emosi, lalu bergegas pergi dari supermarket itu. Sepanjang perjalanan pulang di atas motor, angin siang yang terik tak mampu menghangatkan hati Aulia yang terlanjur membeku. Di punggungnya, tangan mungil Cantika memeluknya erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempatnya bersandar.
Sesampainya di rumah, keheningan yang sama kembali menyambut mereka. Rumah sederhana yang masih mereka cicil dari gaji Galang setelah Aulia melahirkan itu terasa dingin, lebih dingin dari kulkas. Tak ada kehangatan seperti enam tahun sebelumnya. Rumah yang mereka isi dengan tawa canda dan juga mimpi masa depan kini terasa bagai penjara bagi Aulia. Apalagi Galang yang semakin terang-terangan bersikap dingin dan menghindari komunikasi atau kontak dengan Cantika.
Aulia menemani Cantika menghabiskan es krimnya di ruang tengah. Dia memandangi putrinya yang makan dengan tenang, sesekali jemari mungil itu menunjuk ke arah gambar berpita merah yang mendapat nilai A dari gurunya tadi.
"Maaa... ni... Taa... gam... bar... Ma... ma... am... Taa..." (Mama, ini Cantika gambar Mama sama Cantika...) ucap Cantika terbata, menunjuk dua figur manusia di atas kertas yang saling bergandengan tangan. Tidak ada figur ayah di sana. Hati Aulia terasa sakit, bahkan anak sekecil Cantika yang seharusnya mendapatkan kasih sayang penuh dari sosok Ayah dalam keadaannya seprti ini malah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari cinta pertama dan keluarganya.
"Iya sayang, ini bagus sekali! Anak mama memang sangat hebat, Suatu hari kalau Cantika sudah besar, Cantika bisa menjadi pelukis yang hebat..." Puji Aulia sambil menysap lembut kepala Cantika.
Malam kian larut, Aulia memang sengaja belum tidur. Selain karena memang menunggu Galang, dia juga sedang bekerja online di laptop lama miliknya. Selama lebih dari satu tahun terakhir, Aulia aktif menulis online di beberapa platform. Dan Galang tak tahu akan hal itu, karena Aulia mengerjakan pekerjaannya di sela-sela waktu luangnya. Dan dari sana juga dia mendapatkan penghasilan yang dia tabung di rekeningnya.
Awalnya Aulia ingin mengatakan kepda Galang kalau dia juga berpenghasilan dan bisa membantu keuangan mereka. Namun, melihat sikap Galang semakin kasar kepada Cantika membuat Aulia mengurungkan niatnya. Dan mungkin tabungan dari hasil menulis online ini bisa berguna untuk hidupnya dan cantika kelak.
Jam dinding telah berdentang menunjukkan pukul sepuluh malam. Cantika sudah terlelap di kamarnya, kelelahan setelah seharian menahan luapan emosi yang belum mampu dicerna oleh benak kecilnya. Aulia duduk diam di sofa ruang tengah yang remang-remang dan baru menutup laptopnya. Namun ketika dia akan beranjak, pintu rumah terdenagr di dorong cukup keras.
Brak!
Pintu depan dibuka dengan kasar. Galang melangkah masuk, namun kali ini raut wajahnya tidak hanya sekadar lelah, melainkan merah padam oleh amarah yang tertahan. Begitu matanya menangkap sosok Aulia yang duduk di sofa, Galang langsung melempar tas kerjanya ke lantai hingga menimbulkan suara debuman keras.
"Baguslah kamu belum belum tidur. Apa yang sudah kamu lakukan kepada keluargaku?"
Aulia mengernyitkan dahi, bangkit berdiri.
"Apa maksudmu, Mas? Baru pulang kerja langsung marah-marah tidak jelas? Aku bahkan tak melakukan apapun kepada keluargamu itu!"
"Tidak jelas kamu bilang?!" Galang melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dan menatap Aulia dengan pandangan menghakimi.
"Ibu meneleponku sambil menangis tadi sore! Kamu sengaja, kan, mempermalukan keluargaku di supermarket tadi siang?!"
Aulia tertegun sejenak, lalu sebuah tawa hambar dan getir lolos dari bibirnya. Jadi, mertuanya sudah mengadu duluan? Dan memutarbalikkan fakta?
"Aku? Mempermalukan keluargamu?" tanya Aulia dengan suara bergetar, menahan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun.
"Apa yang Ibu katakan padamu kali ini, Mas?"
"Ibu bilang, kamu sengaja membiarkan Cantika berteriak-teriak histeris di tempat umum supaya semua pengunjung supermarket melihat ke arah mereka! Kamu sengaja membuat Ibu dan Ayah jadi bahan tontonan dan bisik-bisik orang karena punya cucu yang... yang cacat bicara seperti itu! Ibu sampai syok dan tensinya naik begitu pulang ke rumah!" Galang menudingkan jarinya tepat di depan wajah Aulia.
"Kamu itu kalau tidak bisa mendidik anak dengan benar, minimal jangan bawa dia ke tempat umum dan bikin malu nama baik keluargaku, Aulia!"
Plaaaakkk