"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok perempuan penerima pelet
"Eungh... ayahanda.. apa Rani baik baik saja?" tanya Argadana setelah dia sadar.
"Cukup, kalian tidak boleh lagi ikut campur urusan orang lain selain Dimas dan Kania, Ayahanda tidak akan membiarkan kalian berurusan lagi dengan Iblis itu! lihat tubuh kalian terluka dan Ibunda kalian tidak tidur sejak dua hari hanya demi menunggu kalian sadar!" jawab Gandra tegas.
Argadana dan Anggadana sudah dua hari di kerajaan Gandradana dan dalam keadaan tidak sadarkan diri untuk memulihkan energi mereka. Sahara tidak tidur bahkan tidak ke dunia manusia karena dia khawatir kedua anaknya itu kenapa napa.
"Tapi ayahanda, kami ke sana untuk menolong papa juga supaya keluarga kita tidak di ganggu Iblis itu" protes Anggadana yang sudah sadar lebih dulu.
"Tidak, biar kami yang mengurus mahluk itu dan kalian tetap di tubuh Dimas juga Kania, jangan membantah ayahanda lagi!" perintah Gandra
"Iya kakak, kalian urus urusan kalian, selama Iblis itu tidak melukai papa Dimas dan mama Kania secara langsung, kalian jangan maju karena ilmu kalian akan berkurang" ucap Amartha
"Tapi adik, saat itu begitu bahaya, sarung dan peci Om Dirga ada di kamar yang kita tidak tahu, kami harus mengambilnya kalau tidak pasti akan terjadi sesuatu yang buruk padanya, baunya sudah sama seperti sosok yang mendiami danau leled samak" jawab Argadana
"Ceritakan apa saja yang terjadi?" tanya Gandra sementara Sahara langsung menyuapi anaknya itu rendang yang di kirim Dimas tadi pagi ke kerajaan Gandradana karena dia juga khawatir dengan kedua anak angkatnya itu.
"Kami ke sana saat kutu meninggal ayahanda, dia di bakar si Luca dan sebelum di bakar dia membuat sebuah lubang kecil supaya kami bisa masuk ke dalam pagar gaib Iblis itu" jawab Anggadana sambil sesekali mengunyah dan bercerita bergantian dengan Argadana karena Sahara terus menyuapi mereka.
Keduanya menceritakan bagaimana Hatta sudah di jampi jampi oleh Radini dan di minta untuk menyimpan kain putih dan abu dari para jasad mayat hidup yang pernah di bakar warga, itu supaya Roman dan Rani bisa tunduk juga pada mereka, tapi keduanya juga mengatakan kalau kamar itu sudah mereka bersihkan, tapi saat mereka akan mengambil barang milik Dirga, mereka ketahuan Radiah dan Luca yang langsung menyerang mereka.
"Untung Arga lihat Om Ireng lewat Ibunda, langsung Arga panggil supaya menolong kita" ungkap Anggadana.
Tak.
"Sudah terluka masih saja untung, kamu tahu tidak ibunda itu khawatir, Ibunda sampai tidak perawatan rambut, wajah Ibunda juga kusam dan lihat rambut Ibunda jadi tambah panjang karena Ibunda tidak ke salon!" gerutu Sahara membuat semuanya terkekeh dan langsung memeluk Sahara karena gemas.
"Kamu tetap cantik ratuku, kamu juga ibu terbaik" ungkap Gandra
"Hihihihi... sekarang Sahara sudah bisa tertawa lagi, Sahara sudah tidak sedih lagi hiks... Sahara bahagia karena anak anak Sahara sehat" ungkap Sahara memeluk suaminya itu dengan penuh haru.
"Kami juga merindukan Ibunda, maafkan kami karena sudah membuat kalian khawatir, tapi kanapa kami bisa pulih dengan cepat?" tanya Argadana karena lukanya begitu parah.
"Dimas dan Kania memberikan darahnya untuk kalian, bahkan setiap hari dia mengantarkan makanan untuk Sahara dan kalian" jawab Gandra karena Sahara dan anak anaknya memang sudah terbiasa dengan makanan manusia.
"Pantas saja kami cepat pulih, kalau tidak di bantu darah papa dan mama, mungkin kami akan tertidur sampai satu bulan" ungkap Anggadana.
Argadana sedikit murung, dia khawatir pada keadaan Rani dan Roman, jadi Amartha yang mengetahui kekhawatiran kakaknya langsung mengusap mata Argadana, memperlihatkan bagaimana kondisi Rani saat di dalam kamar ataupun rumah Radini.
"Dia aman" ucap Amartha
"Ko kamu bisa melihat mereka?" tanya Argadana terkejut
"Ari Ari kedua kakak Rani sudah di serahkan pada kami untuk memperkuat senjata yang kita buat, dan sebagai ganti perlindungan dari kami, aku memberikan dia jariku untuk Rani dan menggabungkan energiku dengan energi Ari Ari kakak Rani, supaya tetap bisa melindungi Rani dan Om Roman" jawab Amartha memperlihatkan dua telunjuknya yang sudah hilang.
"Tapi adik, kamu jadi tidak punya jari telunjuk" ucap Anggadana khawatir
"Tidak apa apa, aku masih punya jari lain untuk ngupil" jawab Amartha dan Gandra hanya tersenyum saja karena Amartha sudah melakukan banyak hal untuk kebahagiaan Sahara juga dua kakaknya itu, dia menggantikan Sahara di kerajaan dan menjadi ratu menggantikan Gandra karena dua kakaknya tidak mau jadi raja di kerajaan itu.
"Amartha memang anak ibunda yang paling baik dan paling kuat" ungkap Sahara
"Iya lah, minumnya saja susu segalon tidak mau di dot" ucap Argadana
"Opa Bintang sampai pusing pas Amartha mau susu, sibuk cari susu sapi terbaik dan pesan tiga galon sehari" ucap Anggadana
"Makanya Amartha cepat besar tidak seperti Abang yang malah mirip anak remaja padahal sudah tua" ledek Amartha yang memang sudah mirip perempuan usia tujuh belas tahun sementara kedua kakaknya mirip anak remaja enam belas tahun meskipun usia mereka sudah hampir sama dengan Dirga, tiga puluh tahun lebih.
"Kami kan tinggal di bumi" jawab keduanya
"Memangnya Amar tinggal di mars" gerutu Amartha
•••••••••••••
Di rumah Bintang.
"Alhamdulillah, akhirnya dua anak itu sudah sadar" ungkap Bintang yang di beritahu salah satu pasukan Gandra.
"Dimas juga merasa lega pa" ungkap Dimas.
"Tapi apa maksudnya tadi tentang sarung yang harus di bakar dan peci yang di pakaikan ke orang lain?" tanya Dirga karena selain pesan kalau kedua anak Sahara sudah sadar, pasukan Gandra juga mengatakan kalau sarung Dirga harus di bakar dan peci Dirga yang di ambil Radini harus di berikan pada orang lain.
"Nenek sudah menemui Gandra tadi, katanya Dirga itu bukan di pelet untuk di pasangkan dengan Kenanga, tapi dengan Khanza, itu di lakukan Radini supaya Dirga terus merasa bahagia di samping Khanza dan terus memimpikan Khanza, terbukti kan beberapa hari ini kamu sering mengantar Khanza ke kampus bahkan menjemput dia pulang" ungkap Rukmini
"Tapi Dirga tidak merasa terpelet nek" ungkap Dirga.
"Itu karena sarungnya sudah di ambil Argadana dan Anggadana, jadi tidak berpengaruh lagi" jawab Rukmini sedikit tersenyum pada Bintang karena dia dan Bintang punya pemikiran yang sama, Dirga sudah menyukai Khanza sejak lama.
"Langsung bakar saja kalau begitu sarungnya, katanya ada bau dari mahluk danau leled samak dalam sarung itu dan pecinya di berikan supaya efeknya tidak membuat Dirga terus bermimpi tentang perempuan" ungkap Dimas
"Iya kak, bakar saja soalnya Dirga terganggu dengan mimpi itu, untung saja Khanza tarik tangan Dirga jadi Dirga terbangun dan memilih untuk shalat" ucap Dirga
"Perempuan mana yang kamu mimpikan?" tanya Bintang
"Husna pa, dalam mimpi itu Husna terus berada di pelaminan dengan Dirga, tapi saat kami akan ijab kabul Khanza menarik tangan Dirga sampai Dirga terbangun, terus begitu setiap hari" jawab Dirga
"Apa dulu kamu juga memimpikan tentang Radini?" tanya Rukmini.
"Iya nek, sebelum Radini datang untuk melamar Dirga, Dirga selalu mimpi dia berada di atas ranjang Dirga dengan pakaian serba merah, memanggil nama Dirga untuk naik ke ranjangnya" jawab Dirga
"Itu artinya perempuan itu bukan Khanza tapi Husna" ungkap Dimas
Sahara ayo neng bales it si rudin