Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ketukan palu sidang Mahkamah Internasional tiga bulan lalu seharusnya menjadi penutup dari segala riak birokrasi di Distrik Utara. Namun, bagi klan Bratadikara, kedamaian absolut adalah sebuah anomali. Di dunia atas, mereka adalah pelopor logistik hijau; di dunia bawah, mereka adalah penguasa yang posisinya selalu diincar oleh mata-mata yang lapar akan takhta.
Pagi itu, ketenangan di lantai lima puluh lima Menara Bratadikara pecah bukan oleh tangisan anak-anak, melainkan oleh suara alarm internal berkode Merah Senyap—sebuah indikasi bahwa ada penyusupan digital yang berhasil menembus enkripsi militer tingkat empat milik Kenzo.
Brak!
Pintu ruang kerja utama Devan terbuka kasar. Kenzo melangkah masuk dengan napas memburu. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyuman jenaka kini pucat pasi, dan kacamata berbingkai hitamnya tampak sedikit miring. Di tangannya, sebuah sabak digital terus berkedip merah, menampilkan barisan kode matriks yang rusak.
"Dev, Aura... kita kebobolan," kata Kenzo, suaranya bergetar rendah.
Devan yang sedang meninjau peta manifestasi kargo bersama Aura langsung mendongak. Sepasang mata elangnya menyipit tajam, memancarkan aura dingin yang seketika membuat suhu di dalam ruangan terasa anjlok. "Bicara yang jelas, Ken. Jaringan mana?"
"Otoritas Pelabuhan Internasional Singapura dan Selat Malaka," Kenzo meletakkan sabaknya di atas meja marmer. "Seseorang telah meretas sistem manifes Gavinandra Legal & Logistics Hub. Mereka tidak mencuri uang, mereka tidak mengubah rute kapal. Tapi... mereka memasukkan draf manifes palsu ke dalam server pabean internasional. Di dalam sistem itu, salah satu kapal kargo kita, MV Bratadikara Prime, tercatat membawa tiga kontainer berisi material nuklir ilegal kelas senjata menuju wilayah konflik Timur Tengah."
Aura seketika bangkit dari kursinya. Wajah cantiknya menegang, namun pikirannya yang setajam silet langsung memetakan implikasi hukum dari situasi ini. "Itu jebakan faksi internasional. Jika manifes itu divalidasi oleh Badan Energi Atom Internasional dan Interpol, Bratadikara Group tidak hanya akan menghadapi sanksi pembekuan aset, tapi kita semua akan diseret ke pengadilan kejahatan internasional atas tuduhan pendanaan terorisme dan penyelundupan senjata pemusnah massal. Pakta Integrasi kita akan hancur dalam hitungan jam."
"Siapa dalangnya, Ken?" tanya Devan, suaranya terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu adalah jenis ketenangan sebelum badai badai laut menghancurkan sebuah pelabuhan. Ia mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengan bertatonya menegang keras.
"Konsorsium Vanguard Maritim," jawab Kenzo sambil menyeka keringat di dahinya. "Mereka adalah sindikat logistik raksasa berbasis di Eropa Timur yang merasa pasarnya di Asia Tenggara tergerus habis sejak lo dan Aura menerapkan sistem logistik bersih. Mereka menggunakan peretas bayaran tingkat negara, The Ghost Protocol. Dan yang lebih buruk... kapal Bratadikara Prime saat ini sedang berada di perairan internasional, tiga jam lagi memasuki zona pemeriksaan ketat Selat Malaka."
Konflik baru ini tidak seperti konspirasi Mahendra di masa lalu yang bisa diselesaikan dengan baku tembak di gudang pelabuhan atau intimidasi fisik di jalanan Jakarta. Ini adalah perang asimetris tingkat global. Musuh mereka berada ribuan mil jauhnya, menyerang menggunakan hukum internasional sebagai senjata dan manipulasi digital sebagai pelurunya.
Aura melangkah menuju dinding kaca raksasa, menatap langit Jakarta yang pagi itu tampak abu-abu tertutup awan mendung. "Dev, jika kita menggunakan jalur hukum biasa untuk membuktikan bahwa manifes itu palsu, proses auditnya akan memakan waktu minimal tiga bulan. Dalam tiga bulan itu, kapal kita akan ditahan, saham kita akan anjlok, dan nama Bratadikara akan dicap sebagai penjahat perang. Kita tidak punya waktu tiga bulan. Kita hanya punya waktu tiga jam sebelum kapal itu dicegat oleh armada tempur Interpol."
Devan berjalan mendekat, berdiri di samping Aura, lalu menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. "Kita pakai strategi dua arah, Good Girl. Gue akan memerintahkan Bram dan tim taktis laut untuk mencegat Bratadikara Prime sebelum Interpol tiba. Kita ambil alih fisik kapal itu, lalu periksa apakah kontainer siluman itu benar-benar ada di atas kapal atau hanya ada di dalam sistem digital."
"Dan aku," Aura berbalik, menatap Devan dengan sepasang mata cokelatnya yang kini memancarkan api keberanian seorang pengacara tertinggi. "Aku akan terbang langsung ke markas besar otoritas pabean regional di Singapura siang ini. Aku akan membawa draf eksistensi hukum independen klan kita. Aku akan menantang keabsahan bukti digital mereka di depan dewan pengawas maritim internasional sebelum mereka mengeluarkan perintah penangkapan resmi untukmu."
Devan menatap istrinya dengan rasa kagum yang bercampur dengan kecemasan yang mendalam. "Ini berbahaya, Ra. Vanguard Maritim bukan mafia lokal. Mereka tidak ragu untuk melenyapkan seorang pengacara di koridor pengadilan internasional jika itu bisa melancarkan rencana mereka."
Aura mengangkat kedua tangannya, membingkai wajah tegas Devan dengan kelembutan yang mutlak namun penuh ketegasan. "Sepuluh tahun lalu, aku bersumpah untuk menjadi perisaimu, Devanandra. Aku tidak akan membiarkan takhta bersih yang kita bangun untuk Gavin dinodai oleh konspirasi kotor faksi asing. Izinkan aku bertarung di ruang sidang, sementara kamu mengamankan laut kita."
Pukul sebelas siang, situasi semakin memanas. Gavinandra kecil sore itu terpaksa diungsikan ke kediaman rahasia Menteng di bawah pengawasan ketat Nyonya Rahma dan pengawalan berlapis dari tim intelijen Kenzo. Anak cerdas itu sempat melihat ketegangan di wajah kedua orang tuanya sebelum pergi.
"Ayah, Ibu... ada badai baru?" tanya Gavin kecil sambil memegang draf undang-undang mainannya saat berada di ambang lift privat.
Devan berlutut di depan putranya, memegang kedua pundak kecil Gavin. "Hanya badai kecil, Jagoan. Ayah dan Ibu akan pergi untuk meredakannya. Tugas kamu adalah menjaga Nenek dan memastikan tidak ada satu pun celah di rumah Menteng yang tidak terpantau oleh radar kamu. Bisa?"
Gavin mengangguk kuat, matanya yang jernih memancarkan keberanian yang luar biasa. "Bisa, Ayah. Gavin akan menjaga lini belakang."
Setelah Gavin pergi, Devan dan Aura langsung bergerak menuju helipad Menara Bratadikara. Dua helikopter privat klan telah menyala, baling-balingnya berputar kencang membelah angin siang yang berembus kencang. Devan mengenakan jaket taktis hitamnya, sementara Aura mengenakan setelan blazer formal berwarna hitam pekat, membawa koper kulitnya yang berisi draf pembelaan darurat.
Di depan helikopter masing-masing, mereka saling berhadapan untuk terakhir kalinya sebelum berpisah ke medan tempur yang berbeda. Angin kencang menerbangkan helai rambut Aura, namun tatapan matanya terkunci erat pada suaminya.
"Jangan lakukan tindakan gegabah di laut, Dev," teriak Aura di antara gemuruh suara mesin helikopter. "Jika kamu menembak armada Interpol, kita akan kehilangan legitimasi hukum selamanya!"
"Gue tahu batasannya, Ra!" Devan menarik Aura ke dalam pelukan kilat yang sangat erat, mengecup puncak kepala istrinya dengan seluruh jiwa dan raganya. "Dan lo... jangan biarkan para diplomat tua di Singapura itu mengintimidasi lo. Jika situasi di sana memburuk, Kenzo sudah menyiapkan jalur evakuasi taktis untuk membawa lo keluar dari sana dalam lima menit."
"Aku adalah istri dari Devanandra Bratadikara," balas Aura dengan senyuman miring yang menawan di tengah ketegangan maut tersebut. "Mereka yang seharusnya takut padaku."
Dengan satu anggukan tegas, mereka berpisah. Helikopter Devan melesat menuju arah barat laut menuju perairan terbuka Selat Malaka, sementara helikopter Aura terbang menuju bandara komersial untuk mengejar penerbangan privat tercepat menuju Singapura.
Satu jam kemudian, di atas dek kapal MV Bratadikara Prime yang sedang membelah ombak Selat Malaka, Bram dan tim taktisnya berhasil mendarat menggunakan tali dari helikopter Devan. Devan melompat turun dengan tangkas, memegang senjata taktisnya dengan posisi siap tempur.
"Tuan Muda!" kapten kapal menyambut Devan dengan wajah ketakutan. "Kami baru saja menerima sinyal peringatan dari kapal perang Interpol. Mereka memerintahkan kami untuk mematikan mesin dan bersiap untuk digeledah!"
"Bram, bawa tim sensor termal ke palka nomor empat!" perintah Devan, mengabaikan peringatan radio yang terus berdengung di ruang kemudi. "Kita harus tahu apakah tiga kontainer siluman itu benar-benar ada di kapal ini secara fisik, atau peretas Vanguard hanya memanipulasi nomor seri kontainer legal kita!"
Di saat yang sama, ribuan mil dari sana, Aura melangkah masuk ke dalam ruang konferensi utama Gedung Otoritas Maritim Singapura. Ruangan bernuansa perak dan kaca itu telah dipenuhi oleh sepuluh diplomat senior, perwakilan dari Badan Energi Atom Internasional, dan tiga pengacara papan atas dari Vanguard Maritim yang bertindak sebagai "pelapor independen".
"Nyonya Aura Kirana Bratadikara," sapa salah satu pengacara Vanguard, seorang pria paruh baya berdarah Eropa dengan senyuman merendahkan. "Kehadiran Anda di sini tidak akan mengubah fakta bahwa draf manifes digital yang kami temukan di server pabean adalah valid. Kapal suami Anda membawa material berbahaya. Bratadikara Group telah melanggar konvensi hukum internasional."
Aura tidak langsung duduk. Ia berjalan menuju ujung meja konferensi, meletakkan koper kulitnya dengan ketukan yang tegas, lalu membukanya secara perlahan. Aura mengeluarkan sebuah berkas enkripsi fisik berkepala surat resmi Kementerian Hukum Indonesia dan Mahkamah Internasional.
"Tuan-tuan yang terhormat," suara Aura yang jernih dan sarat akan otoritas mutlak menggema di dalam ruangan, seketika menghapus senyuman di wajah pengacara Vanguard. "Sebelum Anda membacakan draf tuntutan palsu yang disiapkan oleh klien Anda, saya ingin Anda melihat draf Eksepsi Yurisdiksi Maritim yang baru saja disahkan dua jam lalu oleh pengadilan arbitrase regional."
Aura menatap tajam pengacara Vanguard. "Sistem manifes yang Anda sebut 'valid' itu dikirim melalui alamat IP terenkripsi yang berbasis di sebuah server bayangan di siberia—yang mana kepemilikannya terikat langsung dengan perusahaan cangkang milik Vanguard Maritim. Jika dalam waktu tiga puluh menit Anda tidak mencabut laporan palsu ini, saya tidak hanya akan menuntut Vanguard atas tindakan pencemaran nama baik korporasi, melainkan saya akan menyeret seluruh jajaran direksi Anda atas tuduhan spionase industri dan sabotase keamanan maritim selat internasional."
Suasana di dalam ruang konferensi Singapura mendadak senyap secara magis. Para diplomat internasional mulai berbisik-bisik, saling bertukar pandang dengan cemas melihat draf pembelaan Aura yang begitu presisi, tanpa cacat, dan langsung menusuk ke jantung konspirasi musuh.
Perang baru telah dimulai, sebuah ujian tertinggi bagi aliansi kekuatan fisik Devan dan kecerdasan hukum Aura untuk mempertahankan dinasti yang telah mereka bangun dengan taruhan air mata dan cinta seumur hidup mereka.