NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

Prolog.

"Angela."

Suara berat itu membuat langkah Angela terhenti di tengah koridor kampus.

Ia memejamkan mata sesaat. Dari seluruh orang di kampus, hanya satu orang yang memanggil namanya dengan nada sedingin itu.

Raymond.

Angela menoleh perlahan. "Kamu ngapain ke sini?"

Pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan itu melangkah mendekat. Tatapannya datar, tetapi begitu tajam hingga mahasiswa di sekitar mereka buru-buru menyingkir memberi jalan.

"Aku nyari kamu."

"Ada apa?"

Raymond tidak langsung menjawab. Matanya justru tertuju pada tangan Angela yang masih menggenggam sebotol minuman pemberian seorang senior.

"Siapa yang kasih itu?"

Angela mengangkat botolnya. "Senior organisasi. Memangnya kenapa?"

Rahang Raymond mengeras.

"Buang."

Angela mengernyit. "Hah?"

"Aku bilang, buang."

"Nggak bisa gitu dong. Ini baru dikasih."

Belum sempat Angela bereaksi, Raymond mengambil botol itu dari tangannya, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.

"Raymond!"

Angela membelalak tak percaya.

"Kamu kenapa, sih? Itu kan bukan punyamu!"

Raymond menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Aku nggak suka kamu nerima apa pun dari laki-laki lain."

Ucapan itu membuat suasana di sekitar mereka seketika hening.

Beberapa mahasiswa mulai berbisik.

"Bukannya Raymond nggak pernah dekat sama cewek?"

"Kenapa dia marah-marah ke Angela?"

Angela panik mendengar bisikan itu.

"Raymond, jangan bikin orang salah paham."

"Salah paham?"

Pria itu melangkah lebih dekat hingga jarak mereka nyaris tak menyisakan ruang.

"Lalu menurutmu, mereka harus paham yang bagaimana?"

Angela menelan ludah.

Tatapan Raymond berubah semakin dalam.

Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang memandang, ia meraih pergelangan tangan Angela, menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lalu memeluknya erat dari belakang.

"Aku capek pura-pura."

Suara Raymond terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar Angela.

"Kalau perlu, hari ini juga aku kasih tahu satu kampus..."

Ia berhenti sejenak, lalu berbisik tepat di telinga Angela.

"Kalau kamu itu istriku." Angela membeku.

****

Langkah kaki Angela bergema pelan di koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa. Pagi itu, sinar matahari menembus sela-sela pepohonan, memantulkan cahaya ke dinding bangunan fakultas yang megah. Suara tawa, obrolan, dan derap langkah memenuhi udara, menciptakan suasana khas awal perkuliahan.

Angela menghela napas panjang sambil membetulkan tas ransel yang menggantung di bahunya. Rambut hitamnya dikuncir satu sederhana. Penampilannya yang tomboy membuatnya lebih sering disangka mahasiswa baru yang cuek daripada gadis yang sebenarnya cukup berprestasi.

"Hari pertama semester baru. Semoga nggak ada masalah," gumamnya.

"Angela!"

Seorang sahabatnya, Maya, berlari kecil menghampiri.

"Kamu dengar kabar belum? Raymond datang hari ini!"

Angela mengernyit.

"Terus kenapa?"

Maya langsung memegang kedua bahu Angela.

"Ya ampun! Kamu tinggal di gua, ya? Raymond itu Pangeran Kampus! Anak keluarga konglomerat, wajahnya ganteng, nilainya sempurna, jago olahraga, dan yang paling penting... belum pernah ada cewek yang berhasil menaklukkan hatinya."

Angela hanya mengangkat bahu.

"Kalau memang sehebat itu, biarin saja. Hidupku nggak ada hubungannya sama dia."

Bel berbunyi. Keduanya segera berjalan menuju gedung utama.

Namun, langkah Angela terhenti ketika suasana kampus mendadak riuh.

"Itu dia!"

"Raymond datang!"

"Tampannya kebangetan!"

Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan gedung fakultas. Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan langkah tenang. Jas hitam sederhana membalut tubuhnya, sementara sorot matanya dingin tanpa sedikit pun senyum.

Mahasiswa yang berkerumun otomatis membuka jalan. Tak ada yang berani menghalangi. Tak ada yang berani menyapa lebih dulu. Raymond berjalan lurus tanpa memedulikan bisikan di sekelilingnya.

Angela hanya melirik sekilas.

"Oh... jadi itu Raymond."

Ia kembali melangkah, sama sekali tidak tertarik. Sikap itu justru membuat Raymond menghentikan langkahnya sesaat. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memandangnya dengan kagum ataupun takut.

Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Angela segera memalingkan wajah dan terus berjalan.

Raymond tetap diam.

Namun, untuk alasan yang bahkan tidak ia mengerti, bayangan gadis tomboy itu terus memenuhi pikirannya. Di sisi lain, Angela sama sekali tidak menyadari bahwa sejak detik itu, hidupnya telah berubah.

Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja diabaikannya akan menjadi badai terbesar dalam hidupnya.

Dan lebih dari itu...

Pria itu kelak akan menjadi suami rahasianya.

****

Jam pertama kuliah berlangsung seperti biasa. Dosen menjelaskan silabus semester baru, sementara sebagian mahasiswa masih sibuk saling berkenalan. Angela duduk di bangku dekat jendela, mencatat poin-poin penting tanpa terlalu memedulikan suasana di sekitarnya.

Saat kelas usai, Maya langsung menarik lengannya.

"Angela, ke kantin, yuk! Aku lapar."

Angela mengangguk. "Ayo."

Keduanya berjalan menyusuri taman kampus. Di sepanjang jalan, beberapa mahasiswi masih membicarakan Raymond dengan penuh antusias.

"Aku dengar dia menolak puluhan surat cinta."

"Katanya, belum pernah ada perempuan yang bisa dekat dengannya."

"Kalau dia senyum sekali saja ke aku, mungkin aku nggak bakal bisa tidur seminggu."

Angela terkekeh pelan.

"Lebay." Maya mencubit lengannya.

"Kamu memang aneh. Cowok setampan itu malah dibilang biasa."

"Memangnya tampan bisa bikin nilai IPK naik?" Maya hanya bisa menggeleng sambil tertawa.

Sesampainya di kantin, mereka mencari meja kosong. Baru saja Angela meletakkan nampan makanannya, seorang mahasiswa tingkat akhir datang menghampiri.

"Hai... kamu Angela, kan?" Angela mendongak.

"Iya."

"Aku Dimas, dari Fakultas Teknik. Boleh kenalan?" Angela tersenyum sopan.

"Boleh."

Belum sempat Dimas melanjutkan percakapan, suasana kantin mendadak sunyi.

Semua mata tertuju ke arah pintu masuk.

Raymond melangkah masuk bersama dua temannya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi. Aura dinginnya seolah membuat udara di sekitar ikut membeku.

Tatapan Raymond menyapu ruangan hingga berhenti tepat pada Angela.

Lebih tepatnya...

Pada Dimas yang sedang berdiri di depan Angela. Sorot matanya berubah semakin tajam. Dimas yang menyadari kehadiran Raymond langsung menelan ludah. Ia tidak mengerti mengapa pria itu terus menatapnya.

Angela yang tidak menyadari perubahan suasana masih berkata santai,

"Ada perlu apa, Kak?" Dimas berdeham gugup.

"E-eh... sebenarnya aku cuma mau minta nomor ponselmu." Belum sempat Angela menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakang.

"Dia tidak tertarik." Semua orang menoleh.

Raymond kini berdiri hanya beberapa langkah dari meja Angela. Tatapannya dingin, tetapi penuh tekanan.

Dimas mengernyit.

"Maaf, tapi... siapa Anda menentukan dia tertarik atau tidak?" Suasana kantin menjadi semakin tegang. Angela ikut berdiri. Ia menatap Raymond dengan bingung.

"Maaf, kita saling kenal?"

Raymond menatap lurus ke dalam mata Angela selama beberapa detik. Lalu, tanpa menjawab pertanyaannya, ia berkata dengan tenang,

"Mulai hari ini... jangan sembarang berbicara dengan pria lain." Angela mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Ucapan Raymond membuat seluruh kantin terdiam. Tak seorang pun mengerti alasan di balik sikap dingin dan penuh kepemilikan itu.

Sementara Angela mulai merasa kesal. Baginya, Raymond hanyalah mahasiswa populer yang bahkan baru pertama kali berbicara dengannya.

Angela mengangkat dagunya, menatap Raymond tanpa sedikit pun rasa gentar. Jari-jarinya masih memegang botol minuman dingin, sementara wajahnya tetap tenang.

"Maaf," katanya santai. "Saya bicara dengan siapa pun itu hak saya. Sepertinya kita bahkan belum saling kenal." Suasana kantin seketika membeku.

Beberapa mahasiswa yang sedang makan menghentikan gerakan mereka. Sendok yang semula terangkat kini menggantung di udara. Semua mata tertuju pada dua orang yang saling berhadapan.

Maya buru-buru menarik ujung jaket Angela.

"Pelan-pelan, Ang..." bisiknya panik. "Itu Raymond." Angela menoleh sekilas.

"Memangnya kenapa?" Maya hanya bisa mengusap wajahnya pasrah.

Raymond melangkah mendekat. Bunyi sepatunya bergema pelan di lantai keramik. Ia berhenti tepat di depan meja Angela, memasukkan satu tangan ke saku celananya.

"Aku Raymond."

Nada suaranya datar, tetapi memiliki tekanan yang membuat orang lain otomatis diam.

Angela berdiri perlahan agar tinggi mereka tidak terpaut terlalu jauh. Ia menyodorkan tangan dengan senyum tipis.

"Angela."

Raymond tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Tatapannya justru berpindah dari wajah Angela menuju tangan yang masih terulur.

Beberapa detik berlalu.

Baru kemudian ia menjabat tangan Angela dengan singkat.

"Senang berkenalan," ucap Angela.

"Belum tentu." Angela menaikkan sebelah alis.

"Jawaban yang aneh." Raymond melepaskan genggamannya.

"Aku hanya tidak suka melihatmu berbicara terlalu akrab dengan pria lain."

Angela terkekeh pelan, seolah mendengar lelucon.

"Serius?"

"Ya."

"Kita baru saling kenal satu menit."

"Sudah cukup." Angela menggeleng sambil tertawa kecil.

"Kalau semua orang berpikir seperti kamu, dunia pasti penuh salah paham."

Ucapan itu membuat beberapa mahasiswa menahan tawa. Wajah Raymond tetap datar.

Sebaliknya, Kevin yang berdiri tidak jauh darinya sampai memijat pelipis.

"Habis sudah... belum pernah ada yang mengajak Raymond berdebat seperti ini." Angela mengambil kembali tasnya.

"Kalau tidak ada urusan lagi, saya mau makan. Nasi goreng lebih penting daripada berdebat."

Ia baru saja hendak duduk ketika Raymond kembali bersuara.

"Namanya siapa?" Angela menoleh.

"Siapa?"

"Pria tadi."

"Oh, Kak Dimas?" Raymond mengangguk tipis.

"Jangan terlalu dekat dengannya." Angela mengembuskan napas panjang.

"Raymond."

"Apa?"

"Kamu ini memang suka mengatur orang?"

"Itu tergantung orangnya."

"Nah, aku tidak suka diatur."

"Tapi aku tetap akan mengingatkan."

Angela menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Kenapa?" Raymond menatapnya lurus.

"Karena aku mau." Jawaban singkat itu membuat Angela kehilangan kata-kata sesaat.

Sebelum ia sempat membalas, Raymond sudah berbalik meninggalkan kantin.

Langkahnya tenang, tetapi kehadirannya meninggalkan keheningan yang panjang.

Beberapa detik setelah pintu kantin tertutup, suara riuh langsung pecah.

"Ya ampun! Angela berani membantah Raymond!"

"Dia bahkan mengajak Raymond adu mulut!"

"Ini pertama kalinya aku melihat Raymond bicara sepanjang itu dengan seorang perempuan."

Maya memegang kedua pipinya sendiri.

"Angela... jujur saja. Kalian benar-benar baru pertama kali bertemu?" Angela mengangguk bingung. "Demi apa, baru hari ini."

"Lalu kenapa dia bersikap seperti... pacarmu yang cemburuan?" Angela tertawa kecil sambil menggeleng.

"Mana aku tahu."

Tanpa mereka sadari, dari balik jendela lantai dua gedung fakultas, Raymond berhenti sejenak. Sorot matanya kembali jatuh pada sosok Angela yang sedang tertawa bersama sahabatnya.

Entah mengapa, melihat senyum gadis itu membuat sudut bibirnya nyaris terangkat.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Namun, bagi Kevin yang berdiri di sampingnya, itu sudah cukup untuk menyadarkan satu hal.

"Sepertinya..." gumam Kevin pelan, "Pangeran Kampus akhirnya benar-benar tertarik pada seseorang."

****

Bel pergantian jam kuliah kembali berbunyi.

Teng... teng... teng...

Mahasiswa yang tadi memenuhi kantin mulai bubar. Ada yang buru-buru masuk kelas, ada juga yang masih asyik ngobrol sambil jalan.

Angela memasukkan kotak makannya ke dalam tas ransel.

"Yuk, May. Nanti telat lagi."

Maya bukannya langsung jalan, malah terus menatap Angela dengan tatapan penuh selidik.

"Ang."

"Hmm?"

"Jujur deh."

"Apa?"

"Kamu beneran baru kenal sama Raymond hari ini?"

Angela mengangguk santai.

"Iya. Emang kenapa?"

Maya mendekat sambil menurunkan suaranya.

"Terus kenapa dia kelihatan... cemburu banget?" Angela spontan ngakak.

"Cemburu apaan? Orang baru kenal lima menit."

"Nah itu dia! Makanya aku bingung." Angela cuma mengangkat bahu.

"Mungkin dia lagi banyak pikiran. Atau..."

"Atau apa?"

"Suka sama kamu." Angela langsung melotot.

"Ngaco!"

"Hahaha... lihat tuh, pipimu merah."

"Bukan merah! Gerah!"

Maya makin ngakak melihat sahabatnya salah tingkah.

 

Sementara itu...

Di ruang organisasi mahasiswa.

Kevin melemparkan sebotol air mineral ke arah Raymond.

"Minum dulu. Dari tadi mukamu makin serem."

Raymond menangkap botol itu dengan satu tangan.

"Serem?"

"Iya."

Kevin duduk di hadapan Raymond sambil menyilangkan kaki.

"Gue kenal lo hampir tiga tahun."

"Lalu?"

"Baru kali ini lo ngejar cewek." Raymond membuka tutup botol, lalu minum seteguk.

"Gue nggak ngejar." Kevin mendengus.

"Oh ya? Terus yang tadi di kantin apa?"

Raymond diam. Kevin melanjutkan sambil menahan tawa.

"Lo bahkan nyuruh senior itu menjauh dari Angela."

"Itu wajar."

"Wajar dari mana?" Raymond menatap Kevin datar.

"Gue nggak suka dia dideketin cowok lain."

Kevin menepuk dahinya.

"Gila... parah."

"Kenapa?"

"Lo aja bahkan belum jadian."

Raymond menaruh botol di atas meja.

"Belum."

"Nah, sadar."

"Tapi nanti juga iya."

Kevin sampai terdiam beberapa detik.

"Luar biasa... pede banget." Raymond tersenyum tipis.

"Bukan pede."

"Terus?"

"Yakin." Kevin cuma bisa geleng-geleng kepala. "Semoga Angela kuat ngadepin sifat posesif lo."

 

Di taman kampus...

Angela dan Maya berjalan santai sambil menikmati angin sore. Tiba-tiba Maya menyenggol lengan Angela.

"Eh, sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Banyak yang ngelihatin kita."

Angela menoleh ke kanan dan kiri.

Benar saja.

Beberapa mahasiswa langsung pura-pura ngobrol saat ketahuan sedang memperhatikan mereka.

"Itu Angela, kan?"

"Iya. Yang tadi bikin Raymond berhenti makan cuma buat ngomong sama dia."

"Gokil sih."

Angela menghela napas.

"Baru juga sehari kuliah, gosipnya udah ke mana-mana."

Maya nyengir.

"Selamat datang di kehidupan kampus."

Mereka kembali berjalan.

Tiba-tiba...

Bug!

Sebuah bola basket meluncur deras ke arah Angela.

"ANG! AWAS!!"

Angela refleks menoleh. Matanya membelalak. Bola itu tinggal sejengkal lagi mengenai wajahnya.

Namun...

Seseorang menangkap bola itu tepat di depan wajah Angela. Angela mengedip beberapa kali.

Raymond. Cowok itu berdiri tegak sambil memegang bola basket dengan satu tangan.

Tatapannya langsung beralih ke arah lapangan.

"Siapa yang lempar?"

Beberapa mahasiswa langsung saling pandang. Seorang cowok mengangkat tangan pelan.

"Maaf, Kak... nggak sengaja." Raymond melempar bola itu kembali.

"Lain kali lebih hati-hati."

"Iya... maaf." Cowok itu langsung kabur bersama teman-temannya. Angela masih menatap Raymond.

"Eh..." Raymond menoleh.

"Kenapa?" Angela tersenyum kecil.

"Makasih." Raymond menatap wajah Angela beberapa detik.

"Nggak usah." Angela mengernyitkan dahi bingung.

"Karena mulai sekarang..." Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sekitar satu langkah. "...gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo."

Deg.

Angela langsung membeku.

Sementara Maya yang berdiri di sampingnya sampai menutup mulut karena kaget.

Raymond memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu berjalan pergi seolah baru saja mengucapkan kalimat biasa.

Angela menatap punggungnya yang semakin menjauh.

"May..."

"Iya?"

"Menurut lo..."

"Hmm?"

"Itu orang emang dari sananya aneh... atau cuma ke gue aja?" Maya tersenyum usil.

"Kayaknya... cuma ke lo." Angela mengembuskan napas panjang.

"Haduh... baru juga semester baru. Jangan-jangan hidup gue bakal ribet gara-gara dia." Angela mengusap pelipisnya pelan.

Maya malah ngakak sampai memegangi perut.

"Ribet? Itu mah baru pembukaan." Angela mendengus.

"Jangan nakut-nakutin, deh."

"Serius. Lo tahu nggak siapa Raymond?"

"Pangeran Kampus. Anak orang kaya. Dingin. Udah, itu doang yang gue tahu." Maya menggeleng.

"Kurang satu."

"Apa?"

"Kalau dia udah ngincer sesuatu..." Maya berhenti sebentar, lalu menatap Angela dengan wajah serius. "...dia nggak pernah gagal dapetin." Angela mencibir kecil.

"Emangnya gue barang?"

"Nah, itu yang harusnya lo bilang ke Raymond." Mereka berdua kembali berjalan menuju gedung fakultas.

Belum jauh melangkah, tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang kampus.

Tin! Tin!

Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan Raymond. Seorang pria paruh baya turun dengan setelan jas rapi.

"Maaf, Tuan Muda. Ketua sudah menunggu."

Raymond mengangguk singkat.

"Aku segera ke sana."

Beberapa mahasiswa yang melihat langsung berbisik-bisik.

"Itu sekretaris keluarga Raymond, kan?"

"Iya. Katanya keluarganya punya banyak perusahaan."

"Pantes aja auranya beda."

Angela yang kebetulan lewat hanya melirik sekilas.

"May."

"Hmm?"

"Kayaknya hidup dia ribet juga."

"Hah?"

"Baru kuliah aja udah dijemput sekretaris."

Maya tertawa.

"Fokus lo malah ke situ?"

"Iya lah."

Raymond yang hendak masuk ke mobil tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Entah kenapa, ia menoleh ke arah Angela.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Angela mengangkat tangan kecil sambil tersenyum sopan.

"Dadah." Maya langsung melotot.

"Ang! Ngapain lo malah dadah?"

"Lah... refleks." Di luar dugaan, Raymond menganggukkan kepala pelan sebagai balasan sebelum masuk ke dalam mobil.

Mobil itu pun melaju meninggalkan area kampus. Maya masih bengong.

"Gue nggak salah lihat, kan?"

"Lihat apa?"

"Raymond... bales lo." Angela mengangkat bahu.

"Ya terus?"

"Dia nggak pernah nyapa orang duluan."

Angela tertawa kecil.

"Berarti hari ini banyak pertama kalinya."

 

Sore harinya.

Angela akhirnya tiba di rumah kontrak sederhana yang ia tinggali sendirian.

Rumah itu tidak besar, tetapi cukup nyaman. Halaman depannya dipenuhi pot bunga yang ia rawat sendiri.

"Ah... akhirnya pulang."

Angela melempar tas ke sofa, lalu merebahkan tubuhnya. Belum sempat memejamkan mata...

Ting!

Ponselnya berbunyi.

Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.

> Nomor Tidak Dikenal: Sudah sampai rumah?

Angela langsung mengernyit.

"Siapa, ya?" Ia membalas singkat.

Siapa ini? Tak sampai lima detik...

Balasan kembali masuk.

"Raymond". Angela yang tengah berdiri langsung terduduk.

"Hah?!" Matanya membulat.

"Sejak kapan dia punya nomor gue?" Jarinya bergerak cepat mengetik.

'Dapat nomor gue dari mana?

Beberapa detik berlalu.

Balasan kembali muncul.

Itu nggak penting.

Angela mendelik ke layar ponsel.

"Nggak penting dari mana?!"

Pesan berikutnya kembali masuk.

'Yang penting, jangan lupa makan malam.'

'Jangan tidur terlalu larut.'

'Besok gue jemput.'

Angela sampai terdiam beberapa saat. Lalu

Ia langsung menekan tombol panggil.

Tuut...

Tuut...

Baru dering kedua, panggilan itu diangkat.

"Hallo."

Suara Raymond terdengar tenang dari seberang.

Angela langsung protes.

"Eh! Siapa yang nyuruh lo jemput gue?"

"Nggak ada."

"Terus kenapa nulis begitu?"

"Karena besok gue memang bakal jemput."

Angela menarik napas panjang, berusaha menahan kesal.

"Raymond."

"Iya."

"Gue bisa berangkat sendiri."

"Tahu."

"Terus?"

"Tetap gue jemput."

Angela menutup wajahnya dengan satu tangan.

"Ya ampun... nih cowok keras kepala banget."

Di seberang sana, Raymond justru terdengar tertawa pelan. Suara tawanya singkat, tapi cukup membuat Angela terdiam.

"Lo..."

"Hmm?"

"Ternyata bisa ketawa juga."

Raymond tersenyum tipis.

"Hanya untuk orang tertentu."

Ucapan itu membuat Angela kehilangan kata-kata. Tanpa menunggu balasan, Raymond menutup telepon lebih dulu.

Angela menatap layar ponselnya sambil menghela napas panjang.

"Fix...! Semester ini bakal panjang banget."

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!