NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama

Ketegangan di dalam auditorium Universitas Nusantara malam itu terasa begitu pekat, seolah-olah udara telah berubah menjadi gelondongan timah yang siap meremukkan siapa saja di bawahnya. Tatapan mata Aditia Pramono, sang perwakilan Kementerian Pertahanan, masih terpaku ke arah sudut belakang—tepat di mana Arkana Wijaya berada. Sepasang mata tajam itu menyipit, memancarkan rasa curiga yang mendalam. Sebagai seorang yang telah berhasil memaksakan dirinya masuk ke pertengahan ranah Body Tempering melalui metode eksperimental pemerintah, Aditia memiliki kepekaan sensorik yang jauh melampaui manusia biasa.

​Semalam, radar pemantau energi spiritual milik kementerian mendeteksi adanya lonjakan Qi murni yang sangat masif di radius satu kilometer dari kampus ini. Dan barusan, intuisi bertarungnya menangkap sekelebat riak energi yang sangat murni dari arah kerumunan mahasiswa di belakang.

​Namun, Arkana bukanlah pemuda amatir yang mudah panik. Menggunakan ketenangan jiwa yang diwariskan oleh sang Kaisar Abadi, ia segera menarik napas dalam-dalam secara teratur. Di dalam sistem meridiannya, Arkana dengan cepat memanipulasi aliran energi hangat yang baru terbentuk semalam. Ia memaksa energi tersebut untuk mundur dari permukaan kulitnya, lalu menekannya dalam-dalam hingga bersembunyi di balik sumsum tulang belakangnya yang paling dalam.

​Ketika Aditia mencoba menyapu pandangannya sekali lagi untuk mengunci target, riak energi misterius itu telah hilang tanpa bekas. Pria berjas abu-abu itu mengernyitkan dahi, merasa sedikit frustrasi.

​"Mungkin hanya ilusi dari sisa kelelahan semalam," gumam Aditia sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh dosen di sampingnya. Ia akhirnya mengalihkan pandangan dan kembali memegang mikrofon. "Petugas medis dan keamanan akan segera memasuki ruangan. Saya harap semua mahasiswa bekerja sama demi kelancaran proses skrining ini."

​Begitu Aditia menurunkan mikrofonnya, pintu ganda auditorium terbuka lebar dengan suara dentuman keras. Belasan petugas berpakaian pelindung taktis lengkap—mirip kombinasi antara pakaian hazmat medis dan rompi antipeluru militer—melangkah masuk dengan teratur. Mereka membawa beberapa koper metalik berukuran besar yang langsung diletakkan di atas meja-meja panjang di depan panggung.

​Ketika koper-koper itu dibuka, mereka mengeluarkan perangkat elektronik berbentuk tongkat ramping hitam dengan ujung berupa kristal sintetis yang memancarkan cahaya biru neon redup. Di bagian pegangannya, terdapat layar digital kecil yang terus berkedip menampilkan angka-angka fluktuatif.

​"Gila... itu Aura-Meter generasi terbaru yang masih prototipe," bisik Dani di sebelah Arkana, matanya melebar menatap perangkat tersebut. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang sering meretas forum teknologi militer bawah tanah, Dani tahu beberapa rahasia. "Alat itu dibuat buat ngukur tingkat kepadatan radiasi energi di dalam tubuh manusia. Ka, kalau kita ketahuan punya adaptasi tinggi, kita beneran bakal diseret ke lab militer?"

​Arkana menatap alat-alat tersebut dengan mata menyipit. Di dalam kepalanya, memori kuno Kaisar Abadi memberikan analisis yang jauh lebih akurat daripada pengetahuan teknologi Dani. Kristal di ujung tongkat itu adalah batu roh kualitas rendah yang dipotong secara paksa dan dihubungkan dengan sirkuit siber, batin Arkana menganalisis. Alat itu bekerja dengan cara memancarkan gelombang stimulasi Qi tingkat rendah ke tubuh target. Jika tubuh target memiliki jalur meridian yang mulai terbuka atau beradaptasi dengan Qi, batu roh itu akan beresonansi dan menampilkan tingkat persentasenya.

​Sial. Ini adalah masalah besar bagi Arkana. Tubuhnya semalam baru saja melewati proses Body Tempering tingkat pertama yang sempurna. Jika dia ditembak dengan gelombang stimulasi tersebut, resonansi energi spiritual di dalam tubuhnya pasti akan meledak dan membuat alat itu hancur, yang secara otomatis akan membongkar identitasnya sebagai kultivator sejati pertama di dunia modern.

​"Aku harus mencari cara untuk mengelabui alat itu," pikir Arkana, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

​Ia segera memejamkan mata, berpura-pura sedang memijat keningnya karena pusing, namun di dalam kesadarannya, ia menyelami lembaran-lembaran cahaya dari Kitab Primordial Kaisar Abadi. Ratusan teknik tingkat tinggi melintas di benaknya, mulai dari teknik membelah bintang hingga teknik menghidupkan orang mati, tetapi semua itu membutuhkan basis kultivasi yang sangat tinggi—minimal ranah Nascent Soul atau Spirit King. Sementara dirinya saat ini barulah seorang pemula di dasar ranah Body Tempering.

​Arkana terus mencari dengan panik, membalik halaman batinnya lebih cepat. Hingga akhirnya, di bagian paling pojok dari Bab Penempaan Tubuh, ia menemukan sebuah teknik tambahan kecil yang ditulis dengan tinta emas redup: Teknik Selubung Debu Fana.

​Teknik ini adalah teknik tingkat rendah yang digunakan oleh para murid sekte kuno di masa lalu untuk menyembunyikan bakat asli mereka dari intaian sekte musuh atau saat melakukan penyamaran di dunia fana. Cara kerjanya adalah dengan menggunakan sedikit Qi untuk mengunci seluruh titik meridian utama, lalu menciptakan sebuah lapisan palsu yang dipenuhi oleh energi mati atau impuritas di bawah permukaan kulit. Bagi mata awam atau alat pendeteksi, tubuh pengguna teknik ini akan terlihat seperti manusia biasa yang memiliki tubuh lemah, berpenyakit, dan sama sekali tidak memiliki bakat kultivasi.

​"Sempurna!" seru Arkana dalam hati.

​Tanpa membuang waktu, saat barisan mahasiswa mulai diatur untuk maju satu per satu, Arkana mulai mempraktikkan teknik tersebut. Ia menggerakkan sisa energi murni di dalam jantungnya, mengalirkan mereka membentuk jaring-jaring tak kasat mata yang mengunci dua belas meridian utamanya. Setelah itu, ia menarik kembali sebagian kecil racun tubuh (impuritas) yang semalam sempat ia bersihkan ke permukaan kulit bagian dalam, menciptakan ilusi bahwa tubuhnya masih dipenuhi oleh polusi modern.

​"Barisan kanan belakang, harap maju ke meja nomor tiga!" suara tegas seorang petugas memecah konsentrasi Arkana.

​Itu adalah barisan tempat duduk Arkana dan Dani.

​Dani menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat. "Ka, gua duluan ya. Kalau gua gak kembali, tolong bilangin ke nyokap gua kalau gua sayang sama dia."

​"Jangan drama, Dan. Maju aja, lo pasti aman," ucap Arkana sambil menepuk punggung sahabatnya, memberikan sedikit ketenangan batin secara psikologis.

​Dani melangkah maju dengan ragu ke meja nomor tiga. Petugas medis di sana menyuruh Dani berdiri tegak, lalu mengangkat tongkat Aura-Meter dan mengarahkannya ke dada Dani dari jarak sepuluh sentimeter.

​BZZZZT.

​Kristal di ujung tongkat memancarkan cahaya biru terang yang menyelimuti tubuh Dani selama tiga detik. Di layar digital pegangan tongkat, angka-angka bergerak cepat sebelum akhirnya berhenti di sebuah angka: 7.4%.

​Petugas medis itu mengangguk pelan, wajahnya tampak bosan. "Adaptasi rendah, Kelas F (Mortal). Tubuhmu menyerap sedikit partikel secara pasif, tidak ada potensi bahaya struktural. Silakan keluar lewat pintu kiri dan langsung kembali ke rumah masing-masing."

​Dani menghela napas lega yang sangat panjang, seolah-olah beban seratus kilogram baru saja diangkat dari pundaknya. Ia menoleh ke arah Arkana, memberikan isyarat jempol sebelum bergegas berjalan menuju pintu keluar sesuai instruksi.

​"Selanjutnya!" panggil petugas itu.

​Arkana Wijaya melangkah maju dengan tenang. Setiap langkahnya diatur sedemikian rupa agar terlihat sedikit berat dan lesu, mencerminkan citra seorang mahasiswa miskin yang kurang tidur dan sering mengonsumsi mi instan. Namun di dalam tubuhnya, jaring-jaring energi dari Teknik Selubung Debu Fana telah terpasang dengan kokoh, siap menerima hantaman gelombang stimulasi dari alat tersebut.

​Arkana berdiri di depan meja. Di atas panggung, Aditia Pramono tampaknya kembali memperhatikan meja nomor tiga, matanya kembali tertuju pada sosok Arkana yang baru saja maju. Insting tajam Aditia masih belum sepenuhnya menyerah.

​Petugas medis mengangkat tongkat hitam itu, mengarahkannya tepat ke tengah dada Arkana. "Diam dan jangan bergerak."

​BZZZZT!

​Gelombang stimulasi tak kasat mata meletup dari ujung kristal biru, menembus pakaian dan langsung menghantam kulit dada Arkana. Begitu gelombang itu masuk, energi spiritual murni yang tersembunyi di dalam tulang-tulang Arkana langsung bergetar hebat, meronta-ronta ingin keluar untuk menghancurkan energi asing yang berani mengusiknya.

​Jantung Arkana berdegup kencang. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menahan gejolak tersebut. "Tetap diam! Jangan bergerak!" perintah Arkana pada energinya sendiri di dalam batin.

​Di bawah permukaan kulitnya, jaring-jaring Teknik Selubung Debu Fana bekerja dengan luar biasa. Gelombang stimulasi dari alat itu menabrak lapisan impuritas buatan Arkana, menyebabkan energi tersebut berputar-putar tanpa arah, seolah-olah tersesat di dalam labirin yang penuh dengan dinding lumpur kotor. Alat pemindai itu tidak mendeteksi adanya resonansi meridian sejati; yang terdeteksi hanyalah penolakan kasar dari tubuh yang dipenuhi racun polusi.

​Layar digital di tongkat pemindai mulai berkedip-kedip tidak teratur. Angkanya melompat dari 1% ke 25%, lalu turun drastis ke 0%, membuat petugas medis itu mengernyitkan dahi bingung. "Eh? Alatnya rusak?"

​Melihat fluktuasi aneh tersebut, Aditia Pramono yang berada di atas panggung langsung menegakkan tubuhnya. Ia melompat turun dari panggung setinggi dua meter dengan gerakan yang sangat ringan, mendarat tanpa suara, dan berjalan cepat menuju meja nomor tiga dengan aura intimidasi yang kuat.

​"Ada apa dengan alatnya?" tanya Aditia dengan suara dingin, matanya menatap tajam ke arah Arkana yang berdiri diam dengan wajah yang berpura-pura ketakutan.

​"Lapor, Pak. Alatnya menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil pada mahasiswa ini. Angkanya melompat-lompat sebelum sempat mengunci hasil," jawab petugas medis itu sambil memberi hormat.

​Aditia mengambil alih tongkat Aura-Meter dari tangan petugas tersebut. Ia menatap Arkana dari atas ke bawah, mencoba menembus penyamaran pemuda di depannya dengan menggunakan pandangan energinya sendiri. Namun, berkat keagungan teknik dari Kitab Primordial Kaisar Abadi, apa yang dilihat oleh Aditia hanyalah seorang pemuda kurus dengan struktur tulang yang biasa saja, jalur energi yang tersumbat total oleh racun lingkungan, dan tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​"Biar saya yang periksa sendiri," ucap Aditia dingin. Ia mengarahkan kembali tongkat itu ke dada Arkana, kali ini dengan meningkatkan intensitas output energi pada alat tersebut hingga batas maksimal.

​BZZZZZZZT!

​Cahaya biru dari kristal berubah menjadi biru tua yang pekat, memancarkan suara mendengung yang cukup keras. Energi stimulasi yang jauh lebih kuat menghantam dada Arkana. Arkana merasakan sensasi panas yang menyengat, namun ia tetap mempertahankan fokus mutlaknya pada Teknik Selubung Debu Fana. Lapisan impuritas palsunya menyerap hantaman itu dengan sempurna, mengubah energi stimulasi tersebut menjadi netral sebelum bisa menyentuh meridian aslinya.

​Setelah beberapa detik yang menegangkan, layar digital pada tongkat akhirnya mengeluarkan suara beep panjang dan mengunci sebuah angka tetap: 2.1%.

​Angka 2.1% adalah angka yang sangat rendah, bahkan berada di bawah rata-rata manusia biasa di kota besar. Itu adalah angka yang menunjukkan bahwa tubuh subjek hampir tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk beradaptasi dengan energi spiritual baru, alias manusia fana kualitas terendah.

​Aditia Pramono menurunkan tongkat tersebut dengan ekspresi kecewa yang jelas di wajahnya. Rasa curiga dan intuisi yang ia rasakan sejak tadi seolah-olah dipatahkan mentah-mentah oleh hasil digital di tangansnya.

​"Hasilnya hanya dua persen. Dia hanyalah manusia biasa dengan kondisi fisik yang agak buruk akibat polusi kota," ucap Aditia dengan nada meremehkan, mengembalikan tongkat itu kepada petugas medis. Ia menatap Arkana sekali lagi dengan pandangan dingin. "Kamu boleh pergi. Bersihkan tubuhmu, konsumsi makanan yang lebih sehat."

​"Ba... baik, Pak. Terima kasih," jawab Arkana dengan suara yang dibuat sedikit bergetar, berpura-pura lega setelah melewati pemeriksaan ketat. Ia membungkuk hormat sejenak, lalu segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang teratur.

​Begitu melangkah keluar dari pintu auditorium dan menghirup udara malam luar yang dingin, Arkana mengembuskan napas panjang. Di dalam tubuhnya, ia perlahan melepaskan jaring-jaring Teknik Selubung Debu Fana, membiarkan Qi murninya kembali mengalir bebas ke seluruh penjuru tubuh untuk memulihkan rasa lelah akibat menahan energi tadi.

​"Sangat dekat," batin Arkana, matanya berkilat di bawah kegelapan koridor kampus. "Dunia luar sudah mulai bergerak dengan cepat. Pemerintah sudah memiliki alat pendeteksi seperti itu, dan mereka aktif memburu siapa saja yang memiliki potensi kultivasi. Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di kampus jika situasi semakin memburuk."

​Tepat ketika Arkana berjalan mendekati gerbang luar kampus untuk mencari Dani, sebuah suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari arah dalam auditorium yang baru saja ia tinggalkan.

​BOOM!

​Suara kaca-kaca jendela yang pecah berserakan terdengar riuh, diikuti oleh teriakan histeris dari ratusan mahasiswa yang panik. Dari salah satu jendela lantai tiga auditorium, semburan api berwarna merah menyala meletup keluar, menerangi langit malam kampus yang gelap.

​Arkana menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan mata melebar. Di bawah persepsi batinnya yang tajam, ia bisa merasakan sebuah fluktuasi energi spiritual yang sangat liar, kacau, dan tidak terkendali sedang mengamuk di dalam gedung tersebut. Salah satu mahasiswa di dalam tampaknya mengalami fenomena Qi Deviation—kebangkitan energi yang gagal akibat penyerapan pasif yang terlalu drastis hingga membakar jalur meridian dan merusak kewarasan otaknya.

​Era baru yang dibawa oleh kebangkitan energi spiritual ternyata tidak hanya menawarkan kekuatan, tetapi juga membawa kegilaan dan kehancuran massal bagi mereka yang tidak siap. Dan di tengah kekacauan yang baru saja dimulai ini, Arkana tahu bahwa ia harus melatih dirinya jauh lebih keras lagi untuk mencapai ranah selanjutnya: Spirit Gathering.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!