Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
Pagi itu suasana di ruang kerja bagian proyek terasa lebih tenang dari biasanya. Rima baru saja selesai membereskan meja kerjanya saat terdengar ketukan pelan di pintu kaca ruangan terbuka. Ia mendongak dan melihat Andre berdiri di sana bersama Dino, memegang satu map tebal berwarna biru tua.
"Rima," panggil Andre singkat sambil melambai sedikit dengan tangan. "Sini sebentar."
Jantung Rima berdegup kencang seperti biasa setiap kali dipanggil nama itu. Ia segera berdiri, merapikan seragamnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.
"Iya Pak Andre. Ada tugas untuk saya?"
"Ini daftar data peserta pelatihan karyawan baru minggu depan," ucap Andre sambil menyodorkan map itu ke tangannya. "Ada sekitar 200 nama beserta data pribadi dan divisi masing-masing. Saya ingin kamu memeriksanya satu per satu. Pastikan tidak ada kesalahan penulisan nama, nomor identitas, jabatan, maupun alamat email."
Ia menatap Rima dengan tatapan tegas namun tenang. "Ingat instruksi saya, satu kesalahan tulisan saja yang lolos dari periksaanmu, kamu harus mengerjakan ulang semuanya dari awal. Tidak ada pengecualian. Data ini akan dicetak menjadi kartu peserta dan buku panduan, jadi ketelitian mutlak diperlukan."
Rima menerima map itu dengan kedua tangan, mengangguk kencang. "Siap Pak. Saya akan periksa dengan sangat teliti. Tidak akan ada yang salah."
"Kerjakan di mejamu. Selesaikan sebelum jam makan siang," tambah Andre sebelum berjalan pergi menuju ruangannya.
"Baik Pak!" seru Rima pelan sambil membungkuk sedikit.
Ia kembali ke mejanya, membuka map itu, dan tertegun melihat deretan nama yang panjang sekali. "Dua ratus nama..." gumamnya pelan. "Baiklah Rima, fokus. Jangan sampai salah satu huruf pun."
Ia mulai bekerja. Ia membuka berkas cetak di sebelah kiri, layar komputer di sebelah kanan, lalu membandingkan satu per satu dengan saksama. Awalnya ia berusaha diam seribu bahasa, tapi lama-kelamaan kebiasaannya muncul kembali begitu ia terlalu fokus. Berbicara sendiri.
"Pak Budi Santoso... S-A-N-T-O-S-O... benar," bisiknya pelan sambil menunjuk layar dengan jari. "Loh, huruf 'o' di sini bentuknya agak mirip huruf 'a' ya? Untung saya teliti, kalau tidak nanti jadi Santasa, malah jadi nama orang lain."
Ia mengangguk puas, lalu beralih ke baris berikutnya.
"Nomor urut lima belas... enam belas... tujuh belas... wah, nomornya rapi sekali berurutan ya. Jarang-jarang bisa begitu, biasanya ada yang melompat-lompat."
Rima terus bekerja sambil sesekali berkomentar pelan pada dirinya sendiri. "Emailnya... benar.
Divisi pemasaran... benar.
Loh, ini nama belakangnya sama persis dengan nama teman SDku dulu.
Hmm.. Mungkin mereka bersaudara. Hihihi ..."
Saking asyiknya bekerja dan berbicara sendiri, Rima tidak menyadari bahwa Andre baru saja keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil berkas di ruang rapat sebelah. Langkahnya terhenti tak jauh dari meja Rima saat mendengar suara bisikan pelan itu.
Andre berdiri diam di balik sekat pembatas ruangan, tidak terlihat oleh Rima. Ia mendengar jelas ucapan-ucapan gadis itu. Komentar soal huruf yang mirip, kekaguman pada nomor yang berurutan, sampai cerita soal teman SD yang namanya sama.
Dahi Andre sedikit berkerut pada awalnya, seolah heran ada orang yang bisa berbicara sendiri saat bekerja serius. Namun perlahan kerutan itu hilang. Ia melihat mata Rima yang menatap layar dengan saksama, jarinya yang menelusuri setiap baris tulisan, dan wajahnya yang berubah senang saat menemukan kesalahan kecil lalu memperbaikinya segera.
Andre tidak menegur, tidak memanggil, bahkan tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya berdiri diam beberapa saat, menyadari bahwa meskipun mulut gadis itu tidak bisa diam, matanya dan pikirannya tetap bekerja dengan sungguh-sungguh.
Beberapa detik kemudian ia melanjutkan langkahnya perlahan, berjalan melewati belakang Rima tanpa membuat suara sedikit pun. Rima sama sekali tidak menyadari bahwa atasannya baru saja mendengar semua omongannya.
Menjelang jam makan siang, Rima menekan tombol simpan dengan napas lega sambil menghembuskan napasnya dengan kuat.
''Huaahh.. Lega.''
Ia sudah memeriksa ulang dua kali, memperbaiki tiga kesalahan penulisan nama dan satu alamat email yang kurang tepat. Ia membawa berkas itu ke ruangan Andre dengan langkah percaya diri.
"Silakan masuk," suara Andre terdengar dari dalam.
Rima meletakkan berkas di atas meja dengan rapi. "Pak, data sudah selesai diperiksa. Saya menemukan beberapa kesalahan dan sudah memperbaikinya. Tidak ada yang terlewat."
Andre mengambil berkas itu, melirik sekilas daftar perubahan yang Rima catat di halaman terakhir, lalu mengangguk singkat.
"Bagus. Kerjamu selesai tepat waktu."
Rima tersenyum kecil, lalu berbalik hendak pergi. Baru sampai di ambang pintu, suara Andre terdengar pelan dari belakang.
"Kamu bekerja dengan cukup teliti. Hanya saja... usahakan mulutmu juga ikut fokus, bukan hanya matamu."
Wajah Rima seketika memerah padam. Ia langsung menoleh dan melihat Andre yang sudah kembali membaca dokumen lain seolah tidak berkata apa-apa.
"Maaf Pak! Kebiasaan. Saya lupa dan nggak sengaja. Saya janji akan berusaha lebih diam lagi!" serunya buru-buru sebelum menutup pintu dengan hati-hati.
Di dalam ruangan, Andre menahan senyum tipis sambil menggeleng pelan. Anak itu benar-benar ada saja tingkahnya, tapi setidaknya ia mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Itu jauh lebih penting daripada sekadar diam saja.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏