NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

____

"Di sekolah, Arthan itu terkenal sangat ketus, kaku, dan dingin. Kami bahkan sempat bermusuhan karena insiden bumper mobil! Bagaimana bisa Ibu berpikir untuk menjodohkan aku dengan cowok seperti dia?"

"Aku juga tidak tertarik dipasangkan dengan gadis yang ceroboh dan selalu membawa masalah di setiap langkahnya."

_____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Suasana tegang, Ujian Kenaikan Kelas Minggu Depan

Suasana kelas X3 mendadak beku.

Lembar soal ulangan mendadak ditarik dari meja, menyisakan ketegangan yang pekat.

Pernyataan guru bahwa ujian utama akan dimajukan pada Minggu depan membuat murid-murid tertegun, menciptakan riuh kepanikan massal, napas berat, dan keputusasaan seketika di seisi ruangan.

Udara di dalam ruang kelas X3 terasa semakin pengap dan menekan dada.

__________________

kriiiiiiingg......

Baru saja denting bel tanda istirahat pertama menggema, namun tidak ada satu pun murid yang beranjak dari tempat duduknya dengan wajah ceria.

Di depan kelas, Pak Tio—guru Matematika Peminatan yang terkenal dengan kacamata tebal dan ketegasannya—baru saja menutup spidol hitamnya dengan bunyi 'klik' yang memekakkan telinga.

"Kumpulkan tepat waktu. Saya tidak menerima alasan apapun," ucap Pak Tio sambil merapikan setumpuk kertas lembar jawaban.

Wajahnya datar, tanpa senyum, seolah tidak menyadari bahwa kalimat penutup yang ia lontarkan barusan telah menghancurkan mental separuh isi kelas.

"Untuk persiapan, materi yang kita pelajari hari ini akan menjadi kisi-kisi utama. Ingat, ujian akan dilaksanakan pada Minggu depan. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Selamat siang."

Tap.. tap...

Pak Tio melangkah keluar, meninggalkan keheningan singkat sebelum kelas seketika meledak menjadi lautan kepanikan.

________________

Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi bising oleh keluhan, desahan napas berat, dan kursi yang bergeser kasar.

Di samping Lyra berada, Rian menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Ia meratapi nasibnya dengan napas terengah-engah, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot.

"Gila! Minggu depan? Hari ini baru hari Kamis, berarti kita cuma punya waktu efektif tiga hari termasuk akhir pekan untuk belajar!" seru Rian sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.

Ia memandang langit-langit kelas dengan tatapan kosong.

"Ulangan harian dadakan barusan saja membuat otakku berasap, sekarang Pak Tio malah menjatuhkan bom waktu. Bagaimana mungkin aku bisa menghafal puluhan rumus integral dan logaritma dalam waktu sesingkat itu?"

________________

Di tengah keriuhan tersebut, Lyra menarik napas dalam-dalam.

Ia tidak ingin membuang waktu dengan mengeluh seperti teman-temannya.

Tekadnya sudah bulat untuk mendapatkan nilai yang baik pada ujian Minggu Depan.

Tap.. tap....

Ia berjalan mantap menuju barisan bangku depan, tepat ke arah meja Dina.

Dina adalah teman sekelasnya yang selalu menyandang predikat juara 1 umum di angkatan.

Berbeda dengan murid lain yang tampak kusut, Dina sedang dengan tenang merapikan alat tulisnya.

"Dina," panggil Lyra dengan suara sedikit ragu, namun menyiratkan keseriusan.

Dina menoleh, menatap Lyra dengan senyumnya yang ramah dan menenangkan.

"Hai, Lyra. Duduklah. Kenapa? Wajahmu kelihatan panik sekali," kata Dina sambil menepuk kursi kosong di samping mejanya.

kriet...

Lyra menarik kursi itu dan duduk.

"Tentu saja aku panik, Din. Siapa yang tidak stres mendengar pengumuman Pak Tio barusan? Ujian Minggu depan terasa seperti mimpi buruk. Aku benar-benar kesulitan mengikuti pelajarannya, apalagi bab terakhir kemarin. Nilai ulanganku yang lalu pas-pasan, dan aku takut hal yang sama terulang lagi," aku Lyra dengan jujur, suaranya terdengar memelas.

Dina mengangguk perlahan, menunjukkan empati.

Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen.

"Aku mengerti perasaanmu, Lyra. Memang bukan hal yang mudah menerima materi seberat Matematika Peminatan dalam waktu singkat. Tapi percayalah, panik tidak akan menyelesaikan masalah. Yang kita butuhkan sekarang adalah strategi belajar yang efektif." Mata Lyra berbinar mendengar kata strategi.

"Strategi? Apakah ada cara khusus untuk menguasai materi secepat itu? Aku benar-benar butuh bantuanmu, Din. Maukah kamu mengajariku? Aku bersedia belajar keras asalkan aku bisa memahami konsep-konsepnya."

"Tentu saja aku mau," jawab Dina cepat, membuat Lyra menghela napas lega.

"Pertama-tama, kita tidak bisa mempelajari semuanya secara acak. Otak kita butuh peta. Mari kita petakan dulu bab mana saja yang menjadi kelemahan terbesarmu. Apakah di bagian fungsi eksponensial atau logaritma?"

Lyra berpikir sejenak, mengingat-ingat kembali penjelasan Pak Tio.

"Sepertinya di bagian sifat-sifat logaritma, Din. Aku sering tertukar antara rumus perkalian, pembagian, dan perpangkatan. Saat melihat angka-angkanya digabung, kepalaku langsung pusing."

"Itu hal yang sangat wajar," kata Dina menenangkan sambil mulai menuliskan sesuatu di kertas.

"Logaritma memang membutuhkan ketelitian dalam melihat pola, bukan sekadar menghafal rumus. Mari kita bedah satu per satu. Ingat prinsip dasar logaritma: (^a\log b \= c) maka (a^c \= b). Ini adalah kunci utamanya. Jika kamu memahami konsep perpangkatan yang mendasarinya, logaritma akan terasa jauh lebih mudah."

Dina kemudian menjelaskan konsep dasar tersebut dengan analogi yang sangat sederhana dan mudah dicerna oleh Lyra.

Lyra mendengarkan dengan saksama, sesekali menganggukkan kepalanya dan mencatat poin-poin penting di buku catatannya.

Suasana bising di belakang kelas seolah memudar, teredam oleh fokus mereka berdua.

"Lalu, bagaimana dengan sifat penjumlahannya?" tanya Lyra sambil menunjuk tulisan Dina.

"Kenapa (^a\log(x \cdot y)) bisa berubah menjadi (^a\log x + ^a\log y)?"

Dina tersenyum melihat antusiasme Lyra.

"Pertanyaan bagus. Mari kita buktikan bersama. Misalkan (^a\log x \= m) dan (^a\log y \= n). Berdasarkan definisi awal, kita tahu bahwa (x \= a^m) dan (y \= a^n). Jika kita kalikan keduanya, maka (x \cdot y \= a^m \cdot a^n). Dalam sifat eksponen, jika bilangan pokoknya sama, pangkatnya harus dijumlahkan, bukan? Jadi hasilnya adalah (x \cdot y \= a^{m+n})."

"Ah, benar!" seru Lyra mulai memahami alur penjelasannya.

"Lalu kita ubah lagi ke bentuk logaritma, kan?"

"Tepat sekali," lanjut Dina dengan antusias.

"Maka bentuk logaritmanya menjadi (^a\log(x \cdot y) \= m + n). Karena kita tahu bahwa (m) adalah (^a\log x) dan (n) adalah (^a\log y), kita tinggal memasukkannya kembali. Terbuktilah bahwa (^a\log(x \cdot y) \= ^a\log x + ^a\log y)."

Lyra menatap catatan tersebut dengan pandangan kagum.

Ia tidak menyangka rumus yang selama ini terlihat rumit dan menakutkan ternyata memiliki logika yang sangat runtut dan masuk akal.

"Ya ampun, Dina! Kenapa Pak Tio tidak menjelaskannya dengan cara seperti ini ya? Penjelasanmu jauh lebih mudah dipahami daripada sekadar menyuruh kami menghafal rumus di papan tulis."

"Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda, Lyra. Mungkin Pak Tio terbiasa dengan metode cepat, tapi untuk memahaminya, kita memang harus kembali ke akar konsepnya. Yang terpenting adalah latihan soal," ujar Dina sambil mengeluarkan buku kumpulan soal dari dalam tasnya.

"Setelah ini, kita akan mencoba mengerjakan beberapa contoh soal tipe ujian. Apakah kamu membawa bukumu?"

"Bawa, bawa!" jawab Lyra dengan semangat, mengambil bukunya dengan antusiasme yang melonjak tinggi.

Kepanikan yang ia rasakan beberapa menit yang lalu telah berganti menjadi rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.

"Tapi Din, bagaimana kalau nanti saat ujian aku merasa gugup lagi dan lupa semua langkah ini?"

Dina menatap Lyra dengan sungguh-sungguh.

"Kegugupan adalah hal yang wajar, Lyra. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan pembiasaan. Semakin sering kita melatih otak kita dengan pola soal yang mirip, semakin refleks pula ingatan kita saat melihat soal aslinya nanti. Selama tiga hari ke depan, kita akan berlatih dari soal-soal tahun lalu. Kita akan mulai dari tingkat kesulitan yang rendah hingga ke tingkat yang lebih tinggi."

"Aku siap," kata Lyra dengan tekad yang membara.

"Aku tidak ingin mengecewakan diriku sendiri kali ini. Aku ingin mendapatkan nilai yang baik, setidaknya untuk membuktikan bahwa usaha kerasku tidak sia-sia."

"Aku yakin kamu bisa, Lyra. Semangatmu adalah modal terbesar," puji Dina.

"Sekarang, mari kita kerjakan soal pertama ini. Coba selesaikan (^2\log 8 + ^2\log 4) dengan menggunakan sifat yang baru saja kita pelajari."

Lyra menunduk, menatap soal tersebut, dan mulai menuliskan langkah-langkahnya dengan hati-hati.

Ia menggabungkan kedua logaritma tersebut menjadi (^2\log(8 \cdot 4)), lalu menghitungnya. Saat ia menemukan hasilnya, matanya berbinar senang.

"Hasilnya 5, Din! Apakah benar?"

"Tepat sekali! Hebat, kamu bisa memahaminya dengan sangat cepat," kata Dina memberikan apresiasi.

"Lihat? Matematika tidak semenakutkan itu, bukan? Hanya butuh sedikit kesabaran dan latihan."

Percakapan yang mendalam dan produktif itu terus berlanjut hingga jam istirahat hampir habis.

Meja Dina telah berubah menjadi meja belajar pribadi mereka berdua.

Mereka membahas berbagai tipe soal, mulai dari persamaan eksponen hingga grafik fungsi logaritma.

Dina dengan sabar membetulkan setiap langkah Lyra yang kurang tepat, sementara Lyra terus menyerap setiap ilmu yang dibagikan oleh temannya itu.

______________

Di sekeliling mereka, teman-teman yang lain mulai lelah meratapi nasib dan secara perlahan mulai membuka buku, menyadari bahwa mengeluh tidak akan mengubah jadwal ujian hari Senin.

Beberapa di antara mereka bahkan ada yang melirik ke arah meja Dina dan Lyra, melihat betapa tenangnya Lyra yang kini tampak fokus.

_______________

kriiiiiiingg.....

Ketika bel tanda masuk berbunyi, Lyra dan Dina merapikan buku mereka.

Suasana kelas yang tadinya riuh oleh kepanikan kini berangsur-angsur menjadi lebih tenang.

Tap-tap

Masing-masing murid kembali ke tempat duduk mereka dengan sisa-sisa semangat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.

"Terima kasih banyak, Dina," bisik Lyra sebelum ia kembali ke bangkunya sendiri.

"Penjelasanmu hari ini sangat berharga. Aku merasa jauh lebih siap untuk Minggu Depan."

"Sama-sama, Lyra. Senang bisa membantumu," balas Dina dengan senyum hangatnya.

"Nanti sore, jika kamu masih bingung dengan materi yang lain, kita bisa lanjut belajar bersama lagi. Jangan ragu untuk bertanya." Lyra mengangguk mantap.

Tap.. tap...

Ia kembali ke mejanya dengan langkah ringan dan senyum yang menghiasi wajahnya.

Kegelisahan yang awalnya menyelimuti hatinya telah sirna, berganti dengan rasa optimis dan semangat belajar yang tinggi.

Ujian Minggu Depan mungkin akan tetap menjadi tantangan yang berat, namun Lyra tahu ia tidak akan menghadapinya dengan tangan kosong.

Ia memiliki persiapan, strategi, dan yang terpenting, keyakinan bahwa ia mampu melewatinya dengan nilai yang memuaskan.

Bersambung~~~~

Yuhu!!!! Semoga suka ya guys!! 🤗 mereka mau ujian kenaikan kelas guys ehehehe

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Edi Seprianto
cocok untuk anak remaja dan genre nya juga ada manis manis nya
Zea Amanda487
Cerita anak remaja yang ku suka ><
Dinnda Ayu Pratiwi
Bagus ceritanya, suka deh 🤩
ig:_ilfaraksara
Yuhuuuuuuuuuu
dinda.glow: maaci akk dah mampir... ntar adk mampir kok ehehe
total 1 replies
ig:_ilfaraksara
Lanjut, Kak Dinda.
dinda.glow: siapsss
total 1 replies
Dinnda Ayu Lonia
Ceritanya bagus.... sangat suka!!! 🤩🤩 Tidak hanya menceritakan tentang anak remaja, namun tentang kebersamaan keluarga juga ada ehehe
Rafifa Clemira Karima
Keren banget ceritanya, sangat suka.

cocok untuk remaja, ceritanya tentang anak SMA /Good//Good//Good/
Protocetus
Novel Teenlit yang fresh
dinda.glow: makasih >< aamiin
total 3 replies
Protocetus
gk pp sesekali bolos. Urus rumah
dinda.glow: ehehehe... itu bukan bolos si.. tapi salah kostum. karna Lyra nya semangat nak sekolah, tpi blm sklh ehehe
total 1 replies
Protocetus
Stay halal 💪
Maysa
Semangat terus berkarya ya🤗
dinda.glow: avvv maaci support nya 🤩🤩😻

aamiin
total 1 replies
ig:_ilfaraksara
Keren sih Dinda ini konsisten banget nulisnya. Semoga nular ke aku, aamiin. 🤲🫶
dinda.glow: aamiin.. maaci akk support nya ✨
total 1 replies
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
Bubun123
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!