NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:126.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

***

Waktu berputar dengan ritme yang lebih tenang di Mansion Hadiwinata. Dua bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Hotel Grand Majestic malam yang secara resmi menyapu bersih hama terakhir dalam kehidupan Raditya dan Nadia. Siska telah dikirim ke tempat di mana ia tak akan pernah bisa menyentuh cahaya publik lagi, sementara Nyonya Sekar menjalani masa pensiun paksa di sebuah vila tersembunyi di Puncak, jauh dari intrik kekuasaan yang dulu begitu dipujanya.

Tak terasa, usia kandungan Nadia kini telah menginjak delapan bulan. Perutnya yang kian membesar bukan lagi menjadi beban, melainkan simbol kemenangan bagi jiwa Aurelia yang kini telah sepenuhnya berdamai dengan takdirnya. Ia bukan lagi wanita yang merasa asing dalam tubuh ini ia adalah Nadia Hadiwinata, permaisuri dari sang Naga yang paling ditakuti sekaligus paling dicintai.

**

Cahaya matahari pagi yang lembut menyelinap melalui jendela dapur, menerangi sosok Nadia yang sedang sibuk di depan meja konter marmer. Meski pinggangnya terasa pegal luar biasa dan kakinya mulai sedikit membengkak, ia menolak perintah Raditya untuk membiarkan pelayan menyiapkan segalanya.

Ada kepuasan tersendiri bagi Nadia saat ia mengoleskan mentega pada roti gandum, menyusun lembaran daging asap, selada segar, dan telur mata sapi yang dimasak setengah matang tepat seperti selera suaminya.

"Nghhh..." Nadia sedikit meringis, memegangi pinggang belakangnya saat ia mencoba meraih botol saus.

"Ibu, biar Bi Sum saja yang lanjut. Bapak bisa marah kalau lihat Ibu kecapekan," ucap Bi Sum cemas sambil menghampiri.

Nadia tersenyum lembut, senyum yang kini jauh lebih tulus daripada saat ia pertama kali bangun di tubuh ini. "Tidak apa-apa, Bi. Mas Radit itu paling suka kalau rotinya dipanggang agak kering. Kalau pelayan yang buat, dia pasti makannya hanya sedikit karena sungkan. Saya mau dia makan banyak sebelum menghadapi rapat direksi yang melelahkan itu."

Bi Sum hanya bisa menggelengkan kepala, kagum melihat transformasi majikannya yang dulu angkuh kini menjadi sosok istri yang sangat penuh perhatian.

Setelah menyiapkan nampan berisi sandwich, segelas susu hamil untuknya, dan secangkir kopi hitam tanpa gula kopi tubruk kegemaran Raditya Nadia melangkah perlahan menuju lantai atas. Tangannya yang satu menahan perut, sementara tangan lainnya memegang nampan dengan hati-hati.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Raditya baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana panjang kain berwarna hitam dan kemeja putih yang kancingnya belum dikaitkan. Rambutnya masih sedikit basah, memberikan kesan maskulin yang selalu berhasil membuat jantung Nadia berdegup kencang meski mereka sudah melewati banyak malam bersama.

"Nadia? Sudah saya katakan berapa kali, jangan naik tangga membawa beban," suara Raditya terdengar kaku, namun matanya langsung memindai setiap gerak-gerik Nadia dengan cemas. Ia segera melangkah maju, mengambil alih nampan itu dan meletakkannya di meja rias.

"Hanya sandwich, Mas. Bukan bawa brankas uang," goda Nadia sambil terkekeh kecil. Ia mendekat ke arah Raditya, mengambil dasi sutra berwarna biru gelap yang tergeletak di ranjang.

Raditya menatap istrinya dalam-dalam. "Pinggang kamu masih sakit? Semalam kamu gelisah terus tidurnya."

"Sedikit pegal saja. Biasa, Sayang, bayinya makin berat," jawab Nadia santai. Kata Sayang kini mengalir begitu alami dari bibirnya, tak lagi seperti tantangan 24 jam yang dulu.

Nadia mulai melingkarkan dasi itu di kerah kemeja Raditya. Karena tinggi badan Raditya yang menjulang dan perut Nadia yang besar, posisi mereka menjadi sangat dekat. Nadia harus sedikit berjinjit, sementara perut buncitnya mau tidak mau terhimpit dan menggesek perut rata Raditya yang keras.

Raditya bisa merasakan gerakan bayi di dalam sana saat perut mereka bersentuhan. Ia secara refleks melingkarkan tangannya di pinggang Nadia, menyangga tubuh istrinya agar tidak terlalu lelah berjinjit.

"Kenapa kamu memaksakan diri, hm?" bisik Raditya, suaranya serak di dekat telinga Nadia.

Nadia sibuk mengatur simpul dasi, wajahnya berkerut serius. "Aku cuma mau menjadi istri yang baik. Bangun pagi, siapkan sarapan, bantu pakaikan dasi... bukankah itu peran yang seharusnya aku pelajari?"

Raditya terdiam sejenak, membiarkan jemari lembut Nadia menata kerah kemejanya. "Sayang, apakah kamu tidak lelah?"

Nadia berhenti sejenak, mendongak menatap mata hitam pekat suaminya. "Tidak. Kenapa memangnya, Mas?"

"Selama dua bulan ini, kamu selalu bangun lebih pagi dari saya. Kamu membuatkan sarapan dengan tanganmu sendiri, membantu saya memakaikan dasi dan jas setiap hari, padahal saya tahu tidurmu tidak pernah nyenyak karena posisi bayi kita. Apakah itu benar-benar tidak membuatmu lelah?" tanya Raditya lagi, jemarinya mengusap pipi Nadia dengan sangat lembut.

Nadia terdiam, lalu sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Ia melepaskan dasi yang sudah hampir rapi itu dan menatap Raditya dengan tatapan sedih yang dibuat-buat. Matanya mendadak berkaca-kaca.

"Ohh... jadi Mas Radit sudah bosan ya sama aku?" ucap Nadia dengan suara bergetar. "Mas pasti merasa risih karena aku selalu menempel. Aku tahu, sekarang aku sudah tidak cantik lagi. Aku sudah tidak menarik. Aku gendut, jalannya kayak pinguin, pipiku makin tembem... Mas pasti sudah jenuh dan mau cari sekretaris baru yang lebih langsing dan cantik seperti Vanya atau Siska dulu, kan?"

Raditya terhenyak. Matanya membelalak kaget melihat perubahan suasana hati istrinya yang secepat kilat. "Nadia... bukan begitu maksud saya—"

"Mas nggak usah bohong! Tadi Mas tanya aku lelah atau nggak, itu aslinya kode kan? Mas mau bilang kalau Mas bosan lihat aku pagi-pagi pakai daster dan bau dapur!" Nadia memutar tubuhnya membelakangi Raditya, berpura-pura terisak kecil.

"Husttt! Jangan bicara omong kosong seperti itu!" Raditya dengan cepat memeluk Nadia dari belakang, mendekap perut buncitnya dengan protektif. Ia membenamkan wajahnya di rambut Nadia, menghirup aroma yang selalu menenangkannya.

"Dengarkan saya, Nadia Hadiwinata," ucap Raditya dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah, namun sarat akan kasih sayang. "Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mampu menggantikan posisi mu sebagai Nyonya Hadiwinata. Mau kamu gendut, mau kamu tembem, atau mau kamu marah-marah setiap pagi, bagi saya kamu adalah wanita paling sempurna. Kamu sedang membawa pewaris saya, masa depan saya. Bagaimana mungkin saya bosan?"

Raditya membalikkan tubuh Nadia, memaksanya menatap mata elangnya yang kini melunak. "Di mata saya, setiap perubahan di tubuhmu adalah bukti kekuatanmu. Saya bertanya karena saya cemas, bukan karena jenuh. Mengerti?"

Nadia menahan tawa melihat raut wajah Raditya yang tampak begitu panik sekaligus tulus. Ia akhirnya tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil, menyembunyikan wajahnya di dada Raditya.

"Mas Radit kalau panik lucu juga ya," goda Nadia.

Raditya menghela napas panjang, menyadari bahwa ia baru saja dikerjai oleh istrinya sendiri. "Kamu benar-benar nakal, Sayang. Hampir saja saya panggil tim IT untuk memblokir semua akun sosial media sekretaris di kantor agar kamu tidak curiga."

Nadia tertawa lebih keras, lalu mendongak untuk menerima kecupan dalam di keningnya. Raditya menciumnya cukup lama, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Nadia.

"Terima kasih sudah memilih untuk tinggal, Nadia. Terima kasih sudah menerima saya," bisik Raditya lirih.

Nadia memeluk bahu kokoh suaminya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Aku yang berterima kasih, Mas. Karena sudah menjadi rumah yang aman untukku dan anak kita."

Mereka akhirnya duduk di balkon kamar, menikmati sandwich buatan Nadia di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat. Raditya menyesap kopi hitamnya, sementara Nadia dengan semangat menceritakan tendangan-tendangan bayi mereka semalam yang membuatnya terjaga.

"Dia sepertinya mau jadi pemain bola, Mas. Tendangannya kuat sekali," ucap Nadia sambil mengunyah sandwich-nya.

"Atau mungkin dia mau jadi tentara seperti kakeknya," sahut Raditya, merujuk pada latar belakang militer di keluarga besar mereka.

"Apapun itu, dia akan tumbuh menjadi pria yang kuat karena memiliki ibu seperti kamu."

Nadia tersenyum, hatinya terasa penuh. Ia tahu, di luar sana mungkin masih ada badai yang mengintai, entah itu dari relasi bisnis yang iri atau sisa-sisa dendam lama. Namun, melihat Raditya yang kini duduk santai di depannya tanpa topeng CEO Dingin, Nadia tahu bahwa mereka akan baik-baik saja.

Pagi itu bukan hanya sekadar sarapan biasa. Itu adalah momen di mana dua jiwa yang awalnya bertemu karena paksaan dan intrik, kini telah menemukan labuhan terakhir mereka.

"Mas..." panggil Nadia pelan.

"Iya, Sayang?"

"Nanti pulang kantor, jangan lupa beli martabak lagi ya. Tapi kali ini aku mau yang rasa keju spesial," ucap Nadia dengan cengiran lebarnya.

Raditya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum pasrah. "Apapun untuk permaisuriku."

Matahari kian meninggi, menyinari pasangan yang kini telah benar-benar menyatu dalam takdir yang tak terduga. Sang Naga dan Permaisurinya siap menghadapi hari, tidak lagi dengan senjata, melainkan dengan kekuatan cinta yang telah mereka bangun di atas reruntuhan pengkhianatan masa lalu.

***

Bersambung

1
Amiera Syaqilla
hello author🙂💕
Heresnanaa_: hai kaka😚
happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Osie
nah ibu baru sosok tangguh..keren nadia kalu boleh buat nadia jago bela diri juga thor..makin seruuu
partini
Nadia Badas
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Pdhl suaminya lg anteng aja,atw mgkin nahan diri krna tkut trjdi ssuatu sm baby.....laahhh.....kucing nkalnya mlah sngja bkin sng singa bngun....
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
/CoolGuy/ Aurelia dengan beraninya
Noey Aprilia
Meleleh hti neng bangggg.....
mskpn kaku ky papan,tp trnyta d blakang rmntis bgt....bnr2 udh kna virus bucin akut....
Helen@Ellen@Len'z: sy mau juga 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nasri
lanjuutt🙏💪💪
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
Nasri
lanjut thorr penasaran nih
paijo londo
waaahhh radit benar2 plek keteplek jatuh bangun sama si bar2 ibu hamil🤣🤣🤣🤣yg lain kyaknya di mata Radit ngontrak dibulan pokoknya jauuuuhhh banget y dit
Noey Aprilia
Pdhl d luaran sna,dngin ky kulkas 6 pntu....bgtu dkt pwangnya,mesyummmm.......🤭🤭🤭
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
partini
OMG nad baby udah mau otw masih aja santuyy
Kalief Handaru
,ayo nadia-aka Aurel balas Radit biar g bisa jalan🤣🤣
Kalief Handaru
duuhhhh cucu menteri tuh🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Mski ksel,tp ttp syangy sm bayi gde....😁😁😁....
baby udh ga sbr ktmu ortu badas y....
sbr y....
Heresnanaa_: namanya jika Dady Radit kak🫣🤫
total 1 replies
Kalief Handaru
waah Radit kamu bakalan punya penyakit baru ... mumet plus darah tinggi kena mental ma istrimu yg baru tuh...raganya maksudnya 🤣🤣🤣
Kalief Handaru
aduh thor kok lucu y 👍👍mampir thor
Heresnanaa_: Hai Kaka, happy reading yaa🫶😚
total 1 replies
Ai Umana sari
seru cerita nya
Ai Umana sari
satuju, Rapat suami idaman😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!