Miles Sterling hanyalah seorang menantu miskin yang dihina dan direndahkan oleh istri dan keluarganya. Saat ibunya sakit parah dan butuh biaya operasi $250.000, istrinya justru menghabiskan $300.000 untuk pesta mantan kekasihnya.
Namun takdir berkata lain. Miles ternyata adalah satu-satunya pemilik 50 koin NexaChain—mata uang kripto yang nilainya kini melonjak menjadi $40 miliar. Dalam semalam, ia berubah dari pengemis menjadi miliarder sekaligus CEO NexaChain Global. , perusahaan raksasa di balik koin tersebut.
Kini, dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan, Miles siap membalas semua penghinaan. Tapi akankah ia mampu mempertahankan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan
Miles berjalan memasuki rumah sakit sambil menggenggam ponselnya. Kedua tangannya masih gemetar karena syok atas apa yang baru saja ia peroleh.
Ia sudah memindahkan sebagian uangnya, tepatnya satu juta dolar, dari dompet NexaChain miliknya ke rekening banknya.
Saat semakin mendekati lorong menuju ruang rawat ibunya, ia mendengar suara-suara yang meninggi. Banyak orang berkumpul di sana, berbisik-bisik sambil menatap ke arah yang sama.
Rasa penasaran menguasainya.
Ia menerobos kerumunan dengan jantung berdegup kencang.
Lalu ia mendengar suara melengking seorang wanita.
"Bawa dia pergi! Jangan buang waktu! Anaknya sudah meninggalkannya karena tidak punya uang! Jadi dia tidak bisa terus tinggal di sini dan hanya memenuhi tempat!"
Begitu berhasil menerobos kerumunan di lorong itu, Miles membeku melihat pemandangan di depan matanya.
Mereka sedang meneriaki ibunya.
Dua petugas keamanan rumah sakit sedang menyeret ibunya menuju pintu keluar. Tubuh wanita itu tampak sangat lemah, bahkan nyaris tidak mampu berdiri. Gaun pasien yang dikenakannya menggantung longgar di tubuhnya yang kurus.
Di samping kedua petugas itu berdiri seorang perawat.
Kedua tangannya disilangkan, dan wajahnya dipenuhi ekspresi kesal. Ia memandang ibu Miles dengan tatapan penuh kemarahan.
"Tidak ada uang, tidak ada pengobatan! Itu adalah peraturan rumah sakit kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," bentak perawat itu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa horma.
Perawat itu menoleh kepada ibu Miles dengan tatapan jijik sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa kau pikir kau bisa terus tinggal di sini tanpa membayar? Kami bukan lembaga amal. Keluarkan dia dari sini! Dia hanya membuang-buang tempat!"
Miles membeku di tempatnya.
Perawat itu bahkan tidak melirik ke arahnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada ibu Miles yang sedang berjuang mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Kalau kau tidak punya uang, kami tidak bisa menyulap keajaiban untuk menyembuhkanmu," katanya lagi dengan tatapan yang semakin dingin sebelum kembali menoleh kepada para petugas keamanan.
"Keluarkan dia sekarang juga."
Dada Miles terasa sesak. Rahangnya mengeras karena amarah dan kekesalan melihat bagaimana perawat itu memperlakukan ibunya.
"Berhenti!" teriaknya dengan suara yang bergetar menahan amarah. "Bawa ibuku kembali ke dalam. Sekarang juga. Aku akan membayar seluruh biayanya!"
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
Semua orang tampak terkejut.
Kedua petugas keamanan saling berpandangan dengan bingung. Genggaman mereka pada tubuh ibu Miles sedikit mengendur.
Namun perawat itu justru menoleh. Tatapannya menyapu tubuh Miles dari atas sampai bawah. Lalu ia mendengus sinis.
"Kau?" Nada suaranya dipenuhi rasa jengkel. "Bukankah kau pria yang tadi mengemis di sini?"
Bibirnya melengkung membentuk senyum mengejek. "Jadi akhirnya kau kembali merangkak kepada istrimu untuk meminta uang? Atau ini bagian dari penipuan barumu?"
Miles tidak menanggapi hinaan itu.
Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dipikirkan perawat tersebut.
Seluruh perhatiannya tertuju kepada ibunya, yang mulai batuk lemah.
"Aku sudah bilang, bawa ibuku kembali ke dalam," ulang Miles sambil melangkah maju. "Aku akan membayar semuanya."
Perawat itu tertawa begitu keras hingga menarik perhatian semua orang kepada Miles. Ia berbalik menghadap kerumunan yang semakin banyak.
"Baiklah, ini dia," katanya dengan nada penuh sindiran. "Dengar baik-baik, semuanya! Pengemis ini kembali dari surga dan bilang kalau dia siap membayar dua ratus lima puluh ribu dolar. Luar biasa, bukan?"
Orang-orang di sekitar mulai saling berbisik.
Sebagian tertawa kecil.
Sebagian lagi menatap Miles dengan rasa iba atau penuh keraguan.
Bahkan ada beberapa orang yang mulai mengeluarkan ponsel mereka, berharap bisa merekam kejadian itu.
Perawat itu kembali menghadap Miles sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalau pria ini benar-benar bisa membayar, aku akan langsung mengundurkan diri. Lalu kalau ternyata dia tidak bisa… Aku sendiri yang akan menamparnya dan menyeret dia keluar bersama ibunya yang sedang sekarat karena sudah membuang-buang waktu kami!”
Tepat pada saat itu, Dokter Tyler memasuki lorong setelah mendengar keributan di luar. Tatapannya langsung tertuju pada Miles dengan raut kesal yang begitu jelas.
"Kenapa kau masih ada di sini?" bentak dokter itu dengan suara dingin dan tajam. "Kau sudah diberi tahu syaratnya. Kami tidak menciptakan keajaiban di rumah sakit ini, Tuan Sterling. Kalau kau tidak punya uang, berhentilah membuang waktu semua orang dan cari tempat lain yang menjual belas kasihan."
Perawat itu langsung mengangguk setuju. Sikap angkuhnya semakin menjadi-jadi.
"Benar sekali. Sudah cukup sandiwaranya. Memalukan."
Miles tidak menjawab, wajahnya tetap tenang. Namun di dalam dirinya, amarah sedang berkobar.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka kuncinya. Cahaya dari aplikasi perbankan menyinari wajahnya saat ia membuka menu transfer.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Namun tiba-tiba… Layar mulai melambat. Lingkaran pemuatan terus berputar.
Ia mengetuk layar sekali lagi.
Tidak terjadi apa-apa.
Jantungnya berdegup lebih kencang.
Aplikasi itu tidak mau terbuka.
Ia mematikan layar ponselnya lalu menyalakannya kembali, berharap aplikasi itu bisa berjalan normal.
Tetapi tetap saja… Aplikasi itu masih macet.
Perawat itu melangkah mendekat sambil mengangkat sebelah alis dengan senyum penuh ejekan.
"Hah!" Ia tertawa keras. "Lihat dia. Berpura-pura kalau ponselnya bermasalah."
Ia menggeleng pelan.
"Coba katakan padaku, bagaimana mungkin seseorang yang mampu membayar dua ratus lima puluh ribu dolar tidak sanggup membeli ponsel yang bagus? Sudah berapa lama? Tujuh menit? Kalau kau benar-benar punya uang sebanyak itu, transfernya tidak mungkin memakan waktu selama ini."
Ia memiringkan kepalanya sambil meninggikan suara agar seluruh orang di lorong bisa mendengarnya.
"Biar aku tebak. Aplikasi bankmu masih sedang berpikir, ya? Dari tadi kau terus menggulir layar, mengetuk, menyegarkan halaman, tapi tetap tidak terjadi apa-apa?"
Wah… Akting sebagus ini pantas mendapat penghargaan. Ponsel malang itu tidak perlu disalahkan. Berhentilah memukulnya hanya karena kebodohan kau sendiri."
Perawat itu tertawa kecil.
Bahkan dokter dan beberapa orang di sekitar mulai ikut tertawa.
Gelombang tawa kembali pecah di sekeliling Miles.
Sebagian orang mengangkat ponsel mereka untuk merekam.
Sebagian lainnya berbisik-bisik sambil melontarkan hinaan.
Miles mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Kedua matanya dipenuhi bara amarah.
"Ini aplikasi bankku..." katanya sambil berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Butuh sedikit waktu untuk memuat. Tolong beri aku satu menit lagi. Aku akan mengirim uang itu kepada kalian."
Namun… Tidak seorang pun mau memberinya kesempatan untuk dipercaya.
"Dengar itu?" seseorang mendengus.
"Aplikasi bank apa yang butuh sepuluh menit hanya untuk terbuka?"
"Dia pasti menganggap kita semua bodoh."
"Berhentilah mempermalukan diri sendiri. Kalau kau sudah tidak punya harga diri, setidaknya pikirkan ibumu. Menyerahlah dan pergi."
Rasa malu membakar seluruh tubuh Miles.
Namun ia tidak memperlihatkannya. Ia mengatupkan rahangnya, lalu memulai ulang ponselnya dan kembali mencoba membuka aplikasi tersebut.
Dokter Tyler mengembuskan napas panjang dengan kesal.
"Ini benar-benar konyol," katanya tajam. "Petugas keamanan, keluarkan dia. Sekarang juga. Rumah sakit ini harus kembali berjalan dengan normal."
miles ceo dingin dn kejam,agar lebih menarik membacanya thorr👍👍