NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Yuma sudah tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah.

Ia berusaha keras menahan suaranya agar tidak menarik perhatian guru piket yang sedang mondar-mandir di kejauhan koridor.

“Gue tuh, ya,” lanjut Kanza sambil meremas gelas plastik es tehnya dengan gemas hingga es batunya berderak.

“Waktu itu gue lagi di lantai atas, ngintip dari balik tirai kamar yang gue buka cuma selebar kelingking. Cuma sekilas doang, Yum! Tapi sedetik itu sudah cukup buat otak gue ngebentuk seribu asumsi liar yang bikin gue pengen pindah planet.”

“Fisiknya gimana? Coba, cerita yang detil. Gue penasaran tingkat dewa nih! Deskripsikan dari ujung rambut sampai ujung sepatunya!” desak Yuma, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang tidak sehat.

“Putih. Rapi banget, sampai gue curiga dia setrika kemejanya pakai penggaris biar garis lipatannya presisi. Wajahnya bersih banget, Yum, nggak ada kumis atau brewok. Ganteng sih, tapi tipe ganteng yang bikin lo merasa berdosa kalau mau ngajak dia ngobrol kasar. Auranya tuh... kayak abang-abang yang sering lewat di fyp atau ngisi kajian di YouTube dengan judul 'Cara Menata Hati'. Wibawanya kebanyakan! Gue sampai pengen sujud syukur pas dia pamit pulang karena tekanan batin gue rasanya langsung turun drastis.”

Yuma sampai terbatuk menahan tawa yang meledak di tenggorokan.

“Terus, dia kan sempat ngomong, Suaranya gimana?”

“Ngomong! Dan sumpah ya, lo tahu nggak apa kalimat pertama yang keluar dari mulutnya pas ngenalin diri? Suaranya tuh berat, jenis suara yang kalau dia ngomong 'Halo', lo langsung pengen istighfar.”

Kanza menirukan dengan suara yang diberatkan dan penuh dramatisasi yang dibuat-buat.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Hanan Arkan. Orang-orang di pesantren memanggil saya Gus Hanan"

“GUS HANAN???” pekik Yuma tertahan, mulutnya menganga lebar.

“IYAAA! ADA GELAR 'GUS'-NYA! Lo pikir gue siap dipanggil ‘Istri Gus’? Nama gue Kanza, Yum, bukan Sayyidah! Gue masih pengen dengerin lagu galau sambil nangis di pojokan kamar kalau drakor favorit gue sad ending, bukan nyiapin air wudhu buat suami setiap jam tiga pagi!”

“HAHAHA! ZA...YA ALLAH, GILA SIH LO!” Yuma memegangi perutnya yang mulai kaku karena tertawa.

Kanza menghela napas panjang, menatap langit sekolah dengan nanar seolah sedang mencari jawaban dari semesta.

“Dan Umi gue malah senyum-senyum, sudah kayak ngefans berat sama artis religi. Abi pun bilang, ‘Kanza, insya Allah dia calon imam yang baik’. Lah, doa masuk WC saja gue masih sering tertukar sama doa makan, gimana mau dibimbing imam modelan begitu? Bisa-bisa setiap hari gue kena kultum!”

Suasana rumah Kanza sore itu terasa hangat sekaligus mencekam bagi sang pemilik rumah.

Ruang tamu telah disulap menjadi sangat rapi, dihiasi bunga sedap malam yang aromanya memenuhi ruangan, berpadu dengan wangi reed diffuser vanila yang lembut.

Pintu depan terbuka, dan Hanan datang bersama kedua orang tuanya, Umah dan Abah.

Hanan tampak sangat bersahaja dengan kemeja putih bersih yang disetrika licin dan celana hitam bahan yang sepertinya tidak memiliki satu kerutan pun.

Wajahnya teduh, khas orang yang jarang absen tahajud.

"Assalamualaikum, Umi, Abi," sapa Umah dengan suara lembut yang menyejukkan, tipikal ibu mertua idaman di novel-novel religi.

Setelah basa-basi mengenai kabar, Abah Hanan berdehem ringan, memulai pembicaraan inti yang membuat jantung Kanza berdetak lebih cepat dari ketukan perkusi.

"Kami sudah banyak mendengar cerita tentang Kanza dari penuturan Abi. Hanan pun tampaknya sudah memantapkan niat setelah istikharahnya," ucap Abah penuh wibawa.

Umi tersenyum melirik putrinya yang duduk mematung.

"Iya, Kanza memang anak yang ceria. Namun, tentu kami ingin memastikan semuanya berjalan baik, terutama mengenai kelanjutan mimpinya."

Hanan yang sejak tadi duduk dengan sikap sempurna, punggung tegak namun tidak kaku pun angkat bicara. Suaranya mengisi ruangan dengan ketenangan yang aneh.

"Saya saat ini mengabdi sebagai dosen di perguruan tinggi. Insya Allah, jika memang dipertemukan dalam ikatan pernikahan, saya ingin membimbingnya dengan sebaik-baiknya tanpa membatasi cita-citanya. Menikah bukan berarti berhenti bertumbuh, justru kita bertumbuh bersama."

Abi memandang Kanza yang duduk di sudut sofa, seolah-olah sedang memberikan mik kepada saksi kunci.

"Bagaimana menurutmu, Kanza? Tentu ini adalah keputusan besar dalam hidupmu."

Kanza yang sejak tadi gelisah mencoba menghindari sorotan mata semua orang. Di kepalanya, ia sedang menggerutu hebat.

“Anjir, ini sih rasanya kayak lagi sidang skripsi mendadak tanpa revisi! Mana pengujinya modelan begini lagi, wangi oud dan hafal kitab kuning!”

Namun, entah karena grogi atau memang otaknya sedang dalam mode bertahan hidup, yang keluar dari mulutnya justru metafora yang ajaib.

“Anu, Abi, Umi... Kanza sih masih merasa kalau nikah itu seperti... menghadapi Ujian Nasional yang nggak bisa diulang kalau gagal. Kanza masih butuh waktu buat belajar jadi dewasa, takutnya nanti Kanza malah jadi beban negara di rumah tangga.”

Hanan tersenyum sabar, tatapannya tetap tenang, tidak terganggu oleh jawaban absurd Kanza.

"Kami paham sepenuhnya. Proses menuju kebaikan memang harus dijalani dengan kesungguhan hati, bukan keterpaksaan. Saya bersedia menunggu proses itu."

Umah menimpali sambil mengelus tangan Kanza, "Kami ingin Kanza merasa nyaman. Hanan mungkin terlihat sangat serius karena pekerjaannya di kampus, tapi dia adalah pria yang sangat lembut terhadap keluarganya."

Kanza menatap Hanan sebentar. Hatinya campur aduk seperti es campur di kantin sekolah.

Ia sebenarnya ingin menolak mentah-mentah, tapi melihat ketulusan Hanan dan keramahan Umah, lidahnya mendadak kelu.

Ia merasa terjebak dalam skenario Tuhan yang jauh lebih rapi dari skrip drama China manapun.

Tentu, mari kita pertajam alur ceritanya dengan detail yang lebih sinematik, memperkuat monolog batin Kanza yang kocak, serta memberikan gambaran suasana ruang tamu yang lebih hidup.

“Gue malas banget ada di situasi formal begini, tapi mau gimana lagi... Pasrah adalah jalan ninja gue saat ini,” batin Kanza sambil meremas ujung gamisnya di bawah meja, berusaha menjaga agar kakinya tidak bergoyang karena grogi.

Di seberangnya, Umah ibu dari Hanan menatap Kanza dengan binar mata yang begitu teduh, seolah-olah sedang melihat berlian yang baru saja ditemukan.

“Alhamdulillah, Kanza ini ternyata aslinya anak yang sangat sopan dan manis ya, Umi,” puji Umah tulus.

Suaranya selembut sutra, membuat Kanza merasa sedikit berdosa karena di sekolah tadi ia sempat berencana kabur lewat gerbang belakang.

Umi tersenyum bangga, senyum yang bagi Kanza berarti “Awas kamu kalau berani macem-macem”

“Iya, Alhamdulillah. Memang kadang tingkahnya suka unik dan sedikit di luar nalar, tapi anaknya sangat patuh pada orang tua.”

“Kami tidak mencari menantu yang sempurna,” Abah Hanan ikut menyahut, suaranya berat dan berwibawa.

“Kami hanya ingin Hanan memiliki pasangan yang bisa menjadi teman hidup dan saling menguatkan. Hanan itu orangnya terlalu serius kalau sedang bekerja, dia butuh sosok penyeimbang yang ceria seperti Kanza.”

“Penyeimbang sih penyeimbang, tapi jangan sampai gue yang malah kena mental gara-gara dijadiin objek dakwah tiap hari!” batin Kanza cemberut.

Ia melirik Hanan yang duduk tegak dengan tangan tertata rapi di atas lutut. Pria itu tampak sangat tenang, terlalu tenang.

“Wah, kalau tenang banget mending jadi kursi tunggu di puskesmas aja sekalian, diam dan dingin,” batin Kanza lagi, mulai sewot sendiri.

“Serius banget sih Gus satu ini, auranya kayak lagi nunggu hasil sidang isbat tiap detik.”

Hanan Arkan tiba-tiba menatap Kanza. Sorot matanya tidak tajam, melainkan teduh namun tetap menjaga jarak yang sangat sopan.

Jarak yang menurut Kanza adalah "jarak aman protokol kesehatan hati".

“Saya paham mungkin ini terasa sangat mendadak bagimu, Kanza,” ucap Hanan pelan.

Suaranya bariton, sangat tertata seolah setiap kata sudah melewati proses edit berkali-kali.

“Namun, niat saya datang ke sini adalah untuk saling mengenal dengan lebih baik. Kita bisa memulainya dari pertemanan yang santun, insya Allah.”

Kanza terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat, mencoba mencari jawaban yang terlihat dewasa dan berkelas ala tokoh wanita di drama China kesukaannya.

Namun, karena sistem sarafnya sudah overload, yang keluar justru kepolosan yang absurd.

“Temenan boleh saja, Gus. Tapi tolong satu hal... jangan tiba-tiba ngajak belajar bareng Matematika, ya? Kanza sudah trauma tingkat dewa sama rumus. Kalau Gus ngajak bahas logaritma, Kanza angkat tangan duluan.”

Hening satu detik. Lalu, suasana yang tadinya kaku seperti semen kering seketika pecah oleh tawa kecil.

Umah dan Abah saling melempar pandang, tampak sangat terhibur dengan kejujuran gadis di depan mereka.

Bahkan Hanan pun harus menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.

Abi berdehem, mencoba mengembalikan wibawa meski matanya juga ikut berbinar jenaka.

“Kanza sekarang sudah kelas 3 SMA, jadi prioritas kami memang ingin dia fokus menyelesaikan sekolahnya dulu. Namun, jika memang ada niat baik yang tulus, tidak ada salahnya jika kita mulai menyusun langkah sejak sekarang.”

Umi menimpali dengan senyum penuh arti yang membuat Kanza merinding.

“Insya Allah, setelah Kanza lulus nanti, kami sangat terbuka jika memang jodohnya sudah datang mengetuk pintu.”

Umah mengangguk penuh pengertian.

“Kami pun tidak ingin terburu-buru. Kami ingin Hanan memiliki pasangan yang bisa ia bimbing dengan ilmu dan agama. Sebaliknya, kami juga berharap Hanan bisa belajar banyak hal baru dari pasangannya nanti.”

Hanan tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.

“Nggak buru-buru? Lah, ini perasaan sudah kayak dilamar via live streaming nasional gini!” keluh Kanza dalam hati.

“Oke, Kanza, tenang. Jangan nangis di sini. Senyum saja, meskipun ini senyum penuh penderitaan layaknya nungguin paket kurir yang nggak sampai-sampai.”

Tiba-tiba, Abi menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya yang serius.

“Kanza, ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kepada Gus Hanan atau keluarganya?”

Kanza kaget setengah mati. Ia gelagapan, tangannya mendadak sedingin es batu di kantin sekolah.

“E-eh, Kanza sih… eehh… cuma mau nanya… ini beneran proses lamaran, ya? Soalnya Kanza belum siap mental sama sekali, Abi. Kanza belum kuat! Bahkan...” Kanza menarik napas panjang.

“Bahkan Kanza belum sempat menghafalkan Surat Al-Mulk sampai tuntas! Baru nyampe setengah sudah sering lupa lagi!”

Lagi-lagi, tawa pelan terdengar merdu di ruang tamu itu. Hanan menahan senyum sambil menunduk sopan, sementara Umah dan Abah makin terlihat simpatik.

Bagi mereka, kejujuran Kanza yang meledak-ledak tanpa filter justru menambah kesan bahwa gadis ini sangat tulus dan apa adanya, sebuah penyeimbang yang sempurna untuk sifat Hanan yang pendiam dan terstruktur.

Umi menepuk lembut punggung tangan putrinya, mencoba menenangkan "mesin" Kanza yang sedang panas.

“Sudah, Kanza, tenang saja. Hari ini agenda kita hanya mengobrol santai. Belum sampai ke tahap akad, kok.”

Kanza hanya bisa nyengir pasrah sambil merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Ia menoleh ke arah Hanan, yang tanpa sengaja juga sedang meliriknya.

“Ya Allah… sepertinya masa depan gue bakal berubah drastis 180 derajat gara-gara pria kaku yang hobi bawa buku catatan dan wangi parfum oud ini...” batinnya pasrah, sambil membayangkan playlist lagu galau-nya yang mungkin akan segera berganti menjadi murottal pagi dan petang.

Salam Hangat Dari Penuliss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!