NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 TIGA TRILIUN HANYA UANG PEMBUKA

Arkan hampir mengerem mendadak.

Ban depan motor tuanya sedikit oleng ketika tangannya tanpa sadar menegang di setang. Naya yang duduk di belakang langsung mencengkeram jaketnya, sementara map berisi berkas sekolahnya tertekan di antara tubuh dan lengan.

“Bang?” suara Naya terdengar panik di balik helm. “Kenapa?”

Arkan cepat mengendalikan motor. Ia menarik napas, menahan tubuhnya tetap stabil meski pikirannya baru saja dilempar ke tempat yang jauh lebih kacau daripada jalan raya Pontianak sore itu.

Di kepalanya, suara sistem masih terdengar tenang.

[Rekomendasi ulang.]

[Beli yayasan itu.]

Arkan menggertakkan gigi.

“Jangan bicara sembarangan saat aku lagi bawa motor,” batinnya tajam.

[Sistem tidak sedang bicara sembarangan.]

[Sistem sedang memberi solusi paling efisien.]

Di belakangnya, Naya masih menunggu jawaban.

Arkan menelan ludah, lalu memaksa suaranya tetap normal. “Nggak apa-apa. Tadi hampir kena lubang.”

Naya menoleh sedikit ke arah jalan. “Oh…”

Untung saja adiknya percaya.

Atau mungkin Naya terlalu sibuk memeluk map itu sampai tidak punya tenaga untuk curiga lebih jauh.

Motor tua itu kembali berjalan pelan di antara kendaraan lain. Sore mulai turun di atas Pontianak. Cahaya matahari menyentuh atap-atap toko, memantul di kaca warung makan, dan membuat debu jalan tampak seperti kabut tipis yang berputar di udara. Di kejauhan, suara kendaraan bercampur dengan teriakan pedagang, klakson pendek, dan azan yang mulai terdengar samar dari masjid di sudut jalan.

Semua terdengar normal.

Padahal hidup Arkan baru saja kehilangan arti normalnya.

Ia melirik spion. Wajah Naya terlihat dari pantulan kecil itu. Gadis itu masih memeluk map dengan erat, seolah takut berkas itu tiba-tiba diambil lagi. Matanya tidak lagi seredup saat di ruang administrasi, tetapi kebingungan masih jelas tertinggal di sana.

Arkan tahu, setelah sampai rumah, pertanyaan itu tidak bisa dihindari.

Dari mana uangnya?

Kenapa tiba-tiba bisa bayar?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ia sendiri belum punya jawaban yang bisa masuk akal.

Di dalam kepalanya, sistem seakan membaca kegelisahan itu.

[Masalah komunikasi keluarga terdeteksi.]

[Rekomendasi: jangan mengatakan seluruh kebenaran dalam satu waktu.]

Arkan menahan napas.

“Menurutmu aku harus bohong?”

[Istilah yang lebih halus: menyampaikan informasi secara bertahap.]

“Itu tetap bohong.”

[Benar.]

[Sistem menghargai kemampuan Tuan Rumah memahami bahasa sederhana.]

Arkan hampir mengumpat, tetapi ia menahannya karena Naya masih duduk di belakang.

Motor melaju melewati deretan ruko kecil. Bau gorengan dari pinggir jalan masuk ke hidung Arkan, bercampur dengan aroma bensin dan panas aspal. Biasanya pada jam seperti ini, ia akan menghitung uang di dompet. Kalau masih ada sisa sepuluh atau lima belas ribu, ia mungkin membeli gorengan untuk Naya dan ibu. Kalau tidak, ia akan pura-pura lupa.

Hari ini, kebiasaan itu masih muncul.

Tangannya hampir bergerak menyentuh saku jaket, ingin memastikan sisa uang kecil di dompet.

Lalu ia teringat.

Di rekeningnya ada tiga triliun rupiah.

Bukan tiga juta.

Bukan tiga puluh juta.

Tiga triliun.

Rasa tidak masuk akal itu kembali menghantamnya.

“Ini benar-benar gila,” batinnya.

[Benar.]

[Namun perlu diluruskan.]

[Yang gila bukan jumlah uangnya.]

[Yang gila adalah Tuan Rumah masih memikirkan apakah mampu membeli gorengan.]

Arkan menatap jalan dengan wajah kaku.

Sistem melanjutkan tanpa rasa bersalah.

[Status: pola pikir ekonomi lama masih aktif.]

[Contoh gejala: menghitung harga gorengan setelah menerima saldo triliunan.]

[Kesimpulan: kemiskinan telah keluar dari rekening, tetapi belum keluar dari refleks tangan.]

Arkan menarik napas dalam-dalam.

“Sistem.”

[Ya, Tuan Rumah yang baru saja hampir menawar gorengan dalam hati?]

“Diam.”

[Baik.]

Jeda.

[Sistem akan diam setelah memberi satu penjelasan penting.]

Arkan tidak menjawab, tetapi sistem tetap berbicara.

[Kesalahpahaman terdeteksi.]

[Tuan Rumah tampaknya mengira Rp3.000.000.000.000 adalah seluruh dana yang sistem miliki.]

Arkan mengerutkan kening.

Tangannya di setang kembali menguat.

“Apa maksudmu?”

[Sederhana.]

[Rp3.000.000.000.000 hanyalah dana adaptasi awal.]

Motor nyaris melambat.

Arkan memaksa dirinya tetap fokus pada jalan.

Dana adaptasi awal?

Tiga triliun rupiah disebut dana adaptasi awal?

Sistem menjelaskan dengan nada yang terlalu datar untuk kalimat yang terlalu tidak waras.

[Dana awal diberikan untuk memastikan Tuan Rumah memahami bahwa sistem nyata, uang legal, dan hidup lama Tuan Rumah sudah tidak relevan.]

[Namun dana utama tidak disimpan dalam satu rekening.]

[Aset sistem tersebar dalam berbagai instrumen legal: rekening cadangan, perusahaan investasi, properti, saham, obligasi, dana usaha, kepemilikan korporasi, serta akses akuisisi.]

[Otoritas Aset Level 1 telah aktif.]

[Estimasi nilai aset legal yang dapat dikendalikan saat ini: Rp25.000.000.000.000.]

Arkan tidak bernapas selama beberapa detik.

Dua puluh lima triliun.

Angka itu muncul di kepalanya seperti gedung raksasa yang jatuh dari langit.

Kalau tiga triliun saja membuat tangannya dingin, dua puluh lima triliun membuat pikirannya kosong. Angka itu terlalu besar untuk dibandingkan dengan kehidupan lamanya. Terlalu jauh untuk dihubungkan dengan rumah kecil mereka, motor tua ini, tunggakan Naya, obat ibu, dan dompet yang selama ini sering kosong sebelum akhir minggu.

Di belakangnya, Naya bergerak sedikit.

“Bang, pelan banget jalannya.”

Arkan tersadar. Motor mereka memang mulai melambat tanpa ia sadari. Beberapa pengendara di belakang mulai menyalip sambil membunyikan klakson pendek.

“Iya,” jawab Arkan cepat. “Abang lagi hati-hati.”

[Sistem mendeteksi kebohongan ringan.]

[Alasan sebenarnya: Tuan Rumah baru saja mengetahui bahwa tiga triliun hanya uang pembuka.]

Arkan mengatupkan rahang.

“Sistem, kalau kau bikin aku kecelakaan, aku tidak peduli berapa triliun yang kau punya.”

[Catatan: ancaman diterima.]

[Evaluasi: Tuan Rumah mulai menunjukkan keberanian.]

[Sayangnya, keberanian tersebut diarahkan kepada pihak yang memberinya uang.]

Arkan memilih tidak menjawab.

Mereka melewati persimpangan yang ramai. Lampu merah menyala. Arkan berhenti di antara motor-motor lain. Di sebelahnya, seorang bapak membawa karung besar di belakang motor bebek. Di sisi lain, anak muda dengan jaket ojek online menatap ponsel sambil menunggu lampu berubah. Seorang ibu membonceng anak kecil yang memegang es krim hampir meleleh.

Dunia tetap bergerak seperti biasa.

Tidak ada yang tahu bahwa di antara mereka ada seorang pemuda berjaket lusuh yang baru saja mendapatkan akses ke dua puluh lima triliun rupiah.

Tidak ada yang menoleh.

Tidak ada yang memberi hormat.

Tidak ada yang memanggilnya tuan.

Dan entah kenapa, hal itu membuat Arkan sedikit lebih bisa bernapas.

Ia masih terlihat seperti dirinya.

Masih Arkan yang sama.

Setidaknya dari luar.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!