NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MR. MAFIA

SLEEP WITH MR. MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Duda / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:26.6M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Damian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.

Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Talia, seorang gadis somplak nan ceria yang mengubah dunianya.

Damian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Talia. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Damian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Talia seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Zaka membuka tasnya dan mengeluarkan sarung tangan lateks, lalu mengangkat kaos Damian untuk melihat lebih jelas lukanya. Wajahnya semakin serius. Luka itu dalam, dan darah yang merembes membuat situasinya semakin buruk.

"Kita harus hentikan pendarahannya sebelum aku cabut pisaunya," kata Zaka sambil mengeluarkan kain kasa steril dan larutan antiseptik.

"Talia, kamu punya air hangat dan handuk bersih?"

"Ada, aku ambil sekarang!" Talia bergegas ke dapur, menuangkan air hangat ke dalam baskom, lalu meraih beberapa handuk bersih dari lemari. Saat kembali, dia melihat Zaka sudah menekan luka Damian dengan kain kasa.

Talia meletakkan baskom di samping Zaka dan berjongkok.

"Aku harus bantu apa kak?"

"Tahan dia. Kalau dia sadar dan tiba-tiba bergerak, bisa berbahaya," jawab Zaka.

"Aku akan coba menghentikan pendarahan dulu." ia melanjutkan.

Talia mengangguk dan meraih lengan Damian. Pria itu masih setengah sadar, wajahnya pucat pasi dan penuh keringat. Ketika Zaka mulai bekerja, Damian menggeram kesakitan, matanya sedikit terbuka.

"Jangan bergerak," bisik Talia, menekan lengannya agar tetap diam.

"Rasanya memang sakit, tapi kalau kamu mau tetap hidup, dengarkan dia. Biar aku juga tetap hidup."

Damian tidak menjawab, hanya mengerang pelan. Zaka bekerja dengan cepat, menekan luka Damian dengan hati-hati sambil menilai seberapa dalam luka itu. Setelah beberapa menit, dia akhirnya menghela napas berat.

"Oke, aku harus cabut pisaunya," kata Zaka dengan suara tegas.

Talia membelalak.

"Tapi tadi kak Zaka bilang jangan dicabut? Kalo dia mati gimana? Aku juga nggak mungkin hidup. Dia hidup aku hidup, dia mati aku mati. Kak Zaka ngerti maksud aku kan? Almarhum, almarhumah." gadis itu menunjuk Damian dan dirinya sendiri bergantian.

Zaka mengangkat kepalanya menatap Talia heran.

"Kamu itu ngomong apa sih? Gak usah ngawur. Sekarang kita usahain dulu selamatin nyawanya."

"Tapi kan kata kak Zaka kalau pisaunya di cabut bisa bahaya."

"Itu tadi karena aku tidak ada di sini. Kalau dibiarkan lebih lama, infeksi bisa menyebar lebih parah, dan aku butuh lebih banyak akses untuk menghentikan pendarahannya," jelas Zaka.

"Tapi ini pasti akan sangat menyakitkan, kasian dianya."

Talia menggigit bibirnya, menatap Damian yang masih terbaring lemah.

"Bisa kita bius dulu?"

Zaka menggeleng.

"Aku tidak punya anestesi sekuat itu di sini. Aku akan memberinya obat pereda nyeri, tapi itu tidak akan cukup. Ini harus cepat."

Talia menelan ludah.

"Oke … aku siap."

Zaka mengambil beberapa napas dalam, lalu meraih gagang pisau dengan hati-hati.

"Satu … dua … tiga!"

Dengan gerakan cepat dan teliti, Zaka mencabut pisau dari tubuh Damian. Pria itu langsung tersentak, mengeluarkan jeritan tertahan yang membuat Talia merinding. Tangannya mencengkeram lengan Damian lebih erat, memastikan dia tidak bergerak liar.

Darah mengalir lebih deras, tapi Zaka sudah siap. Dia segera menekan luka dengan kain kasa tebal, menghentikan pendarahan sebisa mungkin. Tangannya bekerja dengan cekatan, membalut luka itu dengan perban ketat.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan menegangkan. Damian mulai melemah, napasnya pendek dan tersengal. Talia menatapnya dengan cemas, berharap dia tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya.

"Sudah?" tanyanya pelan.

Zaka mengangguk, meski wajahnya tetap tegang.

"Untuk sementara dia tidak akan apa-apa. Tapi dia butuh transfusi darah dan perawatan lebih lanjut. Kita tidak bisa biarkan dia begini terlalu lama. Dia harus segera dipindahkan ke rumah sakit.

Talia terlihat khawatir.

"Aku nggak bisa bawa dia ke rumah sakit kak. Dia bilang itu bahaya."

Zaka menatap gadis itu tajam.

"Talia, kau bahkan tidak tahu siapa dia. Bagaimana kalau dia kriminal? Bagaimana kalau,"

"Aku nggak tahu! Aku cuma … sudah terlanjur janji sama dia. Masa aku harus ingkar janji sih? Kan seorang Talia bukan tipe perempuan yang suka ingkar janji. Aku juga sudah bilang kek kak kalo Zaka kan kalau dia sampai kenapa-napa, aku juga pasti kenapa-napa. Biarin dia di rawat di sini aja ya kak? Pleasee, kakak ajarin aku, biar aku tahu caranya ngerawat dia." potong Talia, lalu meminta dengan dengan nada memohon.

Zaka menghela napas panjang, mengusap wajahnya.

"Astaga, Talia. Kau benar-benar cari masalah. Kalau orang tuamu dan kakakmu tahu ..."

"Mereka nggak akan tahu kalau kak Zaka gak bilang."

Zaka tidak tahu mau ngomong apalagi ke gadis keras kepala ini.

"Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Jangan lakukan sembarangan." kata pria itu lagi.

"Kak Zaka memang terbaik. Kenapa gak kakak aja yang jadi kakak kandung aku daripada sih Jason sakti itu."

Zaka tertawa kecil menggeleng-geleng kepalanya, kemudian ia memeriksa Damian lagi. Setelah memastikan perban cukup ketat, Zaka duduk bersandar di dinding.

"Aku bisa kembali besok dengan peralatan lebih lengkap. Untuk malam ini, pastikan dia tetap terhidrasi dan tidak banyak bergerak."

Talia mengangguk cepat.

"Baik dokter ganteng."

Zaka menatapnya tajam.

"Dan kau harus cari tahu siapa dia, Talia. Kau tidak bisa menyelamatkan seseorang yang  malah akan mencelakaimu nantinya."

Talia terdiam. Kata-kata Zaka membuatnya berpikir. Dia menatap Damian. Kira-kira siapa pria ini ya? Kenapa dia sampai terluka begitu parah? Dan lebih penting lagi, siapa yang mencoba membunuhnya?

"Aku masih ada shift malam, harus segera kembali ke rumah sakit. Ingat, kalau ada apa-apa langsung telpon aku."

"Iya bosku, siap!"

Zaka terkekeh melihat kelakuan adik dari sahabat baiknya itu yang selalu bikin gemas. Sesaat kemudian ia pamit keluar. Talia tidak mengantarnya karena ia tidak bisa meninggalkan lelaki yang kini sudah berbaring di kasurnya.

Gadis itu menatap lurus ke pria itu. Wajah pucatnya tak menutupi wajah tampannya yang hampir sempurna. Talia sendiri sudah terbiasa melihat pria tampan, karena orang-orang di sekitarnya rata-rata memang tampan, contohnya si dokter yang baru keluar tadi. Tetapi ia mengakui kalau wajah tampannya lelaki yang terbaring lemah dan sudah tak sadarkan diri ini memiliki daya tarik sendiri. Membuat siapapun tertarik untuk melihatnya terus.

"Sayang banget. Wajahnya tampan begitu, tapi asal-asulnya gak jelas. Galak dan nakutin juga. Terluka parah aja masih nakutin apalagi kalau sudah sembuh, hiihh!"

Talia langsung duduk tegak setelah mengatakan kalimat itu. Otaknya berpikir keras.

"Sembuh? Kalau dia sudah sembuh dan makin galak sama aku gimana? Ah, semoga gak. Aku kan bisa dibilang penyelamat hidupnya. Tega bener dia kalau jahatin aku." ia terus berbicara sendiri sambil menatap Damian.

Sesaat kemudian ia melihat pria itu bergerak tak leluasa dalam tidurnya. Keningnya berkerut dan tampak kesakitan. Talia berdiri mendekatinya. Ia duduk di tepi ranjang menatap pria itu dari dekat.

"A ... A r ..." suaranya tidak terlalu jelas. Talia mendekatkan telinganya di wajah pria itu.

"Apa?"

"A- air," suaranya jauh lebih jelas dari yang tadi.

"Oh air, oke, aku akan ambilin buat kamu!"

1
Gian Hazza
semoga meriam g bikin ulah y Thor,,,keromantisan Amara aja lah Thor yg diceritain😂
Kamsia
masa rmh megsh gak ad penjaga pintu gerbang yg krj di situ.bnr" di ti ggal sendiri.omnya aj nempatin bodyguard di setiap sudut thor.🙏💪
Arin
Seharusnya Amara di kasih pengawal di sekelilingnya. Bukan hanya Erlan yang menjaga. Minta tolong anak buah lain gitu untuk menjaga keselamatan Amara, kasih pengawal bayangan
Cristella Tella
kamu hrus selalu waspada mara... moga erlan selalu mngawasi.... biar gk terjadi msalah
......bunga
🫠
......bunga
❤️
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
Marlyn Koloay
good job👍 tapi thor jgn bikin drama dlm cerita lagi cukup mama sama papanya dulu yg penuh drama jgn di anak2nya. cukuplah di tokoh2 yg lain yg penuh drama penculikan atwpun pelecehan. kasihan Amara tokoh yg lugu
LANY SUSANA: betul jgn sampe amara yg polos di aoa2 in sm siluman rubah betina ya
dan erlan km. hrs kasih penjaga bayangan unt amara, kr pinjem uang di tolak makin benci si rubah tuh sm amara
total 1 replies
Ari Nuryanti
piye....enak...lagi amara
Ari Subekti
hati2 amara
Melia Gusnetty
bukan menegur sbg sahabat goblok amat siihh luu...
Melia Gusnetty
mdh2 an cepat sadar luu mara...jgn terlalu baik sm orang...
Alby Raziq
mau buat operasi wajah itu mara
Thuty Natasya
kapan selesainya drama si mimir itu kak 😅 gk ada kapoknya si mimir itu.. mau oplas helow biarpun muka berubah tapi hati tdk bisa dibohongi mikir
Melia Gusnetty
seharus nya papa arsen menyedia kn pengawal bayangan tanpa sepengetahuan amara..biar bisa lindungin amara....
segera lh ke bongkar kedok nya si miriam...
Melia Gusnetty
ķpn siihh...si kampret miriam kebonggkar borok nya...lama amat...amara jgn terlalu percaya dong sm si betina miriam...jeli lh dlm berteman...jgn polos2 amat yg mengira semua orang baik...
Ilfa Yarni
bagus Mara jauhi dia
Kamsia
jgn lengah sedikitpun amara dan klrgnya.krn miriam udh gak bisa di percaya.hrsnya ad bodyguard byngan ky klrg arsen amaranya.jd di pantau trus dan terjaga.amara hrs bljr bela diri jgn lemah 👍👍👍 thor
Esther
Nah kan Miriam berbohong, buat oplas kali uang 300jt nya.
Untung Erlan menyelidikimya
Lilik Juhariah
mau ngoplas wajahnya itu Mara buat nyulik kamu , udah jauhin Mara gak usah terlalu dekat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!