NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Misi Siang Hari

Jempol Doni akhirnya bergerak, memotong keraguan yang sejak tadi menyiksa batinnya. Di bawah tatapan Rian yang mulai menaruh curiga, Doni mengetik pesan balasan untuk Marcella, persis seperti yang diinstruksikan oleh Olivia melalui chat rahasianya.

Iya sayang, aku ngerjain tugasnya sampai malam di kosan temen aku yang lumayan jauh dari rumah kamu. Jadi, nggak mungkin aku lewat situ. Kayaknya kamu salah liat. Udah kangen banget ya sampai ngira orang lain itu aku? Uuuu cayang…

Pesan terkirim. Tampaknya fokus Doni kembali ke tempatnya. Reaksi mesra di akhir chat adalah respons alaminya yang masih mencintai kekasihnya itu. Doni masih menatap layar ponselnya sambil menahan napas. Beberapa detik berlalu terasa bagaikan siksaan berulang-ulang, sampai akhirnya status di bawah pesan itu berubah menjadi centang dua biru, dan tulisan typing… muncul disitu.

Hahaha bisa aja kamu... Iya, soalnya semalam aku kayak lihat motor yang mirip banget sama punya kamu lewat depan rumah. Apa emang efek kangen ya? Hehe. Ya udah, semangat ngerjain tugas kelompoknya ya! Nanti kalau udah selesai kabarin aku.

“Fiuhhh…” Doni menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Otot-otot lehernya yang tegang perlahan melunak. Kebohongan itu lolos. Marcella percaya sepenuhnya. Namun, jangankan merasa bangga, yang tersisa di dalam lubuk hati Doni hanyalah rasa bersalah karena telah membohongi kekasihnya.

“Woy, Don! Malah ngelamun!” teguran keras Rian mengagetkannya. “Kerjain, buruan! Bentar lagi kita presentasi, loh!”

“Eh… Iya, iya. Sori, Yan!” Doni buru-buru meletakkan ponselnya telungkup di meja dan langsung memfokuskan sisa tenaganya pada layar komputer.

Ajaibnya, kepanikan yang baru saja mereda itu membuat jemarinya mengetik barisan coding dengan sangat cepat. Tepat sepuluh menit sebelum presentasi, seluruh tugas kelompok berhasil dirampungkan. Kini, mereka hanya tinggal bersiap-siap sambil menunggu Dosen masuk.

“Mantap! Akhirnya selesai juga…” seru Rian lega. “Sori ya, Don. Tadi gue agak galak dikit. Gue cuma panik aja. Thanks udah mau ngebut ngerjainnya”, sambungnya sambil menepuk pundak Doni agak keras.

“Santai, Yan… emang kadang-kadang gue perlu digituin, biar fokus”, balas Doni dengan senyum tipis. Kepalanya terasa berat dan pusing akibat begadang serta tekanan emosional bertubi-tubi.

“Oh iya, gimana traktiran? Jadi, kan? Harus jadi, dong!” tagih Rian kepada Doni. Doni sebenarnya hampir lupa dengan janji yang dia buat sendiri itu, karena yang dia inginkan saat ini hanyalah pulang ke kosan, merebahkan diri di atas kasur, dan tidur seharian. Walaupun begitu, dia merasa harus bertanggung jawab dan menepati janjinya.

“Oh, itu… Tenang aja. Pasti jadi, kok! Ntar…”

Drrt… Drrt…

Getaran ponsel Doni memotong penjelasan rencananya. Doni melirik layarnya dengan firasat buruk. Sebuah pesan singkat dari nomor tanpa nama.

Kak Doni, aku mau ngambil tas olahraga aku yang kemarin, sama baju-bajunya juga. Udah wangi kan? Aku tunggu di kafe JOIN ya, yang di dekat kampus.

Takdir seolah enggan memberi Doni jeda untuk bernapas. Dada Doni serasa dihantam beban berat. Kebebasan yang baru saja dia rasakan selama beberapa menit hancur berkeping-keping. Gadis SMA itu benar-benar memperlakukannya seperti pesuruh yang siap dipanggil kapan saja. Tapi tunggu? Kafe? Ingatan Doni langsung kembali ke malam dimana Olivia menyuruhnya untuk membawa saja tas itu ke kosan Doni, alih-alih membawanya masuk ke rumahnya. Doni juga teringat kalau disitu Olivia bilang kalau tas olahraga itu adalah salah satu alasan agar Olivia bisa berkunjung ke kosannya. Tapi siang ini, Olivia malah menyuruhnya untuk membawakan tas itu ke kafe. Doni bernapas lega. Paling tidak beban pikirannya bisa berkurang sedikit.

“Gimana, Don? Jadi, kan?” celetuk Rian mengagetkan Doni.

“Eh? Iya… Jadi, kok. Jadi…” jawab Doni seadanya sambil menorehkan senyum yang tampak dipaksakan.

Tak berapa lama kemudian, Dosen mereka pun datang menandakan mata kuliah akan segera dimulai. Fokus Doni kembali buyar sejak sang Dosen menginjakkan kaki di kelasnya sampai tiba saatnya kelompok mereka presentasi di depan kelas. Untungnya, presentasi mereka berjalan lancar tanpa ada masalah besar.

“Don! Ayo… katanya mau nraktir”, ajak Rian begitu Dosen mereka meninggalkan kelas.

“Eh, Yan. Gimana, ya… Sori banget nih” jawab Doni yang pikirannya sedari tadi sudah dipenuhi oleh pesan Olivia. “Hari ini kayaknya belum bisa dulu, Yan. Ntar deh, kapan-kapan gue pasti nepatin janji. Beneran!” sambungnya sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya.

“Yaudah, oke. Tapi janji, ya?” ucap Rian memaklumi teman baiknya itu.

“Sip!” jawab Doni singkat sebelum melesat menuju parkiran.

Doni memacu motornya menembus jalanan ramai di waktu pulang sekolah dan jam makan siang itu. Dia bersyukur lega memikirkan Olivia tidak jadi menginvasi wilayah privasi terakhirnya, yaitu kamar kosnya. Sesampainya di kosan, dia bergegas mengambil pakaian, handuk, dan singlet Olivia yang sudah tergantung rapi di jemuran, kemudian memasukkannya asal-asalan ke dalam tas olahraga.

Kembali Doni memacu motornya membelah jalanan yang masih ramai untuk menuju kafe JOIN yang terletak tak jauh dari kampusnya. Setibanya di kafe yang cukup kecil itu, suasana sudah terasa ramai oleh mahasiswa yang sedang menikmati makan siang. Terlihat pula beberapa mahasiswa yang sibuk di depan laptop mereka masing-masing. Doni memilih untuk duduk di pojok ruangan yang agak terlindung. Dia meletakkan tas olahraga yang sudah dia cuci hingga wangi itu di samping kakinya.

Kleneng… Kleneng…

Tepat saat Doni melirik jam dinding kafe yang menunjukkan pukul satu lewat lima menit, tiba-tiba lonceng kecil yang tergantung di bagian atas pintu kafe berbunyi gemerincing, menandakan ada pengunjung yang baru datang.

Olivia melangkah masuk dengan santai. Seragam putih-abu-abu masih melekat di tubuhnya, mempertegas statusnya yang masih anak sekolah di antara kerumunan mahasiswa. Rambut panjangnya dikuncir kuda asal-asalan, memberikan kesan effortless dan cuek khas dirinya. Tanpa makeup yang terlalu tebal, wajah polosnya justru memancarkan keindahan yang begitu menyegarkan khas gadis remaja.

Doni tertegun. Dia menatap gadis remaja yang melangkahkan kakinya masuk melewati pintu kafe itu dengan penuh kekaguman. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap dadanya saat ini terasa begitu familiar, persis seperti detik-detik saat dia duduk di tribun GOR minggu lalu. Saat itu, di antara ratusan penonton dan riuhnya sorak-sorai pertandingan basket, mata Doni hanya tertuju pada satu titik, yaitu sosok Olivia yang berlari bebas di lapangan dengan peluh dan binar mata yang begitu hidup. Kini, perasaan terpesona yang sama persis kembali melumpuhkan logika Doni, melenyapkan seluruh rasa kesal yang sempat membakar dadanya sejak pagi.

Pandangan Olivia menyapu ruangan, lalu matanya berbinar begitu menemukan keberadaan Doni. Tanpa jaim sedikitpun, gadis itu melambaikan tangannya ke arah Doni yang masih tertegun. Tidak peduli dengan tatapan sinis dari mayoritas pengunjung kafe, dia melangkah santai, menarik kursi, dan langsung mendaratkan dirinya tepat di hadapan Doni.

“Kak Doni! Udah lama nunggunya, Kak?” sapa Olivia santai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!