NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK KATA TAUBAT

Keesokan harinya, aroma semerbak kopi dan panggangan roti langsung menyambut indra penciuman begitu pintu kaca kafe terbuka. Maira melangkah masuk dengan seragam kerjanya yang rapi. Meski gerakan bahu kirinya masih agak kaku dan pelipisnya masih tertutup plester medis kecil, senyuman tipis sudah menghiasi wajahnya yang mulai kembali segar.

Aisyah yang sedang menata cangkir di balik meja barista seketika menghentikan aktivitasnya. Matanya membelalak lebar saat menangkap sosok Maira yang berjalan mendekat.

“Mbak Maira???” pekik Aisyah tertahan, buru-buru keluar dari area barista dan menghampiri seniornya itu. “Kenapa hari ini udah masuk kerja aja sih? Harusnya Mbak tuh istirahat total dulu di rumah sampai benar-benar pulih!”

Maira terkekeh pelan melihat ekspresi protektif adik tingkatnya tersebut. “Aduh, Syah... gue itu bosen banget kalau harus diam di rumah terus. Kemarin seharian gue cuma bisa rebahan di kasur, scroll TikTok nggak jelas sampai mata sepet, malah bikin badan makin pegal semua. Lagian gue udah sembuh kok, beneran deh. Lihat nih, udah bisa jalan tegak,” ucap Maira sembari menggerakkan kedua tangannya pelan demi meyakinkan Aisyah.

Aisyah hanya bisa menghela napas panjang, tahu betul kalau watak Maira memang tidak bisa dipaksa berdiam diri. Namun, sembari tangannya kembali merapikan peralatan kafe, pikiran Aisyah mendadak melayang pada kejadian semalam di rumahnya. Obrolan serius di ruang keluarga di mana Kak Fatih dengan sangat tegas menolak perjodohan dengan Ning Halwa masih terngiang-ngiang jelas di kepalanya.

Rasa penasaran yang membuncah sejak semalam membuat Aisyah tidak bisa menahan diri lagi. Ia melirik kanan-kiri, memastikan suasana kafe yang masih sepi pengunjung sebelum mencondongkan tubuhnya ke arah Maira.

“Mbak Maira... sebenarnya aku tuh punya satu pertanyaan yang mengganjal banget buat Mbak,” ucap Aisyah dengan nada suara yang sengaja dipelankan.

Maira yang sedang mengelap permukaan meja kasir menoleh sekilas. “Apaan? Sok aja tanya, tumben banget pakai izin segala.”

“Mbak sebenarnya kenal sama Mas Fatih di mana sih? Beneran deh, aku penasaran setengah mati,” aku Aisyah dengan mata berbinar penuh selidik. “Soalnya... Mas Fatih itu tipe cowok yang dingin dan jarang banget bersosialisasi atau peduli sama lawan jenis selain keluarga. Tapi sama Mbak Maira, dia kelihatan beda banget.”

Maira menghentikan gerakan tangannya. Pertanyaan Aisyah seketika membawa memorinya mundur ke beberapa bulan lalu. Seulas senyum miris sekaligus hangat terbit di bibirnya. “Panjang banget ceritanya, Syah. Kalau diingat-ingat lagi, awal mulanya tuh benar-benar memalukan.”

Karena kondisi kafe yang masih sangat senggang menjelang jam buka, Maira akhirnya memutuskan untuk membagikan rahasia masa lalunya. Dengan suara lirih, Maira menceritakan malam kelam di mana dirinya yang hancur, dikhianati oleh Rayn, dan merasa dibuang oleh dunia, hampir saja nekat melompat dari atas jembatan untuk mengakhiri hidupnya. Ia menceritakan bagaimana sosok Fatih tiba-tiba muncul bagai malaikat pelindung yang menariknya kembali dari jurang kematian, menggenggam tangannya, dan memberikan kata-kata yang menampar logikanya.

“Jadi... awal ceritanya begitu, Syah,” tutur Maira, mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang. “Gue sebenarnya malu banget setiap kali ingat kejadian malam itu di depan Fatih. Rasanya kayak orang paling bodoh sedunia. Tapi, gue gak bisa bohong kalau berkat Fatih juga, pelan-pelan gue jadi termotivasi buat berubah sedikit demi sedikit kayak sekarang.”

Aisyah tertegun diam. Matanya seketika berkaca-kaca menatap sosok wanita di depannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik sikap ceria dan ceplas-ceplos Maira selama ini, tersimpan beban hidup yang teramat berat dan menyakitkan hingga hampir merenggut nyawanya sendiri.

“Mbak... Mbak Maira hebat banget yah,” ucap Aisyah dengan nada suara yang bergetar haru. “Mendengar cerita Mbak barusan, aku malah jadi iri sama Mbak. Sadar gak sih Mbak, kalau Allah itu sebenarnya sayang banget sama Mbak Maira?”

Maira mengernyitkan keningnya, menatap Aisyah dengan tatapan bingung. “Sayang? Maksud Lo gimana, Syah? Di saat gue ngerasa hidup gue paling berantakan, Lo malah bilang Allah sayang?”

Aisyah tersenyum tulus, meraih tangan Maira dan menggenggamnya hangat. “Iya, Mbak. Mbak Maira dikasih ujian seberat itu dari kecil, dikhianati, kesepian, tapi sampai detik ini Mbak masih bertahan dan terus berjalan di atas takdir Mbak yang penuh ujian itu. Allah tahu Mbak mampu memikulnya, makanya Allah pilih Mbak. Dan lihat sekarang... Mbak berhasil. Berhasil buat berbalik dan melangkah kembali ke jalan yang benar setelah semua beban dan luka menghantam hidup Mbak tanpa ampun.”

Kata-kata Aisyah bagaikan air sejuk yang menyiram gundah di hati Maira. Perempuan itu menunduk, menatap jemarinya yang digenggam Aisyah. “Gitu ya, Syah? Tapi jujur, sampai sekarang gue sebenarnya masih sering nyari jawaban buat pertanyaan gue sendiri. Kenapa harus gue? Kenapa gue harus dikasih ujian seberat ini di masa lalu?”

Aisyah menatap Maira lekat-lekat dengan kedewasaan yang menenteramkan. “Mbak tahu nggak, hakikat sebaik-baiknya manusia itu seperti apa di mata Allah?”

Maira berpikir sejenak, mengingat-ingat pengetahuan agamanya yang masih minim. “Ya... mungkin orang yang ibadahnya paling bagus dan sempurna, Syah? Yang salatnya gak pernah bolong?”

Aisyah menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut. “Bukan cuma itu, Mbak. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang menyadari bahwa dirinya telah berbuat dosa, lalu dia mau berbalik menghadap Tuhannya dengan taubat yang benar-benar tulus. Dia tahu bahwa dalam keputusasaannya, dia sangat butuh Tuhan. Karena pada hakikatnya, hati manusia itu diciptakan mengalir dan terikat dengan Tuhannya. Jadi, mau sebesar apa pun dosa masa lalu Mbak Maira, saat Mbak memilih mengetuk pintu taubat, di situlah derajat Mbak ditinggikan.”

Maira terdiam, meresapi setiap bait kalimat Aisyah yang terasa menghunjam langsung ke lubuk hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu tetes di pipinya. Namun, di sela rasa haru itu, ada satu nama terlarang yang kembali terlintas di benaknya—Yudi, lelaki yang telah menghancurkan masa depannya.

Dengan ragu dan suara yang hampir berbisik, Maira kembali bertanya, “Syah... kalau egois gak sih... atau boleh gak sih, kalau sampai kapan pun gue gak mau maafin orang yang dulu udah ngehancurin hidup gue?”

Aisyah terdiam sejenak, memahami luka dalam teramat pekat yang sedang dibahas oleh Maira. Ia mengangguk dengan bijak tanpa ada nada menghakimi.

“Boleh, Mbak. Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk langsung melupakan luka yang begitu hebat. Kalau Mbak belum siap memaafkan, itu hak Mbak. Cukup doakan saja dari jauh agar orang itu bisa berubah menjadi lebih baik dan tidak merugikan orang lain lagi. Mbak gak perlu memaksa diri untuk memaafkan sekarang. Bagaimanapun juga, setiap perbuatan buruk manusia di dunia ini pasti akan ada pertanggungjawabannya sendiri yang sangat adil di hadapan Allah kelak. Jadi, fokus saja sama kesembuhan hati Mbak sendiri ya.”

Maira menyeka air matanya, lalu mengangguk pelan dengan perasaan yang jauh lebih lega dari sebelumnya. Percakapan pagi itu di sudut kafe tidak hanya meringankan beban di pundaknya, tetapi juga perlahan membuka jalan baru bagi hatinya untuk melangkah maju tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!