NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Penjaga Samudra

Lorong bebatuan yang dibentuk Lin Mo memanjang jauh ke dalam samudra. Di kedua sisi, air laut yang gelap bergerak perlahan, menekan dinding batu seolah ingin segera menutup kembali jalan yang terbuka. Cahaya di sini sangat minim—hanya berkilauan dari lumut kristal yang menempel di dinding, memancarkan cahaya biru pucat yang membuat bayangan mereka terlihat memanjang dan aneh.

"Tekanan air di luar sini cukup untuk menghancurkan gunung biasa," bisik Meng Chao sambil menyentuh dinding batu yang bergetar pelan. "Kau benar-benar memadatkan seluruh lapisan batu ini sendirian?"

"Bukan aku," jawab Lin Mo pelan sambil terus berjalan di depan. "Kita hanya meminjam kekuatan dari batuan dasar yang sudah ada di sini sejak awal dunia. Aku hanya membantu mereka mengingat kembali bentuk aslinya."

Belum jauh mereka melangkah, suara gemuruh air yang memekakkan telinga terdengar dari depan. Dinding batu di ujung lorong runtuh seketika, dan sosok raksasa muncul dari kegelapan. Tubuhnya terbuat dari tumpukan karang hitam dan cangkang raksasa, matanya menyala ungu dalam, dan di punggungnya tumbuh ratusan sulur rumput laut yang bergerak seperti ular. Ia berdiri setinggi sepuluh rumah, menutupi seluruh lebar lorong.

"Aku adalah Penjaga Punggung Laut," suaranya bergema seperti deburan ombak menghantam tebing. "Selama ribuan tahun aku menjaga sisa Jembatan Bumi ini. Tidak ada yang boleh lewat—terutama mereka yang membawa jejak Jalan Akar. Dulu kalian yang membelah dunia, dan sekarang kalian berani datang lagi?"

"Kami tidak datang untuk membelah lebih jauh," kata Lin Mo sambil melangkah maju sedikit. "Kami datang untuk menyambung kembali apa yang putus. Di seberang sana ada bahaya yang bisa menghancurkan kedua benua."

Penjaga itu meraung keras, dan air di sekitarnya berputar liar. "Bohong! Ribuan tahun lalu, pemimpin seperjuanganmu datang ke sini. Ia berjanji akan menyatukan segalanya, tapi malah ia yang memecah Jembatan Bumi, membiarkan ribuan makhluk laut mati, dan membiarkan benua seberang menderita sendirian! Aku tidak akan tertipu lagi!"

Tanpa menunggu jawaban, ia mengayunkan lengan karang raksasa ke arah mereka. Getarannya membuat seluruh lorong berguncang, dan celah-celah mulai muncul di dinding pelindung air.

"Mundur!" seru Lin Mo. Ia tidak menangkis serangan itu, melainkan memerintahkan tanah di bawah kaki Penjaga untuk berubah menjadi lunak dan elastis. Lengan raksasa itu menghantam tanah yang melenting, memantulkan tenaga serangan itu kembali ke laut tanpa merusak apa pun.

Namun Penjaga tidak berhenti. Ia mengirimkan ribuan duri karang tajam melesat dari segala arah, dan arus air yang kuat berusaha menyapu mereka keluar dari lorong.

"Jangan melawannya dengan kekerasan!" teriak Lin Mo pada teman-temannya. "Ia bukan musuh. Ia hanya sedang memendam kesedihan yang terlalu lama!"

Ia menutup mata, menyebarkan kesadarannya jauh ke dalam laut. Ia merasakan kenangan yang terperangkap di dalam karang itu: suara teriakan saat jembatan runtuh, air bah yang menyapu daratan, dan kesepian ribuan tahun menjaga gerbang yang tak pernah dibuka.

"Kau merindukan masa di mana kedua benua bisa saling berkunjung, kan?" tanya Lin Mo lantang. "Kau lelah menjaga pintu yang tak pernah terbuka, dan kau takut kesalahan yang sama terulang lagi."

Ia menyalurkan energi hangat perlahan ke arah Penjaga. Bukan untuk menundukkan, tapi untuk berbagi rasa. Ia menceritakan tentang Desa Akar Kering yang mati lalu hidup kembali, tentang tanah tandus yang kembali subur, tentang keinginannya untuk tidak lagi membiarkan siapa pun menderita sendirian.

Perlahan, gerakan Penjaga melambat. Cahaya ungu di matanya meredup, dan sulur rumput laut di punggungnya berhenti bergerak liar.

"Kau... berbeda dengan pemimpin itu," suaranya kini terdengar gemetar. "Dia penuh tekad yang keras, tapi hatinya bimbang. Kau... kau berani merasakan sakitku."

"Kesalahan masa lalu tidak perlu diulang," kata Lin Mo lembut. "Tapi kita tidak perlu membiarkan kesalahan itu menjadi penjara selamanya. Biarkan kami lewat. Dan jika kami berhasil menyelamatkan Tanah Terbelah, kami akan membangun kembali jembatan ini dengan benar—sehingga laut dan darat, kedua benua, semuanya bisa hidup berdampingan."

Penjaga Punggung Laut terdiam lama. Ia menatap Lin Mo, lalu menatap tanah di bawah kakinya yang kini bersinar lembut. Akhirnya, ia mundur perlahan, membuka jalan.

"Aku akan memberimu waktu seratus hari," katanya. "Jika dalam waktu itu kau tidak kembali, atau jika kau membawa bencana... aku akan menutup jalan ini selamanya, dan tidak ada yang bisa membukanya lagi."

Lin Mo tersenyum lega. "Terima kasih. Kami akan kembali, dan membawa kabar baik."

Mereka melanjutkan perjalanan. Saat melewati samping sosok raksasa itu, Lin Mo menyentuh kakinya yang terbuat dari karang, menanamkan energi pelindung agar tubuh Penjaga yang sudah tua itu tetap kuat menahan tekanan laut selama mereka pergi.

Di depan mereka, ujung lorong mulai terlihat. Cahaya samar dari benua seberang mulai menembus kegelapan. Namun Lin Mo tahu: ujian yang sesungguhnya baru dimulai saat mereka menginjak tanah Tanah Terbelah.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!