Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuti yang Mengundang Curiga
Suasana pagi di Kantor Kecamatan mulai ramai. Beberapa pegawai berlalu-lalang membawa map berisi berkas, sementara suara ketukan jari di kibor dan deru printer yang saling bersahutan memenuhi ruangan.
"Sat, berkas pelayanan yang kemarin sudah selesai belum?" tanya Siska, staf administrasi, sambil melongok dari balik sekat mejanya.
"Sudah. Ada di meja saya, tinggal ditandatangani Pak Camat," jawab Satria Baskara tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
"Siap, terima kasih ya!" sahut Siska cekatan.
Satria kembali menundukkan kepala, memeriksa ketelitian satu per satu dokumen sebelum diserahkan ke ruang pimpinan. Seperti biasa, ia selalu datang paling pagi dan menyelesaikan sebagian besar tugasnya sebelum jam pelayanan benar-benar dibuka.
Tak lama kemudian, pintu area depan terbuka.
"Mas Satria, Pak Camat sudah datang dan ada di ruangannya," beri tahu Kinan, staf magang yang baru masuk membawa baki berisi cangkir kopi.
"Baik. Terima kasih, Kinan," balas Satria tenang.
Satria merapikan map berwarna biru di tangannya, berdiri, lalu berjalan mantap menuju ruang kepala kecamatan.
Tok... tok...
"Silakan masuk," terdengar suara dari dalam setelah Satria mengetuk pintu kayu itu dua kali.
"Selamat pagi, Pak," sapa Satria seraya melangkah masuk dan berdiri tegak di depan meja kerja atasannya.
"Pagi, Satria. Ada yang bisa dibantu?" Pak Camat mengangkat kepala, mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas di mejanya.
"Pak, saya ingin mengajukan izin cuti satu hari untuk besok," ucap Satria langsung pada intinya.
"Cuti? Tumben sekali," respons Pak Camat dengan alis bertaut. Ia memajukan duduknya, menatap pegawai andalannya itu dengan heran. Selama bertahun-tahun bekerja, Satria hampir tidak pernah mengambil hak cutinya jika tidak benar-benar mendesak.
"Iya, Pak. Ada urusan keluarga yang sangat penting dan tidak bisa saya tinggalkan," jelas Satria, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
"Semua pekerjaanmu untuk besok sudah beres?" tanya Pak Cama memastikan.
"Sudah, Pak. Semua berkas penting untuk besok juga sudah saya siapkan dan saya delegasikan," jawab Satria mantap.
"Kalau begitu saya izinkan. Jangan lupa lusa langsung masuk lagi, ya," kata Pak Camat sambil tersenyum tipis dan menandatangani formulir izin tersebut.
"Siap, Pak. Terima kasih banyak," pamit Satria seraya membungkukkan badan singkat sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pintu ruang kepala kecamatan...
"Apa?!" seru Doni dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan kerja. Pria jangkung itu rupanya tidak sengaja mengintip kertas di meja piket. "Cuy! Satria besok cuti!"
Sontak seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak.
"Apa? Yang benar?" tanya Gea, menghentikan ketikannya dengan wajah tidak percaya.
"Serius, Don? Orang paling rajin dan anti-bolos di kantor ini mau cuti?" timpal Siska, ikut melotot kaget.
Satria memejamkan mata sesaat, menahan napas. Ia bahkan belum sempat menduduki kursi kerjanya ketika Doni, Gea, dan Siska sudah bergerak cepat mengerubungi mejanya seperti sekawanan detektif.
"Sat, kamu sakit ya? Muka kamu agak pucat, lho," tanya Gea dengan nada khawatir, condong ke depan memeriksa wajah Satria.
"Bukan, Gea. Saya sehat," jawab Satria pendek.
"Mau pulang kampung ke rumah nenek?" tebak Siska bersemangat.
"Bukan juga," potong Satria sabar.
"Jangan-jangan mau ikut tes CPNS lagi di kementerian ya, Mas?" celetuk Kinan polos dari meja seberang, yang langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.
Satria menggeleng pelan melihat tingkah rekan-rekannya. "Hanya ada urusan keluarga."
Belum sempat suasana mereda, Doni yang berwajah usil langsung menyandarkan lengannya di bahu Satria dengan sok akrab.
"Wah... kalau urusan keluarga sampai bikin seorang Satria Baskara minta cuti mendadak, jangan-jangan..." Doni menyipitkan mata, menatap Satria dengan senyum penuh arti. "...mau ketemu calon istri, ya?"
Ruangan mendadak hening selama dua detik. Lalu...
"Hahaha! Benar juga!" Gelak tawa langsung pecah memenuhi ruangan.
"Eh, Doni mulai lagi deh kumat usilnya," lerai Gea sambil tertawa geli.
"Tapi masuk akal sih, kasihan Satria kalau komputer terus yang ditemani," timpal Siska berbisik jahil.
Doni tertawa puas melihat wajah Satria yang masih saja sedatar papan tulis. "Bagaimana, Sat? Jangan bilang tebakan gue seratus persen akurat."
Satria menarik kursinya perlahan, lalu duduk dengan tenang. "Tidak."
"Oh ya?" pancing Doni, belum puas.
"Hanya acara makan malam keluarga," jawab Satria, mencoba memotong obrolan.
"Acara makan malam apa sampai harus cuti seharian? Pasti ada udang di balik batu, nih," desak Siska ikut memojokkan.
"Rahasia," ucap Satria singkat.
"Wah, kalau sudah pakai kata 'rahasia' begini, makin mencurigakan!" seru Gea sambil tertawa bersama Siska.
Doni masih belum mau menyerah. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata rekan kerjanya itu. "Coba jawab jujur, Sat. Kalau memang mau dijodohkan juga tidak apa-apa, kok. Zaman sekarang apa sih yang tidak mungkin?"
"Hahaha! Hari gini masih zaman dijodohkan, Don?" sahut Kinan ikut terkekeh geli dari jauh.
"Kalau buat Satria yang seleranya kaku begini, mungkin saja!" balas Doni yang langsung dihadiahi lemparan tisu dari Gea.
Satria mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Doni, Siska, dan Gea sudah hampir lima tahun. Mereka memang terkenal sebagai tim paling berisik sekaligus paling usil di kantor kecamatan ini. Kalau sampai mereka tahu alasan sebenarnya bahwa ia besok memang akan menghadiri makan malam perjodohan... bisa dipastikan seluruh kantor akan membahasnya hingga berbulan-bulan ke depan.
"Aku cuma mau menemani orang tua," kata Satria akhirnya, menjawab dengan nada sedatar mungkin tanpa mengubah raut wajahnya.
Doni menyipitkan mata, seolah-olah sedang mencari celah kebohongan dari ekspresi Satria. "Hmm... serius cuma itu?"
"Iya," jawab Satria mantap.
"Kenapa firasat gue bilang lo sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, ya?" gumam Doni curiga.
Satria hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak kelihatan. "Terserah kamu saja, Don."
Doni mendecak pelan karena gagal memancing reaksi heboh dari temannya itu. "Ya sudah. Tapi hati-hati saja, Sat. Kalau minggu depan kamu tiba-tiba menyebar undangan nikah di grup WhatsApp kantor, gue orang pertama yang akan menertawakan kamu paling keras!"
Ucapan Doni itu kembali menutup pagi dengan tawa riuh satu ruangan. Satria ikut tersenyum kecil menanggapi candaan para sahabatnya, meski di dalam hati, dadanya bergemuruh cemas.
"Semoga besok berjalan lebih baik dari apa yang aku bayangkan" bisik Satria dalam hati.
Sebab, untuk pertama kali dalam hidupnya, pria yang selalu kaku pada urusan cinta ini akan dipertemukan dengan seorang perempuan pilihan orang tuanya. Seseorang yang memegang kunci masa depannya nanti.
Seorang perempuan bernama... Naira Azzahra.
Bersambung...