Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 27
Begitu motor ojek berhenti di depan halaman rumah besar Juragan Tama, Elsa langsung turun sembari menenteng kantong-kantong belanjaannya dengan kasar. Wajah manisnya ditekuk dalam-dalam, menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Dasar kakak bangsat! Bilangnya cuma habis dua puluh ribu, ternyata pas dibayarin malah dua ratus ribu! Lebih baik lo mampus aja sekalian di penjara!" maki Elsa jengkel setengah mati.
Uang dua ratus ribu untuk ukuran warung pinggir jalan jelas angka yang tidak masuk akal untuk makan satu orang. Ramdan pasti sengaja memanfaatkan momentum perubahan penampilan Elsa untuk mentraktir teman-temannya atau memasukkan utang rokoknya ke nota tagihan sang adik.
Sambil terus menggerutu, Elsa melangkah masuk ke dalam rumah utama. Atmosfer di dalam kediaman megah itu tampak begitu lengang dan sepi, mungkin karena sisa lelah dari acara selamatan semalam baru terasa sekarang. Tak ingin memikirkan rasa kesalnya lebih lama lagi, Elsa segera menyeret kakinya menuju kamar belakang tempatnya beristirahat.
Klek.
Begitu pintu kamar terbuka, langkah Elsa mendadak terkunci di ambang pintu. Matanya membelalak sempurna saat menangkap sosok pria bertubuh kekar yang tengah tertidur pulas di tengah ranjang miliknya.
"Loh... kok dia sudah pulang? Katanya tadi subuh pergi ke luar kota?" batin Elsa keheranan.
Gadis itu berdiri diam sejenak, memperhatikan deru napas teratur dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Tampaknya Tama benar-benar kelelahan, terlihat dari guratan di wajah tegasnya yang tampak rileks dalam tidur.
Setelah menyimpan seluruh kantong belanjaan mahalnya ke dalam lemari dan menguncinya rapat-rapat, rasa penasaran Elsa membubung tinggi. Dengan langkah yang sengaja dipelan-pelankan agar tidak menimbulkan suara, wanita muda itu lantas membawa kakinya mendekat ke tepi ranjang, menunduk sedikit untuk memperhatikan wajah tidur sang Juragan dari dekat...
Elsa berdiri bergeming di tepi ranjang, menatap lekat-lekat wajah damai Tama yang tengah terlelap dalam tidurnya. Kamar itu begitu hening, hanya menyisakan deru napas teratur sang Juragan.
"Padahal kamu kalau tidur begini mukanya kelihatan tenang banget loh,..." ucap Elsa lirih, suaranya nyaris seperti bisikan, namun getarannya masih terdengar jelas memenuhi sudut ruangan.
Elsa mengembuskan napas pendek, matanya menyiratkan binar kepasrahan yang mendalam. "Kamu tahu... kalau istrimu cuma aku satu-satunya, mungkin aku bakalan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama kamu. Tapi sayangnya, kamu sudah punya istri... istri yang jauh lebih kamu sayang daripada aku," sambung Elsa dengan nada suara yang merendah, menyuarakan pembatasan diri yang sengaja dia buat agar hatinya tidak melangkah terlalu jauh.
Elsa perlahan merundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada pria yang masih menutup mata itu. "Apa aku salah, kalau pada akhirnya aku cuma mau memoroti uang kamu doang...?" katanya lagi, tersenyum kecut.
Jemari lentiknya mengusap sekilas anak rambut yang menghalangi dahi Tama. "Maaf ya. Seenggaknya kalau aku enggak bisa mendapatkan orangnya secara utuh, aku harus bisa dapat uangnya," ucap Elsa pelan.
Sebelum menjauhkan tubuhnya, didorong oleh letupan emosi yang tak bisa dia jelaskan, Elsa menunduk lebih dalam lalu mengecup lembut pelipis kanan Tama. Cukup lama bibirnya menempel di sana, menyalurkan kehangatan yang samar. Setelahnya, wanita muda itu lantas bangkit berdiri dan melangkah pelan menuju kamar mandi demi membersihkan diri dari sisa peluh seharian di luar.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar gemercik air dari dalam, kelopak mata Tama perlahan bergerak terbuka. Pria besar itu ternyata tidak benar-benar tidur.
Tama menatap sayu ke arah pintu kamar mandi yang terkunci. Tatapannya terlihat begitu kosong sekaligus sarat akan emosi yang bergemuruh. Perlahan, tangan kekarnya terangkat, mengusap lembut bekas kecupan bibir Elsa di pelipisnya tadi. Dia memindahkan jemarinya ke atas bibirnya sendiri, sebelum akhirnya membawa telapak tangan itu tepat di atas dadanya yang berdegup kencang.
"Ssshhh... habiskan saja uangku, El..." desis Tama teramat lirih, hampir tak kentara. Sebuah senyuman getir terukir di wajah tegasnya.
'Om, janji ya! Nanti nikahnya tunggu aku besar dulu... Awas aja kalau Om nikah duluan, aku bakal rampok uang Om habis-habisan!'
Suara cempreng bernada mengancam milik seorang gadis kecil kembali berputar dengan begitu nyaring di dalam ingatan Tama, memaksa air matanya nyaris menitik. Tama memejamkan matanya kembali, meresapi rasa sesak sekaligus kerinduan yang mendalam. Ternyata, semua kelakuan bar-bar Elsa dan sifatnya yang matre belakangan ini, justru adalah perwujudan dari ucapan masa kecilnya yang sangat dia kenali.